Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
39 : Merasa terhina


__ADS_3

Mereka menepi di rest area karena Arumi ingin ke kamar mandi sekaligus membeli makanan di supermarket. Amanda menggunakan kesempatan itu untuk berbicara dengan Rendra.


"Rendra," panggilnya. Rendra hanya berdehem, lelaki itu menahan senyuman melihat dari kaca ekspresi Amanda yang dari awal perjalanan seperti gelisah.


"Arumi belum tau tentang kita kan?" tanya Amanda, sebenarnya dia ogah sekali berbicara duluan, tetapi karena Rendra tidak juga memulai pembicaraan dan tampak santai, membuatnya terpaksa menurunkan gengsinya.


"Kita, emang kita ada hubungan apa?" balas Rendra dengan nada pura-pura bingung.


Amanda berdecak, memutar bola matanya. "Jangan pernah bilang apapun tentang masalalu kita pada Arumi."


"Dapat apa aku untuk uang tutup mulut?"


"Rendra!" sebal Amanda sepertinya sifat menyebalkan yang sedari sekolah itu masih melekat di tubuhnya. "Masa depanku mungkin ada di tangan ayah Arumi, jadi please jangan sampai itu hancur gara-gara masalalu!"


Rendra menoleh pada Amanda, lalu tersenyum. "Aku nggak bisa janji."


"Rendra!" Amanda menjerit sebal, tangannya memukul kepalanya. "Jika itu terjadi aku akan membunuhmu!"


"Kamu berani?" tantang Rendra, dengan tatapan meledek.


Merasa diremehkan, Amanda melingkarkan tangannya di leher Rendra, dia berdiri di belakang kursi kemudi. Lalu mencekik Rendra, hanya berniat untuk menggertak dan membuktikan bahwa dirinya mampu melakukannya, tetapi tidak menyangka jika efeknya akan membuat Rendra batuk dan tiba-tiba sesak napas.


Amanda panik, dia takut jika Rendra benar-benar mati sekarang apa dirinya akan dipenjara? Lalu, bagaimana nasib masa depan Azka?


"Rendra! Maaf, aku nggak bermaksud!" katanya cemas, Amanda sudah beralih ke samping kursi kemudi. Tangannya mengambil botol yang berisi air. "Kamu minum dulu. Jangan mati, aku bahkan belum siap mendekam dipenjara!"


Diam-diam Rendra tersenyum. Mantan kekasihnya itu masih memiliki hati lembut, bahkan setelah apa yang dilakukan Rendra padanya. Amanda masih mengkhawatirkan keadaanya.


Amanda menutup wajahnya, menepuk kepalanya beberapa kali. Menyesal kenapa dia harus bertindak gegabah seperti tadi. Ia memang membenci Rendra tetapi dirinya merasa tidak ada niatan untuk menghabisi nyawanya.

__ADS_1


"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" gumamnya pelan.


Rendra yang melihat Amanda seperti itu, merasa harus menyudahi aktingnya. "Aku hanya bercanda, Amanda."


Tangan Amanda terhenti, kepalanya bergerak melihat Rendra yang menampilkan senyum jailnya. Amanda mengambil sisa air di dalam botol, lalu mengguyurnya pada Rendra.


"Bisa-bisanya kamu?" tunjuknya, sambil menahan geram. "Kamu kira ini lucu?"


Amanda hendak menyerbu Rendra dengan memberinya beberapa pukulan tetapi bisikan Rendra pada telingnya, membuat Amanda menjauhkan dirinya lalu terpaksa kembali ke kursi belakang.


"Arumi berjalan ke sini. Kamu nggak mau sampai di tau dan curiga kan?"


Di belakang Amanda menghembuskan napasnya. Rendra benar-benar kekanakan, mana bisa dia membuat lelucon soal kematian?


"Maaf lama, soalnya di kasir antri banget!" Arumi masuk ke dalam. "Kamu habis cuci muka?" tanyanya melihat wajah Rendra basah.


Tangannya mengambil tisu lalu hendak mengusapkannya pada Rendra, tetapi lelaki itu malah mengambilnya dan mengusapkan tisu menggunakannya tangannya sendiri. Pemandangan itu disaksikan oleh Amanda, apalagi perubahan raut wajah Arumi yang seperti kecewa. Sebenarnya, hubungan macam apa yang mereka jalani? Bahkan selama di perjalanan mereka berdua tidak saling melempar perhatian, hanya Arumi yang dominan membuka topik.


Pesan masuk itu berasal dari ponsel Amanda. Dibukanya pasti dari Rendra karena lelaki itu tadi memainkan ponselnya sebelum kembali melajukan mobil, tanpa sadar Amanda berdecak. Apa-apaan lelaki ini? Jika Arumi tahu, dia pasti curiga


From: 0858 ×××× ××××


Tenang saja, aku akan merahasiakannya. Imbalannya, aku ingin setidaknya kita bisa berteman lagi, Amanda.


Apa imbalan? Huh, dasar Rendra tidak tahu diri.


