Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
42 : Rendra ditangkap polisi


__ADS_3

Rendra menghela napas lega saat melihat Amanda yang keluar dari sebuah ruangan, setelah berkeliling mencarinya. Kakinya melangkah cepat, laku menarik tangan perempuan itu. Amanda tidak boleh ada di sini, sebab kerabat-kerabat dari Kinan sudah mengetahui wajahnya, sebagai istri pertama Adit. Kabar itu cepat tersebar di lingkup keluarga besarnya. Rendra takut, Amanda malah mendapat gunjingan.


"Kenapa kamu di sini, Amanda?" tanyanya greget. "Aku sudah bilang tunggu saja di mobil."


Mereka berdua ber-iringan berjalan lewat pintu belakang di mana, hanya beberapa orang yang berlalu lalang.


"Kenapa ada Azka di sini?" tanya Amanda mempertanyakan rasa penasarannya.


"Yang meninggal adalah Om-ku sekaligus ayah dari Kinan," balas Rendra.


Amanda menutup mulutnya terkejut. "Jadi, Kinan itu sepupu kamu?" Padahal, dulu mereka menjalin hubungan dua tahun lebih tapi Amanda tidak pernah melihat keluarga Kinan dalam acara-acara yang pernah diikuti bersama keluarga besar Rendra.


"Kita harus pergi dari sini!"


Amanda menurut, mereka berdua berjalan cepat menuju parkiran mobil. Namun, beberapa polisi tiba-tiba muncul dari samping, mencegat mereka berdua. Terpaksa keduanya berhenti melangkah, tangan yang tadi saling bertaut itu terlepas. Amanda mundur, merasa bingung.


"Saudara Rendra Rahardian Hutama?" ucap salah satu polisi. "Anda kami tangkap karena terlibat kasus pembunuhan berencana."


"Pak-"


Belum sempat Rendra menyanggah, lelaki itu sudah di borgol. "Anda bisa memberi penjelasan nanti di kantor."


Dari arah lain, datang mama Rendra yang panik. Wanita itu meminta pada polisi untuk melepaskan sang anak.


"Lepaskan anakku! Dia tidak mungkin melakukannya! Yah, kita harus menyelamatkan Rendra. Dia tidak bersalah! Kalian semua jangan diam saja, anakku tidak bersalah!" teriak mama Rendra kalut, tangisannya pecah melihat polisi mulai membawa anaknya hendak masuk ke dalam mobil polisi. Raungan seorang ibu yang tidak terima anaknya disalahkan, membuat beberapa orang berdatangan hingga mereka menjadi pusat perhatian.


"Rasya, cepat hentikan polisi itu, kakakmu tidak bersalah!" terlihat dia meminta bantuan pada anak bungsunya yang terdiam tidak bisa berbuat apapun. "Rasya, ayo bantu mama! Hiks! Tolong jangan bawa anakku! Hiks!"


"Saya ingin berbicara dulu pada Mama, sebentar saja," mohon Rendra yang tidak tega melihat mamanya menangis. Polisi itu mengangguk mengizinkan.


Rendra berjalan ke arahnya lalu memeluk menenangkan, dia berbisik. "Rendra janji besok sudah ada di rumah. Sekarang Mama harus mengantarkan Om Kiki ke tempat peristirahatan terakhirnya, Rendra titip salam dan mohon maaf karena tidak bisa mengantar. Jangan menangis, percayakan semuanya pada Rendra, Ma." Lalu menatap sang adik. "Jaga Mama, Sya!"


Setelah mengatakan itu Rendra menjauh, lalu sempat melihat ke arah Amanda yang menatapnya bingung. Dia pasti belum mengerti apa yang terjadi, padahal Rendra hendak memberitahunya. Ia hanya berharap, Amanda bisa pulang sendiri ke Jakarta tanpa diketahui oleh Adit.


Mobil polisi meninggalkan parkiran luas milik ayah Kinan itu. Amanda tersadar, dia sudah kehilangan Rendra. Pikirannya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Meski begitu, dia mulai menjauh dari kerumunan. Sesuai apa yang diperintahkan Rendra, dia harus pergi dari tempat ini.

__ADS_1


Sialnya, saat ingin mencapai pintu gerbang yang dijaga ketat oleh satpam, Amanda kebingungan dan hanya bisa bersembunyi di pohon besar dekat pos satpam. Jika dia tetap ke sana pasti akan ditanyai apalagi dengan penampilannya sekarang. Amanda menghela napas, memikirkan sesuatu.


"Heh! Kamu siapa?"


Belum menemukan cara, salah satu satpam sudah menyadari keberadaanya. Amanda tersenyum pada mereka, sebisa mungkin tidak bertindak mencurigakan.


"Bapak tau, Pak Radit Pradipta?"


"Pak Dipta?"


"Nah, itu!" ucap Amanda. "Saya pembantunya, dia punya anak yang umurnya lima tahun. Saya disuruh keluar buat beli susu, karena istrinya lupa bawa susu."


Satpam berkumis itu menatap tajam Amanda, menilai penampilannya. Lalu dia mengangguk. "Oh, pembantu, pantas saja."


Amanda mempertahankan keramahannya, padahal ingin sekali mencakar wajahnya. Maksudnya dari ucapannya itu apa coba?


"Beri dia akses keluar, cuman pembantu!" suruh satpam menyebalkan itu pada temannya yang berjaga di gerbang.


