
Bukan melepas rindu
Semakin habis sang waktu
Hati di belitkan rasa sendu
Pertemuan yang tak menentu
Ini bukanlah baldu
Dimana kenangan menjadi satu
-Fatahillah
☁☁☁
Di tahun ini memang Ujian Nasional sudah tidak di terapkan. Tentu kabar baik bagi kelas 12 di SMA Permata.
Setelah melalui berbagai ujian mulai dari Try Out, ujian praktek dan USBN.
Rinai memeluk Adel. "Gue bakalan kangen nih. Gak berasa ya udah lulus aja," Rinai terharu, akan persahabatannya dengan Adel dari kels 10. Menemani keseharian di sekolah tanpa lelah.
Adel mengangguk. Ia tak rela berpisah dengan Rinai, mungkin kuliah di universitas ternama di negeri ini atau luar negeri berhubung Rinai itu orang kaya.
"Rin, rencana lo mau kuliah kemana?"
Sebelum acara wisuda di mulai Adel ingin berbincang dengan Rinai lebih lama lagi, atau waktu bisa di perpanjang menggunakan mesin waktunya Doraemon saja ya?
Rinai berpikir, ia masih belum yakin masuk kampus impiannya. "Belum tau sih, kayaknya bakalan di UI aja. Ya walaupun saingannya ketat, gue bakalan coba. Gak ada yang gagal sebelum mencoba, karena kampus impian gue ini mau menerima orang yang berjuang, bukan hanya yang ber-uang atau pintar," ucap Rinai sekaligus memberikan motivasi pada Adel.
"Lo sendiri gimana del? Gak kepikiran buat kuliah?" Rinai ingin tau, walaupun defisit dalam keuangan bukan berarti tidak bisa kuliah. Makasih Rin.
Adel menghela nafasnya, ia masih ragu. Toh kalau ia ketahuan kuliah Ratna akan melarangnya, menghabiskan uang saja.
"Gak tau Rin, bahkan bidikmisi gue aja belum di urus," curhat Adel, semakin kesini masalah bertambah rumit.
Rinai mengernyit. "Kenapa gak di urus sekarang aja? Lama loh del nunggu enam bulanan mungkin,"
Adel menggeleng. "Rin, lo tau gak definisi orang kaya kayak apa?" tanya Adel secara tiba-tiba. Rinai termenung, apakah Adel memandang dirinya orang tak punya?
Rinai ingin menjawabnya tapi takut membuat hati Adel sakit.
"Em, ya punya uang banyak. Sukses di bidang bisnisnya," Rinai berhenti sejenak, definisi apakah yang dk maksud Adel?
Adel mengangguk. "Oh, berarti gue juga kaya ya?" semakin kesini Adel bukan seperti curhat, melainkan ingin menyampaikan keluh kesahnya pada Rinai.
Di temani angin semilir, teriknya matahari dan berisiknya suara orang berbincang membuat Rinai kalut akan pikirannya.
Adel mengguncang bahu Rinai, sahabatnya ini melamun. "Rin jawab gue? Apa bener gue juga kaya kalau cuman punya sawah peninggalan bapak?"
__ADS_1
"Gue gak tau kalau itu del, emangnya kenapa?"
Andre menghampiri Rinai dan Adel yang belum kumpul dengan teman sekelasnya. "Eh kalian gak gabung? Kok disini?" Andre menyadari raut Adel yang sedih, namun sebisa mungkin cewek itu mengukir senyumnya.
"Iya ini bakalan gabung, ayo Rin. Acaranya mau mulai nih,"
"Ayo,"
Keduanya berjalan menuju dimana teman sekelasnya duduk.
Hanya tersisa dua tempat duduk kosong di sebelah Caca.
Rinai menyuruh Adel duduk di sebelah kirinya.
"Lo disini aja, nanti angin ribut sama Caca," Rinai berbisik, takut di dengar Caca. Tambah rumit nanti, bukan wisuda lagi namanya tapi debat.
Caca yang merasakan kehadiran sosok tak di undang datang, tak mau di antar pulang pun menoleh.
"Ngapain lo duduk disini? Minggir sana! Cari tempat duduk yang lain dong!" semprot Caca kesal, hawa yang tadinya sejuk sekarang mulai panas dengan kehadiran dua upik abunya FLASHCITA.
Adel mendelik tajam. "Apa-apaan lo ngusir kita? Di kira ini kursi punya peninggalanan nenek moyang lo?"
Keduanya sekarang menjadi pusat perhatian, penasaran dengan apa yang terjadi. Andre turun tangan, Adel dan Caca susah di lerai.
"Udah, kalau berantem lagi dapat piring cantik dari kak Antariksa, mau?" Andre bernegoisasi, siapa tau Caca tertarik.