Tunggu ada yang aneh dengan nomornya, Amanda men-scrool pesan terdahulu. Dia menemukan beberapa pesan, bukankah ini nomor yang dulu di kiranya nomor suaminya? Ternyata Rendra yang pengirimnya. Tangannya memencet tombol block dengan kesal. Lelaki itu tidak akan bisa menghubunginya lagi.


***

__ADS_1


Seperti yang Kinan suruh, Adit menyambangi kediaman rumah mertuanya keesokan harinya. Tidak dengan tangan kosong, lelaki itu membawa beberapa camilan kesukaannya berharap diterima baik. Rumah besar ini sepi sekali, hanya ada mertuanya yang tinggal bersama salah satu adiknya yang sudah menikah tetapi belum dikaruniai anak.


Adit datang pada jam kerja, mereka berdua tidak ada di rumah. Mertuanya hanya ditemani oleh satu bibi dan dua satpam. Pandangannya tertuju pada interior rumah yang mewah, seingatnya rumah ini dilapisi emas. Jika Adit bisa menguasai, dia akan memboyong keluarganya untuk tinggal bersama, pasti ramai dan membuat rumah ini terasa hidup kembali.


"Pak Rizki ada kamarnya, dia sedang beristirahat. Beliau kemarin mengeluh dadanya sakit," ucap bibi yang menemani Adit menuju kamar mertuanya. "Sebenarnya tidak diperbolehkan untuk menerima tamu, tetapi karena Non Kinan yang menyuruh. Pak Adit bisa menemuinya, tapi dengan catatan hanya lima belas menit," lanjutnya dengan sopan.


Bibi membuka pintu, mempersilakan Adit untuk masuk. Lelaki itu melihat mertuanya hanya terbaring di kasur, Rizki hanya menoleh sekilas. Kekecewaan masih tercetak jelas.


"Selamat pagi, Pah."


Pintu tertutup hanya ada mereka berdua di kamar itu.


"Mau apa kamu menemui saya?" tanyanya, suaranya terdengar serak.


"Saya hanya ingin melihat keadaan Papah sekaligus kembali meminta maaf?" Adit masih bersikap sopan. "Saya benar-benar menyesal, Pah. Saya janji setelah ini akan menjadi suami yang lebih baik dan membahagiakan Kinan."


"Jangan harap saya akan memberikan hak itu padamu, kamu sudah mengecewakan saya dan Kinan. Ya, tidak seharusnya saya membiarkan Kinan menikah dengan lelaki tidak jelas sepertimu," ucap Rizki membuat Adit mulai merasa terhina. "Kinan berhak mendapatkan seseorang yang pantas bersanding dengannya dan menyayanginya. Menyerahlah dan ceraikan anak saya. Bahkan, jika kamu tetap ingin bertahan, kamu tidak akan mendapatkan apapun."


Rizki diam-diam menyelidiki Adit, dia tahu bahwa suami anaknya itu sering bertemu diam-diam dengan Tamara, hal yang patut dicurigai. Ditambah, Tamara juga memberikan usaha club padanya. Entah, mengapa feeling-nya berubah dan mengatakan bahwa Adit itu tidak baik untuk anaknya.


"Dari awal saya memang tidak berniat untuk mengangkatmu menjadi penerus. Kecuali kamu memang berkompeten dan berpendidikan tinggi. Hanya anak lulusan SMA, kamu berharap apa?" Rizki mengeluarkan kekesalannya pada Adit. Dia tidak berniat mengejek tetapi menyadarkan lelaki itu agar mundur. "Yang ada, perusahaan yang saya kelola mati-matian akan bangkrut."


"Menyerah saja, dan kembali ke kehidupanmu. Hal itu lebih baik daripada menumpang hidup dengan orang lain," saran Rizki terdengar menyakitkan, tetapi hal itu sangat realistis. "Apa kamu tidak malu, Adit? Atau memang urat malumu sudah putus? Kamu kira saya tidak tahu, jika kamu diam-diam menggunakan uang tabungan Kinan untuk hal tidak berguna, seperti berfoya-foya dan mengirimkan pada keluargamu?"


Sementara, Adit hanya bisa mengepalkan tangannya, tidak berniat menyanggah atau menjawab. Ternyata, mertuanya yang sedang sakit, masih bisa berbicara selancar ini. Rahangnya mengeras, tentu hatinya merasa sakit. Dia tidak tahu orang macam apa Adit yang jika harga dirinya sudah diinjak-injak. Berani melakukan apapun agar dendamnya terbalaskan.


"Saya tidak menerima diperlakukan seperti ini, tetapi saya tidak akan pernah menyerah. Saya akan mencoba menjadi suami yang lebih baik," Adit bisa mengontrol dirinya agar tidak melakukan hal gegabah, setidaknya jangan sekarang. "Saya tidak berharap Papah memberikan harta itu pada saya. Menikahi Kinan murni karena saya memang mencintainya. Semoga lekas sembuh."


Setelah menunduk hormat, Adit meninggalkan kamar itu. Matanya berubah merah. Amarah itu mendesak keluar, sungguh dia tidak bisa menerima direndahkan sedemikian rupanya. Lihat saja, Adit akan membuatnya tidak merasakan rasa sakit lagi. Mungkin itu setimpal dengan penghinaan yang telah dilontarkan padanya.

__ADS_1


****


__ADS_2