Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
30: Keputusan Terburuk


__ADS_3

"Ayah!"


Amanda yang sedang bereksperimen di dapur itu kebingungan, ketika mendapati suaminya itu sudah pulang. Apa dia tidak jadi ke Bandung? Amanda melangkah menghampiri Adit. Azka memang request ingin kue sus, dengan keahlian minimnya dia mencoba membuatnya dibantu oleh ilmu yang didapatnya dari youtobe.


Melihat tangan yang saling bertaut itu membuat alis Amanda mengerut. Bukahnkah yang berada di samping suaminya itu Kinan? Perempuan yang tadi membuat Amanda harus membersihkan lantai dan membeli beberapa pigura lagi?


"Kinan akan tinggal di sini, bersama kita," ucap Adit tampak hati-hati dalam berbicara. Sementara Amanda hampir saja kehilangan keseimbangan, tiba-tiba kepalanya pusing. Adit yang bilang semalam dia akan menceraikan Kinan? Tapi ini? Apa yang ada di pikirannya itu?


Kinan yang tadi datang dengan wajah menyebalkan-nya itu, mendekat ke arah Amanda, raut wajahnya sungguh bersahabat. Bahkan, dia memeluk Amanda dan meminta maaf untuk kejadian tadi pagi. Tetapi, Amanda merasa itu tidak tulus.


"Maaf, untuk yang tadi. Kak Dipta sudah menceritakan semuanya. Kinan harusnya, meminta izin pada Kak Amanda terlebih dahulu sebelum memutuskan menerima Kak Dipta sebagai suami," ucap Kinan pelan. "Maaf, Kinan tidak bisa melepas Kak Dipta. Kinan tau ini menyakitkan, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Hanya satu harapan Kinan, semoga kita bisa saling menerima."


Lelucon macam apa ini? Kak Amanda? Sejak kapan juga mereka bersaudara? Tangannya melepas pelukan Kinan dengan marah, lalu meminta penjelasan pada Adit.


"Apa maksudnya semua ini?"


"Kinan akan tinggal di sini dengan kita," jelas Adit untuk kedua kalinya. Padahal, Amanda mengerti kata-kata hanya saja ini sulit dipercaya.


"Gila kamu, Mas! Aku meminta kita bercerai, tapi kamu malah membawa masuk perempuan lain ke rumah ini! Ternyata ucapanmu semalam hanya omong kosong!"


"Kinan bukan orang lain, dia juga istriku Amanda," balas Adit membuat Amanda serasa bisa kehilangan akal sehatnya. Sifatnya sudah sangat berubah. Amanda sudah kehilangan suaminya.


"Jika kamu kekeh tidak bisa memilih di antara kami berdua. Sebaiknya aku yang mundur." Amanda melepaskan apron untuk memasaknya, lalu berjalan menuju kamarnya. Mengemasi barang-barang. Adit menyusulnya dari belakang, sementara Kinan hanya bisa terdiam dengan senyuman culasnya.


"Kamu mau pergi ke mana?" tanya Adit menghentikan tangan Amanda yang memasukan baju secara acak ke dalam koper. "Kamu bahkan sudah tidak diterima oleh keluargamu, Amanda. Jangan egois, pikirkan keselamatan Azka. Aku mungkin bisa membiarkan kamu pergi, tapi nggak dengan Azka dia harus tetap di sini, bersamaku."


Amanda mengehentikan tangannya, lalu menatap Adit dengan tatapan sendu. "Sekali lagi aku tegaskan sama kamu, Mas. Dia bukan anak kandung kamu, dia anakku. Kamu nggak ada hak sama sekali untuk memiliknya."

__ADS_1


"Jika kamu membawa Azka dan membuatnya hidupnya menderita. Rendra akan mengambilnya, bukankah kamu nggak mau sampai dia jatuh ke tangan Rendra?"


Benar, Amanda tidak mau Azka bersama Rendra. Tetapi, kini dia juga tidak bisa membiarkan dirinya hidup dalam belenggu bersama suaminya di rumah ini. Apa tidak akan menyakitkan melihat secara jelas suaminya itu membelai atau tidur dengan perempuan lain? Amanda tidak se-tegar itu.


Amanda menangis sambil menutup wajahnya, sementara Adit menunduk merasa bersalah, tetapi dia sendiri sudah yakin dengan keputusannya. Tujuan awalnya adalah untuk menguasai harta Kinan tanpa menceraikan Amanda. Adit hanya perlu beberapa tahun untuk ini, dia berharap Amanda bisa sabar menunggunya.