Amanda menghela napas lega, saat sudah di luar lantas ia buru-buru berlari. Meskipun berasal dari Bandung, Amanda tidak tahu ini di daerah mana. Tangannya merogoh saku celana, sial ponsel, dompet dan segala *****-bengeknya berada di mobil Rendra. Bagaimana ini? Amanda belum siap menajdi gembel. Pikirannya terlalu overthinking. Tidak mungkin, Amanda balik lagi ke rumah itu kan? Sementara untuk keluar saja dia harus mengaku-ngaku menjadi pembantu suaminya.


Ia pun memberanikan diri untuk meminjam ponsel tetapi sebuah mobil berhenti di depannya. Amanda hendak lari, melihat siapa yang keluar dari mobil itu.


"Hai, sayang? Udah nunggu lama?"


Amanda mengigit bibirnya, melangkah mundur. Lelaki itu dengan cepat mendekat padanya. Lalu mencengkram erat tangannya.


"Jelaskan padaku, kenapa kamu datang bersama Rendra!" bisik Adit, yang diliputi rasa amarah serta cemburu.


Tangannya mendorong Amanda masuk ke dalam mobil. Mobil itu pun melaju dengan kecepatan kencang membuat Amanda tersentak kaget, sempat melirik Adit tatapannya tajam serta rahangnya mengeras. Ya, Amanda merasa terancam, dia belum pernah menghadapi Adit yang semarah ini padanya.


****


"Kamu di mana, Kak?"


Suara Kinan itu bersumber dari telepon yang dipegang Adit. "Maaf Kinan, ada beberapa masalah yang harus saya urus di club. Tapi saya akan menyelesaikannya dengan cepat dan segera menemuimu."

__ADS_1


"Kamu masih memikirkan pekerjaan di saat aku sedang berduka? Kamu bener-bener, ya, Kak! Kalau begitu, nggak perlu datang, urusan saja pekerjaanmu!"


Tut.


Sambungan di tutup secara sepihak, lalu dengan santainya Adit menyimpan ponsel itu di meja. Tangannya memeluk Amanda yang berbaring ditutup selimut tanpa busana.


"Kenapa harus bersama Rendra?" tanyanya berbisik di telinga Amanda dengan suara seraknya, membuatnya bulu-kuduknya merinding. "Kalian, berhubungan di belakangku?"


Amanda menelan ludahnya, takut. Dia masih tidak menyangka, jika suaminya itu akan menyetubuh*nya secara paksa. Bahkan, dia sudah berani melakukan kekerasan karena Amanda menolaknya. Sungguh bukan hanya tubuhnya yang terasa sakit, tetapi hatinya juga. Adit yang dikenalnya adalah lelaki baik hati penuh ketulusan, bukan lelaki brutal yang menggunakan kekerasan.


Ditambah, percakapan bersama Kinan, membuatnya merasa jika dia bukan Adit, tetapi orang lain yang menggunakan tubuh suaminya, sangat tidak punya hati nurani.


Adit lagi-lagi membawanya ke sebuah hotel, kali berbeda karena lelaki itu datang dengan kemarahannya.


"Jawab!" ucap Adit sambil mencengkram leher Amanda, lelaki itu masih membutuhkan jawaban.


"Mas, a!" Amanda menatap suaminya, merasa stok napasnya mulai habis. Menatap Adit dengan mata memerah, berharap dikasihani. "Le..pa..s," ucapnya susah payah.


Semarah apapun Adit, dia tidak mungkin membunuh istrinya. Tangannya terlepas, sontak membuat Amanda langsung terbatuk. Mereka berhadapan, Adit mengambil napas mencoba menenangkan diri.


Amanda mengelus wajah suaminya dengan gemetar. "Aku nggak punya hubungan apapun dengan Rendra, kami hanya bertemu secara nggak sengaja ..." Amanda menjelaskan semua tentang Arumi, termasuk cita-citanya menjadi seorang pelukis. "Seharusnya, kamu nggak melakukan hal ini sama aku. Kamu bukan tipe orang yang memaksakan kehendak, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu berubah?" Amanda tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.


"Maaf," ucap Adit yang mungkin sepenuhnya sudah menyadari kesalahannya. Lelaki itu mengusap bekas tamparan yang tadi dilayangkan olehnya. Salah satu pipinya memerah, dan itu pasti sakit. "Maafin, aku Amanda. Argh! Aku terlalu marah karena menemukan tas, ponsel bahkan album foto miliki kamu di mobil Rendra."


Adit memeluk Amanda, mengusap rambutnya dan tidak henti mencium puncak kepalanya, rasa penyesalan menyergap. "Maaf, Amanda."


"Sekarang, kamu sebaiknya menemui Kinan. Dia pasti membutuhkan kamu di saat-saat masa terberatnya," saran Amanda pada Adit, hati nuraninya bekerja. Suaminya itu harus bersama Kinan. Kinan pasti butuh penopang saat seseorang yang sangat dicintainya itu meninggal.


Adit menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin bersama kamu di sini."


"Mas, aku mohon jangan berperilaku seperti orang tidak punya hati nurani, aku takut," paksa Amanda. "Nanti malah menjadi sebuah karma."


"Oke!" Adit mengangguk. "Tapi kamu harus tetap di sini, jangan kabur! Besok aku bakal menemui kamu dan pulang bersama ke Jakarta."


"Iya, aku janji," balas Amanda menyetujui. Ya, bukan hanya karena Kinan, tetapi di rumah itu ada Azka. Ia sangat khawatir dengannya, pasti tidak nyaman bersama orang asing. Sementara, yang dekat dengan Azka, hanya kedua orangtuanya.

__ADS_1


***


__ADS_2