
Indahnya permai
Menyinari sejuknya pagi
Sebuah titik yang ramai
Aku ingin bertemu lagi
-Fatahillah
☁☁☁
Saat ini, Agung, Rafi dan Brian saling diam. Mereka tidak berani bersuara di karenakan Antariksa tidur dengan damainya, mungkin lelah. Sampai dengkuran halus terdengar.
Saripah membuka pintu yang sudah tua dan membuat bunyi derit mengganggu telinga. "Agung! Bantuin mak nih!"teriak Saripah membahana dari ruang tamu hingga membuat Antariksa membuka matanya, kaget.
Antariksa bangkit dari alamnya. Cowok itu menggeliat. "Aduh, siapa sih yang teriak tadi?"Antariksa menguap, ia masih mengantuk. Memikirkan Rinai semalaman membuatnya susah tidur.
Agung keluar dari gua, atau disebut kamar tepatnya. "Onok opo mak?"tanya Agung setelah di hadapan Saripah. (Ada apa mak?)
"Iki loh rewangono goreng iwak. Iki maeng wes blonjo kentang gawe begedel, terus iki menjenge wes dadi karek goreng tok,"Saripah memberikan keranjang bawaannya pada Agung. (Ini loh banguin goreng ikan. Ini tadi sudah belanja kentang buat perkedel, terus ini menjengnya sudah jadi tinggal goreng doang) menjeng adalah tempe yang sudah di ulek hingga memiliki tekstur kasar sedikit dan di beri garam secukupnya.
Rafi, Brian dan Antariksa keluar dari gua persembunyian. Rafi membantu Agung membawa menjeng, ia paling antusias jika hal masak-memasak.
Agung mengambil cobek dan wadah untuk merendam kentang sebelum di goreng, agar higienis. Ia meletakkan kentang itu dalam wadah, di ambilnya air dari genuk lalu di cuci.
Brian dan Antariksa memperhatikan.
Saripah duduk menemani mereka menggoreng lauk. "Ojok sungkan-sungkan lek kate mangan yo. Mangkane goreng iwak cek'e isok mangan bareng," (Jangan sungkan-sungkan kalau mau makan ya. Makannya goreng ikan biar bisa makan bersama)
Antariksa mengangguk, Brian hanya cengo tak mengerti yang di bicarakan Saripah.
Agung selesai merendam kentang. Ia mengupas kentang dan memotongnya sesuai ukuran bulat. "Eh, kompornya nyalain ya. Ini mau di goreng," titahnya.
Antariksa berdiri menyalakan kompor. Wajan yang bertengger di paku, di ambilnya meletakkannya di atas kompor.
__ADS_1
Agung memberikan kentang yang sudah di potong. "Nih sa, lo goreng ya. Jangan kecoklatan, gak enak. Sedang aja, lagian nanti di goreng lagi,"
Antariksa mengangguk. Ia mulai menggoreng kentangnya.
"Raf, nanti lo ulek ya sampai halus," jelas Agung. Proses membuat perkedel langsung. Bukan instan seperti bumbu dalam kemasan yang khusus untuk perkedel itu.
Mengangkat kentang yang sudah matang, Rafi menyodorkan cobeknya agar minyak gorengnya tidak menetes kemana-mana.
Rafi mulai meng-ulek hingga halus.
"Pintere le pean goreng. Isok masak yo?"tanya Saripah pada Antariksa. (Pintarnya le [laki-laki] kamu goreng. Bisa masak ya?)
Antariksa tersenyum tipis. "Ngge mak, kulo saget masak," (Iya mak, aku bisa masak)
"Iki begedele di kek'i bumbon yo gung. Mak ngerewangi biyodo," Saripah melangkah pergi. Biyodo dalam artian membantu orang yang sedang hajatan seperti nikahan dan khitan. Biyodo ini membantu membuat jajanan seperti rukuk-rukuk, brubi, apem, rangen, krupuk, pastel, rawon, sayur kates (pepaya), ketan dan ketan hitam, roti kukus, jenang, dan onde-onde.
"Ngge mak," sahut Agung setelah Saripah pergi.
