
"Jadi, untuk mengawali karir menjadi pelukis. Lo mau nyari pekerjaan sampingan?" tanya Dara menatap Amanda yang sedang menggambar potretnya. Sebagai, portofolio agar ada yang mau membeli lukisannya. Amanda menjadikan sahabatnya itu sebagai model.
Sudah tiga hari, dirinya berada di kontrakan yang terletak di lantai dua, di mana Dara tinggal. Ia terpaksa meninggalkan Azka untuk sementara bersama Adit dan Kinan.
"Iya, aku nggak bisa bergantung terus dengan penjualan lukisan dan uang tabungan, karena itu modal untuk membeli kebutuhan melukis. Kalau untuk sehari-hari, aku harus nyari pekerjaan lain," balas Amanda.
"Gimana kalau kerja di tempat gue lagi?"
Di restoran milik keluarga Hutama? Amanda menggelengkan kepalanya, meskipun Rendra sudah tidak menjadi manager di sana, tetap saja restoran itu masih ada hubungannya dengan lelaki itu. Sebisa mungkin, Amanda menjauhkan diri dari hal yang memicu mereka akan bertemu lagi.
"Nggak, Dar. Kamu tahu sendiri gimana kelakuan dia sama aku." Sebab, tidak memiliki siapapun selain Dara. Amanda meminta pertolongannya, tentu dia harus menceritakan kenapa dia bisa ingin bercerai dengan Adit dan tidak lupa juga tentang hubungannya dengan Rendra. "Kami memutuskan untuk nggak bertemu lagi."
Dara mengerti, tetapi menurutnya dengan bekerja di restauran. Rendra bisa membantu Amanda, dalam mengambil Azka di rumah suaminya. "Gue yakin, banget kalau lo ngomong sama Rendra tentang ini, dia pasti bantu lo."
"Nggak," kekehnya, yang harus dilakukannya sekarang adalah menjauhkan diri dari orang-orang yang pernah menyakitinya. Keluarganya, Adit termasuk Rendra.
Tok! Tok!
Pintu terdengar di ketuk oleh seseorang, membuat Amanda menghentikan tangannya dan menyimpan kuasnya.
"Perasaan gue udah bayar kontrakan deh, kenapa lagi sih tu si ibu gembrot?" tanya Dara kesal. Kemarin mereka memang hampir di usir dari kontrakan karena Dara menunggak bayaran selama dua bulan. Untunglah, Amanda menalanginya terlebih dahulu. Dan, sekarang dari suara ketukan yang seperti tidak sabaran itu, mereka berdua yakin itu adalah ibu pemilik kontrakan. "Biar gue aja," lanjut Dara saat melihat Amanda berdiri.
Dara menatap orang yang ada di depannya dengan jutek. Kenapa dia bisa tahu alamat rumahnya?
"Cari siapa?"
"Saya tau Amanda ada di dalam."
Tangan Dara terlentang menghalangi Adit yang hendak menerobos rumahnya. "Eh, maaf ya sebelumnya nggak liat plang di sebelah sana! Ini kontrakan putri, laki-laki di larang masuk!"
Adit tidak perduli, dia hanya ingin bertemu Amanda yang kabur dari rumah serta menghilang selama tiga hari, tidak bisa dikabari. Untunglah, dia ingat jika Amanda di Jakarta punya teman bernama Dara. Tidak sulit untuk seorang Adit mencari alamat teman istrinya itu.
Tampaknya, saran dari mertuanya itu belum berhasil karena Adit akan memburu Amanda agar terus menemaninya. Apalagi, ada Rendra yang sewaktu-waktu mungkin bisa merebut istrinya.
"Sayang, apa kamu nggak merindukan Azka? Dia selalu bertanya tentangmu?" panggil Adit yang merasa yakin Amanda ada di dalam. Tidak juga ada sahutan, Adit mendorong Dara sekuat tenaga. Hampir saja tubuhnya menabrak lemari, jika tidak buru-buru berpegangan pada dinding. Dara menatap Adit sebal.
__ADS_1
"Amanda nggak ada di sini!" bentak Amanda. "Gue bisa ya lapor ke Ibu supaya ngusir lo!"
"Silahkan," Adit tersenyum meremehkan. "Dia tidak akan berani mengusirku. Uang satu juta setimpal, agar dia mau bekerja bersamaku. Dia bilang ada perempuan lain yang tinggal di sini, apa kamu masih ingin mengelak?"
"Sialan!" Dara berharap Amanda sudah bersembunyi, karena lelaki itu mulai berjalan menuju balkon. Ya, kontrakan yang ditinggalinya memiliki tiga ruangan. Satu ruangan paling belakang memiliki akses langsung ke balkon, adalah ruangan yang menjadi tempat tadi Amanda melukisnya.
Adit tersenyum melihat alat-alat melukis itu. "Ini pasti punya Amanda."
