
"Yes!"
Amanda menatap ponsel itu dengan pandangan tidak percaya, lukisan bertema anak dan ibu, yang dibuatnya satu bulan yang lalu akhirnya terjual di salah satu platform online, dihargai senilai sepuluh juta rupiah. Ini untuk pertama kalinya, Amanda mencoba untuk menjualnya biasanya dia hanya menerima klien yang sudah dikenalnya secara dekat. Lalu membuat pesanan mereka sesuai dengan deadline yang sudah ditentukan.
Tentu, mendapatkan uang dari hasil kerja kerasnya itu sangat membahagiakan, Amanda sulit untuk berkata-kata. Dia hanya bisa memeluk Azka yang sedang menonton kartun di ruang tengah, anak itu memberontak dan menangis, karena ibunya menganggu acara nonton paginya.
"Bundaa, ih! Bundaa, lepas! Abang lagi nonton!" cebiknya kesal.
"Abang mau jalan-jalan?"
Azka menggelengkan kepalanya, buatnya kartun Spongebob lebih menarik.
"Bener nggak mau?"
"Ndak, Bunda. Abang lagi nonton, serius."
"Yaudah, bunda mau telpon ayah, aja!"
Amanda mendial nomor Adit, berniat memberi tahunya. Suaminya itu memang sudah berangkat dua hari lalu ke Bandung untuk bekerja. Dan, pulang sekitar tiga hari lagi. Tetapi tidak di angkat, sepertinya sibuk. Amanda memutuskan untuk menaruh ponselnya, lalu bernyanyi riang ke arah kamarnya, hendak mempersiapkan baju untuk Azka dan dirinya karena hari ini mereka akan jalan-jalan.
***
Tok! Tok! Tok!
Amanda yang sedang memakaikan topi pada Azka, mereka sudah bersiap untuk jalan-jalan ke salah satu tempat wisata. Siapa yang bertamu? Seingatnya, dirinya tidak ada janji dengan siapapun.
"Bentar, ya, Bang. Bunda mau ke depan dulu."
Ia semakin dibuat bingung saat ada perempuan seumuran mamanya itu berdiri di pintu, menatapnya dengan tatapan bersahabat. Amanda hampir terhuyung ke belakang, saat wanita itu tiba-tiba memeluknya sambil berucap maaf. Tunggu, bukankah dia orang yang sama saat di angkot dahulu?
Itu berarti, beliau adalah mama Rendra.
"Maafin saya, Amanda."
Merasa tidak enak dengan keadaan di luar rumah yang ramai, karena biasanya tetangga sudah berkumpul di halaman rumah Bu RT yang berhadapan dengan rumahnya, entah untuk bergosip atau sarapan bersama. Amanda mengajak ibu itu masuk ke dalam rumah, lalu menyuruhnya untuk duduk di ruang tamu sederhananya. Meskipun pernah berpacaran hampir satu tahun dengan Rendra, Amanda hanya melihat ibunya dari foto dan suaranya lewat sambungan telepon. Seingatnya mereka berdua memang tinggal terpisah. Rendra di Bandung bersama neneknya, sementara keluarganya di Jakarta.
"Dasar jal*ng kecil! Kamu pikir, kamu siapa bisa-bisanya memfitnah anakku! Rendra tidak mungkin menghamili-mu!"
"Inget, Rendra tidak pernah mengakui kalau dia memalukan hubungan itu dengan kamu! Jadi, jangan ganggu anakku lagi! Harusnya kamu berterima kasih, saya tidak membawa masalah ini ke jalur hukum! Bagaimanapun kamu hampir membuatnya celaka!"
__ADS_1
Masih teringat jelas, untuk pertama dan terakhir kalinya mama Rendra menelponnya sambil mencaci-maki dirinya.
Anak tujuh belas tahun, harus hancur karena orang-orang di sekitarnya mengucilkannya bahkan keluarganya sendiri memperlakukannya sama. Mereka boleh kecewa, tetapi Amanda juga punya hak untuk diberi kesempatan bukan? Sialnya, hanya dirinya yang menanggung itu semua. Bisa dibayangkan, se-benci apa Amanda sekarang pada Rendra dan keluarganya.
"Maaf, ada keperluan apa ke sini?' tanyanya dengan nada jutek.
"Amanda," tangan beliau mencoba menggapai tangannya, Amanda membuang muka.
Namun, tatapannya beralih saat melihat Azka yang datang dengan wajah polos mendekat ke arah Amanda.
"Apa ini Azka? Wah, sangat mirip Rendra. Mama seperti melihat Rendra saat kecil."
Apa-apaan ini? Amanda pikir, mereka tidak sedekat itu.
"Sepertinya Tante salah sangka."
Mama Rendra hendak mengelus pipi Azka tetapi langsung di tepis oleh Amanda. "Jika, Rendra mengadu pada Tante atau mengaku bahwa dia punya anak. Dia salah, karena Azka bukan anak kandungnya."
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Mama memang sempat meragukan itu, dan merasa Rendra mengada-ngada tetapi setelah melihat langsung, Mama yakin Azka adalah anak Rendra."
