
"Kak, beneran kakak nggak mau nginep aja di hotel?" tanya Gilang pada kakaknya, dengan tatapan kasihan. Waktu sudah larut malam, tetapi karena ayahnya kembali mengusirnya agar cepat pergi dari rumah itu, membuat Amanda hanya bisa mengelus dada sabar dan mencoba menelpon Adit, yang belum juga mengangkat teleponnya. "Yakin, Kak Adit bakal bisa dihubungi? Kasian Azka pasti kedinginan. Atau mau nginep dulu di rumah Risti? Gilang anterin ke rumahnya ya."
Amanda buru-buru menolak, tidak mau merepotkan orang lain. "Nggak usah, Lang. Kaka mau langsung ke rumah orangtua Mas Adit." Karena tidak bisa dihubungi, Amanda memutuskan untuk langsung ke alamat rumah orangtuanya, katanya selama di Bandung suaminya itu tinggal di sana.
"Tap-"
"Udah, kamu pulang aja. Itu gangnya udah keliatan, nanti ayah marah kalau kamu nggak pulang kemaleman. Besok kan harus ke Magelang," ucap Amanda menyuruh adiknya mengantar sampai sini saja. "Tenang, kakak pasti hadir kok di Bandara."
"Makasih, Kak," tercetak jelas rasa bersalah di wajahnya, Gilang tidak memprediksi ayahnya akan setega itu pada sang kakak. "Maaf Gilang nggak bisa bujuk Ayah."
"Nggak apa-apa," balas Amanda seraya tersenyum agar adiknya lebih tenang. Tangannya mengacak rambut adiknya yang gondrong. "Ternyata bocah kecil yang sering ngintilin kakak ini udah besar, ya. Pesan kakak satu, jangan pernah kecewain ayah. Kakak nggak bisa ngasih yang terbaik buat ayah, tapi kamu harus bisa!"
"Kenapa sih, Kak Amanda bisa sebaik ini?" kagumnya pada sang kakak, yang selalu legowo dalam setiap maslaah yang menghampirinya.
"Mama dulu selalu bilang. Ketika kamu tidak menemukan orang baik, setidaknya jadilah salah satunya."
"Mulai sekarang Gilang bakal ikutin apa kata-kata Mama," ucapnya lalu mengelus wajah Azka yang hanya diam, dengan mata mengantuk. "Hai, jagoan. Semoga kita ketemu lagi, Om titip bunda ke Abang! Kalau ada orang jahat, Abang tau dong harus lakuin apa?"
Azka membalas dengan lesu, masih mengantuk. "Pukul orang jahat."
"Bagus!" Gilang memberikan dua jempolnya untuk Azka.
"Kamu ngajarin yang enggak-enggak sama Azka."
Gilang hanya nyengir, lalu mereka bertiga keluar dari mobil. Gilang memilih ikut mengantar sang kakak ke rumah itu, karena Amanda pasti kesusahan membawa satu koper berisi pakaian dan lukisannya. Ditambah, harus menggendong Azka.
Amanda mengetuk pintu berbahan jati itu, tidak lama pintu terbuka. Muncul wanita yang ternyata adalah ibu suaminya.
"Mama, Mas Adit ada?" tanya Amanda, kegugupan menderanya karena mereka memang tidak sedekat itu. Takut sekali, jika ada penolakan dan Amanda bingung harus menginap di mana.
Ibu-ibu yang ternyata sehat bugar itu tampak kaget dan menyuruh mereka masuk, kecuali Gilang karena adiknya itu harus segera pulang.
"Mama, maaf Amanda baru bisa menjenguk sekarang. Kata Mas Adit mama habis operasi ya?" tanya Amanda mencoba meng-akrabkan diri.
"Mama tidak sakit, Amanda. Mama sehat-sehat saja," balasnya dengan raut wajah bingung. "Kenapa mendadak sekali? Mama tidak punya apa-apa untuk menjamu. Kamu baru sampai atau bagaimana?"
"Nggak apa-apa, Ma." Amanda menggelengkan kepalanya. "Tadi sempat ke rumah orangtua, tapi pengen langsung ke sini aja, soalnya Mas Adit juga belum pulang ke Jakarta. Jadi nyusul aja, deh. Oiya, apa Mas Adit masih kerja?" lanjutnya, tidak melihat kehadiran sang suami.
__ADS_1
"Mama tidak tahu, dia jarang menghubungi kami. Tapi, dua minggu lalu datang membelikan adik-adiknya baju."
