
Rintik hujan menjatuhkan diri
Secuil tumbuh rasa iri
Diantara langit bumi tanpa di sadari
Terbohongi jelita cantiknya bidadari
-Fatahillah
☁☁☁
Toko The Peanut is Sembunyi itu semakin ramai akan pembeli. Antariksa yang hari ini tak ada jadwal kuliah pun menyibukkan diri dengan bisnis barunya.
Di meja kasir, Agung tersenyum ramah kepada pembeli. Tak mungkin Brian bukan?
"Mas, saya beli kacang sembunyinya dua kaleng ya," ujar seorang ibu berusia kepala tiga. Dua kaleng sudah kategori banyak, jika dalam bungkusan plastik alias rentengan yang biasanya di jual di warung-warung terdekat.
"Baik bu, silahkan di tunggu ya disana," Agung menujuk tempat dimana para pembeli menunggu sambil menikmati akses Wi-Fi dengan gratis, jika di warung ada semboyan bayar seribu duduk manis sepuasnya.
Agung melapor pada Brian yang sedang mewadahi kacang sembunyi yang sudah matang ke kaleng.
"Kacang sembunyi, dua kaleng," lapor Agung layaknya tentara saja.
Brian mengangguk, di sodorkan dua kaleng kacang sembunyi yang sudah di kemas. Bahkan di kaleng itu sudah ada foto Antariksa dan merk tokonya The Peanut is Sembunyi.
Agung kembali menghampiri penjual tadi. "Bu, ini dua kaleng kacang sembunyinya. Totalnya jadi limapuluh delapan ribu," Agung memberikan dua kaleng kacang sembunyi itu, tak perlu kantung plastik karena kaleng ini seperti timba yang bisa di bawa kemana pun.
Cica yang melihat toko Antariksa yang ramai pun geram. Bagaimana pun cowok itu harus merasakan penderitaan yang sama padanya, yaitu kehilangan lagi.
__ADS_1
'Oke, kalian bakalan nangis kejer malam ini. Liat aja, gue bakalan bakar nih toko. Barang bukti? Bagi gue gampang buat menghilangkan jejak,' batin Cica, ia akan menyusun strategi lebih agar aksinya nanti tidak kepergok siapapun.
☁☁☁
Antariksa menyelonjorkan kakinya, sangat lelah memang. Ia bagian menggoreng kacang sembunyinya, tangannya sekarang pun di pijat oleh Rafi. Mereka berada di rumah Antariksa, karena mengenai hari semakin malam tepatnya pukul 11 Rafi, Brian dan Agung menginap di rumah Antariksa. Tak memungkinkan bagi mereka untuk pulang, pasti jalanan sepi dan rawan begal serta kejahatan lainnya.
"Laris bener sa toko lo. Gue aja gak nyangka," ucap Agung menggeleng heran.
Antariksa terkekeh, ia juga senang bisnis kecil-kecilan ini beekembang pesat. Bahkan Rafi dan Brian bolah-balik ke pasar membeli bahan-bahannya lagi.
"Semuanya dari usaha gung," toko yang Antariksa dirikan ini sesuai janjinya dengan Rinai, sekaligus memenuhi kebutuhannya agar tak perlu repot-repot melamar pekerjaan ke perusahaan besar, namun kuliah kedokterannya membutuhkan biaya yang besar. Antariksa akan mengumpulkan uang secukupnya.
Ponsel Antariksa berdering, nama Angkasa terpampang jelas. Ayahnya itu masih membereskan barang-barang yang masih tertinggal, entah bekal atau tupperware.
"Kenapa yah?" disana Antariksa mendengar keributan, bahkan suara guyuran air yang tak henti-hentinya. Angkasa ikut panik.
"Haduh, cepetan panggil bomba. Gak padam-padam nih apinya," teriak Angkasa heboh, bomba pemadam kebakaran.
"Sa, toko lo kebakaran maksudnya," ujar Agung menyadarkan Antariksa yang masih belum sadar. Entah memikirkan apa cowok itu.
