ANTARIKSA

ANTARIKSA
55. Pamit


__ADS_3

Nangis mikirin dia? Buat apa?



Bu Syifa sedang tidak masuk, sakit. SEISMA menjelma menjadi kelas pasar sekarang. Sering jamkos membuat kebebasan tersendiri bagi mereka. Mulai dari konser Caca Marica, gosip, marathon film wi-fi gratis, senam pagi yang di bimbing oleh Andre agar SEISMA sehat jasmani rohani.


Kelas 12 Ipa 5 yang baru saja dari 11 Ips 4 dan akan menuju kelas SEISMA, suara ricuh serta nyanyian sumbang itu terdengar dari luar.


Caca dengan percaya dirinya perform di depan dengan sapu sebagai mic andalannya.


Aku Caca Marica


Cantik tiada tara


Sekali lihat wajahnya


Cogan pun jatuh cinta


Boebo-ebo (3x)


Antariksa melangkahkan kakinya pertama kali di kelas SEISMA, kelas menjadi hening Caca masih menyanyi dengan mata terpejam penuh penghayatan seolah dunia ini hanya miliknya seorang.


Agung bergidik ngeri melihat konser itu. "Itu suara apa toa masjid?"


Brian saja sudah menutup kedua telinganya. "Ya ampun, gak ada merdu-merdunya tuh suara,"


Dinda menyadarkan Caca dari dunia khayalannya menjadi penyanyi. "Ca, ada kak Antariksa tuh. Lo ga malu apa? Udah ah nyanyinya, suara lo bikin malu SEISMA aja," Dinda meraih sapu itu otomatis Caca membuka matanya, sepi dan semua mata tertuju pada Antariksa dengan teman sekelasnya di ambang pintu.


Adel menggeleng heran. "Haduh ca, makanya kalau nyanyi liat tempat. Kalau gue jadi Caca nih, muka gue di ojekin aja. Malu di liatin kak Antariksa, cengo lagi,"


Ya, Antariksa masih terkejut menemukan kelas terheboh di SMA Permata selama masa sekolahnya.


Caca menyengir. "Hehe ada kak Antariksa, masuk kak. Maaf gak ada suguhan," ada, kelas di samperin cogan itu penyegar mata alamiah bagi yang ngantuk ca.


Kelas Ipa 5 ingin pamit sekaligus meminta maaf jika pernah ada salah dengan adik kelas entah di sengaja atau tidak.


"Yah, populasi cogan SMA Permata berkurang dong,"

__ADS_1


"Gak bisa ketemu kak Antariksa nih,"


"Ya kali ngeliatin brondong," maksudnya itu adik kelas. I'm not father aku gak papa, cuman liat aja gak embat.


"Tenang semuanya. Sebentar lagi kita akan di hadapkan ujian sekolah dan praktek, maka dari itu doakan ya kelas 12 ini lancar dan mendapatkan nilai bagus," ucap Agung mewakili.


"Wokeh kak, sukses kak jangan nikah dulu tungguin aku ya,"


"Nikah muda lo?"


"Asal sama kak Antariksa maulah, emang siapa yang gak mau?" ada, Rinai gengsi katanya.


DUALIPA alias 12 Ipa 5 mulai berjabat tangan seraya melontarkan kata maaf pada SEISMA. Yang cowok berjabat tangan, lawan jenis di kasih senyuman.


Tepat saat Antariksa di deret pojok belakang dimana Rinai dan Adel singgah. Antariksa mengucapkan kata pamit yang terdengar menyakitkan di telinga Rinai.


'Kalau pergi gak usah pamit, bikin sakit hati aja. Pamit atau ngilang sama aja, bikin sedih sama sakit hati,' Rinai ingin berteriak seperti itu, tidak nanti Antariksa ge'er.


Antariksa yang menyadari raut masam Rinai pun berdehem. "Mbak Rinai jangan nangis apalagi kangen ya. Cuman minta doanya aja kok, bukan cinta,"


Rafi menatap Adel sendu.


"Semoga sukses ya," ucap Adel lirih namun Rafi bisa mendengarnya. "Iya makasih ya," keduanya saling tersenyum.


Agung tengah membagikan nomornya serta promosi Instagram menambah follower, lumayan. Agung akan mengadakan folback besar-besaran dengan jumlah 1000 orang pertama.


