
Mendapati teror itu membuat hati Kinan merasa gelisah. Ia paling benci dengan hal semacam ini, apalagi hal itu berhubungan dengan darah.
"Kak, kamu harus cari Amanda sampai ketemu!" bentak Kinan pada Adit yang sedang terdiam, entah memikirkan hal apa. Padahal, di sini sang istri sedang ketakutan. "Kinan yakin orang yang meneror dengan bangkai tikus itu pasti Amanda. Dia harus memberi penjelasan kenapa melakukan hal itu, apa Kinan pernah merebut kamu darinya? Padahal Kinan juga tidak tahu kalau kamu sudah beristri!"
"Bukan Amanda, dia bukan orang seperti itu," bela Adit membuat Kinan emosi. "Toh, ada hal yang lebih penting daripada itu. Saya harus tau siapa orang yang menyelundup ke area belakang rumah dan hampir membawa kabur Azka."
"Kak!" Kinan tidak habis pikir, harusnya suaminya itu mengkhawatirkan dirinya, bukan malah memikirkan hal lain. Kalau, sampai teror itu berkelanjutan dan Kinan terancam dalam bahaya. Apa lelaki itu tidak peduli?
"Dia bukan Amanda, dia tidak akan seberani itu. Mungkinkah, dia Rendra? tangan Adit terkepal. Sialnya, gegara cctv yang belum di pasang di daerah kolam. Adit hanya bisa melihat sekilas perawakan orang itu dari cctv dalam ruangan. Sesuai apa yang dikatakan Azka, itu bukan bundanya.
"Kenapa Rendra? Emang ada hubungan apa dia dengan Azka?" Kinan belum tahu, jika Azka adalah anak kandung Rendra.
"Azka adalah anak kandung Rendra." Kinan merasa tubuhnya lemas. Ternyata rumor dulu tentang salah satu sepupunya menghamili anak gadis orang itu ternyata Rendra. "Kamu nggak ngasih tau dari awal tentang ini, Kak."
"Kamu tidak pernah bertanya," balas Adit tidak peduli dengan keterkejutan Kinan, yang ada dipikirannya adalah dua hal. Azka dan Amanda.
"Kinan sebenarnya istri kamu atau bukan, sih?" kesalnya, merasa tidak dihargai. "Kamu selalu menyembunyikan kenyataan sepenting ini. Yaudah, kalaupun emang Rendra yang mencoba membawa Azka, kenapa kita nggak membiarkannya? Dia ayah kandungnya. Kenapa kamu harus mempertahankannya?"
Adit menatap Kinan, merasa istrinya itu terlalu lancang. Tau apa dia tentang keluarga kecilnya? Keegoisan melekat kuas di hati Adit. Ia tidak mau melepaskan Amanda, itu berarti dia harus mempertahankan Azka.
"Akan saya urus tentang ini, sebaiknya kamu istirahat saja," titah Adit tidak mau berdebat kembali, sebab takut mulutnya mengeluarkan kata-kata yang menyinggung hati Kinan dan membuat perempuan itu malah ingin lepas darinya. "Ada banyak alasan kenapa saya harus mempertahankan Azka, Kinan. Saya rasa kamu tidak perlu tau."
Kinan tertawa dalam hati, terasa menyedihkan bukan menjadi dirinya? Secara terang-terangan lelaki itu menunjukan kalau dia masih mencintai Amanda, sampai tidak rela melepasnya? Lalu, apa gunanya Kinan sekarang? Apa dia harus menyerah se-cepat ini?
Tiba-tiba perutnya bergejolak, Kinan buru-buru berjalan cepat ke kamar mandi. Sepertinya, masuk angin.
__ADS_1
Adit yang melihat istrinya mual-mual dari kemarin itu muncul rasa curiga. Di belakang Kinan Adit mencoba membantu dengan memijat lehernya dan menepuk punggung. Setelah reda, dia berikan tisu untuk mengelap sisa muntahan yang berada di sekitar bibir.
"Mau ke dokter?" tanya Adit membuat Kinan hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu sibuk ngurusin Amanda, kan? Nggak usah pedulikan Kinan," ucap Kinan sambil mendorong tubuh Adit dan berjalan ke kamar.
"Kinan ..." Suaranya mulai lebih lembut. Tangan Adit mengusap wajah istrinya. "Kamu marah?"
Kinan menghempaskan tangan Adit, apakah harus bertanya lagi? Dasar Adit tidak peka. Menarik selimut dan bergelung di sana.
"Kinan mau tidur, jangan ganggu."
"Oke."
