
Senyum rekah yang indah
Tersihir karisma sang putri
Hatiku kau jajah
Mencuri sang relung sanubari
-Fatahillah
☁☁☁
Antariksa markisa
Rin, kamu mau nggak aku ajak ke markas pas waktu SMA?
Anda
Ap?
Antariksa markisa
-_- cepetan, siap-siap. Aku ada di ruang tamu
Rinai beranjak dan ke kamar mandinya, membasuh wajah dan gosok gigi. Lalu ia siap dengan fashion seluruh bajunya merk Louis Vuitton.
Antariksa sudah tampil dengan gaya cool-nya, rambut yang sudah licin seperti di pel berkali-kal, harum parfumnya mengalahlan melati yang menyengat, serta macho-nya seperti Berry Prima.
Rinai menelisik tampilan Antariksa. "Mau kondangan kemana? Rapi banget," namun dalam hatinya, Rinai memuji ketampanan Antariksa sekarang.
Aurel yang baru saja dari dapur melihat Rinai se-rapi ini pun heran. "Mau kemana?"tanya Aurel menirukan nada iklan Traveloka.
"Ke bromo," jawab Antariksa yang sudah hafal dialognya. "Eh, jalan-jalan sama Rinai dan kawan-kawan lainnya tante," koreksi Antariksa.
Aurel mengangguk paham. "Oh, jangan sampai pulang sebelum maghrib. Mau di gondol medi?"Aurel menakut-nakuti.
"Iya tante. Lagian pulangnya sore, mau makan bersama. Udah masak banyak tadi," tentunya di markas belakang SMA Permata.
Aurel antusias. "Makan-makan? Wah, boleh ikut dong?"hari ini pun ia tidak masak.
Antariksa mengangguk, bahkan ayahnya dan para orang tua sahabatna pun hadir. "Boleh, kebetulan saya bawa mobilnya Brian. Kalau motor kan susah nanti,"
"Ayo wes, budal,"ujar Aurel tak sabaran. (Sudah, ayo berangkat)
☁☁☁
Markas yang di design perais seperti hotel itu pun membuat siapa saja yang melihatnya kagum. Usul dari Brian, agar nyaman.
__ADS_1
Ada 3 sofa, TV 20 inch, AC, kulkas, play station dan 4 komputer.
"Antariksa! Brian mbetik!," teriak Agung dari ruang tengah dimana ada meja makan sekaligus dapur menjadi satu. (Antariksa! Brian nakal!)
"Brian gawe reged iki. Korat-karet ndek ben," teriak Agung lagi. (Brian bikin kotor ini. Tercecer di lantai)
Brian mengusap wajahnya, gusar. "Sstt, lo diem dong. Lagian ini bisa di beresin. Nih, liat ya," Brian mengambil sandal swallow yang terletak di sebelah tong sampah.
Brian melangkah ke ruang perkakas. Entah life-hack apa yang akan di lakukan cowok kang galak itu.
Brian keluar dari ruang perkakas. Cowok itu berdecak kesal karena lakbam yang ia tempelkan pada sandal swallow-nya itu lengket dengan lantai.
"Gimana sih? Gue liat di youtube kok berhasil? Sedangkan sama gue gak?"tanyanya heran. Ia kesulitan melangkah dan...
Lakban itu lepas membuat Agung tertawa sejadi-jadinya.
"****** kan lo? Antariksa bakalan marah nih,"Agung yang ingin mengadu pada Antariksa pun dengan sigap Brian mengurung Agung dengan kedua kakinya ia tahan.
Brian terkekeh, Agung meronta minta di lepaskan. "Bri, lo kejam banget! Gue salah apa? Hiks hiks. Antariksa! Brian kejam!"teriaknya lantang. Suaranya pun menggema.
Antariksa, Aurel dan Rinai menghampiri keduanya.
"Senengane gawe reged! Di resik'i ayo! Kapur semute entek. Nek sampek iki di rubung, awakmu ambak awakmu ngepel!"Antariksa menunjuk keduanya. (Sukanya bikin kotor! Di bersihkan ayo! Kapur semutnya habis. Kalau sampai ini di kerumuni, lo dan lo ngepel!)
Brian berdecak kesal. "Males ah, kan yang bikin jajannya jatuh itu Agung. Lah mana kuat kali dia, yaudah jadi remahannya tercecer. Terus sapu sama pel-pelannya gak ada," ujar Brian kesal.
"Ayah! Brian dan Agung males ngepel," teriak Antariksa mengadu pada ayahnya. Padahal Angkasa, Rangga, Virgo, Pandu, Martha dan Azwa masih berbelanja di minimarket terdekat.
Aurel dan Rinai merasa terhibur dengan tingkah lucu dan manjanya Agung, galaknya Brian.
Setelah keduanya selesai mengepel, akhirnya mereka makan bersama. Tumpeng, atau di sebut nasi yang di cetak seperti bentuk kerucut dan beberapa lauk di pinggirnya. Makan di lesehan dengan alas tikar. Nasi kuning, lauk balian, ayam panggang, telur puyuh, cenggereng dan cerepeng dan menu penutupnya adalah bubur. Bukan bubur yang biasanya, melainkan yang biasa di dapat saat slametan, kenduren, tingkep, coplok puser atau lepas pusar dan di beri nama.