"Wah beneran? Mau dong, mana piringnya? Lumayan, kalau makan kepikiran kak Antariksa terus nih," ucap Caca riang, hatinya berbunga-bunga.
'Di dapur gue ada, bonus dari hadiah sabun detergen,' jawab Andre dalam hati, Caca jadi anteng tak seganas tadi.
Sebelum Andre melangkah pergi dan menuju tempat duduk dimana laki-lakinya FLASHCITA, Caca ingin menagih janji itu.
"Beneran ya, gue dapat piring cantik dari kak Antariksa?" tanya Caca sedikit ragu, kalau Andre bohong kan hati bisa kretek-kretek ajur.
"Iya dah, beneran. Udah ya, mau balik nih. Bosen liat saudaranya mak lampir," di akhir kata Andre melirihkan ucapannya.
"Yesss, makasih Andre ganteng,"
Adel yang mendengar itu menye-menye. "Nye-nye, di kasih piring cantik aja mau. Berarti seneng nih sama deterjen berhadiah piring cantik,"
"Sst kalau Caca joget jarang kepang bisa berabe del, udah diem,"
Adel terkekeh. "Sa ae lo Rin,"
☁☁☁
Setelah acara wisuda selesai mereka berfoto dengan geng yang selama ini menemaninya di sekolah.
"Bosen ah gue foto mulu, berasa artis tau," keluh Caca, Dinda sudah mengambil 52 foto dengan pose itu-itu saja, angel tercantik ketika Dinda terus menunggu kapan waktu golden hour tiba.
"Lo mau nginep disini ha? Sampe sore nunggu begituan? Apa aestetiknya sih nda?" tanya Caca tak habis pikir.
__ADS_1
"Ini tuh filter yang lagi trend di Instagram,"
Andre menghampiri Caca dan Dinda. Bukannya bergabung dengan anak-anak FLASHCITA justru foto sendiri.
Caca melangkah ke anak-anak FLASHCITA saja, daripada menunggu sore demi golden hour.
FLASHCITA sudah lengkap dengan 35 makhluk hidup siap berfoto.
Andre sudah menyiapkan kamera layaknya fotografer saja.
"Siap semuanya? Satu, dua, tiga,"
Potret pertama bergaya formal, kedua bebas mungkin pose imut. Setelah selesai beberapa dari mereka nangis bombaya, tak rela meninggalkan sahabatnya.
Terutama Rinai, Adel, Salma dan Tia. Keempat cewek itu saling berpelukan.
"Guys, bakalan kangen nih. Terus kalau gue pernah ada salah sama kalian, maaf ya," ujar Salma, ia bersedih hati.
"Iya gak apa-apa kok, udah berlalu juga," Adel ikut terharu.
"Gini, daripada kalian mellow gini, gimana besok ke rumah gue sekalian nungguin pengumuman seleksi univ favorit?"
"Bener juga tuh Rin, oke. Girl's time!" sotak Tia, hingga terdengar oleh Caca.
"Apaan tuh? Ke rumah Rinai?" berbagai pikiran positif tentang nuansa rumah megah Rinai bagaimana, Caca ingin ikut saat itu juga.
Caca menghampiri Rinai, sekalian menyeret Dinda. Ia akan membuktikan bahwa Rinai bukanlah kalangan bawah.
"Eh, ke rumah lo ya? Boleh ikut gak nih?" tanya Caca pura-pura baik.
Adel mengernyit. Apakah cuaca hari ini cerah?
"Ngapain lo ikutan juga?" tanya Adel sinis.
"Adel yang cantik dan manisnya ngalahin gula jawa, boleh gak Caca Marica yang mirip dengan Yuki Kato ini ikut ke rumah Rinai? Ini kayak reuni aja loh, kapan lagi kan bisa kumpul bareng?"
"Iya, lo boleh ikut kok," jawab Rinai final, apakah ini keputusan yang salah?
Adel menoleh menatap Rinai tak percaya.
"Udahlah, musuhan terus tuh gak baik. Mau jadi pemeran gantinya monyet cantik?"
"Tapi kan Rin, Caca itu-"
"Udah, gak usah mikir aneh-aneh. Kalau Caca bikin ulah, kucing anggora warna hitam gue siap nyakar Caca kok," jadi pingin melihara kucing Rin.
"Awas aja ya!" ancam Adel, mengepalkan tangannya tepat di wajah Caca.
Caca ketakutan. "E-enggak kok, iya suwer deh gue gak bakalan bikin ulah,"
"Bagus, kalau terbukti lo ngelanggar ini, gue suruh lo melihara kambing gue tuh di kandang. Mau?"
__ADS_1
Caca menggeleng. Tidak, nanti ia bau kambing nanti. "Iya deh janji," jawab Caca kesal.
☁☁☁