
Setelah bertemu ayah Arumi yang super baik seperti anaknya, Amanda memutuskan untuk ikut bergabung dalam pameran itu.
Keesokan harinya Amanda sudah harus pulang ke Jakarta untuk dan mempersiapkan serta membuat lukisan baru untuk dipajang di pameran nanti, waktu dua bulan pastinya sangat cukup. Ah, rasanya senang sekali melangkah satu tahap menuju impiannya. Amanda hanya berharap selama proses itu tidak ada kendala.
Amanda melirik Rendra yang berada di sampingnya, tengah menyetir. Ya, karena Arumi mereka harus pulang bersama dengan dalih satu tujuan. Ia tidak perlu mengeluarkan ongkos ke Jakarta karena bisa nebeng dengan Rendra. Posisinya mungkin jauh berbeda dengan saat keberangkatan sebab ada Arumi, tetapi sekarang hanya ada mereka berdua. Amanda memilih mengunci mulutnya.
Matanya melihat sesuatu yang familiar berada di dalam dashboard mobil yang sedikit terbuka, tangannya membukanya. Bukankah ini miliknya, kenapa ada di Rendra?
"Ini ..."
Rendra yang sadar hendak mengambil tapi tangan Amanda kalah cepat, lalu membuka album foto itu. "Kamu dapat dari mana?"
Helaan napas terdengar dari mulutnya, sungguh Rendra merasa ceroboh. "Kinan, dia yang memberikannya."
"Oh!' Amanda melotot tidak percaya. "Ternyata kamu mulai mendekati Kinan. Untuk apa, merebut Azka?" sensinya. Diam-diam Rendra mengambil album foto Azka yang sudah Amanda buat sedari anak itu lahir. Padahal, Amanda masih mencari cara agar bisa masuk ke rumah itu dan mengambil barang-barang berharga yang tertinggal di sana, seperti album foto ini.
"Bukan itu maksudku, Amanda," sanggahnya. "Aku hanya ingin melihatnya."
"Jangan-jangan kalian mulai bersekongkol?" tanya Amanda curiga.
"Kenapa kamu selalu berpikir buruk tentangku?" Rendra mendesah lelah. "Padahal aku hanya ingin melihat pertumbuhan anakku. Kalaupun aku berniat seperti itu, dari awal aku sudah merebutnya, tapi sampai sekarang apa aku pernah muncul di hadapannya lalu mengaku sebagai ayah kandungnya? Aku sangat menghargai perasaan kamu, Amanda. Jadi tolonglah, jangan seperti ini."
Amanda diam, melihat Rendra yang sedang mengeluarkan unek-uneknya.
"Aku tau kamu takut, tetapi aku juga berhak melihat dan menjaganya walaupun hanya dari kejauhan kan?" tanya Rendra, entah apa yang harus dilakukan lagi, dia hanya ingin setidaknya tidak egois. "Kamu tau kekhawatiran aku saat ini apa? Adit mungkin mengurusnya sedari bayi, tapi dengan adanya masalah di antara kalian. Apa itu nggak membahayakan mentalnya? Anak umur lima tahun, harus terjebak dalam keegoisan orangtuanya. Seharusnya sebagai ibu, kamu juga mengkhawatirkan hal itu."
"Maksud kamu aku mengabaikan mental Azka dan membiarkannya menderita tinggal di rumah itu?" balas Amanda menatap Rendra tidak terima. "Kamu lelaki, nggak akan mengerti perasaan seorang istri sekaligus ibu. Jangan so tau! Karena kamu nggak ada di posisi aku!"
Ya, Rendra tidak seharusnya mengatakan hal yang menyinggungnya. Di sini, Amanda juga sedang mencari cara agar anaknya bisa pergi bersamanya, tentu tanpa menimbulkan masalah yang lebih runyam.
"Aku memang nggak mengerti, tapi dari sudut pandang aku, kamu sangat egois dan so mandiri!"
"Rendra!" bentak Amanda marah. "Kamu bisa-bisanya ngomong gitu ke aku?"
__ADS_1
"Ya, kamu harusnya menerima saran Dara agar aku membantu kamu, tapi kamu malah menolaknya. Menurutmu, mau sampai kapan Azka tinggal di sana?"
Amanda menghela napasnya, menenangkan diri sendiri supaya tidak emosinya tidak meledak. Kenapa jadi Rendra yang menceramahi-nya? Ia tidak tahu saja, Amanda berpikir ribuan kali karena tidak mau lelaki itu ikut campur dalam masalah rumah tangannya. Jikq itu terjadi, akan ada perang antara Adit dan Rendra.
"Aku akan membiarkan hal ini, album fotonya bisa kamu simpan," ucap Amanda memberikan album foto itu dan mencoba mengerti keinginan Rendra sebagai ayah kandung sang anak. "Tapi, ini bukan urusan kamu lagi, aku bisa mengatasinya sendiri."
