Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
38 : Berangkat ke Bandung


__ADS_3

Amanda berdiri di pinggir gerbang sekolah Azka. Menunggu kedatangan anaknya yang sedang bersekolah.


"Aku memberikan kamu waktu untuk bertemu Azka di sekolahnya, tapi ingat jangan sampai membawanya kabur karena Bi Inah akan tetap mengawasi!"


Perkataan Adit itu terngiang kembali di kepalanya. Lelaki itu tampaknya berbaik hati pada Amanda sebelum pergi ke Bandung. Bisa jadi, karena kejadian pagi tadi di hotel. Ah, jika mengingat itu membuatnya malu pada dirinya sendiri. Secara tidak langsung, hal itu membuat prinsipnya goyah dan menunjukkan bahwa perceraian itu hanya omong kosong.


Semudah itu, Amanda terhanyut dengan tindakannya.


Matanya melihat gerombolan anak-anak yang keluar dari ruangan, dengan jeli Amanda mencari Azka. Tangannya naik ke atas, dia menemukan anaknya yang mulai berjalan keluar sendiri dengan tas gendongnya. Perasaan sedih karena tidak bisa mengantar-jemput sesuai janjinya itu membuat Amanda merasa bersalah.


Lalu, rasa bangga karena anaknya memakai seragam sekaligus membuat Amanda terharu. Ah, apakah Azka bahagia?


Tetapi di lihat dari raut wajahnya dari kejauhan anak itu, seperti tidak senang dan murung.


"Abang!" teriaknya.


Azka yang seperti sedang mencari seseorang itu mendongkak, bukan senyuman atau sapaan. Anak itu menangis sambil berlari ke arahnya.


"Bundaaaa!"


Amanda membawanya ke dalam pelukan. Mengusap kepala. "Abang kangen sama bunda?"


Azka mengangguk, memeluk leher sang bunda, seolah tidak mau lagi kehilangan. Dia mungkin kebingungan mengapa, bundanya itu tiba-tiba menghilang sementara ayah selalu bilang jika bunda sedang ke rumah nenek. Sejak lahir selalu bersama bunda, membuat Azka kesepian dan sedih. Tidak ada lagi yang membacakan dongeng saat tidur, tidak ada yang menemaninya bermain, tidak dan ada yang memeluknya sehangat ini. Ya, Azka merasa kehilangan sosok bundanya. Bunda selalu bertemu orang jahat, Azka takut mereka menculiknya. Tetapi, melihat bunda ada di depannya saat ini membuatnya menangis.


"Abang pengen ikut bunda aja."


Amanda membawa Azka ke sebuah kursi, mereka berdua duduk di sana. Bisa saja, Amanda sekarang mengambil kesempatan membawanya tetapi dari kejauhan mobil milik Kinan tengah mengawasinya. Mungkin, sudah diberitahu suaminya bahwa Amanda akan menemui Azka.


"Nanti bunda pasti bisa bawa abang, tapi nggak bisa sekarang," ucap Amanda, membuat Azka yang tangisannya sudah reda itu menatapnya bingung. Sebuah mobil-mobilan yang dibeli tadi membuat anak itu, berhenti menangis.


"Kenapa?" tanyanya terdengar tidak terima. "Abang itu anak bunda! Bunda ndak sayang lagi sama Abang?"


"Sayang, tapi-"


Azka melipat tangan di dada marah. "Bunda jahat!"


"Dengerin bunda," Amanda meminta pengertian anaknya. "Bunda sekarang kerja, buat menghasilan banyak uang. Abang mau beli mobil-mobilan atau apapun nanti bunda bakal kasih, gimana?"


"Ndak perlu, Abang kalau mau beli mainan banyak tinggal bilang sama ayah. Bunda ndak perlu kelja, kalau mau uang minta ayah aja!" balasnya. Amanda mengulum senyumnya, ternyata Azka sudah pintar membalas omongannya.

__ADS_1


"Pokoknya ada saatnya bunda bawa Abang pergi dari rumah itu. Abang harus sabar nunggu, janji?"


Azka menggelengkan kepalanya.


"Bunda sedih loh, kalau Abang nggak mau janji sama bunda," ucap Amanda pura-pura kecewa.


Suara tapak kaki membuat Amanda mengalihkan tatapannya. Ada Kinan dan Bi Inah yang berjalan ke arahnya. Istri kedua suaminya itu menatap Amanda penuh penilian. Untuk pertama kalinya mereka bertemu setelah Amanda pergi dari rumah itu. Tentu, Kinan tidak memakai topeng lagi. Sekarang dia bahkan menatap Amanda dengan senyum culasnya.


Amanda berdecak. Dasar bermuka dua!


"Abang, ikut sama Bi Inah sekarang. Abang harus istirahat," ucap Kinan lembut setelah berada di hadapan mereka. "Nanti ayah marah, kalau Abang masih di luar."


Azka menatap bundanya, seperti meminta pertolongan. Anak itu hanya ingin bersama ibunya.


Dengan terpaksa Amanda tersenyum. "Ikut ya sayang sama Bi Inah. Nanti kita ketemu di sini lagi, oke?" Tangan Amanda mendorong tubuh Azka agar berjalan menuju sisi Bi Inah.


