
Amanda terbangun dari tidurnya gegara Azka yang menangis, ternyata anak itu ngompol. Namun, ia kebingungan saat mendapati kemeja dan jas hitam di keranjang baju kotor.
"Iya, bentar dulu sayang." Pokusnya kembali pada Azka, digendongnya anaknya itu lalu masuk ke kamar mandi, sekalian membersihkan diri.
"Abang mau sekolah, nggak?" tanya Amanda sembari membuka pakaiannya, lalu mulai mengguyur Azka menggunakan air dingin.
"Emang sekolah itu apa, Bunda?" tanyanya dengan nada bingung, tangannya memainkan busa yang berasal dari rambutnya.
"Sekolah itu tempat buat belajar, nanti Abang punya banyak teman, terus ketemu Bu guru."
"Kalau ndak banyak mainan, Abang ndak mau sekolah."
"Banyak kok, tapi mainannya nggak bisa di bawa pulang."
Azka memberengut. "Belalti Abang ndak mau sekolah."
Amanda memaklumi keengganannya karena anaknya itu masih kecil. "Yaudah, nanti bunda marah kalau abang nggak mau sekolah."
"Bunda malah-malah telus, Abang ndak suka tau." Pipi gembulnya menggelembung, matanya menatap ibunya tajam. "Abang bilangan ayah, biar bunda jangan malah telus!"
"Kan bunda belum marah," ucapnya sambil menahan tawa melihat ekspresi anaknya. "Nah, udah wangi."
Tangan Amanda mengambil handuk lalu dibaluti ke tubuh Azka. "Mau pakai baju apa?"
"Spider--Ayah!" teriakan itu membuat Amanda menoleh ke belakang, di mana suaminya itu sedang bersender di sisi pintu tersenyum, sembari menyapa Azka.
Lagi-lagi Adit datang tanpa memberitahunya, lelaki itu selalu membuat kejutan.
"Loh, Mas kapan pulang?"
"Semalem."
"Pantesan, aku kira punya siapa baju kotor di keranjang," balas Amanda kini Azka sudah di berada di pangkuan suaminya. "Taunya kamu pulang."
Namun, Amanda menyadari sesuatu kalau suaminya itu tidak sehangat kemarin-kemarin. Apa lelaki itu sedang marah? Bahkan, dia menjauh saat Amanda ingin memeluknya, pura-pura sibuk mengganti dan mengobrol bersama Azka.
"Mas, lukisan aku yang kemarin laku loh, sepuluh juta. Aku ada rencana mau jalan-jalan sama Azka, kita ke Ancol yu!"
"Hmm." Setelah mengganti pakaian Azka, tangan Adit beralih mengambil sisir. Anak itu tampak senang karena ayahnya sudah pulang, lagi-lagi mengabaikan Amanda yang terheran-heran dengan sifatnya.
"Abang mau sarapan apa, nanti ayah bikinin."
"Nasi goreng ayam enak-enak!" balasnya sambil mengangkat jempolnya.
"Lets go kita ke dapur!"
"Bunda ndak di ajak?"
__ADS_1
Adit tidak menjawab dan malah menggendong Azka yang sudah rapi itu ke keluar kamar, membuat Amanda semakin yakin jika Adit sedang marah padanya. Tapi, karena apa? Kemarin saja mereka teleponan, semuanya masih terasa baik-baik saja.
Amanda menghela napas, lalu duduk di kasur, seketika merasa galau. Suaminya itu tipe orang yang jarang marah, tetapi sekalinya marah dia bisa menganggap orang itu seperti tidak ada.
Padahal, kepala Amanda serasa ingin pecah karena kejadian kemarin. Ia butuh seseorang untuk menampung segala keluh-kesahnya, tentu untuk sekarang suaminya itu tidak bisa diharapkan.
Pandangan Amanda kembali melihat pakaian yang teronggok di keranjang, entah kenapa dia penasaran karena sebuah benda muncul dari saku celana. Sebuah ponsel? Alisnya terangkat bingung, melihat dari berbagai sudut, tapi ini bukan ponsel yang sering dipakai suaminya, sepertinya harganya juga sangat mahal karena terdapat logo Apple. Amanda memencet tombol power, ternyata harus memasukan sandi.
Tiba-tiba suara deheman, membuatnya terkejut lalu tanpa sengaja melepaskan ponsel itu hingga terjatuh ke lantai. Adit yang melihat itu lantas mendekat, menatap Amanda dengan kesal.
"Mas kamu beli ponsel baru?"
"Bukan urusan kamu," balasnya dengan nada datar, tanpa memarahi Amanda karena sudah membuat ponsel mahalnya itu terjatuh.
Adit beralih ke lemari seperti mencari sesuatu, tetapi gengsi untuk meminta bantuan Amanda.
"Kamu nyari apa sih, Mas?" Amanda jengah, melihat suaminya itu mengacak-ngacak baju yang sudah disusun rapi olehnya. "Jangan bilang ini bukan urusan aku lagi. Liat, kamu udah buat semuanya jadi berantakan!" omelnya sambil merapikan baju di lemari.
"Topi," balas Adit tanpa mau menatap mata istrinya.
"Topi siapa?"
"Iya, topi."
"Topi kamu?"
"Topi Azka?"
Adit mengangguk, membuat Amanda berdecak kesal. "Apa susahnya sih, bilang langsung topi Azka. Lagian, kamu kenapa sih? Mau cosplay jadi es batu?"
"Nggak." Setelah mendapatkan apa yang dimau, Adit berjalan keluar tanpa sepatah kata.
Amanda menghela napas mencoba mengingat-ingat apa sebelumnya dia melakukan kesalahan?