Rendra memalingkan wajahnya, lalu berdecak. "Dasar batu!" gumamnya, sangking pelannya sampai Amanda tidak mendengarnya. Sepertinya jika, Rendra berbicara sampai berbusa pun Amanda pasti tetap dengan keputusannya. Tidak mau semakin greget, Rendra memilih menutup mulut dan membuat keheningan di mobil itu
Mobil mulai masuk kawasan tol menuju Jakarta. Amanda menyender ke sisi jendela. Matanya terpejam, hendak tertidur. Sementara, Rendra mengambil ponselnya yang ternyata sedari tadi bergetar. Ia menyambungkannya dengan headset, lalu memencet tombol hijau, telepon tersambung ada suara pamannya.
"Kenapa, Om?"
" ... "
"Iya, Rendra lagi perjalanan mau ke Jakarta."
" ... "
" ... "
Mendengar pernyataan dari sang Om membuat Rendra merasa tidak percaya. Bukankah, semalam mereka bertemu? Dengan tangan gemetar Rendra mulai menancap gasnya, lalu putar arah kembali ke Bandung. Rendra memegang stir dengan kuat.
Amanda yang merasa ada keanehan itu membuka mata, dia seketika panik saat tahu ternyata Rendra kembali ke arah Bandung.
"Rendra, ada apa?"
Rendra hanya diam, matanya memerah. Perkataan omnya itu terngiang-ngiang.
Om Kiki meninggal di kamarnya dengan mulut berbusa, diduga karena keracunan. Kamu sebaiknya, pulang ke Jakarta dan bersembunyi. Semua orang mencurigaimu karena kamu yang terakhir kali terlihat di cctv dan bertemu dengannya.
***
Amanda kebingungan melihat dari kaca mobil. Orang-orang berseragam polisi dan beberapa orang yang keluar dari mobil dengan berpakaian hitam. Rendra hanya bilang padanya untuk menunggu di mobil, dia akan kembali setelah urusannya selesai.
__ADS_1
Apa ada yang meninggal, tapi kenapa Rendra tidak memberitahunya?
Mata Amanda memicing, melihat seseorang yang keluar dari mobil. Itu suaminya, Adit. Lelaki itu berpakaian hitam, di sisinya ada Kinan yang tengah menangis sambil dirangkul oleh Adit. Di belakangnya ada Azka yang digendong oleh Bi Inah. Amanda merasa perlu meminum obat, karena tiba-tiba kepalanya pusing. Kenapa mereka bisa datang ke tempat yang sama dengan Rendra?
Setelah rombongan itu masuk ke dalam rumah, Amanda yang tidak sabaran itu membuka pintu mobil. Dia harus menemui Rendra sekarang juga dan memberinya penjelasan. Ia rasa, Rendra pasti tahu kenapa mereka ada di sini.
Amanda keluar, berjalan masuk ke rumah itu menggunakan jaket. Dia menutup kepalanya dengan tudungnya, lalu matanya menatap ke sekeliling berharap menemukan Rendra dari beberapa kerumunan itu.
Terdengar bisik-bisik dari orang yang berpakaian hitam di dalam rumah itu, katanya jenazah sudah dalam perjalanan.
Bruk!
Tanpa sengaja, Amanda menubruk seseorang. Ternyata ada mamanya Rendra.
"Maaf," ucapnya sambil menunduk, di depannya mama Rendra seperti mencurigainya.
"Kamu sedang apa di sini?" Bahkan beliau mengenalinya. Buru-buru Amanda berlari, menubruk beberapa orang yang ada di hadapannya. Mereka mengadu, karena merasa ada pengacau. Apalagi gerak-geriknya Amanda sangat mencurigakan, tidak memakai pakaian sesuai saat semua orang sedang berkabung.
Ternyata gerak-geriknya juga diperhatikan oleh Adit. Bukan mencurigai takut dia pengintai atau apapun, tetapi Adit merasa mengenalnya. Dari belakang dan cara jalannya saja sangat familiar, hanya saja sulit diterima otaknya. Tidak mungkin, Amanda ada di tempat ini kan?
Adit memilih untuk meninggalkan Kinan bersama beberapa saudaranya, lalu mengejar orang itu, hendak memastikan. Ia berharap itu bukan Amanda.
Adit yakin, orang itu berjalan ke lorong rumah yang langsung menembus ke pekarangan belakang dan jalannya buntu, tetapi ia tetap tidak bisa menemukannya. Bahunya terangkat, mencoba tidak peduli sepertinya dia sudah salah sangka. Bisa saja, hanya orang iseng. Lelaki itu berjalan kembali menuju tempat Kinan berada.
Di sisi lain, Amanda yang melihat kepergian suaminya itu menghela napas lega, dia bersembuyi di salah satu ruangan. Entahlah, karena panik dia hanya bisa mengikuti kakinya melangkah kemanapun dan berujung berada di sini. Amanda merasa menyesal karena bertingkah gegabah, dia harus kembali ke mobil dan menunggu Rendra.
Pelan-pelan Amanda keluar dari ruangan itu sambil mengendap. Merasa rumah ini terlalu besar, dan banyak jalan serta lorong membuatnya kebingungan. Jangan-jangan dia tersesat?
Amanda kembali melangkah mengikuti kata hatinya. Namun, tiba-tiba ada yang menarik tangannya membuatnya kelabakan.
"Kenapa kamu ada di sini, Amanda?"
***
__ADS_1