Angkasa memimpin doa. "Allahuma bariklana fii ma rozaqtana waqina adzabannar. Aaamiin," ucap mereka serempak.
"Ojok kecer maneng yo," peringat Antariksa. Agung dan Brian mengangguk patuh. (Jangan tercecer lagi ya)
"Eh, kalau kita semua makan pakai tangan, terus nanti cuci tangannya dimana?"tanya Agung, baru menyadari. 'Ya kali pulang-pulang bau nasi kuning sama balian,'
Rafi menyodorkan kobok'an dengan perasan jeruk nipis. "Nih, gak bakalan bau,"
Agung tersenyum malu-malu. "Hehe, iya juga ya,"
Selama 25 menit itulah keheningan menyelimuti ruangan tengah selesai makan, Agung ingin pulang. Sudah sorop atau menjelang malam.
Agung pamit, begitu juga Rafi. Ia akan mengantarkan Agung hingga selamat sampai tujuan.
Aurel dan Rinai di antar oleh Antariksa dan Brian. Sekaligus ada Rangga, Azwa, Pandu dan Martha. Angkasa dan Virgo pulang dengan motor matic-nya Antariksa.
Di mobil Brian suasananya semakin ramai. Rangga dan Pandu hiperaktif, cerewet dan banyak tingkah. Tidak malu-malu pada istrinya.
__ADS_1
"Sa, andai aja lo hidup di zamannya kita. Beuh, menegangkan banget," ucap Rangga memulai penggosipannya.
Yang lainnya diam menyimak, entah topik apa yang di bahas Rangga dan Pandu.
Antariksa duduk paling belakang, di himpit Rangga dan Pandu.
"Emang kenapa om Rang?"ya, Antariksa memanggil Rangga dengan julukannya dulu yaitu semut rang-rang.
"Farhan bikin jantungan terus. Ampun deh, gara'gara dapet giveaway berlibur ke villa gratis tuh," curhat Pandu menggebu, deritanya pada masa-masa remajanya dulu.
Rangga memukul bahu pandu agar tidak keceplosan menceritakan Bintang. Rangga berbisik. "Jangan ceritain Bintanf juga. Kasian kalau Antariksa sedih, mau lo gue suruh beli balon?"
Pandu menggeleng. "Iya deh,"
Keduanya diam hingga sampai di kediaman Rina. Rangga, Pandu, Azwa, dan Martha di buat takjub akan mansion yang menyerupai istana itu.
"Gue lagi di negeri dongeng yang ada istananya?" Pandu menggeleng, tak percaya Rinai se-kaya.
Rangga menampar pipi Pandu agar cowok itu tersadar. "Gak lah, ini di Bumi. Dunia nyata ndu,"
Aurel dan Rinai turun dari mobil Brian.
Rinai berpamitan pada semuanya. "Makasih ya, tumpengnya tadi enak,"
"Iya, sama-sama. Kapan-kapan sekalian ikut buag tumpengnya," ucap Antariksa, agar Rinai tau betapa ribetnya kemarin dirinya memasak nasi kuning dan lauknya, belum lagi yang mencetaknya berbentuk kerucut.
"Pasti kalian gak mau mampir dulu nih?" Aurel ingin mansion-nya ini ramau dengan Antariksa dkk.
Antariksa tersenyum malu-malu. "Se-" belum selesai Antariksa menjawab, Rangga membungkam mulutnya.
"Kapan-kapan aja. Bentar lagi kan malem, haduh balik lagi deh ke toko," ya Rangga bekerja di toko roti Pandu yang mulai ramai dan banyak orderan di berbagai daerah sampai mancanegara.
Pandu menatap Rangga datar. "Gak usah ngeluh encok lagi. Kan nanti bisa minta Rafi yang pijetin lo, lupa sama anak sendiri jago pijet?"
"Iya juga ya?"
"Udahlah, let's go pulang. Yang ada nanti macet," ucap Brian malas-malasan.
"Ada salam nih dari Antariksa. Katanya selamat malam Rinai sayangku," goda Rangga, Antariksa melotot kaget.
Tanpa mendengar lanjutan bacot, Brian melajukan mobilnya. Rinai menggeleng heran, dari zaman purbakala hingga millenial Brian tetap galak.
"Teman kamu asik ya," kata Aurel, bahkan saat makan tumpeng tadi seperti flashback PERSAMI di masa SD-nya dulu.
"Agung tuh yang bikin rame. Belum lagi om Rangga sama om Pandu," Rinai merasa senang bertemu dengan para orang tua sahabat Antariksa yang akrabable.
"Seneng deh mama. Kalau kamu?" Aurel ingin mengulang waktu lagi.
Rinai mengangguk dengan senyum riangnya. "Banget ma,"
__ADS_1
☁☁☁