Amanda tertawa dipaksakan. "Apa kalian sedang berakting? Atau memang tidak tahu malu? Dulu aku mengemis-ngemis agar anak Tante tersayang itu bertanggung jawab, tapi dengan percaya diri dan merasa paling benar, Tante malah mencaci makiku, bahwa aku telah menyebarkan fitnah. Sekarang? Untuk apa lagi, toh mau Azka benar anak Rendra atau bukan. Nggak akan ada yang berubah, ayah Azka hanya satu dan itu bukan Rendra!"
Amanda benar tidak mengerti bagaimana jalan pikiran keluarga Rendra, mereka egois.
"Maksud Tante apa, dengan membesarkan Azka bersama-sama?"
Beliau mengangguk. "Ya, Rendra pasti bisa menunggu kamu bercerai dengan suami kamu."
Amanda memejamkan matanya, lalu mengusap dada sabar. Jika, di depannya bukanlah orangtua mungkin sudah dia ajak duel. Ah, Amanda sampai lupa sejak dulu mama Rendra memang sangat menyayangi anaknya sampai pada tahap over, jelas Rendra pasti tidak tahan dan memilih tinggal bersama neneknya. Ternyata sifatnya masih belum berubah.
"Tante, tau jalan pintu keluar di mana? Ini sudah kelewatan batas!"
"Nggak, Amanda. Kamu harus mempertimbangkan ini, kalau kamu hidup bersama Rendra kamu tidak perlu tinggal di pemukiman kumuh ini, lalu semua kebutuhan Azka pasti terpenuhi. Tidak ada AC, ruangan sempit, seperti apa kamar mandinya? Mama tidak bisa membayangkannya."
Amanda memegangi lengan, mama Rendra lalu diseretnya keluar. Ucapannya sudah melampaui batas. Ia tidak bisa menahannya lagi.
"KELUAR DARI RUMAHKU!"
"KELUAR!"
__ADS_1
Bersamaan dengan Amanda yang mendorong wanita itu, tiba-tiba datang dua orang lelaki, salah satunya adalah Rendra. Dari gerak-geriknya seperti dia juga tidak tahu mamanya datang menemui Amanda.
"Amanda!"
"Amanda!"
Mamanya ditangani oleh lelaki paruh bayah yang sepertinya adalah ayah Rendra, sementara lelaki itu mengikuti Amanda masuk ke dalam rumah.
"Mama kamu gila, benar-bener gila!" ucap Amanda marah, dia menepuk dadanya yang terasa sesak. Air matanya lolos begitu saja, kenapa selalu ada yang mencoba menganggu kebahagiaannya? Selama lima tahun ini, semuanya begitu tenang.
"Aku nggak tau Mama bakal melakukan ini, Manda. Aku hanya bercerita, karena rasa bersalah itu begitu menyiksa."
Rendra memohon dengan cara duduk di lantai dengan Amanda yang duduk di kursi.
"Kesalahan aku memang tidak termaafkan, Amanda. Aku mohon ke murahan hati kamu dan apapun yang di ucapkan Mama jangan pernah dianggap."
Amanda melihat Rendra yang bahkan bersujud di hadapannya, ya, lelaki itu juga menitikkan air matanya.
"Nggak bisa, aku nggak akan bisa maafin kamu," ucap Amanda hatinya sudah keras. "Aku cuman mau tanya, buat apa sih, kita bertemu lagi? Kamu sadar nggak, apa yang kamu lakuin dulu sama aku? Kamu harusnya menjauh, pergi atau perlu menghilang!"
"Aku hanya ingin menebus semua kesalahan aku setidaknya sama Azka, Manda."
"Sudah aku bilang, dia bukan anak kamu!" bentak Amanda greget.
Rendra menatap Amanda. "Ayo, buktikan. Kita tes DNA. Kalau kamu tetap menolak, berarti dia emang anakku."
Amanda memalingkan wajahnya. "Oke, kita tes DNA!"
"Udah cukup kan?" tanyanya dengan nada lelah. "Sekarang, bisa pergi dari sini?"
Rendra perlahan bangun lalu menjauh dari Amanda yang seketika kembali menangis kencang. Perasaan takut kehilangan itu hinggap di hatinya, Azka adalah satu-satunya alasan Amanda bertahan sampai saat ini. Mungkin, jika tidak ingat ada nyawa di perutnya Amanda pasti sudah mengakhiri kehidupannya. Namun, setelah mereka tahu kebenarannya. Apa mereka akan mengambil Azka? Memisahkannya dengan Amanda? Bukan, dirinya tidak bisa mempertahankan tetapi keluarga Hutama tidak bisa dianggap sepele, mereka punya kuasa untuk melakukan itu.
"Bunda!"
Suara Azka menyapa indera pendengarannya, saat kericuhan itu Azka memilih bersembunyi sambil menangis ketakutan di dekat lemari "Olang jahat makin banyak, Abang takut."
"Abang." Amanda merengkuh tubuh anaknya, mengecupnya penuh sayang. "Maafin bunda, ya. Nggak bisa jagain Abang dari orang-orang jahat itu."
Amanda memeluk Azka erat, dia sangat tahu kehilangan seseorang itu se-menyakitkan apa, jangan sampai itu terjadi untuk kedua kalinya. Amanda harus tetap bersama Azka bagaimanapun caranya.
__ADS_1
***