Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
22 : Ada yang hilang


__ADS_3

Amanda menatap rumah itu dengan tatapan takjub, benar-benar membuatnya serasa berada di dunia mimpi. Meskipun, suaminya itu membatalkan rencana untuk pergi ke rumah baru bersama-sama karena suatu alasan. Amanda mencoba memaklumi. Sebagai gantinya, ia mengajak Dara untuk menemaninya. Untunglah, temannya itu bersedia.


"Wah, rumahnya bagus banget!" ucap Dara sama terpesonanya, dia baru kali ini menginjakkan kaki ke rumah mewah karena biasanya hanya menginjak lantai kostan yang sederhana. "Akhirnya aku punya temen kaya juga!" tambahnya seraya melirik Amanda.


Amanda hanya menanggapi dengan senyuman, lalu menggandeng Azka untuk masuk ke rumah tersebut, yang memang sudah siap untuk ditinggali. Amanda berkeliling ke area rumah yang luas itu. Azka kegirangan saat membuka pintu kamarnya serba Spiderman. Suaminya itu mempersiapkan segalanya secara diam-diam.


"Bunda, liat ada Spiderman!" hebohnya sambil bertepuk tangan. "Abang suka!"


"Nanti bilang makasih, ya, sama ayah."


"Siap bunda!"


Setelah berkeliling mereka bertiga duduk di ruang keluarga yang nyaman, beristirahat sembari mengobrol.


"Bahagia banget pasti hidup kamu punya suami kaya Adit," ucap Dara. "Walaupun mungkin orangnya agak tempramental." Dara masih mengingat jelas, wajah babak belur bosnya itu yang dipukuli oleh suami Amanda.


"Dia itu super baik, bahkan mungkin aku nggak bisa nyari lagi orang sebaik itu. Dulu, kami hidup susah tapi Adit sangat bertanggung jawab. Dia selalu bekerja keras untuk istri dan anaknya," kenang Amanda saat masa-masa dulu yang penuh suka duka. "Mungkin, sekarang adalah buah hasil kerja kerasnya."


Dara mengangguk, kemudian mencomot kue yang sengaja dibeli Amanda untuk camilan di rumah baru.


"Manager di resto diganti lagi, loh," ucap Dara memberi tahu. "Padahal Pak Rendra belum ada sebulan kerja."


"Hah?" Amanda mencoba tidak peduli tetapi ada di sudut hatinya juga rasa penasaran.


"Katanya sih, mau balik ke Bandung. Dia sebenarnya baik, loyal juga. Sayang deh, kalau harus diganti lagi. Kira-kira kenapa ya, Pak Rendra berhenti?"


"Mana aku tau," balas Amanda. Padahal jelas dia tahu kalau Rendra menepati janjinya untuk mengulang dari hadapan Azka.


"Denger-denger katanya dia juga mau nikah, sih."


"Oh, baguslah."


"Ih, nggak bagus-lah! Orang dari waktu dia pertama menginjakkan kaki di restoran. Aku tuh, udah berangan-angan biar bisa jadi istrinya!"


"Mana mau dia sama kamu," canda Amanda.


"Lah, gini-gini mantan aku semuanya orang tajir."


"Kenapa nggak ada yang nikahin kamu?"


"Setelah tau aku miskin, mereka mundur," ucap Dara lemas. "Heran sama orang-orang sekarang, kalau nggak liat dari fisik pasti dari kekayaan."


Amanda menggelengkan kepalanya. "Itu hanya soal karakter, Dar. Banyak kok, orang-orang kaya yang mau sama orang biasa aja."


Tiba-tiba suara mobil membuat Amanda yakin bahwa itu suaminya. Meminta tolong pada Dara untuk menjaga Azka yang sedang memainkan ponsel sembari rebahan di sofa.

__ADS_1


Benar saja, Amanda mendapati suaminya yang keluar mobil, menyambutnya dengan senyuman. Tangannya direntangkan, lalu berlari memeluk Adit.


"Kangen banget aku sama kamu, Mas!" ungkap Amanda lalu menggiring Adit untuk masuk ke dalam rumah.


"Kenalin ini Dara, teman aku." Amanda mengenalkan Adit pada Dara, begitupun sebaliknya.


Setelah itu Adit memberikan beberapa jingjingan pada Amanda, lalu menyapa Azka. Anak itu langsung melemparkan ponselnya lalu memeluk sang ayah dengan bahagia.


"Ayah!"


"Abang kangen sama ayah, ga?"


"Kangen banget! Ayah, tadi Abang kiat ada kolam lenang gede! Belenang yu, ayah!"


"Boleh."


"Sekalang?"


"Nggak boleh berenang sekarang, nanti sore aja. Cuacanya masih panas." Bukan Adit yang membalas tetapi Amanda.


"Ih, bunda!" Azka cemberut.


"Berenangnya sore, tapi sekarang kita liat dulu kolam renangnya, gimana?" tawar Adit yang langsung disetujui oleh Azka. Ayah dan anak itu berjalan menuju halaman belakang yang terdapat kolam renang.


Sementara Amanda kebingungan saat Dara merapikan tasnya.


"Iya, suami kamu udah dateng. Nggak enak-lah kalau masih di sini pasti ganggu kebersamaan kalian. Mana kan suami kamu nggak setiap hari pulang."


"Yaampun Dar, padahal nggak apa-apa," balas Amanda malah merasa tidak enak.


