
Keesokan harinya saat Amanda bangun, ternyata Dara sudah berangkat kerja dan meninggalkan pesan bahwa dirinya hanya perlu menunggu di rumah, sambil beristirahat. Meskipun begitu, Amanda tidak mau waktunya dihabiskan hanya dengan rebahan. Ia harus menghubungi Rendra dan memberitahunya tentang hal penting terkait apa yang dilihatnya kemarin di gudang.
Namun, hampir tiga puluh menit mencari-cari ponselnya hasilnya tetap sama, dua benda itu hilang. Padahal Amanda ingat sekali, ia menaruhnya di saku celananya. Apa Dara yang menyimpannya? Tetapi untuk apa, bukan seharusnya sahabatnya itu membiarkan Rendra membantunya?
Perasaannya mulai tidak enak, Amanda berjalan keluar rumah, sialnya pintu itu malah di kunci. Beralih ke satu-satunya akses lain yaitu jendela, yang ternyata sulit di buka karena ada benda yang menahannya dari luar.
Amanda mengusap wajahnya sebal. Bagaimana ia bisa menemui Rendra kalau begini caranya?
Benda dan ponselnya adalah dua hal yang penting, tetapi keduanya raib entah kemana. Amanda tidak mau menaruh curiga pada sahabatnya, karena dia sangat percaya. Dara tidak akan melakukan hal itu.
Pintu di ketuk oleh seseorang, membuat Amanda merasa ada secercah harapan agar dirinya bisa keluar dari kontrakan.
Amanda buru-buru berteriak, meminta tolong bahwa dirinya terkunci di dalam. Untunglah, orang di luar sana cukup mengerti dan berhasil meminta kunci cadangan pada Ibu Kontrakan. Dari suaranya Amanda merasa familiar, tetapi dia mengesampingkan hal itu karena yang terpenting ia bisa keluar.
Pintu terbuka, benar saja ternyata itu Rendra. Amanda merasa sangat bersyukur dengan kehadirannya itu.
"Ren, kamu kok bisa tau aku di sini?" tanyanya penasaran.
Rendra mengangguk. "Setelah kamu menghubungiku semalam, aku yakin kamu pasti ke rumah Dara, Man."
Sangking khawatirnya dan hampir tidak bisa tidur memikirkan Amanda. Sebelum ke kantor, dia merasa ingin mengunjungi rumah Dara. Tanpa disangka, ternyata Amanda ada di sana dan butuh bantuan.
Melihat penampilan Amanda yang babak belur, dengan lebam di wajahnya membuat Rendra merasa kebencian terhadap Adit meningkat. Bisa-bisanya, lelaki itu menyakiti Amanda. Kemalangan selalu datang pada Amanda, membuat Rendra merasa ikut andil menjadi penyebabnya. Jika mereka tidak melakukan hubungan terlarang itu, Amanda mungkin tidak melalui hal pahit seperti sekarang.
"Man, kita ke rumah sakit sekarang, ya?" tawar Rendra, langsung mendapat tolakan.
"Nggak Ren, ada yang lebih penting daripada ini. Aku berhasil masuk gudang dan nemuin memori cardnya di brangkasnya Adit! Tapi setelah aku bangun. Benda itu hilang!" ucapnya gelisah. "Kalau sampai benda itu nggak ketemu, kita nggak bakal bisa membuka kedok buruknya Adit! Aku bener-bener nggak kuat sama tingkahnya dia, Ren! Aku pengen hidupku tenang bersama Azka! Aku khawatir kalau Azka lebih lama di rumah itu, dia semakin menderita. Dia kemarin sakit, tapi aku sebagai ibu kandungnya malah nggak ada di sisinya? Aku gatau harus gimana, harapan aku cuman kamu-"
__ADS_1
Tangan Rendra terangkat, berniat memeluknya tetapi hal itu diurungkan, mengingat kelakuannya pada Amanda dulu, tidak jauh beda dengan Adit. Ia hanya bisa menepuk bahu perempuan itu agar sedikit tenang.
"Aku di sini, Amanda. Aku bakal bantuin kamu sampai semuanya tuntas," balasnya menenangkan. "Sebaiknya kamu ikut aku sekarang. Kita obati luka kamu dulu, baru selanjutnya bertindak dan mencari solusi."
"Tapi, ponsel dan memori cardnya?"
"Aku yakin Dara sudah menyimpannya."
"Untuk apa?" tanya Amanda bingung.
"Kamu belum tau bahwa sekarang dia bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh Adit?"