"Abang senang tinggal bersama ayah?"
"Senang, ayah," ucapnya sambil memainkan mobil-mobilnya. "Tapi, Abang lebih senang kalau ayah dan bunda tinggal bersama lagi."
Adit sadar, dia ingin kedua-duanya, baik itu Amanda dan Kinan. Serakah, bukan?
***
"Kamu yakin mau mengambil alih usaha Om Kiki?" tanya mama Rendra, yang mendapati anaknya itu pulang ke rumahnya dan mendapat kabar dari sang kakak ipar kalau Rendra yang akan mengurus bisnis. "Kenapa nggak pokus pada tunangan kamu dan berkarir sesuai kemampuan? Mama tau seperti apa sifat mantan istri Om Kiki, yang gila harta itu. Dia pasti tidak akan membiarkan kamu menjalankan yang seharusnya Kinan dapatkan."
Rendra tahu betul, karena sudah dari dulu, mama Kinan itu sangat berambisi menguasai kekayaan mantan suaminya. Makanya, keluarga mereka dengan Tamara sangat tidak akur. "Justru itu Ma, Om Kiki ingin menyelamatkan hartanya supaya nggak jatuh ke tangan yang salah. Kinan pasti nggak bisa mengelolanya dengan baik apalagi suaminya. Mungkin, dia punya firasat buruk tentang suami Kinan."
__ADS_1
Sebetulnya, dia memang sudah tahu jika Adit menikah dengan Kinan saat berada di luar negeri. Namun, yang paling membuatnya terkejut itu saat tahu kalau mantan kekasihnya-Amanda-juga menikah lebih dulu dengan Adit. Rendra menyembunyikan hal itu, karena tidak mau sampai perempuan itu tersakiti. Biarlah Amanda tahu dari suaminya langsung, karena itu bukan kuasanya untuk memberitahunya. Meskipun, pada akhirnya mendengar kabar bahwa mereka akan bercerai.
Setelah tahu keberadaan Aksa, Rendra mungkin berjanji untuk tidak menampakkan dirinya di depan Amanda dan Azka. Tetapi, diam-diam Rendra selalu mengawasinya dan menjaganya dari kejauhan. Bagaimanapun, Amanda adalah ibu kandung dari anak-anaknya. Anggap saja, dia sedang menebus kesalahannya.
Sampai pada tahap ini, Om Kiki yang sedari dulu memang sudah meminta bantuannya untuk memulai mengelola perusahaan terutama yang ada di Jakarta karena dia merasa penyakit yang menggerogotinya itu semakin parah.
Mama Rendra yang sedang melakukan hobi merajutnya itu, berucap lemas. "Mama nggak menyangka, jika suami Kinan ternyata adalah suami Amanda juga. Bisa-bisanya lelaki itu menyakiti Kinan."
"Kita tau bagaimana kehidupan Kinan walaupun dilimpahkan kekayaan tapi kekurangan kasih sayang orangtuanya. Kalau anak itu dari kecil mau tinggal bersama Mama, pasti dia tidak akan berakhir seperti ini."
"Ya, kalau Mama tidak overprotektif bukan hanya Kak Kinan yang betah di sini tapi Kak Rendra juga pasti betah," celetuk Rasya. Mereka bertiga memang sedang berkumpul di ruang keluarga, menghabiskan waktu bersama dengan menonton televisi.
"Kamu sana deh, Ras! Ini urusan orang dewasa, mana paham kamu!" sebal sang Mama yang lantas mengusir putra bungsunya. Padahal, dia bersikap seperti itu demi kebaikan anak-anaknya.
Rasya hanya mendelik, lalu berjalan ke menjauh dari mereka berdua.
"Ren, kamu melakukan ini bukan karena Amanda kan?" Tiba-tiba pikiran itu terlintas di otaknya. "Kamu sudah bilang akan melupakannya."
"Mama akan melarang, Rendra?" tanya Rendra malah balik bertanya.
"Mama hanya takut, kamu mengecewakan mama lagi dengan membatalkan pertunangan itu. Mama akan menerima Azka, tapi sepertinya tidak dengan Amanda," ucap sang Mama yang berubah pikiran. Padahal beliau pernah bilang pada Amanda, jika Rendra akan menunggu Amanda bercerai dengan suaminya.
"Beroda saja semoga Rendra tidak berubah pikiran," balas Rendra penuh arti. Apapun yang akan di terjadi di masa depan, Rendra akan menerimanya. Termasuk, apakah dia berjodoh atau tidak dengan Amanda.
***
__ADS_1