"Dua minggu lalu? Tapi Mas Adit bilang selama di Bandung tinggal bersama Mama di sini."
Mamanya juga kaget. "Tidak, Adit tidak tinggal di sini. Katanya dia tinggal di dekat perusahaan, menyewa sebuah rumah."
Kenapa pernyataannya jadi berbeda, apa suaminya itu sudah berbohong?
"Amanda memang datang ke Bandung tanpa sepengetahuan Mas Adit, Ma. Tapi Amanda tahunya Mas Adit tinggal di sini," desahnya gelisah. "Mana sekarang sudah sekali dihubungi."
"Yasudah, mending sekarang kamu ajak anakmu di kamar Lila, kasihan sepertinya di mengantuk. Besok baru kita menghubungi Adit lagi."
Amanda menuruti perintah mertuanya, yang ternyata tidak mengusirnya, dia lebih bersahabat meski suasananya agak canggung.
Setelah membaringkan Azka di kasur, Amanda kembali melihat ponselnya berusaha menelpon suaminya.
Di sambungan ke-tiga, ponselnya terhubung. Sepersekian detik, hanya ditemani keheningan. Amanda mencoba mengawali.
"Mas Adit?"
"Mas?"
"Kenapa kamu ke Bandung tanpa sepengetahuan aku, Amanda?"
"Sekarang aku di rumah Mama."
Lagi-lagi terdengar helaan napas, seperti lelah. "Besok kamu pulang ke Jakarta, aku bakal nyuruh adikku untuk mengantarkan kamu. Nanti aku nyusul."
"Kenapa? Apa ada yang kamu sembunyikan?"
"Pekerjaanku banyak."
"Kalau aku nggak mau pulang ke Jakarta bagaimana?"
"Harus!"
"Aku mau ketemu dulu."
__ADS_1
"Nggak bisa."
"Kenapa?"
"Aku udah bilang, banyak kerjaan."
"Aku nggak yakin karena itu. Kamu udah bohong sama aku, Mas!"
"Kamu mulai nggak pengertian, Manda! Aku bilang pulang ya, pulang! Apa rumah yang aku berikan bikin kamu nggak nyaman? Sadar Amanda, aku berjuang mati-matian untuk itu!"
Amanda mengepalkan tangannya, menahan tangis. "Kamu tau nggak, tadi aku ke rumah ayah, terus di usir. Sekarang aku coba buat nyari perlindungan lagi ke kamu, tapi ternyata kamu ngusir aku juga."
"Bukan itu maksud aku, Amanda."
"Satu lagi, aku nggak pernah nuntut rumah mewah atau uang yang banyak sama kamu, sampai kamu harus berjuang mati-matian. Karena buat aku, tinggal di rumah sederhana asal sama kamu itu udah cukup, Mas."
"Amanda-"
"Maaf kalau aku sudah menganggu waktumu!"
Tut.
Amanda menjatuhkan teleponnya, lalu menangis tanpa suara. Selain pada suaminya, kini Amanda harus ke mana? Bukankah, secara tidak langsung Adit sudah berubah. Dia harusnya memarahi Amanda karena bisa-bisanya naik kendaraan umum Jakarta-Bandung tanpa dirinya atau langsung datang ke rumah mamanya dengan wajah khawatir, untuk memeriksa Azka dan Amanda. Ya, seharusnya seperti itu. Tapi, apa yang didapatkannya sekarang? Sebuah ke-kecewaan mendalam. Amanda rasa ini bukan soal pekerjaan tetapi ada suatu hal yang disembunyikan darinya.
Suaminya itu sudah berubah.
Diam-diam mama Adit yang kedatangan menantunya itu sempat terkejut melihat Amanda menangis.
Ternyata mereka berdua sedang tidak baik-baik saja. Kakinya melangkah, lalu duduk di samping Amanda.
Sementara Amanda yang melihat kedatangannya, langsung menyusut air matanya. "Tidak apa-apa, menangis saja."
"Baru pertama kali, Mas Adit seperti ini, Ma."
"Berarti ini ujian buat kamu. Saran Mama, besok kalian harus membicarakan ini, terlepas dari Adit menyuruhmu untuk pulang. Nanti Mama bantu, agar kamu dapat alamat rumahnya. Tidak apa-apa menangis, jika itu buat kamu lega," katanya sambil menepuk bahu Amanda dan menyuruhnya untuk bersandar. Dalam derai air mata, mama Adit yang selama ini ia kira membencinya itu, mempersilahkan hatinya agar Amanda merasa punya tempat untuk pulang.
****
__ADS_1