ANTARIKSA

ANTARIKSA
87. Antariksa marah


__ADS_3


☁☁☁


Aurel menatap anak semata wayangnya yang tak nafsu makan.


"Rinai, kenapa gak di makan nak?" Aurel tau semuanya, namun Rinai mudah mengasihani pada orang yang telah menolongnya. Marah? Aurel takut kejadian itu terulang kembali.


Flashback on


"Kamu gimana sih Rin? Kasihan pak Baroto dong. Dia udah nungguin kamu lama. Dan apa? Malah di tinggalin gitu aja nyari ojekan," omel Aurel, Rinai tengah belajar berlatih soal modul matematika untuk persiapan Try Out dan UN.


Rinai mengacak rambutnya, frustasi. Kosentrasinya buyar seketika. "Mama bisa diem gak? Capek ma daritadi marahin aku,"


Pak Baroto sendiri yang berada di gerbang kiri, bukannya kanan yang biasanya ia lewati.


"Gimana sama Ika? Kamu gak bakalan di tungguin lagi. Mau pulang sendiri?" Aurel semakin memojokkan Rinai. Ia takut Rinai menjadi korban penculikan yang tengah heboh di perbincangkan di berbagai stasiun televisi.


Rinai menutup modul matematikanya, melangkah ke kamarnya. Pusing, lelah, dan percuma ia belajar jika mamanya terus membahas masalag kemarin yang tak ada habisnya.


Flashback off


"Ma, Antariksa marah sama aku. Dia kecewa," jawab Rinai sendu.


"Dimakan ya, terus berangkat ke kampus," Aurel mengalihkan topik. Tentu Antariksa marah tapi dalam bentuk sayang pada Rinai, tak ingin tunangannya itu celaka.


Setelah selesai makan, Aurel mengantarkan Rinai ke kampus. Selama perjalanan, Rinai diam dengan lagu-lagu galau di Iphone-nya. Wallpaper-nya pun Antariksa, yang biasanya kolase aestethic. Kalau Antariksa tau, nanti besar kepala.


Tepat di Balairung, Antariksa berjalan dengan Cica yang menggamit tangannya. Rinai menghela nafasnya, mungkin sekedar pelampiasan Antariksa.


Rinai berjalan melewati dua manusia  lawan jenis itu dengan santai.


Cica ber-akting jatuh karena high heels-nya, Antariksa menangkapnya dengan sigap. Keduanya saling tatap, terpaku satu sama lain.

__ADS_1


Sorakan 'cie' dari beberapa mahasiswa membuat Rinai menoleh ke belakang. Keduanya masih saling tatap. Seolah dunia milik berdua saja.


'Rasain lo Rin. Hareudang, hareudang, hareudang. Panas, panas, panas,' nyanyi Cica dalam hati.


Antariksa menjauhkan dirinya dari Cica, canggung.


"Makasih ya sa. Hampir aja, jatuh tadi," ucap Cica malu-malu.


Antariksa tersenyum tipis. "Hati-hati ya," Antariksa tau Rinai masih melihatnya. "Kalau jatuh lagi, gak usah takut. Ada aku yang siap jaga kamu,"


Cica berteriak histeris dalam hatinya. 'So sweet banget. I love you Antariksa my honey,'


Rinai berlari, hatinya di buat hareudang saat ini. Hingga Pangeran menarik tangannya dan membawanya dalam dekapan.


Pangeran mengusap surai Rinai. "Sstt, gak usah di pikirin ya?"


Rinai mengangguk.


Antariksa menatap Rinai datar. "Biarin aja. Bukan urusan gue lagi," Antariksa melangkah pergi, Cica menyusulnya.


Rinai memilih ke kantin, melampiaskan emosinya dengan makanan pedas.


☁☁☁


Pangeran menggeleng heran. "Rinai, udah dong sambelnya, banyak tuh," Pangeran menahan tangan kanan Rinai, sudah 6 sendok penuh cewek itu menerjunkan sambel ekstra pedas nya di bakso itu.


Adel datang dengan sebuah kotak berisi kue ulang tahun Rinai yang ke-19. Caca, Dinda, Salma dan Tia ikut merayakannya dengan topi kerucut yang biasanya di gunakan saat ulang tahun. Nyanyian happy birthday secara kompak membuat seisi kantin menoleh penasaran.


Rinai menarik sudut bibirnya membentuk senyuman seindah bulan sabit. Ia tersadar, dulu Antariksa yang mengucapkan pertama kali sebelum Aurel, kini tidak sama sekali.


"Kalian masih inget aja. Gue lupa," ucap Rinai terharu. Adel memeluknya.


"Mugo-mugo dowo umur ambek seger waras," ujar Adel mendoakan. (Semoga panjang umur dan sehat selalu)

__ADS_1


Pangeran yang tak tau apa-apa hanya melongo, hingga cewek berwajah ketus dan sangar mengusirnya.


"Sana-sana! Ganggu!" usir Caca, ia menarik kaos Pangeran.


Cica dan Antariksa memasuki kantin. Keduanya di kawal Tasya si cewek bela diri dan Sasa anak dari Polisi.


"Ada apaan nih rame-rame? Kalian bubar dong!" teriak Cica nyaring, kerumunan pun bubar menyisakan Rinai dan kelima dayangnya tengah merayakan ulang tahun Rinai.


Antariksa melirik arah lain, malas melihat cewek pembohong seperti Rinai Pelangi.


"Aduh, gak ada tempat lain apa? Sampai ngerayain ginian di kampus. Kampungan banget, hih," Cica menatap keempatnya. Memakai topi kerucut ulang tahun.


Caca tak terima, ia menggebrak meja membuat keempat sahabatnya terperanjat dan latah, kecuali Rinai yang melamun dengan pandangan kosongnya.


"Ayam-ayam, eh ayam," ucap keempatnya kompak. Semboyan latah katanya.


Caca menggulung hem-nya hingga siku. "Berani bilangin kita kampungan? Mau gue colekin nih sambel ke mulut lo?" Caca menyendokkan sambal ekstra pedas, menyodorkan ke mulut Cica. Namun Cica membuangnya.


"Beresin kuenya. Atau gue yang acak-acakin?" tanya Cica mengangkat dagunya, menantang.


Caca menoleh ke Dinda. "Din, ajak mereka ke Lamborghini aventador gue. Inget, yang warna hitam, kinclongnya kayak di pel berkali-kali Din," ucap Caca dengan nada sombongnya, padahal itu hadiah Rinai dari sang mama Aurel.


Cica melongo tak percaya. "Aventador? Kaya dong," gumamnya lirih.


Caca yang mendengarnya pun tersenyum menang. "Iyalah, kenapa? Syok?" Caca menunjukkan Iphone keluarga terbarunya, Iphone 12 pro max gold dengan design mewahnya. Tidak lupa tas selempangnya merk Gucci.


"Kalau mau ngatain, kacanya di bawa ya. Udah pantes belum? Apa masih kurang?" Caca tertawa setelahnya, Cica masih melongo. "Awas ada lalat yang mampir," setelahnya Caca menyusul langkah sahabatnya.


"Udahlah. Gak usah mikirin mereka. Yuk lanjut makan," ajak Antariksa, menuju stan penjual mie ayam.


'Andai aja ca, lo gabung sama geng gue. Jaminannya lo terkenal dan semakin kaya,' Cica ingin tau fakta apalagi tentang geng upik abunya FLASHCITA itu.


☁☁☁

__ADS_1


__ADS_2