Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
13 : Sisi gelap Adit


__ADS_3

Bruk!


Rendra tidak habis pikir dengan apa yang diperbuat oleh mamanya, padahal malam kemarin di bercerita hanya sekedar untuk berbagi apa yang menjadi kegelisahannya selama ini. Tapi mamanya ternyata nekad, mungkin jika Rasya tidak memberitahunya, Rendra tidak akan tahu mamanya itu datang ke rumah Amanda saat dirinya sibuk bekerja.


"Rendra, mama melakukan ini untuk kamu, Nak!" Sang Mama masih membela diri, merasa apa yang dilakukannya sudah benar.


"Tapi, Rendra nggak pernah minta ini, sama Mama. Dengan Mama datang ke rumah Amanda itu buat semuanya makin rumit! Rendra nyesel cerita sama Mama!"


"Udah, Kak." Rasya yang berada di rumah itu menenangkan sang kakak, dia menyuruh Rendra untuk duduk.


"Dari dulu Mama tuh selalu bertindak gegabah! Nggak pernah berubah! Bodohnya Rendra, malah milih cerita ke Mama tentang ini!" Napasnya terengah-engah, lelaki itu penuh amarah.


"Rendra, apa-apaan kamu ini! Seharusnya kamu bilang makasih sama Mama, kamu pasti nggak akan berani bilang sama Amanda kalau kamu sebenarnya masih cinta sama dia."


"Bukan gini caranya, Ma! Secara nggak langsung Mama nyakitin dia dan mempermalukan Rendra!"


Anak dan ibu itu masih beradu omong, dua-duanya sama-sama keras kepala.


"Kak, udah!" Rasya kembali melerai. Begitupun sang ayah yang menenangkan istrinya.


"Lalu apa yang mau kamu lakuin, hah? Diem aja, menderita sendiri karena perasaan bersalah? Mama nggak lupa, kok, kalau pernah menyakiti Amanda tapi sekarang mama sadar, mama udah minta maaf sama dia. Sekarang Mama hanya ingin yang terbaik buat anak mama, apa Mama salah?"


"Yang terbaik buat Rendra, itu nggak berarti terbaik buat Amanda, Ma!"


"Mama tau. Mama tanya sama kamu, apa yang mau kamu lakuin setelah ini?"


Rendra diam, dia hanya ingin pengakuan? Tetapi kenapa hatinya merasa masih ada yang kurang. Ingat, Rendra Amanda sudah bersuami.


"Membahagiakan Azka."


"Mama rasa bukan hanya itu," mama menggelengkan kepalanya. "Mama sangat tau kamu orang seperti apa Rendra, makanya Mama mencoba mewujudkan keinginan kamu."


Setelah mengatakan hal itu, mamanya berjalan ke kamar meninggalkan Rendra yang terdiam dengan pikiran berkecamuk.


****


"Kamu bisa pulang sekarang, Mas?"


Gara-gara kedatangan Rendra acara jalan-jalan harus ditunda, karena suasananya sudah berbeda. Amanda memilih untuk diam di rumah lalu mengunci pintu rumahnya, beberapa tetangga menggunjingnya terang-terangan. Entah, dari siapa mereka tahu masa lalunya. Mereka jadi berasumsi buruk tentang Amanda, seperti menganggap Azka anak haram atau menggunakan ilmu pelet agar Adit mau menikah dengannya. Mereka seolah lupa dengan kebaikan yang pernah Amanda berikan.


"Nggak bisa, Amanda, mungkin tiga hari lagi. Kenapa? Kamu kangen?"

__ADS_1


"Ada sesuatu yang mau aku obrolin, tapi kayaknya nggak bisa kalau nggak secara langsung." Ya, Amanda memutuskan untuk memberitahu suaminya, ia takut dia tahu dari orang lain.


"Apa sih? Aku jadi penasaran. Kamu hamil?" tanyanya terdengar penuh harap.


Amanda refleks batuk. "Bukan, Mas."


"Terus apa?"


"Makanya cepet pulang, Mas."


"Kamu lagi sakit? Suara kamu kaya sumbang gitu?"


"Iya, lagi flu," bohongnya.


"Udah periksa ke rumah sakit?"


"Udah, tapi aneh deh kata dokternya."


"Apa katanya?"


"Obatnya nggak tersedia di rumah sakit."


"Namanya apa, emang? Nanti aku coba cari di sini?"


Di sebrang sana terdengar suaminya itu tertawa.


"Udah bisa gombal kamu, ya."