"Tolong, pikirkan masa depan Azka," ucap Adit, membuat Amanda semakin terisak. "Aku janji, aku akan berlaku adil dengan kalian. Bahkan, aku bisa lebih menyayangi kamu daripada Kinan, Amanda."


Bulshit.


***


Kinan merebahkan dirinya di kamar tamu yang menurutnya lebih sempit dan sedikit tidak terurus. Dia mungkin akan meminta suaminya untuk merenovasinya.


Huh. Jika mamanya tahu bahwa Kinan lebih memilih menjadi istri kedua, ketimbang bercerai dari Adit pasti mamanya itu akan marah dan mengomelinya, seolah tidak ada lelaki lain di dunia ini.


Kinan tidak akan membiarkan mereka bahagia, di atas penderitaannya. Adit hanya punya pilihan, memilih keduanya atau menceraikan keduanya. Dan, lelaki itu tentu pasti memilih opsi yang pertama.


Tidak pernah terbayang, dirinya akan menjadi istri kedua. Tetapi, akan Kinan jamin ini hanya sebentar karena sebisa mungkin dia akan menyingkirkan Amanda secara perlahan dari rumah ini. Ditambah, Adit sudah berjanji untuk berlaku adil pada Kinan. Tidak ada alasannya lagi untuknya bersikap dingin padanya.


Kinan tiba-tiba tertawa, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri, ia yang terlalu bodoh atau pesona lelaki itu yang terlalu kuat hingga membuatnya tidak bisa kehilangan?


Pintu tiba-tiba diketuk, membuat Kinan langsung bangun dan berjalan membuka pintu. Ternyata suaminya, itu sudah berdiri dengan kedua tangan yang memegang baju.


"Kamu sebaiknya mandi dulu," titah Adit yang membuat Kinan lantas menarik tangannya agar suaminya itu masuk ke dalam kamar.


Tangannya mengambil baju itu. "Punya Kak Amanda?" Baju tidur warna merah marun itu terlihat sederhana. Berbeda sekali dengan yang dipunyainya. Seharusnya, mereka tinggal di rumah Kinan.

__ADS_1


Adit hanya bisa mengangguk. "Pakai yang ada, besok kita belanja dan minta Bi Inah buat berkemas. Saya tidak yakin kamu bisa mengurus diri sendiri dengan baik di sini."


Kinan nyengir, ternyata suaminya perhatian. Tiba-tiba Kinan ingin memeluknya. "Kinan benar-benar nggak bisa kehilangan kamu, Kak."


"Hmm."


Adit membiarkan Kinan memeluknya, tentu membuat perempuan itu semakin tersenyum bahagia. "Keadaan Kak Amanda, gimana?"


"Panggil saja, Amanda," koreksi Adit. "Dia dua tahun lebih muda dari kamu."


"Oke, keadaan Amanda gimana?"


Adit melepaskan pelukannya. "Dia masih mengurung diri di kamarnya."


"Anaknya?"


"Namanya Pradipta Raid Azka, kamu bisa panggil dia Abanh," ucap Adit lagi-lagi memberitahu. Mama memberinya data tidak secara rinci, hanya memberi alamat di mana Amanda tinggal. Jadi, Kinan tidak tahu- menahu tentang Amanda dan anaknya. Mungkin, dia akan lebih sering bertanya pada suaminya sekarang. "Azka ada di bawah. Saya harus ke sana sekarang, kasihan Azka sendirian."


Kinan ingin sekali membuat Adit menetap, tetapi tentu jika dia menuntut itu Adit pasti menilainya tidak pengertian.


"Yaudah, Kinan mau mandi. Malam ini kamu tidur di mana?"


"Bersama Amanda, saya harus meyakinkan dia dulu supaya bisa menerima kamu di sini."


Kinan mendelik tanpa sepengetahuan Adit, tetapi tidak bisa juga membantah. Kenapa sih, suaminya itu tidak mau menerima diceraikan oleh Amanda? Benar-benar membuatnya kesal. Sebaik apa lagi Kinan, masih mau menerima walau tahu dia sudah beristri? Seharusnya, dari awal Adit itu memilihnya. Kinan hanya bisa menggerutu dalam hati melihat kepergian Adit.


***

__ADS_1


__ADS_2