
Yaudahlah galaunya di pending dulu.
Antariksa sudah rapi dengan toganya, ujian sekolah dan praktek sudah selesai dua minggu yang lalu. Kelas 11 dan 10 di liburkan satu hari, karena halaman sekolah akan ada panggung untuk kepala sekolah dan wisudawan yang terpilih.
Agung menatap Antariksa, menggeleng takjub. "Wah-wah, makin ganteng aja lo sa. Awas si Cica makin naksir tuh,"
"Biarin, karena gue cuman naksir sama hujan,"
Rafi dan Brian baru saja datang, mereka ini terjebak macet dan untungnya Brian lewat ke jalan pintas jadi tidak terlambat datang ke sekolah, acara wisuda di mulai jam 7:15 am.
"Kalian baru dateng? Tanda tangan dulu sono, tuh di Andre yang kelas jenis Ipa," Agung menunjuk Andre, disana antri tanda tangan, termasuk ada Cica yang sebentar lagi di posisi terdepan.
Cica yang sudah selesai tanda tangan pun menghampiri Antariksa, namun Rinai lebih dulu menghampiri calon suaminya itu.
"Ish, nyebelin banget sih. Seharusnya kan gue yang duluan, ngapain cewek kampungan itu?!" Cica menghentakkan kedua kakinya kesal. Tasya dan Sasa yang melihat itu pun ikut kesal.
"Tenang aja ca, nanti biar kita yang urus cewek kampungan itu,"
Sasa mengangguk setuju akan ucapan Tasya. "Beres ca, serahkan dengan kedua detektif Tasyasasa. Sekali tarik dan di hempas, bakalan pergi ke luar angkasa,"
Cica menatap kedua sahabatnya ragu. "Awas aja ya kalau kalian gak becus lagi,"
Antariksa masih terkejut dengan kehadiran Rinai, bahkan cewek ini memakai kaos khusus sebagai panitia entah di bagian tanda tangan, suguhan jajan, atau pengisi acara.
"Kok ngelamun? Masih kaget ya kalau aku disini?" bahkan Rinai memakai kata 'aku' yang semakin membuat Antariksa spesial.
Antariksa tersadar, Rinai saat ini tampil cantik. Polesan make-up tipis semakin membiaskan kecantikan yang biasanya selalu natural itu.
__ADS_1
"Gak kok, kamu beneran jadi panitianya?" nyawa Antariksa saja masih belum terkumpul, masih mengagumi Rinai yang kini terlihat ramah dengan senyumnya. 'Kalau gini kan jadi adem liatnya,' rasanya ingin Antariksa bawa pulang saja, namun ke KUA dulu. Lebih baik gitu sa, daripada cuma pacaran yang belum tentu jodoh tau-tau ngilang tanpa kabar.
Andre sudah siap di atas panggung, akan mengumumkan susunan acara. Si ketos baru ini semakin tampil wibawa saja. "Baiklah, saya sebagai ketua OSIS SMA Permata akan membuka acara wisuda kelas 12 di tahun ini. Untuk susunan acaranya terdiri dari lantunan ayat-ayat al-qur'an, sholawat nabi, pesan dari kepala sekolah, dan terakhir adalah wisudawan terbaik yang akan di pilih oleh kepala sekolah,"
Kursi berjumlah 190 itu sudah terisi dengan para wisudawan, termasuk Antariksa namun di temani Rinai, cewek itu berdiri di sebelahnya. Antariksa duduk di kursi paling ujung.
"Aku tinggal bentar ya, gak enak sama yang lain. Masa iya aku nemenin kamu terus," Rinai ingin menghindari Antariksa sejenak, dekat seperti ini membuatnya gugup sekaligus salah tingkah.
"Nanti kesini lagi ya," Antariksa takutnya nanti Cica menemukannya disini, entahlah Agung, Rafi dan Brian lama sekali ke kantin, beli makanan.
☁☁☁
R
inai baru selesai membagikan suguhan jajan dan minuman. Saat ia ingin menghampiri Antariksa lagi, Cica sudah duduk di sebelahnya, foto berdua tapi Antariksa tidak tersenyum.
'Rasain, kalau gak nyaman di deketin ya gak usah nekatlah, ujung-ujungnya di cuekin kan,' lebih baik Rinai ke Andre saja, ada Aji dan Aditya.