Dara menepuk jidatnya, sepertinya Amanda tidak ada waktu untuk merapikannya. Tetapi, ia hanya berharap Amanda sudah turun lewat balkon.
"Itu punya gue," balas Dara. "Lo pikir cuman Amanda doang yang bisa ngelukis gue juga bisa!"
"Aku tau kamu pasti sembunyi di lemari, keluarlah sayang? Bukan cuma Azka yang merindukan kamu, tapi aku juga," ucap Adit menghiraukan Dara. Di depannya ada sebuah lemari, Adit yakin Amanda berada di sana.
"Jangan!" Dara melotot agar lelaki itu tidak membuka lemari.
"Amanda ada di situ kan?" ucap Adit dengan ke-percayadiri-an tingkat tinggi. Lalu menyuruh entah ajudan atau apanya itu membuka lemari milik Dara.
"Bahaya, jangan di buka please!" mohon Dara pada Adit. Bukan hanya ada Amanda yang ditakutkannya, tetapi di dalamnya ada aset-aset miliknya. "Di sana nggak ada Amanda!"
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
Lemari terbuka, melihat apa yang ada di depannya. Adit memalingkan wajahnya begitu juga dengan ajudannya.
Lemari itu berisi beberapa lingerie koleksinya lalu pakaian dalam yang tersusun rapih. Mungkin, agak aneh di saat semua orang ber-investasi pada baju, tas atau hal lainnya yang berharga tetapi Dara lebih memilih untuk membelinya. Semua ini untuk hadiah calon suaminya nanti.
"Gue bilang apa?" kesal Dara seraya menutup kembali lemarinya. "Ini bahaya! Kalian sekarang pergi dari sini, atau gue laporin kalian mencoba berbuat mesum. Inget di sini ada Pak RT yang nggak berpihak pada kalian!"
Adit yang merasa tidak berkutik itu, akhirnya mengalah. Dia menuruti permintaan Dara. Ah, sial kenapa pikirannya malah bertanya-tanya. Untuk apa wanita lajang mengoleksi pakaian seperti itu? Adit jadi takut jika Amanda bergaul dengan Dara dan membawa pengaruh buruk.
Setelah kepergian Adit, Dara menghela napas lega. Lalu, terkejut ternyata Amanda benar-benar bersembunyi di lemari.
__ADS_1
"Gue kira lo lompat dari balkon?"
Amanda malah menggelengkan kepalanya. "Buat apa baju-baju sebanyak ini?" Ia sepertinya lebih tertarik pada lingerie.
"Menarik pria kaya, mereka nggak suka uang tetapi tubuh yang aduhai," goda Dara sambil meliuk-liukan tubuhnya, membuat Amanda merinding. "Lo bisa mendapatkan jutaan uang kalau memakai ini, tentunya di depan pria hidung belang!"
"Ye! Itu namanya jual diri!"
Dara tertawa, lalu memberitahu Amanda kenapa dia mengkoleksi ini. "Gue mengumpulkan semua ini buat hadiah ke calon suami gue, karena gue nggak bisa ngasih dia hadiah mobil."
"Dasar aneh!" balas Amanda. Ia duduk di kursi, bisa-bisanya Adit tahu alamatnya. "Kayaknya aku harus cari kontrakan lagi. Dia pasti nggak menyerah begitu aja dan mengawasi tempat ini."
"Lo mau ke mana lagi, Man?"
"Ke tempat di manapun Adit nggak menemukan aku. Menurut kamu di mana?" tanya Amanda malah meminta saran.
"Alam baka."
"Gila kamu!" Amanda menepuk bahu Dara yang malah semakin tertawa. "Mati dong aku."
"Gue rasa lo harus temuin Adit deh. Dia ngasih ini ke gue." Dara memberikan surat yang diberikan Adit sebelum pergi. "Katanya, surat dari Azka."
Amanda mengambilnya, lalu membuka surat itu. Setelah membacanya, dia menggelengkan kepalanya. "Anakku belum bisa menulis, ini pasti buatan Adit."
"Terlepas dari itu, mau buatan Adit tapi tetap aja Azka pasti bener-bener butuh lo. Apalagi, hidup bersama ibu tiri yang bisa aja jahat."
"Aku nggak bisa ketemu Adit."
"Oke-oke." Dara tidak akan memaksa Amanda untuk bertemu lagi dengan Adit. "Gimana kalau kita diam-diam ketemu Azka."
"Emang bisa?"
"Kenapa enggak? Gue tuh, cuman kasian sama Azka. Menurut gue, belum tentu orang-orang yang di sekeliling dia sekarang itu tulus. Inget, Adit itu hanya ayah sambung, dengan kejadian ini bisa aja rasa kasih sayangnya hilang," ucap Dara membuat Amanda mulai mempertimbangkan hal itu.
****
__ADS_1