
Lima tahun lalu ...
"Rendra, aku mau bicara."
Lelaki berseragam SMA yang sedang duduk berkumpul bersama teman-temannya itu, menengok ke arah perempuan yang penampilannya tampak kacau. Mungkin, sehabis menangis karena matanya sembab.
"Loh? Manda kamu kenapa?" tanyanya khawatir.
"Kayaknya kita harus bicara berdua," balas Amanda, lantas menarik tangan Rendra untuk mengikutinya.
Amanda membawa Rendra ke sebuah ruangan kosong. Ketika sudah memastikan tidak ada orang selain mereka, tangan Amanda gemetar mengeluarkan sebuah tespek.
"Aku udah telat datang bulan, terus karena khawatir aku cek, ternyata positif, Ren." Amanda mengusap wajahnya, bimbang. Bahkan gadis itu mulai terisak.
Sementara Rendra yang mendapat kabar itu tentu terkejut. Mereka tidak menyangka kejadian saat pesta ulang tahunnya itu jadi malapetaka.
"Kamu jangan khawatir, Man."
"Kamu mau tanggungjawab?" Amanda mendongkak, matanya menatap Rendra penuh harap.
"Ini bukan saatnya kita punya anak," balas Rendra sambil memegang bahu Amanda. "Aku bakal tanya temenku, tempat untuk mengugurkan bayi."
"Kamu jangan gila, Ren!" bentak Amanda, tidak menyangka. Seharusnya, mereka memperbaiki kesalahan ini bukan malah menambah dosa.
"Manda, dengerin aku." Rendra mencoba memberi Amanda pengertian. "Cita-cita kita masih panjang, tahun ini aku harus studi ke luar negeri sementara kamu harus nyelesain sekolah kamu di sini. Kalau, kamu kekeh mempertahankan dia, apa jadinya? Masa depan kita bakal hancur. Ya, yang lebih parah kita bakal diusir dari rumah."
"Tapi ..." Rendra memeluk Amanda dengan erat. Mengusap puncak kepalanya, agar gadis itu sedikit tenang. "Ayo, kita buat semuanya sepeti nggak terjadi apa-apa."
Amanda menggelengkan kepalanya, hati nuraninya bekerja. Janin yang ada di dalam kandungannya ini tidak bersalah, dia berhak untuk hidup, bukan?
"Nggak, Rendra. Aku nggak bisa."
"Kita pasti bisa."
"Nggak, aku nggak bisa!"
Rendra memegang wajah Amanda, tatapannya meyakinkan. "Kita pasti bisa, kamu harus nurut sama aku, Manda."
"NGGAK!"
__ADS_1
"AMANDA!"
Hening.
"Aku cerita tentang kejadian malam itu ke Mama," ucap Amanda lirih dengan nada pelan. Tubuhnya gemetar melihat Rendra sedang emosi.
"Man, aku kan-"
"Aku nggak bisa nyimpen ini sendirian Ren, mamaku juga berhak tau tentang malam itu."
"Argh!" Rendra memegang kepalanya yang tiba-tiba ingin meledak. Ia ingin marah pada Amanda, tetapi rasa cintanya begitu besar. Rendra hanya bisa melampiaskannya dengan memukul meja.
"Ren, apa kamu tau setelah kejadian itu walaupun kita melakukannya atas dasar suka-sama-suka. Aku menyesal Ren, aku takut. Aku malu sama diriku sendiri karena udah nggak suci, aku udah berbuat dosa. Dan, sekarang ternyata hal yang aku takuti jadi nyata. Aku hamil, aku nggak tau cara yang lebih baik selain menggugurkannya," keluh Amanda dengan tangisannya.
"Aku berharap penuh sama kamu, tapi aku salah, kamu ternyata lebih jahat!"
Tiba-tiba Rendra bersujud pada Amanda, lelaki itu menangis. "Aku memang jahat, Amanda. Tapi aku mohon pengertiannya, keluargaku mendukung besar cita-citaku kuliah keluar negeri. Jangan rusak masa depan kita dengan kekeh mempertahankannya. Aku janji setelah, pulang dari luar negeri kita bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius."
Amanda menatap kekasihnya tidak percaya. "Menurut kamu setelah kejadian ini, aku sudi menikah sama kamu? Nggak Rendra, satu hal yang sekarang paling aku sesali adalah menjalin hubungan dengan kamu! Ternyata, kamu nggak sebaik yang aku kira! Dasar pengecut!"
