Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
29 : Pertarungan dua istri


__ADS_3

Kinan membuka kacamata hitamnya, melihat seorang wanita dari jendela mobil yang terparkir tidak jauh dari rumah itu. Setelah, mendapat informasi tentang Amanda dari sang Mama yang menyatakan bahwa perempuan itu ada di Jakarta. Matanya melotot tidak percaya, saat mendapati suaminya juga ada di sana sambil menggendong anak laki-laki. Amanda Putri Titania, Kinan harus memberinya peringatan.


Melihat suaminya itu mengecup kening, Amanda dan anak lelaki itu lalu masuk ke dalam mobil, membuat Kinan bertanya-tanya. Bukankah, mereka hanya sebatas mantan?


Mobil Adit keluar dari rumah itu, membuat Kinan lantas berjalan masuk ke gerbang. Amanda yang melihat kedatangan orang asing itu mengangkat alisnya.


"Siapa?"


Kinan menilai Amanda dari atas hingga bawah, rambut yang masih acak-acakan, tanpa make-up dan pakaian dasternya. Ia tanpa sadar menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa suaminya punya mantan yang seperti ini? Jauh sekali, dibanding dirinya yang sangat memperhatikan penampilan apalagi di depan suami. Tanpa menghiraukan Amanda, Kinan masuk ke dalam ruamah itu, membuat Amanda berusaha untuk mengusirnya.


"Maaf, kamu siapa?" tanya Amanda kebingungan. "Hey!"


Kinan tetap berjalan tidak peduli. Matanya menyoroti etalase dan di dinding yang ditempeli beberapa foto kebersamaan Amanda dan suaminya. Membuatnya emosinya naik, lalu mengambil dan memecahkan foto-foto itu.


Amanda yang melihat itu melotot dan berteriak. Apa-apaan perempuan ini? Mereka bahkan tidak saling kenal.


"Jangan sentuh barangku!" Amanda mencoba menyelamatkan barang-barangnya, sementara sebelumnya dia menyuruh Azka untuk bersembunyi. Anak itu tidak boleh melihat kegaduhan ini. "Aku bisa telepon polisi!


"Seharusnya, aku yang bertanya. Siapa kamu, sampai tidak tahu diri memajangkan foto-foto suamiku!"


Amanda menghentikan gerakan tangannya yang memegang tangan Kinan. "Suami?"


"Ya, Kak Dipta adalah suamiku, seharusnya sebagai mantan kamu tidak ada hak untuk berlaku seperti ini, dasar wanita murahan!" bentak Kinan meluapkan emosinya. "Jangan harap kamu bisa merebutnya lagi, karena dia sekarang milikku!"


Mata Amanda menatap Kinan dengan sulit diartikan. Sekarang dia tahu, bahwa di depannya adalah Kinan-istri kedua suaminya-. "Cukup!"


Kinan tidak mau berhenti dan Amanda pun hilang kesabaran.


"CUKUP!" Kali teriakannya lebih keras. "AKU JUGA ISTRINYA!"

__ADS_1


Kinan tertawa dipaksakan, melihat Amanda dengan tatapan meremehkan. "Kamu pikir aku percaya? Melihat penampilanmu yang seperti ini, jauh sekali dengan tipe Kak Dipta. Aku tau, kamu itu wanita gatal yang entah memakai dukun atau apa hingga suamiku tergoda. Tapi, aku tidak akan membiarkan itu, wanita sepertimu itu harus disingkirkan! Dasar parasit!"


Amanda menatap tidak percaya, merasa terhina karena bisa-bisanya Kinan mencacinya. "Bukankah, seharusnya aku yang bilang seperti itu? Kamu yang sudah merebut suamiku!"


"Heh!" Kinan berani mencengkram tangan Amanda. "Siapa yang kamu maksud 'suamiku?' Aku satu-satunya, istrinya!"


Amanda meringis kesakitan. "Lepas!"


"Jangan pernah ganggu suamiku!" ucap Kinan dengan nada mengancam. "Kalau kamu ingin hidup bahagia."


"Aku juga istrinya," balas Amanda menantang. Ia tidak takut dengan ancaman Kinan. "Aku beritahu, kamu sudah dibohongi oleh Adit, kamu hanya istri kedua."


"Jangan coba membohongiku," Kinan semakin mencengkram tangan Amanda, mungkin dia hanya tidak bisa menerimanya. Apa maksudnya? Istri kedua? Itu berarti, ada wanita lain dalam rumah tanggannya.


