ANTARIKSA

ANTARIKSA
74. House Rinai only (2)


__ADS_3

Gemericik air surga


Kau hadir tanpa di duga


Menghampiri lewat dermaga


Bersama indahnya jingga


-Fatahillah



☁☁☁


Sekarang mereka kumpul di ruang bioskop. Menonton drakor yang membuat Caca, Tia, Adel gregetan saat itu pula.


Di angkat dari Webtoon karya dari Kati Deusilraeyo yang menceritakan tentang Wo Do-he di perankan oleh Seo Ji-hye yang patah hati setelah putus dari kekasihnya.


"Gue heran deh," sejenak Caca mengunyah jagung bakarnya, biasanya popcorn kan? Hemat, jagungnya langsung sekalian.


"Kenapa?" Salma menoleh, Caca baru berbicara setelah melewati adegan Kim Hae-kyung bertemu lagi dengan Seo Ji-hye.


"Kenapa kalau ketemu terus banyak yang bilang jodoh? Lah kan belum tentu," curhat Caca, mewakili hati yang kesal terutama di jodoh-jodohkan.


Adel mulai bingung dengan alur cerita ini. "Eh ganti film yang bikin nangis dong, bosen gue cinta mulu. Emang hidup bisa makan cinta doang?" tanya Adel sambil melipat kedua tangannya, ia tak semudah itu untuk baper.


"Gue saranin yang The Flu tahun 2013 itu aja," saran Salma, ia ingin melihat bagaimana reaksi kelima sahabatnya ini menangis saat Park Min Ha sebagai Kim Mi Reu tertular virus.


"Oke, siap-siap,"


Film berganti The Flu mulai dari awal Caca selalu protes.


"Apa-apaan batuk itu bisa nyebar cepet? Tuh, liat kan?" tunjuk Caca pada partikel kecil menyebar ke semua orang.


"Makanya di tutupin pakai lengan. Udah ah diem, awas aja lo nanti teriak," ancam Salma was-was, nanti ibu dari Kim Mi Reu akan berjuang melindungi anaknya agar tidak di angkut ke tempat pembakaran sebagai mencegah menyebarnya virus itu.


Dan tiba saat perjuangan itu di mulai, Caca dan Adel sama-sama histeris.


"Ya ampun, cepet dong!" teriak Caca heboh saat ada adegan di mana Kim Mi Reu sudah di suntik dengan anti-body agar kekebalan tubuhnya meningkat.


"Waduh awas ketauan!" peringat Adel, untungnya ia membawa bantal untuk melampiaskan kekesalannya.


Ponsel Rinai berdering, siapa gerangan yang mengganggu di saat serius menonton film?


"Antariksa?" nama itu terpampang jelas, Rinai mengangkat teleponnya.


"Mau gak ikut ke pasar? Katanya pingin beli ikan asin sama teri," tawar Antariksa, sekalian jalan bareng. Kalau pasangan lain mungkin ke bioskop, Timezone, mall, taman, restoran.


"Ngapain ke pasar? Lagi nonton bioskop nih,"


"Sama siapa?" tanya Antariksa, nadanya berubah dingin.

__ADS_1


Rinai menautkan alisnya. Kenapa Antariksa seperti cemburu ya?


"Gak percaya? Sekalian gue fotoin?" Rinai memotret kelima sahabatnya, cowok sekarang kalau gak ada bukti minta di introgasi.


"Udah percaya kok, aku kira nonton sama cowok selain aku," Antariksa terkekeh saat melihat pose Caca yang duduk seperti di warung, matanya serius melihat film, jangan lupakan jagung rebus yang tinggal setengah itu berada di sebelah pipi Adel, hampir menyentuh. Bisa perang lagi nanti.


"Eh udah buyar aja, keluar yuk. Kemana gitu, gerah nih," Caca mengipasi wajahnya dengan tangan.


"Ikut ke pasar gak? Kan udah selesai film-nya," ujar Antariksa, mendengar Caca yang mengatakan film-nya selesai.


"Woah ke pasar sama kak Antariksa? Ikut dong, rame-rame aja sekalian," ucap Caca antusias, di seberang sana Antariksa menghela nafasnya, borongan iya.


"Yaudah, ikutan aja semuanya," Rinai menambahi, bagus kan? Antariksa tidak bisa modus.


☁☁☁


Disinilah Antariksa mengajak enam hawa pergi ke pasar.


Caca sedari tadi bergelayut di lengan Antariksa, cowok itu tak memberontak. Ada benarnya pula, karena pasar disini sedang ramai dan berjubel. Takutnya nanti ada yang ketinggalan bagi yang pendek kehimpit sana-sini.


Antariksa pergi ke stan penjual ikan.


"Ikan asinnya dua,"


Sang penjual berusia sekitar 50-an itu mengangguk.


Sedangkan Adel melirik penjual Lupis yang ramai akan pembeli.


"Eh itu berapaan ya? Pingin beli nih, tapi antri,"


Salma mengjampiri stan penjual Rangen.


Antariksa yang sudah membeli dua ikan asin dalam balutan koran yang di potong sesuai ukuran, setiap satu koran ada tiga ikan asin.


