
Antariksa semakin kuat, terlalu larut memikirkan ibunya sekarang tergantikan dengan keorganisasian, pramuka. Saatnya pelantikan pemilihan pemimpin Bantara.
Seperti saat ini, yang terpilih yaitu Rinai, Aji dan Aditya.
Sebelum ke area lapangan Antariksa sudah meminta izin dengan guru yang berbeda, tentunya untuk ketiga manusia ini.
Wajah Adel tadi memelas, tentu tak rela di tinggal partner setianya. Pelajaran Geografi pula, Adel mana pintar menguasainya.
Hanya Antariksa, mungkin ia yang akan memilih siapa yang berhak menggantikan posisinya.
Rinai, Aji dan Aditya baris sejajar dengan jarak satu meter.
"Saya akan menunjuk secara acak, untuk menjelaskan apa makna tunas kelapa. Entah kalian belajar atau tidak, itu berarti kalian tidak lolos menjadi pemimpin Bantara,"
Rinai gugup, bagaimana ini? Ia hanya tau pengertiannya saja.
Antariksa melirik Rinai, kenapa cewek ini gugup sampai wajahnya pucat?
'Palingan Rinai,' batin Aji, karena prioritas Antariksa hanya Rinai. Entah cewek itu bisa menjelaskannya atau hanya diam tak tau apa-apa.
"Kamu," Antariksa menunjuk Rinai.
Yang di tunjuk masih cengo.
Antariksa mencubit pipi Rinai. "Biasa aja, ayo jelasin,"
"Yee, kak Antariksa juga modus," Aji bersiul.
"Dia kagum sama ketampanan saya," Antariksa terlalu percaya diri. Yes, you're handsome.
Rinai menghela nafasnya, pasti ia bisa. Lagipula ia tak mengharapkan menjadi pemimpin Bantara, pasti akan mengemban tanggung jawab yang berat. Bukan sekedar gaya-gayaan agar di segani adik kelas, si Ambalan baru.
"Buah kelapa dalam keadaan tumbuh di namakan cikal. Ini mengandung arti pramuka tentang kelangsungan hidup bangsa atau tunas penerus bangsa," setelahnya Rinai terdiam, hanya pengertian singkat ini saja.
"Baiklah, saya tidak langsung memilih pemimpin Bantara dengan satu pertanyaan ini. Sekarang, saya akan menunjuk lagi dan jelaskan siapa nama lengkap Lord Baden Powell serta tiga pengalaman positifnya hingga di angkat menjadi bapak pandu dunia," Antariksa ini ingin lomba cerdas cermat juga? Sungguh sulit, bahkan Rinai sudah menyerah pasti ia tidak akan lolos di sesi pertanyaan ini jika yang di tunjuk tidak tau apa-apa.
"Aditya,"
Aditya berdehem, sejarah seperti ini kesukaannya.
__ADS_1
"Nama asli Lord Baden Powell adalah Robert Stephenson Smith Baden Powell, lahir pada tanggal 22 Februari 1857 di London,"
"Tiga pengalaman positifnya adalah. Satu, menumpuk rasa persaudaraan, setia kawan, suka menolong, menghargai orang lain, menciptakan rasa persatuan. Dua, menambah pengalaman dan pengetahuan, keterampilan dan ketangkasan. Tiga, mengunggah rasa cinta alam sekitar,"
Antariksa menatap Aditya tak percaya, jelas serta cerdas dalam menjawab. 'Wah, antara Rinai dan Aditya. Masih sama, tapi nanti masih ada lagi,'
"Karena pengalaman inilah, Lord Baden Powell menulis sebuah buku yang berjudul 'Scouting for Boys' kemudian menjadi buku pedoman gerakan pramuka se-dunia. Pada tanggal 6 Agustus 1920, Jamnbore kepanduan se-dunia pertama kali di adakan di London dan di ikuti 27 negara. Baden Powell kemudian di angkat sebagai bapak pandu dunia 'Chief of the World Scout'. Demikian penjelasan dari saya,"
Antariksa bertepuk tangan. "Hebat, untuk yang ini kalian harus hafal simpul-simpul tali. Karena pemimpin Bantara, akan membantu anggota Ambalan barunya nanti. Ambillah tali yang sudah saya sediakan di tiga pohon disana. Kalian akan mempraktekkan secara langsung di hadapan saya, gak ada berunding atau pun kerja sama, baik melihat buku saku pramuka atau pun internet. Kalian faham?"