Bi Inah menarik tangan Azka, Amanda hanya bisa menatapnya yang mulai menjauh. Tatapan sedihnya membuat hatinya seketika hancur. Ya, Tuhan kasian sekali Azka harus menderita karena permasalahan orangtuanya.


Kinan yang tidak ikut beranjak itu berdehem. Tangannya terlipat, gayanya sungguh bossy.


"Kamu tidak mau mengucapkan selamat pada Kinan?" tanyanya seraya tersenyum manis. Tetapi di mata Amanda perempuan itu sedang meledeknya. Tangan Kinan meraba perutnya. "Di sini ada calon anak, suami kita. Ups! Aku lupa kalian sebentar lagi akan bercerai."


Kinan mencekal tangan Amanda. "Kamu tau, saat Kinan mengabarkan tentang ini dia begitu bahagia. Katanya, setelah menunggu hampir lima tahun akhirnya dia punya penerus yang selama ini sangat dinantikan. Kinan berharap mirip dengan Kak Dipta. Kasian kalau nanti tidak mirip, dia pasti bertanya-tanya mengapa tidak mirip dengan ayahnya?"


"Maksud kamu apa?" Amanda merasa tersinggung. Dia pasti sedang menghina Amanda karena belum juga memberikan keturunan sekaligus menghina anaknya.


"Apa?" Kinan lagi-lagi menampilkan senyum meledek. "Kamu tersinggung?"


Amanda memalingkan wajahnya, berhadapan dengannya hanya akan emosi. Harus menjadi orang waras diantara mereka berdua.


"Selamat atas kehamilannya!" ucap Amanda dengan nada terpaksa. "Semoga anak itu nantinya bahagia dan tidak merasakan apa yang dirasakan Azka!"


Dengan kekesalan Amanda pergi dari hadapan Kinan, yang puas karena sudah membuat istri pertama suaminya itu kepanasan. Lalu berjalan ke arah mobil. Menatap Azka yang ternyata jika di teliti sangat mirip dengan Rendra. Azka adalah versi mini sepupunya.


Kinan mengambil ponselnya, lalu mem-foto Azka untuk mengirimkannya pada Rendra.


To: Rendra


Sepupu, kapan kamu akan mengambil anakmu ini? Dia tampan sekali bukan, seperti ayahnya.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, pagi-pagi Amanda sudah bersiap untuk bertemu ayah Arumi di Bandung. Mereka berdua sudah janjian untuk berangkat bersama-sama. Ia sudah bersiap dengan pakaian casualnya.


"Lo beli baju baru, Man?" Dara yang baru bangun dan hendak ke kamar mandi lalu menemukan sebuah baju mahal di keranjang cucian itu memilih untuk bertanya pada Amanda.


"Dari Mas Adit."


Dara melotot. "Jadi kemarin lo ketemu Adit? Jangan-jangan yang buat lo hilang dan menggalau dari semalam itu, dia juga! Kok, lo nggak cerita sama gue? Dia ngapain lo? Mukul? Cakar atau ngancem?" paniknya membuat Amanda memegang bahunya menenangkan.


"Nggak seperti yang kamu bayangkan, Dar."


"Terus kenapa lo dari kemarin kayak orang banyak beban pikiran?" paksa Dara agar sahabatnya itu bercerita.


Merasa tidak ada waktu itu sekaligus Amanda memang tidak mau menceritakan kalau dirinya berhubungan dengan suaminya lagi pada Dara. Amanda menggunakan Arumi yang sudah menunggu di depan sebagai alasan.


"Arumi udah nunggu di depan, nggak ada waktu lagi!" Amanda berjalan keluar rumah, membuat Dara berdecak sebal.


"Pulang dari Bandung, lo harus cerita semuanya!"


"Nggak janji!"


"Manda, ih!"


"Bye!" Amanda berpamitan pada Dara, dia harus berjalan dahulu sedikit dan menunggu Arumi di pinggir gang kontrakan.


Setelah menunggu beberapa menit, sebuah mobil berhenti tepat di sisinya. Muncul kepala Arumi dari kaca jendela seraya melambaikan tangannya.


"Hei, Amanda!"


Ingin membalas senyuman itu, tetapi bibirnya susah tertarik melihat siapa yang ada di kursi kemudi.


"Ini Rendra tunangan saya, kita sekalian ke Bandung karena dia juga lagi ada urusan ke sana! Ayo masuk!" titah Arumi, pelan-pelan Amanda masuk ke dalam mobil dengan hati tidak nyaman. Kenapa Arumi tidak bilang jika mereka akan berangkat bersama Rendra?


Bagaimana jika tiba-tiba Arumi tahu tentang masalalu keduanya? Apa Amanda akan langsung ditendang dari mobil ini?


Amanda melihat dari kaca, tatapan mereka bertemu membuatnya lantas memalingkan wajah. Suara Arumi yang mengoceh hanya masuk ke telinga kanan lalu keluar dari telinga kiri. Konsentrasinya buyar, Amanda hanya memikirkan cara agar bisa berbicara pada Rendra untuk tidak mengungkit masalalu mereka berdua apalagi di depan Arumi.


***

__ADS_1


__ADS_2