"Nungguin Salma dulu," ujar Tia, Antariksa ingin melangkah pergi, pulang.


"Boleh gak minta foto kamu? Ya di pasar gini, nanti aku post di Instagram aku dengan caption cogan nyasar ke pasar," pinta Caca, ia mengeluarkan Iphone 7 berwarna merahnya, merah itu berani.


Antariksa menenteng tas belanjaannya. Tak ada ekspresi sama sekali.



❤ 💬 ↗


cacamerica like by yukikt, bellagap, bebytsabina and 999.346 others.


💬


fans.antariksa: ngamar aku saking ganteng'e pean le


rumput_laut: ayo rumput laut buat makan kambing

__ADS_1


sekinker: mau glow kayak mas di atas? Nih ada gamping buat permak wajah, putihnya tembok permanen.


jombelo: itu tiang listrik apa gimana? Tinggi bener dah 😅


Kesal, Caca me-nonaktifkan komentar.


Tia terkekeh. "Makanya lo sih pajang foto kak Antariksa, jadi rame kan," Tia menggeleng heran, Caca memasukkan Iphone 7 ke tas selempang dengan kasar.


Salma menghampiri Tia, membeli Rangen untuk stok saat begadang nanti.


"Udah sore, ayo pulang deh. Ntar di culik kalong wewe lagi," ucap Adel. Ia teringat pesan mak-nya dulu.


Tentu pulangnya jalan kaki, jarak pasar ke rumah Antariksa itu dekat.


Saat melewati jembatan yanh sebagai penghubung ke pasar, Caca, Adel, dan Salma bergidik ngeri melewati sungai yang katanya ada buaya rawa, Antariksa menakut-nakuti apa ada benarnya?


"Jangan liatin terus, jalan juga liat depan dong. Kalau kalian nyungsep di telen buaya rawa mau?" Antariksa sekedar mengingatkan, ketiga cewek itu fokusnya melihat rawa-rawa dan beberapa sampah yang hanyut.


"Akhirnya gue bisa nafas," ucap Caca lega, sedari tadi hatinya cemas melewati jembatan sebagai penghubung ke pasar itu.


"Oh berarti tadi lo gak nafas?" tanya Adel, heran. Apakah Caca saudaranya kucing yang bisa bernafas di laut pada kartun Spongebob?


"Ya nafaslah, cuman beda. Baru kali ini nih, gue ngelewatin jembatan yang ada buayanya. Kalau gak demi kak Antariksa, mana mau. Ogah gue ke pasar," Caca menghirup rambutnya, sudah tidak wangi lagi. Tadi ada penjual sate, rambutnya seakan ikit ter-sate pula.


Sampai di rumah Antariksa, Adel terbahak melihat Caca menggerutu terus dengan rambutnya bau sate.


"Gitu aja kesel, nanti sore kan bisa keramas lagi," Adel memberikan belanjaan Antariksa, cowok itu membeli kangkung satu ikat.


"Gue pulang ya? Makasih tadi udah beliin ikan asin, sama teri banyak,"


Antariksa tersenyum tipis. "Iya, sama-sama. Di jemput sopir?" tak mungkin pula Antariksa membonceng enam cewek di jaoan umum kan? Mau di letakkan dimana? Ban?


"Tuh, udah di tunggu," tunjuk Rinai, mobil berwarna hitam mengkilat terparkir cantik di gapura desa, terlihat dari rumah Antariksa.


"Gue masih kepikiran Lupis tadi nih," curhat Adel, namun Salma meberikan kantung plastik di dalamnya ada dua bungkus yang masih hangat.


"Nih, gue beliin aja sekalian. Sama buburnya, untung gue masih ke bagian. Pembeli terkahir," Tia penuh perjuangan, membelah antrian demi Adel yang ingin makan Lupis, sekalian ia tambahi dengan bubur sum-sum.


"Makasih Sal, eh perlu gue ganti gak? Berapa tadi?" Adel mengeluarkan uang sepuluh ribu dari saku celana-nya.


Salma menggeleng. "Gak usah del, gue ikhlas kok. Mending lo tabung aja itu, luamayan kan?" meskipun sepuluh ribu, jika untuk naik ojek kembali seribu, berjaga-jaga saat pulang dari rumah Rinai.


"Iya juga ya, makasih banget loh Sal,"


"Udah ah, jangan sok drama. Kapan pulangnya nih?" kesal Caca, sudah semakin sore. Ia tak mau mandi menjelang malam, tak baik untuk kesehatan apalagi airnya dingin.


"Kak Antariksa, kita pamit ya?" Tia mewakili, kelimanya sudah menuju mobil.


'Bahkan kamu gak mau gitu ngucapin good night buat aku?' tanya Antariksa dalam hati, Rinai adalah cewek yang susah di tebak, melebihi sulitnya saat menggoreng ikan bandeng dan ayam.


Antariksa menatap mobil hitam itu hingga menjauh dari gapura desa. Tersirat rasa rindu saat masa-masa sekolahnya dulu, terutama kedekatannya saat pramuka.

__ADS_1


☁☁☁


Yang rumahnya di desa pasti tau gapura desa kan?


__ADS_2