Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
18 : Kinan Aulia Sarah


__ADS_3

Kinan Aulia Sarah, wanita berusia 25 tahun itu sibuk menata makanan di meja, serta di bantu oleh dua pembantu. Ia ingin makan besar bersama seseorang yang sekarang berstatus sebagai suaminya.


Kinan-nama panggilannya-ia tersenyum melihat suaminya turun dari tangga dengan pakaian , kemeja dan celana pendek.


"Kamu mau ke mana hari ini?" tanya Kinan seraya menghampirinya lalu bergelayut manja. "Kinan ikut, boleh?"


Suaminya berdecak, lalu melepaskan tangan Kinan dari tangannya. "Mama kamu menyuruh saya untuk datang ke kantornya."


"Ish!" dumelnya, bibirnya maju ke depan. Mamanya itu memang selalu menganggu kebersamaan mereka berdua, padahal mereka juga jarang bertemu karena sibuk bekerja. "Sekali aja, Mama nggak bikin kamu sibuk. Tentram hidup kita."


"Yaudah, kamu sarapan dulu. Kinan udah siapin semua makanan kesukaan kamu, rendang, sup ay-Kak loh," ucapnya kelimpungan saat suaminya itu melewati meja makan. Kakinya melangkah lebih cepat, lalu merentangkan tangannya. Mau tidak mau, suaminya berhenti melangkah seraya menatap Kinan malas.


"Kinan nggak bakalan biarin kamu pergi lagi!" lanjutnya tegas. "Kita itu udah suami istri, jadi nggak ada salahnya makan bareng."


"Saya ada urusan, Kinan."


"Bisa ditunda kan?"


"Tidak bisa."


Kinan masih tidak goyah. "Di hari seharusnya pulang, kamu malah menghilang, dengan dalih pekerjaan mendadak. Lalu, sekarang bisa kan menunda itu beberapa menit buat sarapan bersama?"


Suaminya menghela napas, meskipun masih terlihat enggan. Dia mundur, berbalik berjalan ke meja makan, mengalah. Tentu, membuat senyuman itu terukir. Naik satu tahap, Kinan akhirnya bisa membuat suami yang super dingin itu menurut.


Dengan telaten Kinan menyiapkan nasi serta lauk dan memberikannya pada suaminya. "Silahkan di makan."


Suaminya itu mulai menyuapkan nasi ke mulutnya, Kinan hanya bisa memperhatikan dengan tatapan penasaran. "Enak?"


"Lumayan."


Bibirnya mengerucut. "Lumayan? Ish, harusnya kamu jawab enak banget! Kamu meragukan keahlian seorang yang hampir jadi chef di luar negeri, Kinan merasa terhina," omelnya sebal.


"Tidak usah tanya kalau begitu," balasnya santai sambil mengunyah makanan itu. "Kamu nilai saja sendiri makanannya."


Sabar Kinan. batinnya bersuara. Meski sikapnya itu seperti es, dingin sekali. Entah kenapa Kinan bisa jatuh cinta padanya. Lelaki tampan dengan penampilan sederhana, dirinya jatuh dalam pesonanya.


Radit Pradipta, adalah nama suaminya. Mereka bertemu saat Dipta berkerja di perusahaan mamanya yang berada di Jakarta, sebagai staf. Walau jarang berinteraksi, diam-diam Kinan selalu memperhatikannya dan setiap hari ada keinginan untuk memilikinya.


Sampai suatu ketika, Kinan menyampaikan itu semua pada Mamanya, siapa sangka beliau merestui mereka berdua bahkan tidak lama setelah itu menyiapkan pernikahan. Kinan tidak menyangka kalau suaminya itu ternyata juga tertarik padanya, sebab sifatnya sangat bertolak belakang, tidak banyak omong alias dingin, dan satu lagi tidak romantis. Tidak terasa mereka sudah sebulan berstatus sebagai suami-istri.


"Oiya, Kinan dapat info dari agen, kamu beli rumah di Jakarta?" tanya Kinan membuat suaminya itu tiba-tiba tersedak. Merasa bersalah, tangannya langsung mengambil minum lalu diberikan pada Dipta.


"Aduh, maaf Kak. Kinan nggak tau kamu bakal kaget gini."


"Untuk investasi masa depan, bukan kamu yang bilang kita harus mulai menabung di masa sekarang," balas Dipta alias Adit seraya menghela napas menyembunyikan keterkejutannya, padahal dia sudah mengurus semuanya, tetapi kenapa perempuan di hadapannya ini masih mengetahui?

__ADS_1


Kinan mengangguk senang. "Iya sih, nanti bisa dipakai sama anak-anak kita. Oiya, kita belum bahas ini, loh. Kamu mau punya berapa anak? Satu, dua? Aku sih mau lima!"