Apa Adit sudah mengetahui tentang Rendra? Tapi dari siapa?
Amanda memutuskan untuk keluar kamar hendak menghampiri suaminya, tetapi ternyata di dapur hanya ada bahan-bahan untuk memasak nasi goreng.
Ia pun keluar dan melihat tetangga sudah berkumpul di halaman rumah yang berhadapan dengannya. Meskipun tahu mereka sempat menggunjingnya karena kejadian kemarin, Amanda masih menyapa dan tersenyum.
"Mbak, liat suaminya saya?"
"Oh, tadi keluar sama Azka katanya mau ke rumah bidan Nisa," balas salah satunya.
"Eh, Mbak Amanda beli mobil baru ya?"
Amanda menggelengkan kepalanya. "Nggak, mbak. Kalaupun saya punya uang banyak mending beli rumah dulu." Cita-citanya memang ingin membeli rumah yang lebih layak untuk Azka dan mobil adalah daftar yang ke-sekian, dengan pekerjaan suaminya yang hanya pegawai pabrik mustahil mereka bisa membeli mobil.
__ADS_1
"Loh? Itu mobil yang diparkirin di depan rumah Bu RT, punya siapa?" tanyanya dengan nada heran.
"Tapi kata Bu RT itu yang bawa suami Mba Amanda."
Amanda merasa kebingungan, bukannya semenjak kerja di Bandung, suaminya itu hanya menggunakan transportasi kereta?
"Mba ini suka bercanda, nggak mungkin suami saya ada mobil. Yaudah saya masuk ke dalam dulu, ya." Mengabaikan omongan para tetangga, lebih baik Amanda menunggu suaminya di dalam rumah.
****
Masih dalam suasana perang dingin, Amanda memutuskan untuk mencoba berbicara serius pada suaminya, termasuk tentang Rendra. Mumpung, anaknya itu sedang tidur. Ia mendekat pada Adit yang sedang menelpon seseorang. Tetapi karena ada Amanda, dia seperti buru-buru mengakhirinya. Lalu kembali pokus menyender di sofa sambil memakan cemilan.
Amanda duduk di samping suaminya itu, mengambil makanan yang hendak disuapkan ke mulut. Menjauhkan barang-barang yang mungkin akan menganggu acara mediasi mereka.
Adit hanya diam, memalingkan wajahnya pada Amanda.
"Aku udah ketemu Rendra," ucap Amanda tetapi suaminya tidak menjawab apapun. "Dia juga udah ketemu Azka."
"Senang?" sindirnya dengan nada sinis.
"Maksud kamu apa?"
"Iya, sangking senangnya kamu sampai nggak bilang apa-apa tentang ini sama aku," balas Adit menggebu-gebu. "Silahkan kalau kamu mau balikan sama dia, tapi aku nggak akan kasih Azka semudah itu sama kalian."
"Mas!" bentak Amanda. "Kamu kok bisa berpikiran seperti itu?"
"Aku nggak akan berpikiran seperti ini, kalau kamu jujur dan memberitahu aku dari awal."
"Tapi, kamu nggak bisa dihubungin waktu itu!"
Adit diam, dia harusnya menyadiri hal ini juga. Pertemuan itu terjadi saat dirinya tidak ada kabar, karena sibuk mengurus sesuatu di Bandung. Namun, seharusnya saat pulang Amanda langsung memberitahunya kan? Kenapa membiarkan Adit tahu dari orang lain?
"Itu nggak bisa jadi alasan, kamu harusnya ngasih tau aku pas pulang!"
Amanda memalingkan wajahnya. "Intinya, ini nggak seperti yang kamu bayangkan, Mas. Aku sama Rendra nggak ada hubungan apapun!"
Adit mengambil sebuah foto di sakunya, lalu memberikannya pada Amanda. "Apa harus digandeng? Terus masuk ke mobil? Bahkan, lelaki itu masuk ke rumah ini! Coba jelaskan!"
Satu-persatu dilihatnya foto itu, yang diambil dari beberapa angel, memberi arti yang berbeda dari faktanya. "Kayaknya, nggak penting untuk menjelaskan tentang ini karena aku emang nggak ada apa-apa sama Rendra. Intinya aku mau kasih tau ke kamu, kalau Rendra minta Tes DNA. Dia yakin kalau Azka itu anak kandungnya!"
"Harusnya kamu lebih khawatirin tentang ini, Mas! Bukan nuduh yang enggak-enggak. Aku kecewa sama kamu! Kamu tau nggak, setiap malem ketakutan itu datang, apalagi untuk orang yang nggak punya apa-apa kayak aku, yang belum tentu bisa menyekolahkan Azka dan menunjang fasilitasnya sampai besar. Aku takut Rendra mengambil Azka." Bahu Amanda bergetar, menahan tangis. "Aku juga nggak mau Azka sampai tau kalau dia punya ayah selain kamu. Ini nggak adil buat aku, Mas. Rendra yang membuat hidup aku hancur, lalu dia datang lagi dengan seenaknya."
Seketika melihat wanita yang dicintainya itu menangis, Adit merengkuh tubuh Amanda. Lalu menepuk kepalanya, menenangkan. "Maafin aku, sayang. Nggak, aku nggak akan membiarkan semua itu terjadi. Kamu tenang aja."
Tatapan Adit berubah tajam, tangannya mengepal. Ia ingat, Amanda pernah bertanya padanya. Jika bertemu Rendra dia akan melakukan apa. Adit menjawab, memukulnya sampai masuk rumah sakit. Namun, sepertinya dirinya berubah pikiran. "Kamu sudah berani menampakkan diri di depan Amanda, itu berarti kamu siap mati, Rendra!"
***
__ADS_1