"Aduh Rin, lo jadi gak cantik lagi nih," ujar Aditya, ia juga mengagumi kecantikan Rinai, apalah dia yang tidak ada apa-apanya dengan Antariksa yang tampan itu. Terkadang yang biasa dan pas-pasan kenapa mundur ya? Emang cinta mandang fisik? Bukannya ketulusan hati?
"Biasa aja, cuma dandan tipis. Biar tampil fresh," di lirik kak Antariksa juga sih, batinnya.
Aditya menangkap pemandangan tak enak di pandang, Antariksa tengah menopang tubuh Cica agar tak jatuh. 'Ada aja modusnya, sengaja pakai high heels biar bisa modusin dikit, cewek ada-ada aja ya sekarang,'
Aji yang meraja Aditya melongo pun mengikuti arah pandangnya. "Ngapain sih kak Antariksa tatapan sama Cica? Unsur modus apa sengaja nih?"
Perkataan Aji sontak membuat Rinai mengarahkan pandangannya, Antariksa terpesona dengan Cica? Bahkan keduanya seolah-olah saling mengagumi ciptaan Tuhan yang indah, tak ada tamparan kesadaran sama sekali?
'Jadi kamu lebih milih Cica ya daripada aku?' tanpa sadar mata Rinai berkaca-kaca, satu kedipan ia akan menangis.
__ADS_1
Andre yang menyadari Rinai sedih pun memberikan mainan bebek milik adiknya, Andre ke sekolah memang tetap momong adiknya yang masih berumur 2 tahun itu.
Bunyi kwek-kwek membuat Rinai menoleh ke kanan, Andre menghiburnya. "Emang gue bayi apa?" walaupun Rinai kesal tapi Andre senang Rinai kembali ke Bumi tanpa harus melihat dua makhluk hidup yang masih mengagumi satu sama lain itu.
"Jangan sedih amat Rin, nih sampai adik gue nangis," Andre menggendong Tata, adiknya itu merengek ingin mainan bebeknya di kembalikan.
Rinai tersenyum, di berikannya mainan bebek itu. "Jangan nangis, nanti cantiknya hilang. Nih, bebeknya lucu kayak kamu," Rinai mengusap surai Tata, aroma vanilla menyeruak menenangkan hatinya.
Antariksa tersadar, Cica tersenyum malu-malu.
"Hati-hati,"
Cica mengangguk. Ia sulit mengimbangi langkahnya, memakai high heels 6 cm. Sekarang ia memegangi bahu Antariksa sebagai penopangnya. "Iya, aku gak terbiasa pakai high heels gini. Takutnya nanti aku terkilir lagi,"
Agung, Rafi dan Brian yang melihat pemandangan tak biasa itu pun khawatir, pasti Rinai sudah tau.
Agung melihat sekeliling, di carinya Rinai dan ia menemukan cewek itu tertawa dengan Andre dan adiknya. "Baguslah, ngapain juga liat adegan loar barusan," sengaja Agung keraskan di akhir ucapannya. Tentu Cica merasa terindir, ia menatap Agung tajam.
"Di kira gue hewan apa?!" kesalnya. Agung menarik Antariksa, kembali ke ibu negaranya.
Merasa di tarik tiba-tiba tentunya membuat Antariksa bingung. "Emang gue sapi apa? Kemana sih?"
Brian tutun tangan yang akan mengatai Cica, tentu cewek itu mati kutu dengan Brian, Rafi mengawasi pergerakan Cica berjaga-jaga kalau kabur.
"Apaan sih kalian, minggir gak? Antariksa mau di bawa kemana?" pandangan Cica tak lepas dari Antariksa yang di giring menuju Rinai?
Brian mencekal kedua tangan Cica. "Gak semudah itu Ferguso, udahlah gak usah gangguin mereka,"
Cica berusaha berontak. "Enak aja, Antariksa itu pantesnya sama gue! Bukan Rinai!" bentak Cica emosi, sekarang Antariksa itu ikut menghibur balita di gendongan Andre, tentunya dengan Rinai, mainan bebek itu di pegang oleh Rinai, Antariksa memandanginya tanpa kedip. 'Rese banget sih Rinai, gak pantes tau!'
__ADS_1
☁☁☁