Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
43 : Peresmian pemimpin baru


__ADS_3

"Mari kita sambut, CEO baru K Group yaitu Pak Radit Pradipta."


Semua yang berada di ruangan itu bertepuk tangan, memberi selamat pada CEO baru di perusahaan K Group, yang mana perusahaan besar itu adalah milik mendiang ayah Kinan yang dikelola oleh keluarga besarnya. Adit berdiri di mimbar dengan bangga. Terlepas dari pendidikannya yang tidak memumpuni serta belum punya pengalaman sebagai pemimpin, semua orang mencoba menerima kehadiran Adit. Sebab, bagaimanapun perusahaan itu butuh pengganti ayah Kinan.


Dengan penuh wibawa Adit menunduk hormat. "Tanpa mengurangi rasa hormat. Sebelumnya, saya sangat berterima kasih pada mendiang mertua, karena sudah memberi kepercayaan sebesar ini. Lalu, pada istri tercinta, Kinan. Tanpa rasa cintanya, mungkin saya tidak akan berdiri sini." Adit tersenyum pada Kinan yang duduk paling depan. " Saya berharap kita semua bisa berkerja sama dan mengembangkan perusaahan ini menjadi lebih besar."


Acara peresmian CEO baru sekaligus memperkenalkan dirinya sebagai penerus ayahnya, sengaja Kinan dan sang mama membuatnya semeriah mungkin bersama karyawan-karyawan serta tamu penting yang diselenggarakan di rumahnya yang berada di Jakarta. Sayangnya, acara itu tidak dihadiri oleh keluarga besar dari ayahnya, padahal Kinan sudah mengundang mereka.


Untuk sementara rumah di Bandung tidak berpenghuni, karena Tante dan omnya pun memilih untuk meninggalkan rumah itu. Sesuai dengan saran dari Mama, mungkin Kinan akan menjualnya.


Waktu dua minggu berkabung rasanya sudah cukup, kini tinggal Kinan menjalani hidup bersama suaminya. Meski di benaknya masih tersimpan kejanggalan. Apalagi, tentang kematian ayahnya yang tidak wajar yang membuat sepupunya itu hampir berada di jeruji, meskipun pada akhirnya tidak ditahan karena bukti yang tidak kuat.


Kinan tersenyum melihat, suaminya itu berjalan ke arahnya. Acara resmi sudah selesai, semua orang yang berada di sini boleh berpesta karena Kinan sudah menyiapkan segalanya secara sempurna. Dari pelayanan, hidangan, dan hiburan. Bahkan, dia sengaja mengundang DJ terkenal untuk menghibur mereka.


"Aku mau ke toilet dulu," izin Adit pada istrinya.


Kinan hanya bisa mengangguk, berjalan untuk menyambut tamu penting lainnya.


***


Adit masuk ke dalam ruangan, lalu memeluk Amanda dari belakang yang berdandan begitu cantik dengan gaun merahnya. Sengaja Adit menyuruhnya untuk datang, dia hanya ingin Amanda juga menikmati kebahagiaan menjadi seorang istri CEO.


"Kamu terlihat gugup tadi, Mas," ucap Amanda menyambut suaminya. Lalu membawanya untuk duduk di kasur. "Kinan sangat sepadan denganmu, kalian serasi."


Adit mengelus rambut Amanda, menatapnya penuh cinta. "Kamu cemburu?"


"Bolehkah, aku berhenti?" tanya Amanda pelan, mengalihkan pembicaraan. "Kamu sudah mendapatkannya."


"Maksud kamu?"


"Dua minggu ini aku sudah menuruti semua permintaan kamu, dengan terus menemani. Aku istri pertama tetapi merasa menjadi yang kedua. Ditambah, Kinan nggak tahu, kalau kita berhubungan di belakangnya? Kira-kira apa yang akan dilakukannya, kalau dia tau?" Amanda memalingkan wajahnya. "Pasti akan ada bencana besar."

__ADS_1


"Beri aku satu tahun untuk menguasai perusahaan dan menghasilkan uang, setelah itu aku akan menceraikan Kinan serta membawa kamu dan Azka ke luar negeri, kita akan hidup di sana dengan bahagia," janji suaminya itu masih sama dan membuatnya sangat muak. Ia pikir itu mempan?


"Kamu sangat jahat, padahal Kinan sedang hamil anakmu." Amanda sudah merasa terbiasa dengan sifat suaminya yang berubah tidak punya nurani. Dulu, dia pikir dengan kabur darinya, akan mendapatkan solusi merebut Azka. Justru, Amanda malah dibuat semakin terikat oleh sang suami.


Amanda belum menemukan solusi terbaik agar bisa terlepas dan tidak bisa gegabah, sebab taruhannya adalah Azka. Jika dirinya mencoba untuk mengajukan gugatan cerai lagi atau kabur, Adit bukan hanya akan menjauhkannya dari Azka tetapi lelaki itu akan merampas kebebasan sang anak, mengurungnya seperti apa yang dilakukannya padanya sekarang.


Adit mengangkat bahunya tidak peduli. "Dia bukan anakku."


"Hah?"


