
Aryo menampilkan raut wajah masam, melihat tampilan wajahnya di kaca mobil yaitu menjadi seorang badut. Ini tidak adil, bukan seharusnya Rizaldi yang memiliki ide, kenapa jadi dia yang dikorbankan?
"Sebagai calon ayah, ada baiknya lo latihan dulu, Yo. Kita liat, apakah mereka bakal seneng ketemu lo atau malah sebaliknya?" Rizaldi menahan tawa melihat penampilan Aryo yang mukanya di dandani, seperti badut yang berada di acara ulang tahun anak-anak.
"Ren, lo juga siap kan?"
Rendra yang dari tadi melihat ke arah jendela mobil itu mengangguk.
"Oke, fighting!"
Tanpa membuat curiga warga sekitar, Rendra dan Aryo keluar dari mobil dan berjalan menghampiri halaman rumah milik Amanda. Mereka akan pura-pura menjadi badut keliling.
"Lo yakin ini bakalan berhasil?" tanya Aryo ragu, saat melihat dua anak kecil tengah bermain di teras rumah.
Rendra mengangkat bahunya. "Entahlah."
Aryo kembali mendekat ke arah Rendra. "Anak yang pakai baju Spiderman pasti anaknya Amanda, gila mirip banget sama lo, Ren!"
Rendra menempelkan jarinya di bibir, menyuruh Aryo berhenti berbicara karena kedua anak itu sudah menyadari kehadiran mereka.
"Hai," ucap Rendra sambil melambaikan tangannya. Mereka berdiri, tampak senang dengan kedatangan dua badut itu.
"Lomi liat ada badut dua!" Azka bertepuk tangan, anak itu menjerit heboh. Begitupun dengan Romi.
"Om bisa sulap gak?" Anak yang lebih tua satu tahun dari Azka yang sering melihat badut di acara ulang tahun itu, membuat keduanya kebingungan.
"Yo, lo bisa sulap?" tanyanya panik.
Rendra menepuk jidatnya. Di daftar rencana tidak ada acara sulap-sulap seperti ini, Rizaldi hanya menyuruh untuk menarik perhatian mereka, lalu Rendra di arahkan berfoto dengan Azka. Saat itulah, Rendra harus mendapatkan beberapa helai rambut Azka sebagai sampel untuk Tes DNA.
Rendra buru-buru mengambil sesuatu dari kantong baju badutnya, sebelum pergi Rizaldi memberinya mainan ini. Mungkin, jika Aryo melihatnya lelaki itu pasti marah, tetapi ini mendesak.
"Taraaa, Om punya mainan ini! Siapa yang mau?" Mereka berdua berteriak.
"MAU!"
Mata Aryo memicing melihat miniatur mobil kecil berwarna kuning salah satu aset berharganya berada di tangan Rendra. Tangannya menarik Rendra agar menjauh dari anak-anak itu. "Itu punya gue, b*ngsat!"
"Nanti gue ganti."
"Itu hotwheels langka!"
"Gue bakal bayar berapapun, Yo."
__ADS_1
"Nggak bisa, Ren. Saat gue beli itu, gue hampir menggadaikan harga diri!" ucapnya berlebihan.
Rendra menatap Aryo. "Demi anak gue sekali ini aja."
Aryo kicep, menatap mobil itu dengan sedih, masih belum rela. Sementara, Rendra kembali menghampiri kedua anak itu.
"Coba teriak paling keras, siapa yang mau mobil ini?"
"AKU!"
Hanya Romi yang berteriak. Ia menatap Azka yang seperti sudah tidak se-antusias tadi.
"Kamu nggak mau mobil ini?"
"Abang baru inget, kata bunda ndak boleh bicara sama orang ndak di kenal. Ayo, masuk. Takut olang itu jahat." Romi terpaksa mengikuti Azka yang masuk ke dalam rumah, karena tangan ditarik.
"Soalnya waktu itu, ada olang, yang jahatin bunda ampe nangis."
Deg.
Apa yang dimaksud Azka, kejadian malam itu?
Rendra yang tadinya hendak ingin meluruskan prasangka bahwa dia bukan orang jahat, itu menghela napas lunglai. Mengembalikan mobil itu pada pemiliknya, Aryo menatap Rendra bingung. Ya, walaupun jika benar Azka adalah anaknya pasti Amanda tidak akan semudah itu memberinya kesempatan. Azka sudah mendapatkan sosok ayah. Jadi tidak ada ruang lagi untuk Rendra masuk ke dalam kehidupannya.
"Kita balik ke mobil."
"Ren, tapi-"
Rendra tidak memperdulikan Aryo yang siap menahannya, karena menurutnya usaha mereka bahkan belum dimulai. Rendra tidak boleh menyerah begitu saja. Aryo menengok ke belakang, matanya berpapasan dengan mata Amanda, perempuan itu yang keluar dari rumah bersama suaminya, sepertinya Azka mengadu.