"Siap faham kak,"
Rinai, Aji dan Aditya mengambil tali pramuka yang bertengger di tiga pohon. Masing-masing satu.
Rinai merasa lelah, bagaimana pun juga ia tak ada niatan menjadi pemimpin Bantara, pasti sulit tidak semudah yang di bayangkan para Ambalan selama ini. Entah itu berspekulasi Bantara santai, enak jabatan, serta di segani.
Setelah selesai mengambil tali pramuka, Antariksa akan menyuruh tiga salah satunya akan menjadi pemimpin itu.
"Kalian boleh duduk," maksud Antariksa itu duduk lesehan. Tanah tidak menggigit, lagipula kenapa takut kotor?
"Buatlah simpul anyam,"
Rinai membuat sosok pada ujung tali. Memasukkan tali yang lebih kecil ke dalam sosok tersebut. Membelotkan tali kecil itu kepada sosok dan di sisipkanlah ke bawah badan tali itu sendiri. Kemudian Rinai menarik tali kecil itu.
"Kak Antariksa, aku udah selesai,"
Antariksa menatap Rinai takjub, hanya butuh waktu satu menit duapuluh detik saja?
Aditya merasa tersaingi. "Padahal gue hampir selesai nih," Aditya baru menarik tali kecilnya.
Hingga sari simpul anyam ke anyam berganda, simpul pangkal, tiang, kembar, erat, tambat, penarik, tambat, gulung, kursi, tiang berganda hingga simpul tarik Rinai yang menguasai.
Aditya tadi salah dalam simpul tiang karena salah memasukkan ke dalam sosok itu maka simpul itu tidak akan jadi.
Aji hanya diam saja, pengetahuannya tentang simpul itu minim.
Keputusan Antariksa sudah bulat, ia menobatkan Rinai sebagai pemimpin Bantara sekarang.
Antariksa mengeluarkan dua bet khusus jabatan pemimpin Bantara. Untungnya sekarang memakai pramuka, Antariksa bisa memasangkan bet itu di kedua bahu Rinai.
Aji dan Aditya beetepuk tangan.
__ADS_1
"Selamat ya," ujarnya bersamaan.
Rinai terharu, percayalah prosesnya tak semudah itu. Berbagai simpul yang ia kerjakan tadi adalah hasil jerih payahnya dari SD dan SMP.
Tapi yang Rinai tak suka saat Antariksa memasangkan dua bet jabatan pemimpin Bantara itu wajahnya dekat. Tentu Rinai salah tingkah di buatnya. Menahan nafas.

"Awas kehabisan oksigen," peringat Antariksa, ia tak merasakan hembusan nafas Rinai saat pemasangan bet khusus jabatan pemimpin Bantara tadi.
Rinai berubah kesal. "Bodoamat, lagian salah sendiri deket-deket,"
"Kak, boleh kembali ke kelas?" tanya Aditya, mungkin sudah satu setengah jam di lapangan pelantikan bagi calon pemimpin Bantara.
Antariksa mengangguk. "Silahkan, langsung ke kelas ya mengikuti pelajaran,"
"Siap kak,"
Aji dan Aditya memilih pergi, Rinai yang tadinya ingin ke kelas juga di tahan tangannya oleh Antariksa.
"Apaan sih, lepas! Gak usah buang-buang waktu!" Rinai berusaha menyingkirkan tangan Antariksa.
"Bareng aku aja ke kelasnya," Antariksa tetap menggamit tangannya.
Rinai berjalan dengan wajah galaknya, Antariksa wajah tengilnya serta sesekali tersenyum ke arah Rinai.
"Gila!" Rinai menyadari.
"Gila karena kamu,"
Rinai menginjak sepatu Antariksa. Lalu berlari menghindari Antariksa yang kini mengejarnya.
"Aduh, berasa jadi main film India," keluh Antariksa, Rinai larinya lincah sekali hingga sulit meraih tangan Rinai.
Untungnya Rinai sudah menaiki tangga, Antariksa masih menatapnya dan malah melayangkan kiss jauh.
"Nyeh-nyeh, males," Rinai langsung masuk ke kelasnya.
Antariksa tersenyum melihat Rinai menjadi galak, mungkin menutupi baper dan salah tingkahnya.
☁☁☁
__ADS_1