Ia menggelengkan kepalanya cepat. Dara bekerja sama dengan Adit. Itu berarti bisa jadi sahabatnya, sengaja mengunci rumah agar Amanda tidak bisa kemanapun.
"Untuk saat ini, kamu jangan percaya dengan siapapun, termasuk Dara. Dia baik, tapi kita nggak tau kalau di belakang mungkin Dara bersekongkol dengan Adit," pesan Rendra yang sebenarnya mulai curiga dengan gerak-gerik Dara. Di kejauhan, Rendra selalu memantau perkembangan perusahaan peninggalan Om Kiki. Begitupun, secara tidak langsung. Dia mengawasi Adit dan juga Dara.
Mobil itu melaju ke sebuah rumah sakit. Amanda langsung ditangani oleh dokter. Meskipun, sebenarnya lukanya sudah diberi obat tetapi Rendra menyarankan sekalian Amanda untuk visum.
Rendra merasa bisa menjadi bukti untuk Amanda bercerai dari Adit. Ya, meskipun ke depannya Rendra tidak bisa membuktikan apapun tentang pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Adit atau mamanya Kinan. Tetapi, setidaknya dia berhasil melepaskan Amanda dari jeratan suami gilanya itu.
"Rendra."
"Ya?"
Rendra menoleh pada Amanda, mereka berdua sedang menunggu giliran untuk Amanda melakukan visum.
"Aku nggak nyangka, ternyata ada masa di mana aku malah minta bantuan kamu lagi. Padahal aku udah menanamkan kebencian sama kamu. Aku nggak tau dalam kisah kita siapa yang paling jahat. Tapi aku sadar, ternyata aku juga ikut berperan jahat dengan menjauhkan Azka dari ayah kandungnya."
__ADS_1
"Kira-kira, apa Azka akan senang kalau dia punya ayah selain Adit?" Untuk pertama kalinya setelah kejadian itu, Rendra kembali melihat tatapan ketulusan dari Amanda yang ditujukan untuknya.
"Aku memang butuh pengakuan, tetapi sepertinya Azka masih terlalu dini untuk mengetahui bahwa dia punya dua ayah," balas Rendra. "Aku bisa menunggu sampai Azka remaja dan mengerti."
Amanda menghela napas, paham. Rendra sangat berbesar hati, dan mau memahami posisi Azka membuat Amanda merasa bersalah telah menjauhkannya dari anak kandungnya.
"Oiya. Aku juga sangat berterimakasih sama kamu, karena nggak menyerah begitu aja dan membuktikan kalau kamu menyesal sudah meninggalkan Azka. Ah!" Ia teringat dengan rencana lamaran Rendra bersama Arumi.
"Selamat, kamu dan Arumi sudah lamaran, ya?" Amanda menjabat tangan Rendra dengan senyuman tulusnya, mencoba berdamai dengan dirinya sendiri.
"Lamarannya di undur."
"Loh?"
"Meninggalnya Om Kiki membuat semua rencana batal dan aku meminta waktu pada keluarga, untuk memikirkan kembali hubunganku dengan Arumi," balas Rendra, membuat Amanda melotot. Itu berarti mereka bisa gagal menikah?
"Kamu nggak berpikir untuk putus dengan Arumi?"
Rendra mengangkat bahunya. "Entahlah, dari awal hubunganku dengan Arumi tidak didasari dengan cinta."
Tangan Amanda menepuk bahunya merasa kesal, menurutnya hubungan mereka sudah dalam tahap serius tetapi Rendra masih berpikiran kekanakan dan tidak mengkhawatirkan perasaan Arumi yang mungkin akan tersakiti dengan keputusannya itu.
"Kamu mau yang seperti apa lagi, Ren? Padahal Arumi hampir sempurna, kalian berdua sangat cocok. Terkadang aku heran dnegan lelaki macam kamu tuh, banyak maunya!"
"Se-sempurna apapun Arumi, tapi dia bukanlah Amanda," balas Rendra sambil tersenyum tipis. "Bukankah, akan lebih menyakitkan kalau aku menikah dengannya tetapi perasaanku masih tertinggal di masalalu."
Menyadari sesuatu, Amanda memalingkan wajahnya. Tidak mau terlalu percaya diri, tetapi sepertinya Amanda yang dimaksud Rendra itu pasti dirinya kan?
__ADS_1
Ia tidak mau, membahas masalah perasaan lagi karena waktunya sangat tidak tepat. Menjaga agar mereka berdua tetap akur, Amanda memilih berhenti membahas apapun dengan Rendra dan menunggu panggilan dari dokter.