
Kehampaan dan kekosongan itu, menemani setiap hari-hari yang Amanda jalani di rumah besar ini. Rasanya percuma sekali kalau tanpa kehadiran suaminya. Apalagi kini, suaminya itu sudah jarang menghubunginya. Amanda mengirim pesan-pun jarang dibalas.
Sudah hampir dua minggu Amanda tinggal di sini, hanya melukis dan bermain bersama Azka menjadi kegiatan rutinnya. Begitupun, dengan Adit yang makin sibuk di Bandung. Mengenai pekerjaannya, Adit mengaku kalau lelaki itu kini sebenarnya tidak bekerja di pabrik melainkan di mutasi ke Bandung dari pekerjaannya sebagai staf, ditambah kini dia naik jabatan. Untuk memiliki rumah ini, suaminya sudah menabung dari dua tahun ke-belakang tanpa sepengetahuannya. Meskipun, terasa ada yang janggal tetapi tidak ada salahnya Amanda mempercayai suaminya itu.
Di belakang rumah sambil menemani Azka yang memainkan lego pemberian ayahnya, Amanda sedang melukis sebuah potret ayah dan anaknya. Lukisan ini terinspirasi dari suaminya yang menyayangi Azka meski tidak ada darah yang terikat. Amanda akan hadiahkan karya istimewanya ini saat ulang tahun pernikahan yang ke-lima, yaitu tiga hari lagi. Ia akan memaksa suaminya itu untuk pulang bagaimanapun caranya.
"Bunda, ada telepon!" Azka yang melihat ponsel bundanya berdering itu memberitahu, karena Amanda tampak asyik membuat karyanya. "Dali tadi terus nyala, bunda!"
Amanda terpaksa berhenti, lalu mengambil ponselnya ternyata dari Gilang. Alisnya mengerut, seperti ada yang terlupa.
"Halo, Lang?"
Gilang berdecak di sebrang sana.
"Kak Amanda beneran nggak mau antar Gilang ke Bandara, besok Gilang bakal ke Magelang."
Benar saja, kan. Adiknya itu akan ke Magelang untuk sekolah kedinasan. "Astaga, kakak lupa!"
"Gilang nggak paksa kakak untuk datang, tapi kalau kakak datang Gilang bakal lebih bahagia."
"Bagaimana dengan ayah?"
"Gilang nggak menjamin ayah bakal senang, tetapi setidaknya ini demi Gilang sana Mama. Mama pasti bahagia ketemu Kakak. Asal Kak Amanda tau, selama ini Mama cuma minta satu hal sama ayah, untuk nggak menyentuh kamar kakak. Mama selalu menganggap bahwa suatu saat kakak akan pulang dan tidur di kamar itu lagi."
Amanda menghela napas. Apa dia siap? Tentu belum, bayangan akan kejadian lima tahun itu rasa sakitnya masih belum hilang.
Tapi...
Entah tiba-tiba tercetus sesuatu.
Rumah keluarganya di Bandung, jika Amanda datang, bukankah hanya mamanya yang bahagia tapi dirinya bisa sekalian menghampiri suaminya sembari merayakan ulang tahun pernikahan mereka? Ah, pasti ini akan menjadi surprise yang paling bahagia, karena sekarang kehidupan mereka sudah berada.
__ADS_1
"Oke, Lang. Sore ini kakak berangkat ke Bandung."
"Serius? Mama pasti bahagia kalau dengar tentang ini!"
"Iya, semoga saja."
"Gilang tunggu di Bandung. See you, Kak!"
"See you to!"
Amanda menatap Azka, senyumannya terukir. Jika suaminya tidak bisa datang ke Jakarta, Amanda yang akan datang menemuinya di Bandung.
***
Setelah memakan perjalanan yang melelahkan dua jam lebih, menggunakan transportasi umum. Amanda akhirnya sampai di rumah orangtuanya. Terlihat di keremangan malam, masih ada rumah pohonnya sewaktu kecil, walaupun sekarang terlihat sudah rusak dan tinggal kenangan. Lalu, melihat tanaman-tanaman bunga dipekarangan. Ternyata mama masih menekuni hobinya. Rumah ini masih sama, tidak ada yang berubah sejak terkahir kali dirinya pergi.
Amanda menyapa seorang satpam yang mungkin masih mengenalinya, terbukti tanpa bertanya lelaki tua itu langsung membawanya agar masuk ke dalam rumahnya. Dan, memberitahu seisi rumah bahwa anak sulungnya sudah pulang.
Amanda yang duduk di sofa ruang tamu bersama Azka yang tertidur di pangkuannya itu, menatap mamanya dengan sedih. Rasa rindu itu akhirnya bisa terobati.
"Maa ..."