"Nanti kapan-kapan ke sini lagi. Toh, sekarang emang ada janji sama yang temen. Aku pamit dulu, ya, Man."


"Ada yang jemput?"


Dara mengangguk. "Dia udah ada di depan gang komplek."


"Maaf ya nggak bisa menjamu banyak."


"Yaampun, nggak apa-apa, Amanda." Mereka berdua cepaka-cepiki. Ia mengatar Dara sampai gerbang rumahnya.


Amanda menatap kepergian Dara dengan sedih. Tidak bisa memaksa temannya itu untuk tetap tinggal.


"Oke, hati-hati."


"Siap!"

__ADS_1


Ia hendak berbalik menuju rumahnya tetapi matanya memicing melihat seseorang di balkon rumah tetangga barunya itu, sedang memperhatikannya. Namun, orang itu menyadari kalau Amanda juga tengah melihatnya hingga membuat dia langsung masuk.


Tangannya menepuk pipi, merasa apa yang dipikirkannya itu tidak benar. Bukannya, Dara sudah bilang jika dia ke Bandung. Ya, pasti Amanda salah liat. Orang yang di balkon itu bukanlah Rendra. Tidak mungkin, terus-menerus ada pertemuan secara kebetulan. Tidak mau terlalu memikirkan hal itu, Amanda memilih masuk ke dalam rumahnya.


***


Istriku: Mas, kamu beneran nggak pulang? Di sini hujan, di tempat kamu hujan juga? Sayang banget, malam pertama di rumah baru kamu malah harus ada kerjaan. Tapi, aku mencoba untuk mengerti. Pasti nggak mudah, buat mewujudkan semua ini kan?


Istriku: Aku nggak akan tanya sekarang kamu lagi di mana, aku percaya sama kamu, Mas. Selamat bekerja, jangan begadang, minum juga vitamin yang aku kasih tadi. Aku tidur duluan, dah suamiku tercinta❤️


Merasakan tangan yang melingkar di pinggangnya, membuat Adit buru-buru mematikan ponselnya lalu di masukan ke saku celana.


"Kak Dipta, harus janji jangan pernah tinggalin Kinan," ucapnya sambil menyenderkan kepalanya.. Di belakang, matanya terpejam seolah menikmati punggung lebar milik suaminya.


Adit merasa heran kenapa Kinan tiba-tiba mengatakan hal itu.


"Apalagi meninggalkan Kinan gara-gara perempuan lain. Kak Dipta sudah janji di depan papa, akan membahagiakan Kinan, bukan?"


"Kenapa kamu selalu diam saat kita membicarakan tentang ini. Apa karena kita benar-benar akan berpisah?"


"Kak?"


"Saya tidak akan melakukan itu," ucap Adit seraya berbalik menatap Kinan. *S*etidaknya sampai tujuan saya belum tercapai. lanjutnya dalam hati.


Adit mengakui kalau dirinya ini adalah penjahat yang memanfaatkan kekayaan dan ketulusan Kinan, yang mungkin hanyalah perempuan kesepian karena kedua orangtuanya bercerai serta tidak memiliki saudara. Namun, dia melakukan hal ini-pun bukan tanpa alasan. Demi keluarga yang dicintainya, dia rela melakukan apapun, sekalipun menyakiti orang lain. Maafkan aku, Kinan.


Kinan mengelus wajah suaminya dengan pelan. Ia sekarang bisa bernafas lega karena kalimat itu akhirnya terlontar dari mulutnya. "Boleh Kinan bertanya sesuatu?"


"Apa?"


"Amanda Putri Titania, siapa dia? Kinan menemukan nama itu di sebuah foto yang ada di koper Kak Dipta."


Adit menjadi tegas, dan terdiam. Dia tidak menyangka, Kinan akan mengetahuinya secepat ini. Tentu, sekarang rasa khawatir itu hinggap. Adit takut akan kehilangan segalanya yang bahkan baru dinikmati oleh keluarganya.


"Bukan siapa-siapa, Kinan. Dia hanya mantan kekasih," balas Adit mencoba beralibi, tetapi tetap Kinan masih belum puas dengan jawabannya.


"Kenapa Kinan harus percaya?"


"Karena ..." Adit sedang memutar otaknya mencari alasan yang logis. "Karena orang yang saya cintai sekarang adalah kamu, Kinan. Kamu berhasil membuat saya jatuh cinta."


Adit mengubah raut wajahnya, terpaksa dia harus tersenyum palsu di depan Kinan. Tangannya menyelipkan anak rambut yang berada di sisi ke telinganya. Kini giliran Adit yang melingkarkan tangannya ke pinggang Kinan, lalu mendekatkan wajahnya. Menciumnya penuh perasaan dan membayangkan yang berada di hadapannya adalah Amanda. Adit melakukan itu penuh perasaan.


Kemudian membawa perempuan itu ke ranjang, lalu memanjakannya dengan sentuhan dan belaian di setiap inci tubuhnya membuat Kinan seketika terbuai dan ikut bergabung dalam kehangatan itu. Semudah itu memang Adit memanfaatkannya.


Sementara di sebrang sana, ada Amanda yang hanya bisa melihat guyuran hujan di dari jendela kamarnya. Malam ini dirinya merasa gelisah, seperti ada yang hilang tetapi Amanda tidak tahu, apa itu.

__ADS_1


****


__ADS_2