Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
27 : Antara Adit, Kinan dan Amanda


__ADS_3

"Sayang."


Adit memeluk Amanda dari samping, istrinya itu membelakanginya dan terus menangis. Ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya mengantar Amanda pulang ke rumah orangtua mamanya melainkan ke hotel, mereka akan bermalam di sana dan berbicara. Mengabaikan Kinan yang mungkin akan mencari keberadaannya.


"Aku minta maaf," ucapnya lagi sambil menggenggam tangan Amanda. "Aku tidak pernah mencintai Kinan, aku melakukan semua ini demi kita, Amanda."


"Pernikahan itu bukan seperti apa yang kamu pikirkan," Adit masih mencoba agar Amanda mengerti posisinya. Caranya memang salah, tetapi ini bisa dibilang cara paling cepat agar mendapatkan uang. Adit tidak mau lagi hidup serba kekurangan. "Aku mohon kamu mengerti."


Amanda yang terisak itu, hanya tidak habis pikir. Ia harus mengerti, bagaimana? Suaminya itu sudah mengkhianatinya dengan mengaku menikah dengan perempuan lain. Apapun alasannya, tindakannya tidak bisa dimaklumi.


"Amanda ..." lirihnya. Ketakutannya adalah ketika Amanda memilih berpisah dengannya. Adit tidak mau itu terjadi. "Kamu tahu seberapa cintanya aku sama kamu. Please, maafin aku. Kita mulai semuanya dari awal?"


"Ceraikan aku saja, Mas."


Adit semakin memeluk erat Amanda. "Nggak, Amanda. Kita nggak akan berpisah."


"Lalu mau kamu apa? Menerima perempuan itu jadi maduku, begitu? Jangan buat aku gila, Mas!"


Adit merasa serba-salah, kalau dia memilih Amanda tentu kekayaan yang sekarang di dapatnya akan hilang dan dia tidak mungkin memilih Kinan, karena yang dicintainya hanyalah Amanda.


"Ya." Adit mengangguk.


Amanda bangun dari tidurnya, menatap suaminya itu tidak percaya. "Kamu egois!"


"Kamu tau, hanya aku yang bisa menerima Azka setulus itu, aku menyayanginya seperti anak kandungku sendiri. Kamu harus pertimbangkan hal ini juga, kalau kita berpisah. Azka akan menderita."


Amanda mengusap wajahnya. Ah, Azka anaknya yang malang mengapa kamu harus punya ibu sepertinya?


"Tetap, keputusanku sudah bulat, kita bercerai."


"Amanda!" Adit mencegah perempuan itu yang hendak membuka pintu. "Aku nggak akan melepaskan kamu begitu saja!"


"Harusnya kamu ingat, dulu hanya aku yang menerima kamu apa adanya! Mencintai kamu dengan tulus, sampai mengabaikan orangtuaku! Meninggalkan adik-adikku yang masih kecil! Menjadikan kamu ratu! Menjadi sosok ayah yang baik untuk Azka! Apa kamu lupa dengan pengorbananku? Hanya karena kesalahan yang sebenarnya masih bisa diperbaiki! Seharusnya kamu berpikir berulang kali untuk meninggalkan aku," bentak Adit lepas kendali, lelaki itu mencengkram bahu Amanda.


"Aku nggak pernah berpikir untuk meninggalkan kamu, Mas. Tapi tindakan kamu sendiri yang buat aku harus melakukan hal itu!" balas Amanda dengan pandangan nanar. Tujuan mereka sudah berbeda, lalu untuk apa dipertahankan.


"Semuanya masih bisa diperbaiki!"


"Apa yang diperbaiki? Toh, jika aku menjalaninya tidak akan seperti semula. Hati ini, udah hancur. Nggak akan bisa disatukan lagi."


"Jika kamu tetap kekeh, ingin bercerai. Aku bakal bawa Azka."


Amanda sudah kehilangan suaminya, dia sudah sangat berubah. "Kamu nggak ada hak untuk itu, Azka bukan anak kandungmu!"


"Memang bukan, tapi aku yang mengurusnya dari bayi? Segala kebutuhannya aku yang memenuhi!" Adit sebenarnya tidak mau mengungkit hal ini, tetapi karena Amanda membuat keputusan itu membuatnya terpaksa, setidaknya Amanda harus sadar kalau bukan Adit, siapa yang mau menerimanya?

__ADS_1


"Kamu nggak bakal bisa hidup tanpa aku, Amanda."


Benar yang dikatakan suaminya itu karena Amanda mungkin tidak akan bisa menjalaninya tanpa dia. Tapi, bukankah akan lebih sakit jika harus berbagi segalanya dengan perempuan lain? Amanda tidak bisa membayangkannya.


"Hanya kamu yang aku cintai."


Adit memeluk Amanda yang hanya terdiam tanpa kata. Bahkan, pelukan itu sudah terasa berbeda. Hanya kehampaan yang dirasakannya.


***


Kinan membuka matanya perlahan, saat menyadari tidak ada suaminya di sampingnya, buru-buru dia terbangun dan memeriksa ke toilet, karena tidak ada tanda-tanda baju kotor dan jas di lemari tidak berkurang. Kinan menanyakan pada pembatunya. Mungkin, Bi Inah tau kepergiannya.


