
"Itu Azka!" teriak Amanda membuat Dara refleks menutup mulutnya menggunakan satu tangannya. Ia tahu ibu di sampingnya ini sangat merindukan sang anak, tetapi jangan sampai mereka berdua yang sedang bersembunyi di pagar ketahuan.
Sesuai apa yang diketahui Amanda tentang rumah ini, mereka memutuskan untuk menyelundup lewat belakang yang langsung ber-akses ke kolam renang. Kebetulan, pagi ini Kinan, Bi Inah dan Azka berada di tempat itu. Entah, calon mantan suaminya itu ke mana, yang jelas mereka beruntung karena sepertinya Adit tidak berada di rumah.
"Gue harus ambil perhatian mereka berdua, ke depan. Lo harus cepet-cepet turun dari sini dan samperin Azka. Kalau bisa bawa dia."
"Tapi?" Amanda tampak ragu, dia malah takut setelah masuk ke kawasan rumah itu tidak bisa kembali lagi keluar. Yang lebih parah, Adit bisa saja mengurungnya di kamar, sesuai ancamannya dulu.
"Lo harus yakin sama diri sendiri, demi Azka. Oke?"
Amanda mengangguk, lalu menatap anaknya dari kejauhan. Dara mulai beraksi, tidak lama entah apa yang dilakukan membuat Bi Inah meninggalkan area kolam renang lalu datang kembali dengan wajah panik. Tentu, membuat Kinan ikut berlari panik menuju depan rumah. Keadaanya hanya ada Azka, Amanda berdecak. Bisa-bisanya mereka meninggalkan anaknya yang masih berumur lima tahun itu sendirian. Bagaimana kalau dia terpeleset dan terjatuh ke kolam?
Kakinya menapak pada keramik pinggir kolam, berjalan cepat tanpa ada suara dan berhati-hati. Mata Azka melihatnya, anak itu berlari ketakutan mendapati Amanda yang memang berdandan ala pencuri memakai kudung hitam. Entah, kenapa Amanda menerima saran dari Dara yang menurutnya aneh itu. Alasannya di rumah ini banyak sekali cctv, jika ketahuan muka Amanda tidak akan terpampang.
Buru-buru Amanda membuka sebagian topengnya, sambil memegang tangan Azka.
"Bunda?"
"Abang?" Amanda lantas memeluknya melepaskan segala kerinduan pada putranya, begitupun dengan Azka yang tampak senang akhirnya sang bunda datang. "Bunda kangen banget!"
"Abang juga, Bunda!" balasnya tidak kalah senang. "Bunda kenapa tinggalin abang?"
"Maafin bunda ya sayang."
Amanda melepaskan pelukannya lalu membelai wajah Azka. "Abang mau ikut sama bunda?"
Anak itu mengangguk cepat. "Abang ndak suka di sini, ndak ada bunda. Ayah kelja telus, mama Kinan suka malahin Abang kalau tanya tentang bunda."
Ya, Tuhan. Kenapa Amanda se-egois ini meninggalkan anaknya? Azka pasti menderita.
"Tenang, Bunda akan ajak Abang. Kita pergi dari sini."
"Ayah ajak juga Bunda." Sebegitu sayangnya Azka pada sang ayah, kalau dia tahu apa yang sedang terjadi sekarang. Apakah anak itu akan mengerti? Jika keduanya tidak akan bisa bersatu lagi. "Bunda mau seperti spidelman?" tunjuknya pada topeng yang dipakainya tadi. "Menjadi superhelo?"
"Iya, sayang untuk menyelamatkan Abang. Sekarang ikut bunda," ajak Amanda yang tidak mau membuang-buang waktu.
"Siapa di situ!"
__ADS_1
Langkahnya terhenti. Ia melirik dari arah pintu, ada Bi Inah yang berlari menghampiri mereka. Jantungnya berdetak cepat, sepertinya dia tidak bisa membawa Azka.
"Sayang, jangan bilang sama siapapun Bunda ke sini. Nanti bunda pasti jemput Abang!" setelah berbisik seperti itu, Amanda naik tangga yang tadi digunakan untuk turun. Lalu, melompat membuat pantatnya langsung menabrak tanah. Ia mengaduh kesakitan. Belum sampai di sana, saatnya dirinya bangun. Dia merasa ada tangan yang menarik tubuhnya. Mereka bersembunyi di sudut gang. Yang hanya muat dua orang.
Amanda melotot dan hampir berteriak panik saat melihat siapa gerangan yang menarik tangannya dan bersembunyi di sini.
Rendra?
Kenapa dia bisa di sini? Seketika keringat mengucur di sekitar wajahnya. Amanda benar-benar ingin mengakhiri semua ini, sebab jarak mereka hanya sejengkal. Bahkan, Amanda bisa merasakan deru nafas Rendra yang tenang.
