
Pagi ini Amanda bersiap untuk bertemu seseorang yang dulu membeli lukisannya seharga 10 juta, pemilik akun dengan username Rapunzel kembali Amanda hubungi. Siapa yang tahu, orang itu ternyata masih penasaran dengan karya-karya Amanda. Kebetulan, hari ini katanya ada urusan ke Jakarta. Jadi mereka berdua bisa sekalian bertemu.
Amanda menunggu lima belas menit di sebuah restauran. Ia sungguh gugup, berharap sekali jika orang yang baik hati itu, mau membeli tiga lukisan yang sengaja dibawanya.
Tiba-tiba ada seorang wanita cantik dengan style elegan, memakai jas dan celana panjang, membuat Amanda sempat terpesona.
"Iya, Bu."
Ternyata dia orangnya cantik sekali seperti di foto.
Perempuan itu menyimpan tasnya, lalu duduk dengan anggun di kursi, terlihat sangat ramah.
"Sudah lama?" tanyanya suara lembut sekali, Amanda yakin pasti banyak orang yang mengantri untuk menjadi pasangannya? Jika dibandingkan dengan penampilannya yang sederhana, sangat terbanting.
"Baru, kok."
"Oiya, kenalin nama saya Arumi Kenanga. Kamu bisa panggil saya Rumi," ucapnya menyodorkan tangannya, lantas membuat Amanda menjabat tangannya. Benar-benar cerminan dewi, kulitnya halus sekali. Lihat, beberapa pasang mata di restoran tertuju pada perempuan yang ada di depan Amanda. "Saya liat karya-karya di feed Instagram kamu. Entah kenapa saya merasa salah satunya cocok sekali dipajang di rumah. Ternyata, ayah saya juga menyukainya."
"Terimakasih," balas Amanda merasa senang.
"Kamu lulusan mana?"
Amanda menggelengkan kepalanya. "Saya hanya lulusan SMA. Sebenarnya melukis itu hanya hobi dari kecil, tetapi semakin dewasa, kenapa enggak saya mengubahnya menjadi hobi yang menghasilkan."
"Bagus, ayah saya pasti menyukai kamu karena dia itu paling apresiasi sama orang-orang yang pantang menyerah. Walaupun dalam keterbatasan, tetapi selalu berusaha mewujudkan impian," ucap Arumi memberikan jempolnya. "Jadi, kapan kamu siap bertemu ayah, saya? Soalnya, pameran akan dilaksanakan sekitar dua bulan lagi. Itu pasti butuh persiapan."
Amanda terkesiap, tidak menyangka akan secepat ini. "Ini beneran?"
"Iya. Ayah saya adalah pelukis yang bisa dibilang senior, dia sudah beberapa kali ikut pameran, tetapi perdana tahun ini dia yang ingin membuka pameran khusus karya-karyanya dan dua karya orang lain yang berpotensi."
"Kapanpun saya siap!" balas Amanda, jika dia mengikuti pameran pasti karyanya akan lebih dikenal oleh kolektor-kolektor. Tentu, bukan hanya kepuasan karena berhasil menghasilkan mahakarya, dari hal itu Amanda bisa punya pelanggan.
__ADS_1
"Oke! Karena saya pulang lusa, mungkin kita bisa sekalian bertemu ayah saya di Bandung."
"Rumah kamu di Bandung juga?" tanya Arumi, ternyata mereka berdua berasal dari kota yang sama. "Saya juga asli Bandung."
"Wah, kita sama-sama orang sunnda dong! Tetapi di lihat-lihat kamu sepertinya masih muda?"
"Umur saya masih 23."
"Masih muda sekali," balas Arumi. "Bisa loh, kamu melanjutkan sekolah biar skil kamu makin mantap!"
"Sudah punya anak, jadi waktunya terbatas," balas Amanda sambil nyengir.
Arumi terlihat kaget. "Aduh, berarti saya tua banget. Umur sudah mau kepala tiga tapi belum juga menikah."
"Semoga disegerakan." Sudah Amanda tebak, perempuan di depannya ini pasti wanita dewasa terlihat dari cara dia bertutur kata.
Amanda mengambil lukisan yang di bawanya untuk ditunjukkan pada Arumi. Perempuan itu tersenyum, meraba-raba lukisan yang tertampil hadapannya. Potret beberapa seorang perempuan yang tengah menyusui bayinya, sangat menyentuh.
"Saya sepertinya menyukai lukisannya," ucap Arumi. "Melihat ini, jadi teringat ibu yang sudah tiada."
