Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
20 : Godaan Kinan


__ADS_3

Amanda mencoba beberapa kali menghubungi suaminya itu, tadi sore ada seorang agen perumahan yang katanya membawa hadiah untuk dirinya. Sebuah rumah di kawasan komplek, bahkan saat melihat brosurnya Amanda menggelengkan kepalanya tidak percaya, luas rumahnya dua kali lebih besar dari rumahnya yang sekarang. Bukan apa-apa, Amanda hanya heran. Bagaimana suaminya mendapatkan uang sebanyak ini?


Akhirnya telepon tersambung, sesusah itu memang menghubungi suaminya sampai dari sore baru aktif jam delapan malam.


"Mas, kamu beneran beli rumah?" tanya Amanda tanpa basa-basi. Lelaki di sebrang sana malah tertawa, membuatnya kesal. Tidak ada yang lucu, Amanda takut dia sedang di prank.


"Iya sayang. Dua atau tiga tahun lalu, waktu kita ajak Azka olahraga sekitar komplek itu, kamu pengen banget kan tinggal di sana?"


Ah, suaminya itu masih ingat. Padahal Amanda hanya berceletuk tanpa sadar.


"Mas, tapi ini mustahil buat kita! Aku masih nggak percaya."


"Itu beneran sayang, besok aku pulang ke Jakarta. Kita bisa langsung tempatin rumah itu, karena aku juga udah suruh orang buat beli barang-barang dan semua kebutuhannya. Kamu tinggal nikmatin aja."


"Mas," ucap Amanda hati-hati, otaknya sedang memikirkan hal-hal buruk. "Kamu nggak dapet lotre atau ikut judi gitu, kan?"


"Nggaklah, Amanda."


"Atau jangan-jangan kamu ngepet?"


"Astaga, Amanda." Adit semakin ngakak, mungkin berpikir jika Amanda terlalu berlebihan. "Aku sudah menyiapkan ini dari lama."


Amanda masih belum percaya. "Masa, sih? Sulit banget buat aku mencerna semua ini, Mas."


"Aku nggak ngelakuin hal yang seperti apa yang ada di otakmu itu, Amanda. Kamu tau aku, orang seperti apa kan?"


Perempuan itu mengangguk. Ia memegang kunci rumah yang diberikan oleh agen itu. Bukankah harusnya sekarang dirinya bahagia? Terlepas dari apa yang sedang dikerjakan oleh suaminya itu, tetapi dia tetap memberikan semua ini padanya.


"Oke, aku percaya. Pokoknya kamu harus janji besok pulang ke Jakarta dan cerita soal ini sama aku."


"Iya, sayang. Aku tutup teleponnya, soalnya lagi di jalan mau pulang."


"Hati-hati. Bye, Mas Adit."


Setelah telepon tertutup, Amanda menghampiri Azka yang sedang menonton acara Televisi.


"Bunda bawa kabar bahagia!" Tangannya memeluk Azka, yang kebingungan dengan tingkah ibunya yang tadi seperti setrikaan, mondar-mandir cemas dan sekarang malah sumringah. "Kita bakal pindah ke rumah baru."


"Pindah rumah bunda?'


Amanda mengangguk, mengusap rambut lebat Azka. "Rumah yang lebih luas, terus yang penting kamar mandinya bagus! Ada kolam renangnya juga. Abang pasti seneng."

__ADS_1


"Benel bunda, yey!" Azka yang memang menyukai kegiatan berenang itu langsung ikut sumringah. "Belalti nanti Abang bisa berenang ama Lomi. Lomi ikut juga, bunda."


"Nggak sayang, Romi punya keluarga di sini tapi nanti pasti bunda suruh sering main ke rumah kita. Jadi Abang nggak usah khawatir, nggak punya temen."


Azka mengangguk, lalu membalas pelukan ibunya. Amanda kira dia akan punya rumah itu setelah Azka besar dan menjadi orang sukses, tetapi takdir berkata lain. Ternyata bisa secepat itu. Amanda tersenyum bahagia, padahal semalam dia tidak bermimpi apapun. Sungguh, tidak terbayangkan.


Terimakasih untuk suaminya. Meskipun awalnya cinta itu sama sekali tidak ada, sejalan beriringnya waktu cinta itu tumbuh. Dia semakin jatuh ke dalam pelukannya dan takut akan kehilangan. Kini nama Rendra di hatinya, berganti menjadi Radit Pradipta.


***


Sementara Adit yang di perjalanan pulang dari rumah orangtuanya itu, memasukan ponselnya ke dasboard. Membayangkan ekspresi senang istrinya membuat senyumannya tertarik, ikut berbahagia. Ia jadi tidak sabar untuk bertemu dengannya dan meluapkan segala kerinduannya.


Suara ponsel yang berdering membuat tangannya lantas mengambil ponsel yang berada di dekat stir, lengkungannya senyumannya menjadi segaris, melihat nama Kinan di sana. Adit bahkan berdecak, sejak kapan Kinan mengotak-atik ponselnya dan menggantinya namanya menjadi 'My wife kesayangan Dipta'


Kentara sekali bahwa Adit malas mengangkatnya tetapi kalau tidak diangkat, Kinan akan lebih mengomel.