Proses pembuatan perkedel hingga selesai pun Antariksa membantu Agung dengan perasaan hampanya, memikirkan Rinai.
"Bleh-bleh panas, padahal gue udah tiup tadi," Agung mengembalikan irisan kentang itu di mangkok kecilnya.
"Makanya, jangan langsung dimakan. Nunggu dingin dulu, kalau lo sakit gigi tau rasa!"peringat Brian ganas.
Rafi terperanjat kaget. Suara Brian menggema di rumah Agung. "Ish, lo bisa gak sih? Gak bikin kaget orang hidup aja," omel Rafi kesal, Brian menggeleng tak mau tau. Ia tidak tega melihat Agung sakit gigi lagi.
Agung beringsut di belakang Rafi. "Mas Rafi, bang Brian nackal,"adunya, Rafi mengusap kepalanya sayang.
Rafi menatap Brian datar. "Bri, jangan garang-garang,"
Antariksa merasa terhibur dengan keasikan para sahabat ter-gesreknya.
"Eh, gimana kalau kita main layang-layang aja?"tanya Agung dengan segala ide cemerlangnya.
Antariksa sumringah. "Bener juga, eh tapi ada tempat kayak lapangan gitu gak? Terus anginnya gede?"Antariksa membentangkan kedua tangannya hingga mengenai wajah Brian dan Rafi.
Brian menepis kasar tangan Antariksa. "Tuh tangan mau gue patahin?"semprot Brian garang dan melotot.
__ADS_1
"Udahlah, kalian jangan berantem. Yuk, ke lapangan sebelah kampung gue,"Agung menarik tangan Brian dan Rafi agar tidak berkelahi dalam adu mulut dengan Antariksa.
☁☁☁
Sesampainya di kampung sebelah, Agung mempunyai layang-layang seperti di kartin Upin & Ipin.
Agung mengecek angin. "Lumayan, yaudah Rafi, lo megangin layangannya. Nanti biar gue yang narik darisini. Tapi sebelum itu,"Agung menghampiri Brian dan Antariksa yang tengah memperbincangkan sepak bola piala dunia pun buyar karena Agung menakut-nakuti keduanya.
"Rawrrr, Brian, Antariksa. Rawrrr,"Agung mendekatkan layangan naganya pada dua kutub es itu.
Brian memutar bola matanya malas. "Apaan sih, gak serem!"sentaknya marah.
Rafi menggeleng heran, Agung tidak ada takut-takutnya dengan Brian.
Antariksa tersnyum, srnang Agung bisa menghiburnya. "Ada-ada aja lo gung. Buruan, mumpung anginnya kenceng,"
Agung bersiap menerbangkan layangannya. Terbanglah layangan bergambar naga itu
"Mwehehe, akhirnha layangan gue bisa terbang. Eh, tapi kalau yang ada di tiktok alias hantu? Hih serem,"Agung bergidik ngeri. Nanti ia gere-gere atau disebut terbawa mimpi, dalam artian sebelum tidur di mimpinya ada hantu yang mengejar atau sekedar menampakkan diri.
Sesekali Agung menggoda Brian. "Kalau lo marah-marah, di sembur naga layangan gue ******!"
Brian tak menggubrisnya, ia bosan. Berbeda dengan Antariksa yang antusias.
"Eh, gung. Gue boleh coba?"sudah lama sekali ia tak bermain layang-layang. Terkahir kali saat usia 5 tahun di lapangan tepat nuansa golden hour dan ada mbak cantik yang berpose foto ala selebgran, dengan watadosnya Antariksa lewat di depan kameranya.
Agung menyerahkan layang-layang naganya pada Antariksa. "Nih,"
Sayang sekali, layangan yang di kendalikan Antariksa terjatuh.
"Yah sa, jatuh. Pingin main lagi mih gue,"rengek Angung tak ikhlas.
"Udah sore nih. Gak mau pulang?"tanya Brian, ia tidak ingin pulang sore dan di marahi Martha.
Keempat cowok itu pun memilih pulang, kembali ke habitatnya masing-masing.
☁☁☁
__ADS_1