Antariksa membelalak. "Yang bener? Siapa yang berani manggang toko gue?"
Brian berdecak kesal. "Lo kira sate? Udahlah, mending kesana aja. Telepon pemadam kebakaran, paling mereka cuman nyiram apinya doang. Mana bisa padam kalau kebakarannya itu besar,"
Antariksa beranjak dengan langkah tergesa, menaiki motor matic-nya.
Agung dengan Rafi, Brian sendiri. Mereka mengebut menuju toko The Peanut is Sembunyi.
Sesampainya di toko, Antariksa lemas melihat tokonya ludes terbakar. Padahal ia baru saja merasakan bisnisnya ini sukses. Sebelum Antariksa pingsan, Agung merangkul bahu Antariksa.
"Sabar sa, mungkin ini cobaan berat buat lo. Eh, panggil bomba, bomba, bomba dong," Agung ikut bercanda mencairkan suasana, Angkasa merogoh ponselnya. Pria itu menggeram kesal, ponselnya mati.
__ADS_1
Brian menelepon pemadam kebakaran. Rafi ikut memadamkan apinya setelah meraih timba dari bapak-bapak yang baru kewalahan memadankan apinya.
Mata Antariksa berkaca-kaca, bagaimana reaksi Rinai kalau tau toko yang ia dirikan habus terbakar?
"Gung, gue gak tau lagi harus gimana. Hidup gue banyak cobaan, kehilangan ibu, toko terbakar. Apa gak bisa hidup gue itu tenang?" ucap Antariksa dengan suara paraunya, bahunya naik-turun, Antariksa menangis.
Agung mengusap bahu Antariksa."Yang sabar ya sa. Semua cobaan pasti ada hikmahnya kok. Mungkin suatu saat lo bisa bangun usaha ini lagi. Kita semua ada buat lo sa,"
"Makasih ya gung," Antariksa bersyukur mempunyai tiga sahabat yang selalu ada dalam suka dukanya.
☁☁☁
Antariksa meneguk air putih yang di ambilkan oleh Rinai, tunangannya itu datang. Menenangkan dirinya.
"Maaf ya, aku baru bisa dateng. Tadi jalanan macet," Rinai tak enak hati. Bahkan ia mengebut demi memastikan apakah Antariksa baik-baik saja.
"Iya, gak papa. Udah malem nih, kamu gak pulang?" Rinai sudah menemainya hingga jam sembilan malam. Mulai dari melihat sinteron adzab, makan singkong rebus, dan sesi curhat Rinai dari drakor hingga lagu MV terbaru. Meskipun Antariksa jengah, tapi ia merasa kehadiran Rinai menyiram hatinya yang kalang-kabut menjadi setenang air mengalir.
"Iya, aku bakal pulang kok. Jangan di pikirin terus ya, ntar sakit," Rinai meraih tas selempangnya. "Aku pulang," saat dirinya baru satu langkah, Antariksa menarik tangannya. Rinai menoleh. "Kenapa?"
"Cewek pulang malem gak baik, aku gak mau kamu di goda, culik, dan di apa-apain. Aku anter ya?" Antariksa sangat tau mengenai jalan sesudah gapura desa itu adalah hutan belantara meskipun hanya sepuluh menit terjebak.
Rinai menggeleng. "Kan aku bawa mobil, terus kamunya pulang naik apa nanti?" Rinai tak ingin merepotkan Antariksa, cowok itu sudah lelah dan masih terpukul mengenai toko The Peanut is Sembunyi tiba-tiba terbakar.
"Gak, pokoknya aku anterin kamu pulang selamat sampai tujuan," tukas Antariksa tak ingin di bantah.
"Oke, tapi kamu tidur di sofa ruang tamu. Besoknya biar supir aku yang nganter kamu pulang," Rinai tak ingin bersebelahan kamar dengan Antariksa. Ada satu kamar kosong dan itu tepat di kamarnya.
"Iya deh," kata Antariksa lempeng, lagipula siapa yang akan berani mengganggu tidurnya si raja Sabana?
☁☁☁
__ADS_1