
Lagi berimajinasi lagi buat cerita pedesaan
Beberapa bulan kemudian Rinai akhirnya menginjak kelas 12. Di bulan Oktober ini biasanya SMA Permata akan mengunjungi sebuah kampus.
Adel sedari tadi bolak-balik ke toilet. Rinai di buat jengah, sebentar lagi keberangkatan bis. Sekarang masih penjelasan instruksi dari bu Senja.
"Ayo del, lama-lama gue iket juga tuh kaki lo," Rinai berpikir Adel ini anyang-anyangen atau yang di sebut sebagai panggilan alam terus-menerus, kepercayaan orang dulu kedua kakinya di ikat, entah mempan atau tidak.
Adel keluar dengan rok setengah basah, Rinai ini membuatnya panik saja. "Bentar dulu dong, lagi di siram juga. Nih, rok gue basah berasa habis kebanjiran,"
Rinai tak peduli, yang terpenting sekarang harus bergabung dengan barisan kelas 12 yang sudah siap akan menuju ke bis.
"Udah ini yang terakhir, lagian cuma satu jam aja masa beser lagi?"
"Cuaca hari ini dingin banget Rin, makanya bolak-balik kayak tadi,"
Setelah bergabung dengan barisan perkumpulan kelas 12 bu Senja mengintruksikan agar mereka duduk sesuai formasi yang sudah di tetapkan, bukan pilih teman tapi sesuai urut absen. Inilah yang tak di sukai bagi geng yang paling di kucilkan di kelas contohnya Rinai dan Adel.
Adel terus menggerutu, kali ini ia harus menabahkan hati dan jiwanya karena duduk dengan Dinda. "Males banget deh, emang bu Senja ini maunya gue emosi terus gitu di dalam bis nanti?" tangan Adel siap-siap meninju dan terdengar bunyinya, menumbangkan siapapun yang berani nyinyir dengannya.
"Sabar del, lah gue sama si sambel," maksudnya itu Salma, mulut mengalahkan pedasnya bon cabe level tinggi itu bisa menyentil hati siapapun hingga sakit hati.
Kelas FLASHCITA yang artinya kelas 12 Ips 5, Andre yang memberikan julukan ini, Flash sebagai cahaya yang terang di masa depan, dan Cita adalah cita-cita yang harus di gapai dengan usaha kerasnya. Ada-ada saja si Andre.
Hati Adel bertambah kesal, Dinda sengaja berada di posisi pinggir dan dirinya di jendela. Memungkinkan nanti Dinda tidak bisa di ajak kompromi jika ingin keluar dari kandang singa.
"Buruan duduk, masih bengong! Awas ada laler yang masuk," ujar Dinda, mengejek. Tentu Adel naik pitam, ia menginjak kaki Dinda. "Rasain tuh!"
__ADS_1
Dinda meringis, kekuatan Adel menginjak seperti hulk saja. "Biasa aja dong, sensi amat jadi orang,"
Adel tak peduli, lebih baik ia bergabung dengan dunia orange, *******.
Rinai mencari tempat duduknya, Salma belum datang. Rinai memilih menghampiri Adel. Meluangkan waktu berbicara sebelum nanti mode manekin. Kalau gak cocok sama yang lain pasti diem, gak ada topik atau emang males ngomong.
Adel yang merasakan kehadiran Rinai pun mendongak. "Loh Rin, kenapa gak duduk?"
Tentu kehadiran Rinai membuat Dinda terganggu. Terutama aroma parfum melatinya. "Ish, lo minggir dong jangan kesini. Berasa di samperin mbak kunti gue," Dinda mendorong Rinai, menyingkir dari wilayah teritorial-nya.
Dinda juga risih dengan Adel yang rok-nya masih basah, tentu menguarkan aroma tak sedap. "Eh, lo juga. Habis kebanjiran atau nyemplung got sih? Bau banget tau," Dinda mengeluarkan parfum dari tas-nya, di semprotkanlah ke rok Adel. Sekarang menjadi wangi aroma lavender. "Kalau gini kan wangi, jadi cewek kok kempro¹,"
Lama-lama Adel ingin menjambak rambut Dinda, banyak protes!
Caca dan Salma memasuki bis, Caca membawa tiga camilan, Salma membawa 5 camilan ciki 3 ukuran besar dan dua sedang.
Rinai yang masih di tengah jalan di dorong oleh Caca. "Heh, minggir dong. Malah di tengah jalan, mau lewat nih!" sentak Caca gregetan, baginya Rinai ini pembawa masalah sekaligus membuat mood-nya hancur.
