
Sebelum esoknya menghadapi ujian tulis bahasa Inggris Rinai belajar dengan Antariksa, termasuk Adel dengan Rafi. Tentunya mereka memilih rumah Antariksa yang desaable katanya.
Adel menghabiskan singkong rebus dengan lahap, fokus ke makanan bahasa Inggris tidak. "Kwk enwk nwih," ucap Adel sambil memakan singkong rebus yang paling medhuk daripada yang genyo kurang pas saja tanpa medhuk.
"Terus kapan belajarnya? Makan terus daritadi," Rafi sudah menjelaskan mulai dari applicant's address, date, employer's address, salutation, opening paragraph, body of letter, closing paragraph, closing dan signature menjelaskan namamu.
"Sulit banget kak, lagian mana bisa aku buat kalimatnya," curhat Adel.
Sedangkan Antariksa menulikan example applying for job agar Rinai langsung faham.
"Jadi applicant's address itu meliputi namamu, alamatmu, nomor telepon, dan alamat e-mail untuk memudahkan perusahaan menghubungimu jika di terima,"
'Kalau jelasin gini kenapa wajahnya harus mode bayi sih? Pingin gue bawa pulang,' Rinai terkekeh, Antariksa menatapnya heran.
"Ada yang lucu?" raut Antariksa serius.
Raut Rinai berubah datar, bisa menjelma macan nanti. "Gak ada, lanjut," Rinai kembali menyimak, Antariksa begitu detail menjelaskan tentang strukturnya.
"Date, employer's adress meliputi employer's name, job title, company's name, companys's address,"
"Salutation itu dear, opening paragraph explain the basic reason for the application letter. Which job are you applying for? When and where did you see the position adversited? If it is not advertised, state show how you got the information about the vacant position," Antariksa menjelaskan dalam bahasa Inggris, lagipula Rinai sudah mengerti.
Saat Antariksa menjelaskan body of letter sampai signature Rinai tertidur, masih posisi duduk.
"Del," panggil Antariksa dengan suara lirih. Adel menoleh. "Iya?"
"Kesini, jadi bantalnya Rinai ya? Gue mau buatin kalian gorengan," lagi males romantis, kalau bangun terus baper buyar kan materi bahasa Inggris-nya?
__ADS_1
☁☁☁
Rinai membuka matanya, di sekitarnya ini terdengar ramai. Benar saja, ada Agung dan Brian yang entah kapan datangnya. Agung tengah merebut keripik singkong rasa balado dari tangan Brian.
"Gak bisa, ini punya gue Bri!" semprot Agung garang, ia lebih dulu tadi mengambilnya di laci camilan tepatnya di dapur Antariksa.
Brian menggeleng. "Gak, gue juga mau dong. Bagi-bagi gung,"
"Medhit-medhit mesti jitok'e jero," celetuk Rinai. Orang dulu memang percaya yang pelit pasti jitok'e di bagian belakang kepala ( leher ) itu mendalam, kalau tidak berarti jowo suka memberi. (Pelit-pelit pasti belakang leher dalam)
"Gak mesti, aku loh jowo kok. Iki tak tugel wes," ucap Agung final, Agung memang tau ia adalah orang Pandaan. ( Belum pasti, aku kan suka memberi kok. Ini sudah di belah )
Adel sudah jengah, dari belajar ini ia tak faham apa-apa. "Udah sore nih, Rin pulang yuk,"
Rinai sampai lupa, berada di rumah Antariksa itu ramai, nyaman, kenyang, senang.
"Gak usah, udah di jemput sopir kok," Rinai sengaja menyuruh sopirnya daripada di antar pulang oleh Antariksa, nanti kepikiran sampai di rumah dan mau tidur, materi tadi ia faham. Ia tak mau lupa hanya memikirkan Antariksa yang bukan siapa-siapanya. Mikirin dia? Emang mikirkn aku?
"Oh, hati-hati ya,"
'Masih sama, lebih memilih menghindar. Aku tau, cuman gak mau kepikiran aku kan?' batin Antariksa sedih. Apakah beda menghindar tapi benci?
☁☁☁
"Buku bahasa Inggris baik itu LKS, paket atau buku tulis silahkan di masukkan dan tas di letakkan di depan. Kalian boleh melihat kamus, bukan alfalink ya," jelas pak Aqil sebelum ujian tulis bahasa Inggris di mulai.
"Mana kamus gue gede lagi, bangku gue jadi sempit kan," gerutu Caca saat mengemasi hal-hal yang berbau bahasa Inggris.
"Sabar, lagian ini kan jujur. Biarinlah bisa gak bisa di kerjain aja, kan udah usaha. Nanti soalnya bakalan beda kode loh," ucap Dinda paling tau, sebelumnya ia di beritahu oleh kakak kelasnya dulu, Adnan.
__ADS_1
Setelah semua tas di depan, pak Aqil membagikan soal berbeda, lamaran pekerjaan baik di perusahaan, restoran, pabrik, dan yang lain agar saat ujian tulis berlangsung tidak ada yang menyontek.
"Kalian kerjakan semampunya saja, kalau belajar sebelumnya ya pasti bisa,"
Caca membelalakkan matanya saat soal yang pak Aqil berikan kepadanya itu sulit, ada dua pilihan pula. "Lama-lama rambut gue rontok," kesalnya. Pak Aqil yang melihat Caca kesal pun tersenyum, lagipula yang di nilai kejujuran masalah susunan kosa kata bahasa Inggris entah Irregular Verb, Adjective, Past Tense kurang tepat tak apa.
Rinai menatap soal lamaran pekerjaan itu dengan senyum senangnya. Sebelumnya ia berbisik pada Adel. "Lo kalau kemarin dengerin kak Antariksa ngajarin gue pasti bisa ngerjain ini del," Rinai tau Adel itu lemah dalam bahasa Inggris.
"Beres, walaupun gue gak faham bahasa Inggris sebagian masih bisa,"
"Ujian tulis bahasa Inggris di mulai dari sekarang," ujar pak Aqil.
Andre yang tepat duduknya di sebelah Rinai pun melirik kertas jawaban Rinai. "Rin, nyontek ya?" bisiknya.
Rinai tidak menoleh. "Gak bisa ndre, soalnya kan beda,"
"Nanti deh lo bacain ya? Terus bimbing gue," mohon Andre, apapun jawabannya asalkan terisi. Entah Rinai mau atau tidak.
"Iya-iya, diem deh. Gue gak kosentrasi nih," kesal Rinai, bisa buyar nanti materi kemarin yang di ajarkan Antariksa.
Selama satu jam itulah Rinai dan Afif selesai lebih dulu. Anak emasnya FLASHCITA.
"Yang sudah selesai langsung istirahat, gak usah nunggu temannya," tambah pak Aqil, kalau sudah mikir apa mikir lagi? Gak lapar?
Akhirnya Rinai bisa bernafas lega, sebelum keluar kelas Andre menujukkan puppy eyes terimutnya, tapi sesuai perintah pak Aqil ia tidak bisa menolongnya.
'Maaf ndre, del. Bukannya gue gak berperiketemanan, nanti Caca bakalan ambil jawaban gue dengan paksa, kalau robek tambah ribet deh urusannya,' memang Rinai pernah saat ulangan sejarah dan waktu mengoreksi dengan sistem buku di tukar deret berbeda.
☁☁☁
__ADS_1