Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
26: Mengaku


__ADS_3

"Dipta, terima kasih sudah membahagiakan putriku."


Adit yang menghabiskan malam dengan menemani mertua yang tiba-tiba datang itu, hanya bisa tersenyum manis. Mereka berdua sedang menikmati pemandangan, Kinan yang tengah tertawa girang dengan mainan barunya, sebuah kucing anggora pemberian ayahnya.


"Kinan selalu ceria, tetapi di dalamnya dia sangat kesepian. Hidup di rumah besar dari kecil yang hanya ditemani bibi, semenjak kami bercerai. Saat, ditanya apakah dia ingin ikut dengan papa? Anak itu malah menolak, dia tidak mau menyakiti orangtuanya dengan memilih salah-satunya." Senyuman tulus seorang ayah padanya anaknya. Adit merasakan ketulusannya. Terbesit, apakah dia bisa menjadi sosok ayah seperti papa Kinan?


"Kamu tau, kenapa saya ingin sekali cucu pertama laki-laki?"


"Kenapa, Pah?"


"Bukan hanya karena dia akan menjadi pewaris tunggal perusahaan milikku, tetapi dia juga akan menjadi pengganti ayahnya. ketika anakmu nanti sudah besar, tugasmu akan lebih pokus berganti menjadi sosok suami dan kepala keluarga yang mengerahkan semua waktunya untuk keluarga. Sementara tugas anakmu adalah menjadi penerus. Papa ingin, apa yang terjadi dulu dengan Kinan, tidak terulang dengan anak-anakmu nanti. Mereka harus bahagia sampai tua bersama kedua orangtua utuhnya."


Adit hanya terdiam, keinginan papa sangat mulia. Tetapi apa dalam kondisi yang serba salah dirinya bisa mewujudkan keinginannya? Sedangkan dari awal niat menikah dengan Kinan, Adit hanya ingin memanfaatkannya karena perempuan itu memiliki uang.


Tidak tahu harus menjawab apa, tetapi Adit hanya bisa mengangguk.


"Papa ingin minta satu hal lagi," ucapnya membuat Adit mengangkat alisnya bingung.


"Jangan khianati putri, Papa."


Adit lagi-lagi hanya bisa mengangguk. Sementara Kinan datang, dengan wajah cemberut.


"Papa sengaja kasih kucing supaya bisa ngambil suami Kinan, ya?" Perempuan itu duduk di pangkuan Adit, tidak malu dengan sang ayah yang hanya bisa menggodanya.


"Benar-benar anak manja, untung suamimu sabar sekali."


"Biarin," Kinan memeletkan lidahnya. "Papa pulang sana!"


"Kinan!" tegur Adit, Kinan hanya mengangkat bahu tidak peduli. "Kak Dipta, harus cepet-cepet tidur besok kan kerja."


"Yaudah, kalau begitu sepertinya sekarang kamu sudah punya mainan baru."


Kinan nyengir, dia turun dari pangkuan Adit. Lalu membawanya menuju ajudan pribadi yang menunggu di ruang tengah.


Sementara Adit menyenderkan kepalanya ke sofa, memijat kepalanya yang tiba-tiba pusing. Dia sore tadi mendapat kabar bahwa Amanda tidak pulang, apalagi Farhan menambahi istrinya itu sempat melihat Adit bersama Kinan di daerah Ciwidey. Ya, kalau Adit bisa lebih hati-hati, mungkin mereka tidak akan bertemu. Ke-khawatiran itu mendera, ingin sekali Adit mencarinya tetapi dia malah kedatangan sang mertua yang tidak mungkin ditinggal. Beberapa kali mencoba menghubungi Amanda, tetap saja tidak diangkat.


"Mas, ayo kita tidur."

__ADS_1


Adit tersenyum tipis pada Kinan, melangkah di belakangnya dengan perasaan gamang. Dia tidak akan tidur nyenyak, sementara Amanda masih berkeliaran di luar sana. Bukankah, udaranya di luar sangat dingin? Adit berteriak dalam hati, benci dengan dirinya sendiri karena tidak menepati janjinya untuk selalu membuatnya bahagia.


***


Kejadian tadi sore benar-benar membuatnya yakin bahwa dirinya tidak salah lihat, itu suaminya. Cara jalan, postur tubuh dan cara bicaranya Amanda sangat hafal.


Ya, demi menenangkan hatinya Amanda berjalan-jalan di alun-alun Ciwidey berharap perasaanya bisa sedikit reda. Meskipun ternyata sia-sia, kekecewaan itu malah semakin terasa. Jika benar suaminya itu berselingkuh, entah Amanda bingung harus melakukan apa yang jelas dia tidak bisa menerimanya.


Ia duduk di salah satu kursi sambil menyesap kopi yang tadi dibelinya. Mungkin karena sehabis hujan, jadi terasa sepi. Hanya beberapa anak muda yang melewatinya atau membeli jajanan di tukang dagang yang berada di sisi jalan.


Amanda harus meminta maaf pada Azka karena meninggalkan anak itu sendirian di rumah orangtua Adit. Ia jamin ini tidak akan lama, mungkin jam sembilan dia akan pulang. Ah, sengaja Amanda mematikan ponselnya karena dia benar-benar ingin memulihkan perasaanya.