"Wah baik banget kak Agung. Bales dm ku ya kak,"


"Pasti, jangan lupa di follow ya,"


"Kak Agung tambah ganteng deh," aslinya gak, demi nambah followers Instagram.


Agung terharu. "Nanti aku bakalan bales dm kalian satu-satu,"


Brian yang sudah jengah melihat Antariksa berinterakai dengan Rinai terlalu lama. "Eh buruan dong, bentar lagi pulang nih," ya, bagi kelas 12 setelah meminta maaf dan doa langsung pulang tanpa ada pelajaran lagi, setelah istirahat pula jadi sekolah hari ini bagi kelas 12 terasa singkat.


"Jaga diri baik-baik ya, gak usah genit sama adik kelas yang ganteng," pesan Antariksa, mana tau kan Rinai tertarik? Cewek sekali lihat yang bening susah buat merem, mata terus melek melihat objek terindah ciptaan Tuhan.

__ADS_1


"Ciee, kak Antariksa cemburu nih. Rinai kemarin di sapa adik kelas loh kak, di kasih coklat pula. Duh, siapa ya namanya," Adel berpikir sejenak. "Oh, inget. Ferdian itu loh, ya ampun manis banget," tanpa sadar Adel memuji ketampanan Ferdian. Tanpa menyadari Rafi yang masih di lingkungan sekitarnya.


"Ganteng ya?" tanya Rafi dingin. Senyum Adel pudar. "Gak kok," Adel menggeleng takut.


Falshback


SEISMA tengah jamkos pelajaran prakarya, beberapa cewek memilih keluar kelas mencark angin sekaligus mejernihkan mata dengan objek indah ciptaan Tuhan.


Hingga suara teriakan dari bawah memanggil nama kak Rinai membuat cewek SEISMA mengernyit heran, siapa gerangan?


Rinai menatap ke bawah, cogan adik kelas jika di liat di betnya berwarna merah.


"Kak Rinai turun sebentar dong, aku mau ngomong nih sama kakak,"


Adel menyuruh Rinai turun saja, kalau tidak di ladeni nanti akan membuaf curiga beberapa guru karena kelas SEISMA tepat di depan dari bawah kantor guru, otomatis akan terpantau segala aktifitasnya.


Dengan hati kesal Rinai menghampiri adik kelas itu. "Apaan sih? Ganggu aja," semprotnya garang.


Ferdian tersenyum tipis. Ia memberikan colat seharga dua ribuan dan bunga petikan di sebelah warung gorengan. Bunga bugenvil, mau bagaimana lagi keluar dsri kawasan sekolah nanti akan di introgasi oleh satpam.


"Kak Rinai mau gak jadi pacarku? Ya walaupun umur kita beda satu tahun gak ada masalahnya kak, cintaku ke kakak itu tulus," ujar Ferdian sungguh-sungguh.


Tentu membuat Rinai di buat bimbang, menolak itu harus karena hatinya tidak mencintai cowok di hadapannya ini. Entahlah, tiba-tiba terbesit wajah tengil Antariksa yang menggodanya.


"Aku, em," Rinai berpikir hingga bel pulang sekolah berbunyi. "Eh, udah pulang nih. Maaf ya aku belum bisa jawab,"


Ferdian kecewa, namun namanya berjuang itu kadang ada yang sia-sia.


Raut wajah Antariksa berubah cuek. "Oh, kalau nerima Ferdian yaudah," Antariksa ngambek. Rinai menyanggahnya. "Gak kok, lagian ngapain pacaran sama brondong. Tipe idaman aku itu satu tahun lebih tua dari aku, kayak kakak kelasan gitu," good! I'm agree Rin.


Antariksa tersenyum, baguslah kalau idaman Rinai itu memenuhi kriteria dirinya. "Berarti aku dong," Antariksa mulai kembali genit.


Rinai langsung jutek. "Gak usah percaya diri deh. Hush, sana pergi ngapain sih lama-lama di kelas gue," tadi Rinai tanpa sadar mengucapkan kata 'aku' terdengar spesial bagi Antariksa.


"Ya nih mau pergi. Tapi pergi dari hatimu gak," Antariksa memilih pergi menghindari Rinai yang sudah siap akan memukulnya dengan kotak pensil. Sungguh SEISMA merasa baper dengan tingkah keduanya.


☁☁☁

__ADS_1


__ADS_2