"Bi, Kak Dipta sudah berangkat?" tanyanya pada sang pembantu yang sudah sedari kecil menemaninya, wanita itu sedang berada di dapur.


"Oh, Non Kinan tidak tau, kalau semalam Pak Dipta pergi. Saya mau tanya, tapi dia terlihat buru-buru," balasnya membuat Kinan hanya bisa menghela napas, kebiasaan. Tangannya menyicikan air putih, lalu meminumnya sampai tandas.


"Dia itu misterius," ucap Kinan dengan tatapan sebal. "Apa sih, yang sebenarnya disembunyikan?"


"Sebentar, Non." Bi Inah pergi ke kamarnya, lalu datang kembali dengan membawa bebera struk belanja.


"Sudah lama saya selalu menemukan struk ini dari celana Bapak, Non."


Kinan mengambil struk itu, alisnya terangkat. Suaminya berbelanja beberapa baju perempuan dan anak, lalu kebutuhan pokok dan susu, camilan dan lain-lain. Untuk siapa? Setaunya, suaminya itu anak tunggal dan orangtuanya juga tidak tinggal di sini.


Apa ini berhubungan dengan perempuan yang bernama Amanda itu, yang dulu dia temui namanya berfoto bersama suaminya? Kinan mengambil ponselnya, menelpon mamanya.


"Astaga, Kinan! Ini masih pagi, kenapa kamu nelpon Mama!" bentak suara disebrang sana, tampak terganggu.


"Ma ... Kinan minta tolong untuk carikan data-data tentang Amanda, mantannya Kak Dipta. Kayaknya mereka masih berhubungan. Kinan mungkin akan melabraknya, bisa-bisanya dia ganggu rumah tanggaku!"


"Hah? Apa? Amanda? Untuk apa, Kinan?"


"Pokoknya Kinan ingin bertemu dengannya. Nggak mudah buat mama, buat melacak orang. Jadi, Kinan minta bantuan mama sekali ini aja, please?"


Kinan tahu sekali pekerjaan mamanya yang masuk dalam dunia gelap, tentu dia pasti punya banyak kenalan yang hebat dalam melacak orang.


"Oke, nanti Mama bantu."


"Makasih, Ma."


Kinan menyimpan ponselnya. Siapapun yang berani mengganggu pernikahannya, tidak akan Kinan beri ampun.


"Non, sepertinya Bapak sudah pulang," beritahu Bi Inah mendengar suara mobil dari pekarangan. Kinan melangkah, menghampiri suaminya.


Wajahnya yang kusut seperti sedang tidak baik-baik saja. Tapi, bukan berarti dia bisa lolos dari amukan Kinan.

__ADS_1


"Masih mau pakai alasan apalagi sekarang?" tanya Kinan sambil melipat tangan di dada. Adit hanya melengos, melewati Kinan.


"Bi, tolong ambil lukisan di bagasi mobil terus pajang di kamar saya," titah Adit pada Bi Inah.


"Kak! Kinan lagi ngomong, kok, ditinggalin!" sebalnya.


"Saya semalam ada urusan," balas Adit sambil berjalan ke kamarnya. Membuka baju yang dikenakannya, lalu mengambil kaus baru.


"Urusan apa?"


"Sama teman."


"Kinan nggak pernah liat Kak Dipta punya teman."


"Apa kamu harus tahu semua tentang saya?"


Kinan melotot, merasa Adit kembali berubah padahal kemarin dia sudah sedikit menampilkan kepeduliannya pada Kinan.


"Kak! Kinan istri kamu. Kenapa Kinan nggak berhak tau?"


Adit menatap Kinan. "Untuk dua hari ke depan saya bakal sibuk, mungkin nggak akan pulang."


"Kak!" Kinan berteriak tidak terima. Bisa-bisanya, suaminya itu membuat keputusan tanpa persetujuannya.


"Kinan nggak akan beri izin!"


"Saya tidak butuh izin kamu."


Kinan melihat suaminya itu sudah siap untuk pergi, lantas mengunci pintu. "Kak Dipta, nggak akan pergi!"


"Kinan," ucap Adit greget. Lelaki itu benar-benar sedang di fase emosi karena permintaan Amanda, seharusnya Kinan tidak memancingnya. "Sini kuncinya!"


"Nggak!"


"Sini!"


Adit mengambil kunci itu dari Kinan, dengan paksa. Lalu berhasil membuka pintu, di belakangnya Kinan ikut emosi. Dia berteriak pada suaminya, meskipun tetap saja Adit mengabaikannya.


"Jika Amanda yang membuat kamu seperti ini! Kinan jamin, dia tidak akan pernah bahagia!" ancamnya dengan kepalan tangan yang mengerat. Adit tidak tahu, bahwa kemalangan dan kesepian itu bisa membuat Kinan menjadi sosok yang lebih berbahaya.


Mungkin, Kinan tidak bisa membuat kedua orangtuanya bersatu kembali. Tetapi dia bisa membuat menderita, siapapun yang mencoba menganggu kesenangannya itu.


Bi Inah yang melihat mata merah itu, merinding. Dia hanya berharap, semoga nona-nya itu tidak berulah kembali.


****

__ADS_1


__ADS_2