Entah mereka menghabiskan berapa menit untuk mengobrol dan makan bersama, sampai Arumi harus segera pergi ke rumah calon mertuanya. Ya, Amanda tahu bahwa perempuan itu datang ke Jakarta untuk bertemu calon suami serta keluarganya. Sempat diajak untuk pulang bersama, karena katanya calon suaminya pasti bersedia mengantarnya. Tetapi, Amanda menolak dengan tegas. Ia tidak mau menganggu kebersamaan pasangan itu.
Meski begitu, Amanda dan Arumi keluar berbarengan.
"Nah itu! Hei!" Arumi memanggil seseorang yang sedang bermain ponsel di sisi mobil. Kepalanya mendongkak, Amanda buru-buru memalingkan wajahnya.
Sial, itu Rendra.
Kenapa semesta seolah tidak membiarkan mereka berdua berjauhan. Apa harus, semua kehidupannya itu berkaitan dengan Rendra? Menyebalkan sekali.
****
__ADS_1
"Berarti kalian berjodoh!"
Amanda menggelengkan kepalanya, merasa menyesal berbicara tentang hal tadi pada sahabatnya. Rasa lelah sehabis pulang bekerja itu seakan di lupakan, kini Dara seperti bersemangat.
"Masalahnya bukan ini Amanda! Partner kerja aku itu tunangan Rendra. Nanti kalau dia sampe tau masalalu aku sama Rendra. Gimana? Bahkan, aku belum memulainya tetapi udah ada aja cobaan!"
"Ini bukan cobaan!" Dara menyanggah. "Tergantung perasaan lo aja, Man. Kalau lo merasa nggak nyaman dengan segala keterkaitan lo dan Rendra, berarti yang harus ditanya itu hati lo. Seharusnya sih, biasa aja dan bisa bedain mana namanya pekerjaan dan masalah pribadi. Gue yakin, orang se-dewasa Arumi juga bakal profesional. Kalau di antara lo dan Rendra nggak mengungkit tentang masalalu."
Benar sih, tapi? Amanda tidak akan merasa nyaman jika harus bertemu lelaki itu. Rendra hanya diam pun, kebencian itu selalu meningkat.
"Dan, satu lagi. Menurut gue, lo jangan terlalu membenci Rendra. Oke, kesalahannya itu memang fatal banget. Tapi, setelah di balik ke Indo. Apa dia lepas tangan? Dia berusaha kok, buat tanggung jawab. Tapi karena ego lo-nya yang terlalu besar, jadi gitu. Gue takut aja, nih ya sebenarnya kalau terlalu benci nantinya malah berubah jadi cinta!" ucap Dara menggodanya, membuat Amanda melotot tidak suka.
"Kamu sadar nggak, ngomong gini sama orang yang udah punya suami?" balas Amanda. "Kalau Mas Adit tau kamu ngomong seperti ini, dia pasti marah besar."
"Lo kan mau cerai sama tuh laki, jadi nggak ada alasan lagi cinta itu tumbuh ke orang lain. Move on, Man. Dengan dia nikahin perempuan lain, itu berarti kesetiaan dan rasa cintanya sama lo harus pertanyakan!"
Amanda menggelengkan kepalanya, berbicara dengan Dara membuat pusing saja. Pikirannya terlalu jauh. Toh, setelah berhasil bercerai dengan Adit, dia tidak ada pikiran untuk menjatuhkan hati pada orang lain, apalagi pada orang yang sama seperti Rendra.
"Kamu tuh, ngasih saran ke aku ini-itu, tapi kami sendiri masih aja jomblo." Giliran Amanda yang akan mengusik Dara. "Kamu terlalu pemilih, maunya yang kaya terus! Padahal kemarin Tukang Sate yang sering lewat, nanyain terus ke aku tentang kamu!"
"Hei! Mba Bro, bukan gue nggak mau tapi realistis aja. Zaman sekarang apa-apa serba naik, terus gue pengen naikin derajat hidup biar nggak miskin terus! Karena gue nggak berbakat jadi sukses, solusinya ya itu menikah dengan orang kaya!" ucap Dara memberitahunya, membuat Amanda mendelik muak.
"Dasar gaya elit, ekonomi sulit. Banyak bersyukur kamu, Dar!"
Dara tersinggung. "Heh! diajarin siapa lo ngomong begitu? Gue usir dari rumah tau rasa!"
"Yang bayar kontrakan siapa?"
Dara kicep. "Udahan ah, lo sekali ngomong langsung masuk ke jantung, sakit bener."
Amanda tertawa, skornya mereka satu sama. Lalu memeluk Dara, meminta maaf bahwa dia hanya bercanda. Ia kira setelah pergi dari rumah Adit, dirinya tidak akan punya tujuan. Untunglah, Dara mau menerimanya. Amanda tidak akan pernah melupakan kebaikannya.
__ADS_1
****