Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
14 : Amarah


__ADS_3

Wanita berumur sekitar 40 tahunan itu masuk ke dalam sebuah ruangan, beberapa orang yang dilewatinya menyapa dan menunduk hormat. Tas berharga ratusan juta yang ditenteng di tangannya, baju merk gucci yang dipakainya, lalu jam tangan putih mengkilapnya menunjukkan bahwa wanita itu adalah orang yang memiliki banyak uang.


Ditambah, ada dua bodyguard tampan yang selalu menemani ke manapun dia pergi. Tamara Aura, dia salah satu pengusaha sukses yang mendirikan beberapa club yang sudah tersebar di berbagai provinsi di Inonesia yang diberi nama Aura club.


Tempat hiburan yang dianggap hiburan biasa dengan dentuman music dari DJ serta lampu kerlap-kerlip, padahal menyimpan banyak hal-hal illegal yang berhasil ditutup rapat oleh pemiliknya.


"Hai, Dipta!” Pintu terbuka, menampilkan seorang lelaki yang tersentak dari tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, tetapi sepertinya dia belum ada niatan untuk pulang dan memilih tidur di ruang kerjanya dengan posisi duduk.


Melihat ada tamu kehormatan di depannya, ia langsung mempersilahkannya untuk duduk.


“Bagaimana, apa kamu suka bekerja di sini?” tanyanya seraya melihat suasana ruangan yang tampak berbeda. Sebelumnya tempat ini di dominasi oleh warna hitam, tetapi sekarang tampak lebih cerah karena berpadu dengan warna putih dan kuning ke-emasan.


Lelaki itu mengangguk. “Tentu saja, Madam. Saya senang,” balasnya sekenannya. Ya, siapa yang tidak suka bekerja santai tetapi uang terus mengalir?


Tamara menatap intens, wanita tua itu berdiri lalu berjalan mendekat, suara sepatu yang bersentuhan ke lantai membuat Adit menahan napas, sepertinya ia berada di zona waspada. Benar saja, seperti dugaannya, tangan itu terangkat hendak merapikan rambutnya. Saat Adit bergerak menjauh, kekecewaan terlihat jelas di matanya.


"Kenapa kamu tidak pulang?"


"Masih ada beberapa yang harus saya kerjakan, Madam. Apa ada masalah?” tanya Adit yang juga heran kenapa bosnya itu tiba-tiba datang bahkan tanpa memberitahunya.

__ADS_1


"Saya mengganggu kamu?” Tamara malah balik bertanya.


“Bukan itu maksud saya. Hanya saja, tidak biasanya Madam datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu.”


Tamara menjauh dari Adit, lalu berjalan mengamati benda-benda yang ada di ruangan. Guci-guci yang dibelinya di luar negeri masih ada, tetapi lukisan-lukisan yang menunjukkan lekuk tubuh perempuan itu sudah tidak berada di tempatnya. Tetapi menurutnya itu bukan masalah besar. Toh, Tamara sendirilah yang meminta pada Adit jika tidak menyukai tema ruangan kerja barunya, lelaki itu bisa menggantinya sesuka hati.


Adit hendak menghentikan Tamara yang mengambil pigura yang berisi foto keluarga kecilnya, tetapi dia tidak seberani itu karena wanita itu bosnya.


"Amanda cantik sekali,” ucapnya sambil tersenyum penuh arti. “Garis wajah dan senyumannya mirip sekali dengan Kinan, pantas kamu menerima tawaran saya tanpa pertimbangan yang lain.”


Adit hanya diam, tanpa berniat membalas ucapan yang dilontarkan Tamara.


"Sebenarnya saya datang hanya untuk memberikan amplop ini,” Tamara mengambil amplop putih yang dipegang oleh salah satu bodyguardnya. Lalu memberikannya pada Adit.


"Madam mengawasi istri saya?” tanyanya, kini nadanya penuh ketidaksukaan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan membawa Amanda dalam pekerjaan ini, tetapi bisa-bisanya Tamara melakukan sesuatu tanpa persetujuannya.


"Sepertinya itu tidak penting untuk dibahas. Sekarang yang menjadi pertanyaan kenapa istri kamu bertemu dengan lelaki itu?”


Adit kembali melihat satu-persatu foto itu dengan jelas. Saat Amanda bekerja di restoran, masuk ke mobil lelaki itu, mereka pun sempat bergandeng tangan, lalu yang terakhir foto lelaki yang masuk ke rumahnya. Sialan, apa-apaan ini? Tapi, tunggu sepertinya Adit mengenalnya. Bukankah dia Rendra?

__ADS_1


“Saya harap foto-foto ini bisa membuat pikiranmu terbuka dan bisa menentukkan pilihan,” ucap Tamara seraya tersenyum penuh arti.


Setelah menyampaikan apa yang menjadi tujuannya, wanita itu pergi dari ruangan bersama kedua bodyguardnya meninggalkan Adit yang masih menatap foto itu dengan amarah yang mulai meningkat.


Apa Adit yang terlalu bodoh atau Amanda yang terlalu pintar, sampai-sampai tidak menyadari jika mereka berdua melakukan pertemuan di belakangnya. Ah, ia ingat sepertinya nomor di ponsel yang dinamai suamiku itu pasti nomor Rendra. Tangannya mengambil kunci mobil, tanpa berganti pakaian lelaki itu keluar. Malam ini juga, ia harus pulang ke-Jakarta.


***


Adit mengetuk pintu rumahnya beberapa kali dengan tidak sabar, meski menghabiskan waktu hampir 2 jam 30 menit di perjalanan. Amarahnya masih berada di ubun-ubun, apalagi membayangkan Amanda bertemu dengan Rendra tanpa sepengetahuannya membuat gejolaknya semakin naik. Ingatkan Adit, setelah ini dia harus bertemu lelaki itu dan menghajarnya habis-habisan.


TAngannya kembali mengetuk pintu, tetapi hasilnya tetap sama, tidak ada yang menyahut. Melihat lampu di rumah itu menyala, membuatnya yakin jika istrinya itu berada di dalam. Saat melihat pot bunga Adit jadi teringat sesuatu, lelaki itu berjalan menuju pot lalu mencari sesuatu.


Ternyata kebiasaan Amanda masih berlangsung, istrinya itu selalu menyimpan kunci cadangan di pot, katanya jaga-jaga ketika hilang atau saat Adit pulang malam dia tidak perlu membangunkannya.


Krett


Pintu terbuka, setelah menutupnya Adit berjalan menuju kamar. Lelaki itu terdiam, seketika amarahnya mereda melihat Amanda yang tertidur sembari memeluk Azka. Mata istrinya terlihat sembab, seperti habis menangis. Adit duduk di sisi ranjang, kemudian mengecup kening Amanda dan Azka bergantian, dengan sangat terpaksa dia harus menunda pertanyaan-pertanyaan yang saat ini ingin sekali ditanyakan pada Amanda.


Sebelum ikut berbaring di sisi istrinya, Adit mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


Saya tidak pulang hari ini.


****


__ADS_2