
"Kinan!"
Mamanya itu menghampiri sang anak, memeluknya begitu erat. "Sayang, kamu baik-baik saja? Maaf, Mama baru bisa menemui kamu hari ini."
Tamara sudah mengetahui bahwa anaknya itu tinggal bersama Adit di Jakarta, padahal dia sudah meminta Kinan meninggalkan lelaki miskin itu bukan malah setuju untuk di madu. Apalagi, keadaan menjadi tidak terduga karena kehadiran sepupu Kinan di yang ikut bersama mantan suaminya.
Ya, berita itu juga sampai pada papanya yang sedang sakit. Tidak tahu bersumber dari siapa. Tetapi, mereka setuju untuk datang bersama-sama ke rumah putri kesayangannya.
Tidak hanya berdua, madam di temani oleh bodyguard sementara sang papa ditemani oleh dua orang dari keluarga besarnya.
Adit menyalami kedua mertuanya itu, masih dengan perasaan takut. Ia tahu, kedatangan mereka bukan semata-mata untuk menemui Kinan, tetapi mungkin akan mengeksekusinya. Di lihat dari mertua lelaki yang tidak se-humble saat mereka bertemu di Bandung. Beliau tampak kecewa dan memilih tidak banyak bicara. Adit sudah mengingkari janjinya, beliau tahu ia punya wanita selain Kinan.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Kinan melihat seseorang yang berada di samping papahnya, lelaki bertopi yang sepertinya dia kenal. Ah, dia kemarin mengusirnya dari rumah ini.
Papahnya langsung memegang tangan lelaki itu. "Ini Rendra, dia yang jemput papah di bandara. Anaknya Om Rahardi, adik Papa. Apa kamu lupa dengannya?"
Kinan seperti mengingat sesuatu, entah memori otaknya yang lemah atau apa dia benar-benar tidak mengenalinya. "Bukannya anak Om Rahardi itu hanya Rasya yang tinggal di Jakarta?"
"Dia kakaknya, Rasya."
"Oh, Kinan ingat! Rendra yang bersekolah di di luar negeri. Kemarin kita ketemu di sini kan?" Kinan menatap Rendra, yang hanya mengangguk. "Rumahmu sekitaran sini juga?"
"Kita bertetangga," balas Rendra yang diam-diam tersenyum penuh arti pada Adit yang berada di samping Kinan.
"OMG! Pah, kebetulan macam apa ini?" Kinan tidak percaya, meskipun sempat kesal karena awal pertemuan dengan Rendra tidak begitu baik. "Semoga kita menjadi tetangga yang baik, sepupu."
__ADS_1
Sementara Adit di belakangnya mengepalkan tangannya. Dunia sangat sempit, bagaimana bisa Rendra adalah saudara Kinan? Adit harus bertanya pada Kinan tentang ini.
"Ayo, Mah, Pah, kita makan dulu. Kinan dan Bi Inah sudah membuat makanan kesukaan kalian, loh." Kinan mengajak semuanya untuk ke meja makan, kebetulan sudah waktunya jam makan siang.
"Ini namanya Azka, anaknya Kak Dipta." Kinan mengenalkan Azka yang berada di sampingnya. "Abang mau makan apa? Sayur?"
Anak itu tampak kebingungan, melihat kode dari sang ayah yang setia berada di sampingnya. Ia mengangguk dan menunjuk ayam goreng. "Mau ayam juga."
"Oke, Mama suapin, yah?"
Pemandangan itu membuat madam merasa kesal, ada apa dengan Kinan? Seharusnya dia tidak mengakrabkan diri dengan anaknya Amanda.
"Mana istri pertamamu?" Papa Kinan tidak mau banyak basa-basi sepertinya.
Papanya tidak mengerti kenapa sang anak begitu mencintai Adit yang bahkan sudah menjadikannya yang kedua. "Kinan? Kamu serius dengan ucapanmu itu?"
Senyuman lebarnya terpancar. "Kinan bukan Papa yang tidak bisa memberi kesempatan kedua pada Mama. Kita nggak tau, apa yang terjadi di masa depan. Siapa yang tau kalau nanti Kak Dipta bisa menjadi suami yang lebih baik?"