Mamanya menangis, langsung memeluk sang anak yang ditunggu sejak mendapat kabar bahwa dia akan pulang.
"Maafin Mama sayang, nggak pernah berusaha mencari kamu. Maafin Mama, kamu pasti hidup menderita di luar sana, sayang. Jika ada orangtua tertega di dunia ini, itu Mama sayang! Mama seharusnya nggak membiarkan kamu pergi. Mama selalu merasa menyesal," ucapnya membuat Amanda jadi ikut menangis.
"Nggak, Ma. Seharusnya Amanda yang meminta maaf sama mama, karena udah mengecewakan kalian."
Mereka larut dalam tangisan, karena penyesalan masing-masing, sampai lelaki paruh bayah yang rambutnya mulai memutih itu menghampiri mereka. Wajah tegasnya masih tidak berubah, teman-temannya dulu bilang ayahnya itu galak sampai mereka takut jika main ke rumah Amanda. Bahkan, saat Rendra pertama datang mengaku sebagai pacar Amanda, dia lari terbirit-birit sangking takutnya. Ah, kenangan manis yang berakhir pahit.
"Yah." Amanda menatap ayahnya penuh kerinduan.
__ADS_1
"Saya tidak mengizinkan orang asing masuk ke rumah ini," ucapnya dengan nada datar. Mungkin, masih belum menerima dengan apa yang dilakukan Amanda dulu.
"Yah!" bentak mamanya. "Jangan seperti itu pada Amanda, dia berhak mendapatkan kesempatan."
"Mana Gilang, suruh dia ke sini! Saya sudah bilang jangan berhubungan dengan dia!" tunjuknya pada Amanda, yang merasakan hatinya kembali sakit.
"Kali ini Mama nggak akan membiarkan ayah menyakiti Amanda lagi. Dia masih anak kita."
"Di sudah memilih hidupnya sendiri, lalu untuk apa datang lagi? Mengemis? Menderita? Atau lelaki itu juga sudah membuangmu? Rumah ini milikku, kamu tidak bisa datang seenaknya seolah lupa dengan apa yang telah kamu lakukan pada keluarga ini!" bentaknya. "Kalau kamu punya rasa malu, sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang sebelum saya usir secara tidak hormat!"
"Yah, jangan!"
"Dia sudah memutuskan hubungan dengan kita, untuk apa kita menerimanya lagi?" lanjut ayahnya, tidak peduli. Hatinya sudah keras, dia terlalu kecewa dengan kejadian masalalu.
Amanda berdiri, tatapannya begitu menyedihkan. Ternyata apa yang dipikirkannya terjadi, di usir kembali oleh keluarganya, tepatnya oleh sang ayah.
"Amanda nggak pernah memutuskan hubungan keluarga, tapi ayah sendiri yang menyuruh Amanda untuk pergi dari sini. Jika dulu Amanda diberi kesempatan untuk melahirkan Azka di sini, mungkin kisahnya sudah berbeda," ucap Amanda sambil tersenyum getir. "Awalnya, berat sekali untuk menemui kalian karena rasa malu dan penyesalan. Nggak ada salahnya berniat memperbaiki. Tapi ternyata, ayah masih sama kerasnya. Selalu merasa paling tersakiti."
"Amanda datang ke sini bukan untuk meminta atau mengemis, murni karena Amanda rindu sama kalian. Tapi, melihat kalian masih sehat dan bahagia, rasanya itu udah cukup." Amanda mengusap Azka yang masih lelap, sepertinya kelelahan di perjalanan.
"Ini, Azka, umurnya sudah mau lima tahun. Amanda nggak pernah merasa menyesal mempertahankan dia, walaupun saat itu ayah kandungnya tidak menginginkannya. Amanda merelakan masa depan agar dia tetap hidup."
"Kalau Amanda bisa lebih lama di sini, mungkin Azka bakal seneng ketemu kakek sama neneknya. Azka selalu bilang, bunda kenapa sih, teman-teman selalu main ke rumah nenek, tapi Abang kok ndak pernah." Amanda berucap sembari menahan tangisnya.
"Sayang!" Mamanya langsung merengkuh Azka yang sontak terbangun. Menciuminya sembari menangis, Azka yang belum mengetahui kondisi yang terjadi lantas ikut menangis sambil memanggil bundanya. "Azka cucu nenek."
Ternyata ayahnya masih tidak tersentuh. "Jika dalam satu jam dia masih ada di rumah ini, satpam tolong usir dia!"
Lelaki yang sudah senja itu kembali ke kamarnya, meninggalkan Amanda yang meluruh ke lantai. Apa Amanda harus berterima kasih karena diberi kesempatan melepas rindu meski hanya satu jam?
***
__ADS_1