"Amanda, hey!"
"Amanda!"
"Amanda!"
Lelaki itu memegangi kepalanya yang terkantuk meja, merasa pusing mendera bahkan matanya berkunang-kunang. Mendengar Amanda yang menjerit dan menangis, ingin sekali Rendra menenangkannya tetapi kesadarannya berada di ambang batas, sebelum kegelapan menghampirinya Rendra berucap dalam hati.
"Maafin aku, Amanda. Mungkin setelah ini kita nggak akan bertemu lagi."
***
Rendra membuka matanya, menyadari ternyata dia ketiduran di ruang kerjanya dengan laptop yang berada di hadapannya. Ia tidur dengan posisi duduk. Tangannya mengusap wajah, tatapannya mengarah pada jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan. Foto anak Amanda dan segala tentangnya, membuat beberapa hari ini dirinya kesulitan untuk tidur. Bahkan, bak kaset rusak kisah itu terus berkeliaran di otaknya tidak mau berhenti.
Rendra memijat kepalanya yang terasa pusing, dengan langkah lunglai lelaki itu mengambil ponsel yang berada dekat kasur. Lalu memeriksa pesan, takut ada pesan penting yang belum sempat dibaca.
Benar saja ada beberapa dari client penting dan paling banyak dari anak teman mamanya di Bandung, namanya Arumi.
Perempuan yang dijodohkan dengannya itu, memang sangat menganggu. Beberapa kali Rendra sudah memintanya untuk tidak menghubunginya lagi, tetapi masih saja kekeh.
__ADS_1
Rendra memutuskan untuk memblokirnya, siap-siap saja dirinya akan diceramahi oleh Mama karena Arumi pasti langsung mengadu.
Namun, dia penasaran dengan salah satu nomor yang belum sempat di simpannya semalam, nomor Amanda. Tangannya meng-klik room chat.
To: 0859xxxxxxxx
Maafkan aku, Amanda.
Tetapi yang membuat alisnya mengerut, balasan dari perempuan itu.
From: 0859xxxxxxxx
Ini Mas Adit kan? Kenapa pakai nomor lain? Ah, tapi itu nggak penting. Gimana keadaan Mas Adit sekarang? Kapan pulang? Azka kangen banget sama Mas Adit, bundanya juga sih, haha. Yaampun, aku seneng banget! Akhirnya kamu menghubungi aku, Mas!
Rendra ingin membalas pesan itu, dengan mengatakan bahwa dirinya bukanlah orang yang dimaksud Amanda, tetapi membayangkan perempuan itu mungkin sedang bahagia. Rendra mengurungkan niatnya. Dia tidak membalas pesan itu dan membiarkannya. Tangannya menyimpan ponsel, lalu melangkah menuju kamar mandi, ia harus bekerja.
***
Sementara di rumah Amanda, perempuan itu memandangi ponselnya dengan sedih, tadi malam saat membuka ponsel dan mendapati pesan dari nomor asing. Ya, satu-satunya orang yang harus meminta maaf padanya adalah Mas Adit, jadi ia yakin itu adalah nomor barunya.
Dengan harapan di pagi hari nanti suaminya itu akan membalas pesannya, ternyata hanya dua centang biru. Benar-benar membuat Amanda kembali kalut.
Amanda beberapa kali mendial nomor itu berharap tersambung, tetapi satu pun panggilannya tidak diangkat.
"Bunda!"
Azka yang sedang tidur, tiba-tiba memeluk Amanda yang sedang duduk di kasur.
"Eh, udah bangun, anak bunda. Mandi yuk!"
Azka mengangguk lunglai dipangkuannya. "Bunda, Abang mimpi Ayah pulang, loh."
"Masa?"
"Iya, tau! Ayah bawa banyak mainan, tapi anehnya Ayah mukanya beda!"
"Hah?" Amanda kebingungan dengan ucapan Azka. "Oh, berarti itu bukan ayah."
"Nggak Nda, itu ayah Abang.."
__ADS_1
Amanda mengusap kepala Azka, ia berasumsi bahwa anaknya benar-benar merindukan ayahnya sampai terbawa dalam mimpi. Dan, tentang siapa yang dimimpikan anaknya itu hanya sebatas bunga tidur. Terkadang ketika bermimpi bahkan ada orang asing yang tiba-tiba hadir, sangat wajar.