Papanya kehilangan kata-kata.
"Kami juga berencana mau progam kehamilan. Papa pasti sudah tidak sabar mendapatkan cucu. Hihi, biar Azka nanti ada temannya."
Adit hanya menghela nafas melihat tingkah Kinan. Apa yang diucapkannya itu tidak benar, sampai kapanpun Adit tidak akan membiarkan perceraian dengan Amanda itu terjadi.
***
__ADS_1
"Kamu harus cepat-cepat membuat Kinan hamil!" ucap Madam dengan kesal. "Atau warisan itu tidak akan pernah jatuh ke tangan Kinan!"
Adit kira, mertuanya itu menariknya ke arah belakang rumah ingin menghajarnya atau menghinanya lagi, tetapi ternyata bukan. Apa mereka masih bisa melanjutkan rencana itu?
"Dari awal Madam tau, kalau Rendra adalah sepupu Kinan? Kenapa tidak memberitahu saya? Dia adalah ayah Azka!" Adit memegang kepalanya prustasi, lebih takut jika Rendra hendak merebut istri dan anaknya.
"Maka dari itu, saya meminta kamu memilih Kinan dan menjalankan rencanan ini! Tapi, sialnya kamu malah memilih keduanya! Hal ini membuat Papa Kinan tidak percaya lagi padamu!" kesalnya, uang milyaran yang bisa didapatnya itu mungkin tidak akan hilang jika Adit mematuhi perkataannya dari dulu.
Tamara sengaja tidak memberitahu Adit perihal ini, tadinya dia akan membuat Adit bercerai dengan istrinya, menggunakan Rendra. Tetapi malah tidak sesuai rencana, aksi pengeroyokan itu bukti betapa kesalnya Tamara pada Adit. Ditambah, dia ketakutan jika warisan itu akan jatuh pada Rendra. Terbukti, sepertinya Rendra mulai mendekat Papa Kinan padahal sebelumnya mereka sibuk mengurus usaha keluarga masing-masing.
"Papa Kinan tidak mungkin memberikan warisan selain pada anaknya," ucap Adit yakin. Mana bisa ke-sembarang orang sedangkan dia punya anak?
"Hanya seperempat, itu sudah menjadi keinginannya karena dia anak perempuan. Kalau saja kamu, tidak melakukan hal ceroboh ini dan bisa menjaga rahasia sampai ayah Kinan mati, kemungkinan untuk menguasai hartanya bisa di angka sembilan puluh lima persen! Dan, di angka sempurna jika kamu bisa membuat Kinan melahirkan anak lelaki!"
Dari dulu, Tamara memang obsesi ingin menguasai kekayaan Papa Kinan. Namun, karena dia melahirkan seorang anak perempuan dan di vonis tidak bisa hamil lagi oleh dokter karena rahimnya terpaksa diangkat. Papa Kinan membuangnya.
Mendengar perkataan Tamara membuat Adit merasakan rasa sakit yang mendera kepalanya. Kenapa menjadi rumit seperti ini?
"Kamu harus bercerai dengan Amanda, dan mengambil hati Papa Kinan kembali. Untuk Rendra, kita tidak tahu apa yang sedang di rencanakannya. Kita harus mengawasinya, jika dia mulai memulai gerak-gerik yang mencurigakan, kita harus melenyapkannya."
Pancaran kebencian itu berada di matanya. Sebagai lelaki yang tidak diberkahi kekayaan sejak lahir, Adit mungkin akan terpengaruh. Apalagi, kehadiran Rendra benar-benar tidak terbayang di pikirannya. Dunia sepertinya hanya sebatas daun kelor, sempit sekali.
Tanpa mereka tahu, di kejauhan ada Rendra yang sedang memperhatikan sembari melipat tangannya di dada. Menerka-nerka apa yang sedang mereka bicarakan. Dia sudah berjanji tidak akan membiarkan Amanda hidup bersama lelaki seperti Adit dan merebut posisinya kembali sebagai ayah Azka. Mungkin, inilah waktu yang tepat untuk memulai semuanya.
***
__ADS_1