"Ha-"


"Kak Dipta! Ini udah jam delapan loh, telat satu jam dari ketentuan! Padahal Kinan udah nanya ke mama kalau dari pagi Kak Dipta udah pulang dari sana. Ayo, jujur sama Kinan tadi ke mana?" omelnya membuat Adit menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Sekarang saya udah di jalan pulang, Kinan."


"Jawab dulu pertanyaan Kinan!" bentaknya.


Jawaban Adit membuat Kinan disebrang sana murka.


"Jadi Kinan lebih penting dari teman kakak?"


"Bukan begi-"


"Bukan apa? Seharusnya Kak Dipta memanfaatkan hari libur buat berduan sama Kinan, tapi malah milih temen!"


"Saya membicarakan tentang bisnis, bukan untuk bermain."


"Siapa temen Kak Dipta? Biar Kinan marahi, bisa-bisanya obrolin bisnis di saat kakak libur kerja!"


Tidak mau Kinan semakin penasaran, karena semua itu hanya karangan. Ya, tidak mungkin Adit mengatakan kalau dia dari rumah orangtuanya. Bisa-bisa semuanya terbongkar. Saat pernikahan Adit memang menyewa orang untuk menjadi pengganti orangtua kandungnya.


"Saya sudah sampai pintu komplek, kamu tunggu di depan rumah saja, bye."


Sambungan itu ditutup, Adit melajukan mobilnya tidak perlu waktu lama dia sampai rumah. Ada satu orang satpam yang berjaga dan langsung membuka pintu gerbang.

__ADS_1


"Malam, Pak Dipta."


"Malam," balas Adit sambil memberikan kunci mobilnya pada Pak Satpam, menyuruhnya untuk memarkirkan mobilnya ke garasi.


Adit masuk ke dalam rumah, hanya kesepian yang di dapat. Biasanya malam-malam istrinya itu menonton televisi atau drama bersama kedua pembantunya tetapi ternyata setelah dilihat, dia tidak ada di tempat itu. Ia mengangkat bahunya tidak peduli, sepertinya berada di kamar.


Ceklek.


Perlahan Adit membuka pintu kamarnya, tidak juga mendapati Kinan. Kemana perempuan itu?


Adit membuka jasnya lalu masuk ke kamar mandi.


Sementara Kinan yang dari kamar sebelah, masuk ke dalam kamarnya mendapati jas Adit yang tergeletak di kasur. Ternyata sudah pulang. Kinan sungguh kesal pada suaminya itu karena mengingkari janji dan harus membuatnya menunggu selama itu. Tapi, sudut bibirnya tertarik, bahwa ini belum terlambat. Bagaimanapun, dia sudah berdandan cantik, suaminya harus melihat. Dia pasti tergoda.


"Kak, kamu di dalam?" Kinan mengetuk pintu kamar mandi, tetapi hanya kucuran air yang terdengar. Melihat kesempatan ternyata pintunya tidak terkunci, Kinan masuk ke dalam dengan pelan.


"Kamu ngapain ke sini, Kinan?" Terdengar jelas nada kesal, Adit menghentikan tangannya yang saat ini ingin menurunkan celana sementara dada bidangnya terekpos tanpa penghalang. "Dan, kamu-?"


Tunjuk Adit tanpa bisa berkata-kata, karena penampilan Kinan. Lingerie berwarna merah membuat kulit putihnya terpampang nyata, membuat sesuatu dalam dirinya menegang. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Adit lantas menutup matanya.


"Saya mau mandi, jangan menganggu!" ucap Adit kesal. Jangan sampai tergoda.


"Kinan mau ikut mandi, boleh?" Entah polos atau apa, raut wajahnya membuat Adit ingin sekali menggigitnya.


"Kinan, please!"


Adit mendorong tubuh Kinan agar keluar dari kamar mandi, meskipun perempuan itu memberontak.


"Kamu kenapa sih, nggak ada masalah loh kita berduaan. kita suami istri, sudah sah!" bentak Kinan, kekesalannya jadi muncul kembali.


Adit tidak menanggapi apapun, setelah berhasil membuat Kinan keluar. Dia menutup pintu kamar mandi, lalu berteriak. Sialan, kenapa Kinan harus berdandan seperti itu?


Rasa bersalahnya pada Amanda yang mungkin sedang tidur itu membuat Adit sadar. Jangan melakukannya, jangan. Tahan Adit, kamu pasti bisa.


Tangannya menutup kuping, mencoba menghalau suara-suara dari belakang pintu. Argh, sial!


Adit membuka pintu, lalu tanpa kata mencium Kinan yang juga tercengang dengan pergerakan tiba-tiba lelaki itu.


Lagi-lagi Adit harus kehilangan kontrolnya. Maafkan, aku Amanda. Batinnya bersuara.


Tangannya merengkuh tubuh Kinan, lalu dijatuhnya ke kasur. Adit kembali merasakan setiap inci tubuh Kinan, membuat perempuan itu tersenyum senang. Hingga mereka berada di puncak surgawi hingga beberapa kali.

__ADS_1


****


__ADS_2