"Aku sudah memintanya bercerai, tetapi suamiku itu terlalu mencintaiku dan memintaku untuk terus bertahan," balas Amanda, membuat Kinan menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Ya, jika kamu tidak percaya. Rumah ini buktinya, beberapa minggu lalu suamiku itu memberikan rumah ini padaku."


"Seharusnya kamu berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, menghancurkan rumah ini tidak akan bisa mengubah keadaan," balasnya kesal. "Jika kamu masih punya malu, sebaiknya pergi dari rumah ini. Dan bicara dengan Adit di luar sana, jangan menganggu ketenanganku dan anakku."


Amanda ingin memberi jeda untuk hatinya, dia memang masih mempertimbangkan keputusannya untuk bercerai sekaligus tidak mau ikut campur dengan urusan Adit dan istri keduanya. Biarlah, menjadi urusan mereka sendiri. Katanya, Adit akan ke Bandung lalu bicara empat mata dengan Kinan. Dia memutuskan untuk bercerai dan memilih Amanda.


Entahlah, apa yang ada dipikirannya itu, kenapa Adit bisa menganggap sebuah pernikahan seperti lelucon dan menjalaninya sembunyi-sembuyi. Apa dia tidak berpikir, ada banyak hati yang terluka karena tindakannya itu. Belum tentu, jika Adit benar bercerai dengan dia, Amanda akan membuka pintu kesempatan sebab perasaanya tidak akan seperti semula. Kepercayaannyq sudah hilang.


Amanda tidak sigap, tiba-tiba Kinan menyerangnya, menjabak rambut membuatnya berteriak kesakitan. Apa-apaan dia ini?


"Argh!"


"Bisa-bisanya kamu mengusirku, sementara rumah ini dibeli dengan uang keluargaku. Sampai Kak Dipta, mengakuinya di depanku! Aku tidak akan percaya kamu adalah istrinya, kamu hanyalah parasit yang menganggu rumah tangga kami!"


Tidak mau diam saja, Amanda mencoba membalas dengan menjambak rambut Kinan yang lurus itu. Bukankah, seharusnya dirinya yang melakukan hal ini, melabrak dan mencaci-maki Kinan? Dia istri pertama yang dikhianati. Benar-benar membuat muak.

__ADS_1


"Aaaaaa!" Kinan menjerit karena Amanda berhasil mencabut beberapa helai rambutnya. "Dasar, sialan!"


Pertarungan itu tidak akan berhenti jika tidak ada yang menengahi, untungnya Azka yang tadinya hanya akan bersembunyi itu memutuskan meminta bantuan pada tetangganya yang kebetulan berada di pekarangan rumah. Berharap ada yang menolong bundanya dari serangan orang jahat.


Seorang lelaki yang seperti hendak pergi ke kantor itu datang, melerai. Dengan sekuat tenaga, dia melepaskan mereka berdua yang kini saling menatap mata tajam dengan nafas tak beraturan.


"Siapa kamu?" hardik Kinan merasa belum puas. Lelaki itu menarik tangan Kinan, membawanya keluar.


"Jika kamu membuat kegaduhan lagi, saya akan melaporkanmu ke pihak RT," balasnya dengan raut wajah datar. Kinan berteriak ingin lepas, lalu sempat menoleh pada Amanda, tatapannya begitu tajam.


Sementara Amanda terdiam, merasa terkejut. Datang dari mana lelaki itu, kenapa dia ada di sekitaran komplek? Jangan bilang ini kebetulan lagi, tapi Rendra tidak mungkin menjadi seorang penguntit yang mengawasi segala gerak-geriknya kan? Apa lelaki itu berniat mengingkari perjanjian?


"Bunda, ndak apa-apa?" tanya Azka menghampiri bundanya yang rambutnya acak-acakan itu, tangan kecilnya memeluk Amanda. "Maaf, bunda Abang ndak bisa jagain bunda."


"Abang ketemu orang itu di mana?"


Azka terlihat bingung. "Maksudnya apa Bunda?"


"Om tadi, Abang ketemu di mana?"


"Oh, itu. Di lumah sebelah bunda. Lagi mau belangkat kelja, Abang panggil."


"Abang kenal om itu?" tanya Amanda membuat Azka lantas menggelengkan kepalanya. Ternyata anak itu sudah lupa. Amanda memeluk Azka.


"Abang, pokonya jangan minta bantuan sama om itu lagi. Om itu jahat."


Azka hanya bisa mengangguk, meskipun pikirannya bertolak belakang dengan perkataan sang bunda. Dia baik dan mau menolong bundanya.


***

__ADS_1


__ADS_2