Tapi tiba-tiba...


"Amanda."


Kepalanya menengok ke belakang, merasa ada yang memanggil namanya. Betul saja, ada sosok yang seharusnya dia temui sejak kemarin. Lelaki itu melangkah, Amanda masih tidak percaya. Kenapa suaminya itu bisa tahu keberadaannya?


"Selain bakso Kang Oleh yang menjadi makanan favoritmu, ini tempat favoritmu bersama Rendra juga kan?"


Ternyata Adit mengetahuinya.


Mereka berdua berhadapan, Amanda memalingkan wajahnya tidak ingin melihatnya. "Kalau mau keluar itu kamu harus pakai jaket. Apalagi sekarang musim hujan, nanti masuk angin."


Tidak ada penolakan apapun saat suaminya itu memakaikan jaket yang sepertinya sudah di bawa dari rumah.


"Aku antar ke rumah Mama, Azka pasti menunggu kamu," tangan Adit menarik tangannya, merasa Amanda hanya diam membuatnya kembali berbalik lalu menatap Amanda.


"Kenapa nggak antar aku ke rumah kamu?" ucap Amanda. "Apa di sana banyak pekerjaan? Bukankah, selalu itu yang menjadi alasan?"


"Amanda," ucap Adit yang sesungguhnya merasa serba-salah. Memikirkan tentang Amanda, dia sampai diam-diam keluar rumah dan meninggalkan Kinan yang sedang tertidur nyenyak. Tentu, saat ini waktunya tidak banyak.


Fyi. Mengapa Adit bisa mengetahui istrinya di sini karena entah siapa ada seseorang mengirim foto ke ponsel pribadinya bahwa istrinya berada di sekitar alun-alun.


"Aku bisa pulang sendiri. Kamu pasti sibuk kerja," balas Amanda hendak kembali duduk di kursi.


Adit berdecak. "Jangan seperti anak kecil, Amanda. Pikirkan Azka yang menunggumu di rumah."

__ADS_1


"Lalu kamu sendiri mikirin Azka, ga? Dengan kamu yang ngusir aku buat pulang ke Jakarta, itu berarti kamu nggak mikirin perasaan Azka yang ingin ketemu ayahnya," balas Amanda kesal. "Oh, aku lupa. Kamu hanya ayah sambung, tidak ada kewajiban untuk membahagiakannya."


"Amanda!" Kini suaranya naik satu oktaf. "Oke, kalau kamu begini terus, aku bakal paksa kamu buat naik ke mobil."


Ditariknya perempuan itu, dengan sekuat tenaga. Dan, akhirnya Amanda berada di mobil.


Mobil itu melaju pelan menuju arah ke rumah orangtuanya Adit. Amanda hanya bisa bungkam, tatapannya tertuju pada jalanan. Perasaan marah dan kecewa itu begitu mendalam.


"Aku tau kamu marah, tapi setidaknya jangan bikin semua orang di rumahku khawatir."


"Aku hanya minta sama Farhan buat menenangkan diri, karena tadi sore melihat sosok lelaki yang mirip suamiku bersama wanita lain, apa itu cukup dijadikan alasan?" balas Amanda. "Kenapa kamu diam? Jangan bilang itu memang kamu?"


Adit buru-buru menyanggah. "Aku bukan orang seperti itu."


Amanda tersenyum dipaksakan, lagi-lagi berbohong.


"Kenapa kamu berubah?" tanya Amanda tiba-tiba dengan menahan tangis. "Kamu seperi bukan Adit, suamiku."


"Amanda, jangan berasumsi apapun. Aku hanya sedang merintis karir, seharusnya kamu mendukung aku bukan malam berpikiran yang enggak-enggak."


"Merintis karir bersama wanita lain, itu maksud kamu?"


"Amanda-," ucap Adit lelah.


"Kamu masih mencoba berbohong saat aku udah liat dengan kedua bola mataku sendiri," bentak Amanda.


Adit mencengkram stirnya. Mengambil napas sedalam mungkin, karena tidak ada peluang untuk berbohong lagi, mungkin kejujurannya akan menyakitkan tetapi ini yang diinginkan Amanda, bukan?


"Itu, aku. Wanita itu Kinan, dia ada-"


"Cukup! Jangan diteruskan," bibir Amanda bergetar. "Beri aku waktu dulu buat mencerna semuanya."


Tangis itu luruh juga, rasa sesak di dada itu semakin membuatnya kesulitan bernapas. Amanda sampai menepuk-nepuk dadanya. Kenapa Adit melakukannya? Padahal dia satu-satunya tempatnya untuk pulang. Keluarganya sudah tidak menerimanya, lalu akan ke mana arah hidup Amanda dan Azka?


"Kenapa kamu se-jahat ini sama aku, Mas?" lirihnya.


Adit memberhentikan mobilnya, melihat Amanda menangis tentu saja membuatnya amat sangat merasa bersalah. Tangannya hendak menggapai Amanda, agar berada di pelukannya tetapi mendapat penolakan.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan?"


***


__ADS_2