"Gimana?" tanya Rizaldi. "Dapet?"
Aryo menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" Rizaldi memberi kode pada Aryo, kenapa temannya itu menjadi diam. Aryo hanya bisa mengangkat bahunya, dia juga tidak tahu.
****
Di meja makan keluarga Hutama, ada ibu dan ayah, Rendra serta adik sematawayangnya yang masih berusia 18 tahun. Mereka menyantap masakan sang ibu dalam diam. Terlebih, Rendra yang hanya memainkan sendok yang beradu pada piring. Tubuhnya memang bersama mereka, tetapi jiwanya entah kemana.
"Ren?"
"RENDRA!"
__ADS_1
"Ha?"
Lelaki itu terkejut, lalu memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Kamu nggak suka tinggal sama Mama di sini?" Ibunya akhirnya bisa bertanya, dia sungguh khawatir pada nasib putranya yang sudah jarang di rumah, jarang sarapan, bahkan dia melihat Rendra setiap malam gelisah. "Mama nggak masalah kalau kamu mau ke Bandung lagi. Asal jangan balik ke luar negeri aja."
"Bukan itu, Ma."
"Masalah kerjaan? Kamu nggak suka juga ditempatin di restoran ayah?"
"Bukan Ma."
"Ya terus apa, Ren? Bilang sama Mama, jangan buat mama khawatir. Karyawan di resto pada ngadu loh sama Mama, katanya kamu jadi sering nggak konsen kerja terus marah-marah juga."
"Ma, kenapa sih lebai banget. Kak Rendra itu udah besar, Mama nggak perlu tanya-tanya dia. Apa yang terjadi sama Kak Rendra, ya enggak harus Mama perlu tau," ucap Rasya yang muak dengan mamanya padahal umurnya sudah hampir 24 tahun.
"Bukan gitu, Sya. Mama itu perhatian takut kakak kamu kenapa-napa."
Rasya mendelik, kembali makan. Memang susah jika sudah dimanjakan dari kecil, di mata mama Kak Rendra masih seperti anak kecil kesayangannya.
"Oh, kamu gini karena cemburu sama kak Rendra? Kamu merasa nggak diperhatikan sama Mama? Makanya di sekolah yang pinter, nurut, jangan bisanya ngerusuh terus!" Lagi-lagi Rasya kena omelan, tetapi telinganya sudah tebal. "Mama juga kan jadi bisa banggain kamu ke temen-temen Mama, kayak kakak kamu ini."
"Udah, Ma. Rendra nggak apa-apa," ucapnya sambil menegakkan tubuhnya, lalu berjalan ke kamar. Mengabaikan mamanya yang semakin khawatir karena Rendra tidak menyicip satu sendok hidangan makan malam itu.
Rendra merebahkan tubuhnya di kasur, menatap ke arah langit-langit kamar. Pradipta Raid Azka. Sudut bibirnya tertarik sedikit, entah kenapa Rendra se-yakin itu jika dia adalah darah dagingnya. Bagaimana, jika mama tahu kalau ada Rendra versi mini? Apakah dia akan senang atau malah sebaliknya?
Jika saja dulu, Rendra menerima kehadirannya dan tidak pergi ke luar negeri, Amanda pasti menikah dengannya, lalu membesarkan Azka bersama-sama dan memberinya adik-adik yang lucu. Rendra sangat menyesal, dia dulu selabil itu lari dari masalah. Dia mungkin sekarang mendapat karmanya, dengan dihantui rasa bersalah dan penyesalan yang mungkin tidak akan pernah hilang dari ingatannya.
Bruk!
Rendra bangun dari tidurnya, menatap adiknya dengan tatapan bingung.
"Gara-gara kresek ini Rasya hampir kehilangan uang jajan! Kenapa juga sih, Kak Rendra harus datang ke Jakarta? Nggak enak tinggal di luar negeri dengan kemewahan?" sindirnya dengan nada penuh tidak sukaan.
Setelah mengatakan itu, Rasya pergi kembali tanpa membawa kresek yang dibiarkan di lantai.
Rendra mengambil kresek itu, lalu menghela napas lelah. Mainan-mainan ini dibelinya kemarin saat kejadian malam itu, dia berniat memberikannya pada Azka. Tetapi karena keadaan tidak memungkinkan, ia membawanya kembali ke rumah.
Mamanya pasti menemukannya dan menganggap ini milik Rasya, lalu memarahi anak itu karena membeli sesuatu yang tidak berguna untuk remaja seusianya.
Rendra hendak meminta maaf pada Rasya, namun pintunya malah dikunci. Dia dan adiknya memang tidak se-akrab itu, karena sering dibanding-bandingkan membuat mereka jadi terasa asing.
***
__ADS_1
"