"St!" Rendra memberi instruksi agar Amanda diam dan jangan bergerak, karena di samping mereka terdengar suara sepatu yang mendekat.
Amanda salah jika menyangka Adit tidak ada di rumah, ternyata lelaki itu melewatinya, seperti sedang mencari sesuatu. Mungkin, Bi Inah memberitahunya kalau ada seseorang yang diam-diam bertemu Azka lewat area belakang. Dan lelaki itu langsung memeriksanya.
Entah berapa menit mereka dalam posisi itu, Amanda hanya bisa memalingkan wajahnya ke samping, sementara Rendra terus menatapnya entah apa yang ada di pikirannya.
Setelah merasa aman, Amanda langsung keluar dari gang itu dan mencoba mengambil napas sebanyak mungkin. Hendak melangkah tanpa mengucapkan terima kasih tetapi suara Rendra mengusik telinganya.
"Kamu boleh membenciku, Amanda tetapi aku tetaplah ayah kandung Azka. Sampai kapanpun kenyataan itu tidak akan bisa dihapuskan, meski kamu mencoba menjauhkan aku dan Azka."
****
Amanda menatap ponselnya, setelah kejadian di rumah Adit. Dara tidak juga memberinya pesan, padahal mereka sudah janjian untuk bertemu di salah satu cafe. Seharusnya, Dara sudah sampai di sini. Amanda takut jika sahabatnya itu malah ketahuan dan diinterogasi oleh Adit.
"Amanda!"
Tiba-tiba suara yang ingin didengar itu masuk ke telinga, matanya melihat Dara yang berjalan cepat ke arahnya.
"Kamu kemana aja, sih? Aku khawatir takut kamu ketahuan sama Adit."
"Loh, Azka mana?" tanya Dara tidak melihat anak kecil itu di sampingnya.
"Bi Inah datang, Dar. Aku nggak sempat bawa Azka."
Dara terlihat kecewa. "Padahal gue udah beli ini buat Azka."
Amanda baru ngeh, kalau sahabatnya itu membawa balon Spiderman di tangannya. "Lo pernah bilang Azka suka banget sama Spiderman. Jadi sebelum ke sini gue beli dulu ke pasar."
__ADS_1
"Yaampun, Dara! So sweet banget sih!" Ia jadi terharu. "Maksih ya, Dar. Aku ketemu Azka aja udah bersyukur banget."
"Tetep aja gue kesel, ih!" Dara malah cemberut.
"Aku lebih penasaran kamu pakai apa kok bisa Bi Inah dan Kinan keliatan panik?"
"Gue pakai tikus mati buat teror mereka," senyuman Dara tampak sinis. "Dengan tulisan, Pelakor pantas Mati! Gue liat tuh wajah Kinan yang ketakutan. Kayaknya kita perlu ke dukun juga, deh! Biar tau rasa" sarannya.
"Kok bisa?" Amanda tidak mengetahui tentang ini.
"Gue udah siapin di tas ini," tunjuknya pada tas kecil yang dipakainya. "Kalau gue bilang sama lo, pasti nggak bakal setuju!"
Tentu saja Amanda tidak akan setuju, hal itu bisa mengotori tas milik Dara. Terlalu beresiko juga, jika nanti Kinan mengadu pada Adit.
"Lain kali kalau mau merencanakan sesuatu itu bilang-bilang dulu kek! Tapi pokoknya makasih banget kamu sampai harus izin libur buat bantu aku."
Dara mengangkat jempolnya. "Sama-sama, Man. Lo juga kan udah minjemin gue uang, jadi ini mah nggak seberapa."
Amanda mengangguk. Ia sebenarnya ingin menceritakan tentang Rendra pada Dara. Sungguh ada rasa penasaran, karena Dara bilang Rendra berada di Bandung waktu itu. Tetapi kenapa lelaki itu malah berkeliaran di komplek perumahannya?
"Aku tadi ketemu Rendra."
"Sama."
"Kamu juga ketemu?"
Dara mengangguk. "Dia bilang tinggal di samping rumahnya Adit. Lo emang nggak tau?"
"Aku pernah liat dia beberapa kali, tapi nggak tau kalau dia tinggal di samping aku. Bukannya kamu bilang kalau Rendra itu di Bandung?"
"Iya, tapi gue gatau itu benar apa nggak karena gue dengernya cuma dari mulut ke mulut." Dara seperti sedang memikirkan sesuatu. "Bukannya ini berita bagus, kita bisa minta bantuan Rendra!"
"Nggak!" Amanda tidak setuju. Ia akan menggunakan kekuatannya sendiri untuk mengambil Azka dari Adit.
***
"
__ADS_1