Adit memalingkan wajahnya, tidak mau melihat ekpresi Kinan yang benar-benar berharap. "Ter-serah."


Tiba-tiba Kinan cekikikan, membuat Adit semakin heran. "Berarti kita harus rajin, Kak!"


"Hah?"


Pipinya bersemu merah, seperti malu. Adit tahu apa yang dipikirkannya. "Rajin bereproduksi! Atau kita langsung ikut program kehamilan aja, ya? Bentar-bentar-" Kinan mengambil ponselnya. "Aku ada kenalan dokter, kita bisa tanya tentang program kehamilan."


Adit mengambil ponsel Kinan, menaruhnya ke meja. "Tidak perlu, Kinan."


"Kenapa?"


"Sekarang saya harus pergi ke kantor Mama kamu," balas Adit, membuat bibir itu kembali mengerucut.


"Oke." Merasa sudah sangat bersyukur mengobrol dengan suaminya, Kinan tidak menahannya lagi. "Tapi, nanti kamu harus pulang lebih awal. Pokoknya nggak ada alasan apapun, apalagi sampai izin nggak pulang! Janji?"


Kinan menjulurkan kelingkingnya, sementara Adit hanya menatapnya aneh. Mereka bukan anak kecil, kenapa Adit harus melakukan ini?


"Deal, awas kalau ingkar!" Dengan mandiri, Kinan memegang tangannya, laku mengaitkan kelingking Adit ke kelingkingnya.


"Udah?" tanya Adit mendapat anggukan dari Kinan.


"Bye!" Tangan Kinan melambai, menatap kepergian Adit dengan senyuman. Namun, setelah lelaki itu masuk ke dalam mobil, sudut bibirnya malah tertarik ke bawah. Mengelus cincin pernikahannya dengan sedih.


***


"Hai."


Adit merasakan kecanggungan saat melihat wajah Amanda di layar ponselnya, perempuan itu tampak senang mungkin karena dirinya kini menghubunginya.


"Kamu nggak kerja?" tanya Amanda sepertinya sedang merebahkan diri bersama Azka. Beberapa kali kamera menyorot pada Azka yang sedang tidur.


"Ini mau berangkat, baru bangun?"


Amanda mengangguk, meskipun baru bangun tidur kecantikannya sama sekali tidak menghilang.


"Mas udah nggak marah lagi kan?"


Adit mengangguk, mana bisa dia marah terlalu lama pada istri tercintanya.


"Tunggu kejutan dari aku."


"Kamu pulang?"

__ADS_1


Melihat Adit menggelengkan kepalanya, Amanda seperti kecewa. "Liat aja nanti siang."


"Mas, kamu lagi nyetir?"


"Iya, ini lagi menuju kantor."


"itu mobil perusahaan?"


"Mobil aku-lah."


"Ih, kok nggak bilang sama aku kalau ada mobil."


"Namanya juga kejutan, nanti kita jalan-jalan sama Azka pakai mobil ini."


"Mas Adit naik jabatan?"


Adit mengangguk.


"Aku istri kamu bukan sih? Kok, jadi nggak tau apa-apa tentang suami sendiri," ucapnya terlihat sedih. Rasanya ingin sekali pergi ke Jakarta lalu menceritakan hal ini pada Amanda, tetapi itu tidak mungkin. Adit punya tanggung jawab di sini.


"Gapapa sayang, ini kan salah aku sendiri yang nggak ngasih tau kamu."


"Kapan Mas Adit pulang?"


"Masih belum tau." Ya, Adit tidak mau gegabah seperti kemarin pergi tanpa sepengetahuan Madam, karena jika melakukan hal itu lagi dirinya bisa didamprat oleh bosnya itu. Setidaknya dia harus izin terlebih dahulu.


"Yaudah, minggu depan aja ya aku yang ke kantor kamu, Mas. Kangen juga sama Bandung."


"Hah?"


Tin!


Untuk kedua kalinya Adit terkejut hingga rem mendadak membuat mobil di belakang sana refleks berhenti, untung tidak sampai ada kecelakaan beruntun. Setelah memohon maaf, Adit kembali melajukan mobilnya. Video call itu masih tersambung, menampilkan wajah Amanda yang khawatir.


"Mas, kamu nggak apa-apa kan?"


"Nggak, tadi kaget sedikit. Untung nggak sampe kecelakaan."


"Yaudah, aku tutup ya. Bahaya emang vc sambil nyetir. Hati-hati, bye Mas. Setelah sampai kantor kamu hubungi aku lagi, jangan sampai lupa."


"Iya, sayang."


Tut.


Sambungan terputus, kini Adit diterpa kebingungan. Ia harus mencari cara agar Amanda tidak datang ke Bandung.

__ADS_1


***


__ADS_2