"Selama lima tahun kita menikah, apa aku bisa membuatmu hamil?"


Amanda menutup mulutnya, sungguh kenapa Adit bisa berpikiran seperti itu. "Kamu memang punya penyakit, tetapi itu nggak menutup kemungkinan. Kalau itu anakmu."


"Entahlah, aku yakin itu bukan anakku. Bisa saja Kinan bermain di belakangku kan?" Adit menjawab dengan santai. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Toh, hal itu bagus untuk kita."


Amanda hanya bisa mengelus dada sabar, dia jadi merasa kasihan pada Kinan. Matanya mengawasi pergerakan suaminya yang mulai mematut dirinya di kaca. Ia akui, ketampanan dan auranya tidak pernah luput, bahkan bertambah. "Apa kamu ingin berlibur?"


"Sudah itu saja?" Adit menatap Amanda heran. "Aku sudah punya uang banyak, kamu nggak perlu sungkan untuk meminta sesuatu yang mahal seperti tas, baju, atau mobil?"


"Waktu bersama Azka nggak bisa dinilai dengan uang tapi rasanya sulit sekali terkabul. Apa sesusah itu aku bertemu dengan anakku sendiri?" tanya Amanda kesal.


"Bukan begitu, Amanda. Sekarang, Kinan agak sensitif karena sedang hamil. Dia pasti berpikir macam-macam kalau aku meminta Azka bertemu denganmu."


"Kamu nggak perlu memintanya, tapi aku akan menemuinya. Sekali ini aja, oke?"


Adit hanya bisa pasrah. "Lusa, temui dia di sini. Tapi, aku nggak bisa mengawasi kalian karena harus mulai bekerja di kantor. Di rumah ada Kinan dan mamanya, aku berharap hal itu nggak menimbulkan kekacauan."


Amanda mengangguk setuju. "Aku nggak akan memancing pertengkaran dan datang secara baik-baik."


"Aku harus kembali ke bawah, Kinan pasti mencariku," pamit Adit, sebelum pergi lelaki itu mencium kening serta bibir Amanda. Meninggalnya yang langsung duduk sambil memegang kepalanya prustasi. Sepertinya dia harus membuat keputusan, Amanda butuh bantuan. Kegilaan suaminya itu sudah parah, bersamanya hanya akan membuat nyawanya terancam.

__ADS_1


Amanda buru-buru mengambil ponselnya, menghubungi seseorang. "Apakah kita bisa bertemu di makam Aksa, besok? Jika bisa, kamu nggak perlu membalas."


Setelah yakin pesan terkirim, Amanda menghapusnya untuk dirinya sendiri. Ia harus melakukan ini, sebab setiap hari suaminya itu selalu mengawasi bahkan isi ponselnya. Dia takut, jika Amanda merencanakan untuk kabur.


***


"Kak!" Kinan menyapa suaminya yang akhirnya muncul. "Ini Pak Sandi, orang yang sangat berjasa membantu K Group menjadi sebesar ini. Papa selalu berkata, kalau Pak Sandi adalah orang kepercayaannya dulu dan yang paling setia. Pak Sandi akan kembali ke K Group dan membantu kamu mengelola perusahaan."


Lelaki tua itu tertawa. "Jangan terlalu formal mengenalkan aku padanya. Kalian sudah aku anggap seperti anak sendiri."


Adit menunduk hormat, menjabat tangan Pak Sandi. "Senang bertemu denganmu ..."


Kinan sudah tidak pokus dengan pembicaraan mereka berdua, sebab dia teralihkan dengan aroma parfum yang berbeda dari yang biasa dipakai oleh suaminya. Padahal sebelumnya, Kinan merasa biasa saja berdekatan dengannya. Perutnya bergejolak, ingin muntah. Buru-buru Kinan berlari ke kamar mandi dan menerobos kerumunan. Sementara di belakangnya Adit setia mengikuti.


"Kinan? Kamu baik-baik aja?"


Tangannya mengetuk pintu, mengabaikan beberapa wanita yang berada di kamar mandi tersebut, menatapnya tajam. Namun, setelah memberi penjelasan bahwa di dalamnya ada istrinya yang sedang hamil muda mereka memberi pengertian dan terus mengawasinya.


Pintu terbuka, Kinan menutup hidungnya. "Kamu pakai parfum apa sih, Kak? Bikin mual tau!"


"Hah?" Adit tampak berpikir, ketika sadar dia tadi sempat memeluk Amanda dan menebak mungkin ini penyebabnya. Lelaki itu membuka jasnya, menyingkirkannya sejauh mungkin.


"Apa lebih baik?"


Kinan melepaskan tangannya, lalu mengangguk. Adit merangkul Kinan yang tampak lemas, membimbingnya keluar. "Mau istirahat dulu?"


"Tapi kamu harus menemani Kinan, ya?"


"Kalau saya ikut, siapa yang menyambut tamu lain?"


"Ada Mama di bawah," ucap Kinan, membuatnya mau tidak mau Adit menuruti permintaannya. Mereka berdua berjalan ke arah kamar.

__ADS_1


***


__ADS_2