Amanda hanya mencoba menghibur dirinya sendiri.


"Kan, kamu yang ngajarin."


"Aku tutup ya, waktu istirahatnya udah habis. Nanti malem telepon lagi. Bye, sayang."


"Bye, Mas."


Amanda melihat Azka yang sedang tidur di pangkuannya. Mengusap pipi gembul itu, kenapa anak lucu ini harus punya ibu sepertinya.


"Kamu pasti bingung sama apa yang terjadi sekarang, Maafin Bunda, Bang."


Masih dengan posisi menyandar ke soffa, Amanda memejamkan matanya mengikuti Azka tenggelam dalam mimpi.

__ADS_1


***


"Pak Dipta ini berkas yang bapak butuhkan."


"Bye, sayang."


Lelaki tampan itu menyimpan ponselnya ke saku kemeja, lalu tersenyum senang melihat lembar demi lembar berkas yang diserahkan oleh perempuan yang bertugas menjadi asistennya itu.


"Anastasia ada di luar, dia marah-marah dan menerobos masuk," lapornya.


"Suruh dia masuk," balasnya dengan santai. Lelaki itu menyenderkan kepalanya ke sanggahan kursi kerja, hatinya berbunga-bunga setelah istrinya menelpon. Perempuan bar-bar yang menolaknya dulu, ternyata bisa mengombal juga.


"Dipta, are you kiding me?' tanyanya seperti tidak nyaman dengan pakaian minim bahan yang dikenakannya. Bahkan, dia melepaskan sepatunya berhak tinggi itu lalu melemparkannya pada lelaki itu melampiaskan kekesalannya, untungnya dia menghindar dan mengenai sebuah guci kecil yang harganya lumayan mahal.


"Kamu bilang akan memberiku pekerjaan? Ini maksudnya apa?" Perempuan itu menatapnya tidak percaya.


"Ini pekerjaan, Anastasia. Aku bahkan mendapatkan banyak uang dari pekerjaan ini," balasnya sambil tersenyum, tanpa merasa bersalah. Jelas, perempuan di hadapannya itu habis menangis terbukti dari make-upnya yang luntur. Tapi, tampaknya dia tidak begitu peduli.


Anastasia pikir, pilihannya untuk meminta bantuan pada lelaki itu adalah yang terbaik, karena dia benar-benar butuh uang untuk anaknya yang sedang sakit. Tapi? melihat ruangan penuh lampu kerlap-kerlip, lalu aroma alkohol yang melekat, perempuan-perempuan berbaju seksi dan pria genit hidung belang, membuat Anastasia muak dan ingin lari. Dia menjebaknya!


"Aku ingin membatalkan perjanjian kita!"


Dipta dengan tenang, mengambil sebatang rokok lalu menyesapnya. "Sekali saja mencoba, kamu pasti nggak akan bisa berhenti. Kamu bisa tanya pada perempuan-perempuan di sini."


"Kamu gila!" tunjuknya kesal. "Aku bukan wanita seperti itu!"


"Semua wanita di sini juga tadinya wanita baik-baik, tapi setelah mengenal uang mereka bahkan bersenang hati menerima job. Ayolah, jangan munafik, Tas. Uang tidak butuh kita, tapi kita yang butuh uang. Jalankan sesuai kontrak, atau kamu harus membayar ganti rugi. Mau yang mana?"


"Ini nggak sesuai perjanjian, kamu menawariku untuk menjadi model tapi kenapa aku harus menjual diri ke pria hidung belang."


Lelaki itu mengangkat bahunya tidak peduli. Lalu memanggil beberapa lelaki untuk membawa Anastasia pergi dari hadapannya.


"Bawa dia keluar!"


"Baik, Pak!"


Lelaki berpenampilan Hedon dengan benda-benda mahal yang dikenakannya itu, mengambil sebuah foto potret keluarga yang sengaja di pajang di meja kerjanya. "Sebentar lagi, kamu nggak perlu kehujanan dan hidup susah di Jakarta, Amanda. Karena aku bakal mewujudkan apa yang dulu pernah keluarga kamu berikan."


Dia adalah Radit Pradipta, suami dari Amanda yang miskin dan penuh ke-sederhanaann, tetapi saat sudah berada di Bandung dia menjelma menjadi sosok yang berbeda dan bahkan tidak berperasaan. Semua itu Adit lakukan untuk uang dan demi kesejahteraan keluarganya.


***

__ADS_1


Jangan lupa like ya, biar makin semangat nulisnya. Makasih.


__ADS_2