Rinai mencoba berdiri, dorongan Caca tadi membuat tangannya berbunyi, bahkan sekarang kesemutan karena tak siap dan tertindih tubuhnya. "Aw, awas aja ya," Rinai mengikuti Salma yang kini duduk paling belakang di dekat pintu. Dirinya di posisi pinggir, Salma jendela.
Rinai yang tadinya ingin meletakkan tas di bawah kakinya di omeli oleh Salma.
"Heh, nanti kalau gue gak bisa lewat gimana? Lo pangku aja deh," Salma menendang tas Rinai seolah itu sampah.
Dalam hati Rinai terus memanjatkan doa agar Tuhan memberikan kesabaran besar padanya. 'Jangan sampai darah tinggi gara-gara nih ikan salmon, cerewet banget tuh mulut. Pingin gue jepret aja sekalian biar mingkem²,' batinnya.
Dengan terpaksa Rinai memangku tas-nya. Tentu berat, Aurel membawakannya bekal dan 5 camilan seperti punya Salma, lalu buku tulis, ponsel, powerbank, kata Aurel agar nanti pulangnya tidak perlu cari ojekan.
☁☁☁
__ADS_1
Selama perjalanan Rinai atau pun Adel itu seperti orang bisu, bahkan terkadang mendapat kritikan di sebelahnya. Siapa lagi kalau teman duduknya.
Dinda terus mengomeli Adel, namun tak ada sahutan. Biarlah berbicara sepuasnya nanti capek sendiri.
"Gue mau charger juga dong, gantian. Daritadi ngapain sih lama banget," kesal Dinda, ia mencabut kabel data Adel yang tadinya menggantung selama satu jam. Adel kesal, baterainya baru terisi 56%. Bis ini menyediakan charger untuk ponsel saja, kalau powerbank dilarang nanti menjadk gangguan bagi mesin bis-nya karena powerbank itu cepat mengalirkan panas.
Adel menepis tangan Dinda. "Biasa aja dong, situ pasti bawa powerbank kan?" Adel memang membawa, tapi untuk nanti saat perjalanan pulang, agar bisa memesan ojol daripada mencarinya yang kelamaan.
Keributan itu tentu membuat Andre terganggu. Andre menghampiri Dinda. "Kalian ribut lagi gue turunin dari bis, biar aja jadi gembel sekalian," ucap Andre pedas dan ngegas. Omelin ndre! Kasihan Adel.
Rinai yang tengah memakan roti berisi olesan durian pun di gertak oleh Salma, dan roti satu-satunya itu pun terhempas ke lantai karena Salma yang melemparnya dengan wajah kesalnya seakan terganggu dengan aroma durian.
Rinai menangis? Dia bukan gadis cengeg! Ini harus di lawan, bukan di biarkan tampil lemah!
Salma menghirup minyak telon untuk menetralisir rasa pusing dan mualnya. Ia alergi durian. "Makan yang lain dong, gue alergi!" kesalnya, Salma tersenyum senang roti itu berakhir di bawah bergabung dengan bakteri lainnya. 'Rasain lo, sebenarnya sih gak. Males aja duduk sama cewek kampungan kayak lo, hih ogah banget gue,' batin Salma, Rinai itu benalu FLASHCITA.
Andre di buat pusing dengan keributan ini. Ia melihat roti Rinai yang tergeletak di bawah, cewek itu menatap sendu makanannya. Andre mengomeli Salma, sama saja menghilangkan hak makan bagi orang lain, peraturan FLASHCITA itu lengkap, beruntung Andre menjadi ketua kelasnya, akan makmur dan sentosa walaupun ada sedikit penderitaan seperti denda.
"Salma! Lo gak boleh gitu sama Rinai, dia kan gak salah, cuman makan roti aja lo protes. Emang apa salahnya sih Sal?" lama-lama Andre emosi, Rinai itu selalu terasingkan sekaligus terpinggirkan di kelasnya, tak ada yang ingin berteman ataupun berinteraksi sama sekali seolah Adel dan Rinai itu tak di anggap kehadirannya layaknya orang asing.
Salma melotot, Andre membela Rinai. "Eh, asal lo tau kalau gue itu alergi durian!" bentak Salma tak terima.
Andre memilih kembali ke habitatnya daripada meladeni Salma.
Dengan hati yang masih dongkol Salma melirik Rinai seolah itu musuh terbesarnya. "Sok drama lo!" lo sendiri sal, benci gak usah berlebihan juga kali, kasihan Rinai.
Rinai tak peduli, biarlah ia menahan rasa lapar ya, lagipula nanti saat turun dari bis sebelum studi kampus dimulai akan di bagikan nasi kotak dari pihak sekolah.
☁☁☁
__ADS_1
¹Kempro\= kotor
²Mingkem\= mulut di tutup jangan menganga