
Amanda merasakan gerakan, membuka matanya melihat Adit yang keluar dari kamar mereka. Dari siang dia mencari ke segala penjuru apartemen untuk mencari kertas itu, tetapi tidak menemukannya. Ia jadi ingat kebiasaan Adit yang selama bermalam bersamanya selalu bangun tengah malam. Biasanya hanya dianggap bagai angin lalu. Sekarang tidak ada salahnya Amanda mengamati, berharap menemukan petunjuk.
Tanpa menghidupkan lampu, Amanda menginjak lantai dengan hati-hati mengikuti Adit dari belakang. Langkahnya terhenti di pintu dan melihat suaminya itu masuk ke dalam gudang. Tempat yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya. Amanda ingat, bahwa kuncinya selalu dipegang oleh Adit.
Buru-buru Amanda kembali ke kasur, menunggu suaminya kembali dan melihat di mana dia menyimpan kunci itu. Setengah jam berlalu, Amanda masih bertahan meskipun rasa kantuk mulai menyergap.
Suara langkah kaki membuatnya lantas pura-pura tertidur, dalam keremangan ia bisa melihat siluet Adit yang menyimpan sesuatu ke laci meja. Amanda yakin itu adalah kunci gudang. Kegugupan menderanya, karena Adit mendekatkan diri lalu memeluknya.
Suaminya mulai bersuara.
"Amanda, apa kamu membenciku. Aku harap kamu mengerti, kenapa aku melakukan hal ini. Hidup selalu direndahkan itu nggak menyenangkan. Kamu harus tau, bagaimana mereka mengolok-ngolok keluargaku karena berasal dari keluarga miskin. Hinaan cacian itu, bertumpuk dalam hatiku. Ambisiku adalah, mendapatkan uang yang banyak dengan cara apapun. Aku tak mau sampai anak-anak kita, akan merasakan hal yang sama seperti ayahnya. Jangan berpura-pura aku tau kamu belum tidur." Adit menyadari jika istrinya itu terbangun. Amanda mengakali dengan menggeliat, mengatur posisi membelakangi Adit.
"Karena kamu belum tidur, aku akan bercerita tentang cinta pertamaku dulu, apa kamu siap mendengarnya?" lanjutnya, senyumannya terbit. "Aku jatuh cinta pada gadis cantik yang berumur sekitar 12 tahun, sementara umurku saat itu 18 tahun. Gadis yang selalu memakai jepit biru dan rambut terurai, aku masih sangat mengingat pertemuan pertama kami, dia membantuku saat dibully oleh teman-teman. Aku sangat kagum padanya, bisa-bisanya gadis itu berani melawan teman-temanku yang jauh lebih tua darinya, hanya dengan mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang tentara."
Amanda merasa dejavu, sekilas kenangan itu berkeliaran di otaknya.
"Kami sempat berteman, tetapi gadis itu tiba-tiba menghilang. Aku selalu menunggunya bertahun-tahun di tempat pertama kami bertemu, sebuah taman. Hingga, suatu kebetulan aku melamar kerja di sebuah sekolah dengan menjadi staf TU. Aku menemukannya lagi. Namun, sungguh disayangkan gadis itu sudah berubah menjadi remaja bahkan seolah tak mengenaliku dan memiliki seorang pacar. Aku merasa sakit hati dan itulah pertama kalinya aku sangat berambisi, untuk memiliki dia lagi. Walaupun, semua orang menjuluki Om-om. Aku tetap mencoba mendekatinya, tetapi ternyata dia sangat risih dan membenciku. Lagi-lagi aku mendapati hinaan dari banyak orang, karena terlahir menjadi orang miskin. Katanya aku tidak bisa bersanding dengan seorang Putri Salju."
Napas Amanda mulai memburu. Ia mulai mengerti, Adit sedang menceritakan kisah mereka berdua.
"Namun, kamu harus tau pada akhirnya cinta tau kemana hatinya akan berlabuh. Aku tetap menerima sepenuh hati, ketika dia ingin kembali dan mencoba menjadikannya seorang ratu. Kamu ingat kan, Amanda?" tanya Adit, satu tangannya mengusap rambut Amanda. Dia rasa harus sering-sering mengingatkan Amanda tentang masalalu, agar perempuan itu sadar bahwa tidak ada yang se-baik Adit, bahkan saat keluarganya membuangnya.
"Aku nggak meminta apapun untuk balas budi, tapi kamu harus sadar aku sangat mencintai kamu lebih dari apapun," lanjutnya, napasnya mulai teratur dan lelaki itu terlelap ke dalam mimpinya.
__ADS_1
Tubuhnya gemetar, entah mengapa Amanda merasa itu adalah sebuah peringatan.Tentu saja, Amanda tidak akan lupa tentang itu. Ternyata dia salah, bukan Adit yang berubah, lelaki itu sedang mengeluarkan sifat aslinya.
***
Keesokan harinya, Amanda pagi-pagi sudah bangun menyiapkan sarapan seperti biasanya untuk suami, walau hanya roti. Adit tetap memakannya dengan lahap. Lelaki itu sudah pergi sepuluh menit lalu. Amanda merasa seperti seorang sandera yang segala kegiatan di rumah diawasi lewat cctv, jadi tidak mudah untuk membuka gudang meski kini kuncinya sudah ada di tangannya.
Amanda duduk di sofa, matanya mungkin ke televisi tetapi otaknya berpikir mencari cara. Matanya melihat cctv di ujung sana, bagaimana kalau dirinya membersihkan segala penjuru ruangan, termasuk gudang. Adit mungkin tidak akan mencurigainya.
Tidak pikir panjang, Amanda mengambil alat seperti sapu, pel-an dan lain sebagainya. Di mulai dari kamar, kamar tamu, kamar mandi hingga saatnya dirinya membersihkan gudang.
Amanda memegang pegangan pintu.
Ceklek!
Pintu itu terbuka, matanya tidak menemukan apapun selain barang-barang penuh debu. Jadi, apa yang dilakukan suaminya di sini?
Amanda melangkah membuka lemari, tetapi tidak menemukan apapun. Sepertinya ini punya pemilik sebelumnya, sayang sekali mereka meninggalkan barang-barang yang padahal masih bisa dipakai.
Tangannya menyapu sarang laba-laba, lalu menarik kain yang menghalangi papan itu, dia penasaran apakah itu lukisan atau hanya papan biasa? Matanya terbelalak, kakinya mundur beberapa langkah. Tidak bisa dipercaya. Sekujur tubuhnya merinding melihat apa isi yang tertulis di sana.
Amanda menjatuhkan dirinya di lantai. Apakah Adit benar-benar membunuh ayahnya Kinan? Mungkinkah yang dilakukannya di sini adalah untuk merencanakan kejahatannya?
Di depannya terpampang nyata, lelaki itu memberinya judul. Target . Foto pertama ada ayah Kinan yang sudah di silang, kedua foto ibunya Kinan, ketiga ada Rendra. Bahkan, Amanda melihat foto Kinan juga ada di sana.
__ADS_1
Adit sudah gila, bagaimana Amanda tidak sadar sudah hidup lima tahun bersama seorang psikopat? Tangannya gemetar mengambil ponsel, lalu mengabadikannya. Amanda harus memberitahu Rendra tentang ini.
Ting!
Suara bel itu membuat ponselnya terjatuh, Amanda sangat panik, buru-buru dia berdiri lalu mengambil kain untuk menutupi itu. Keluar dengan sikap tenang dan mengunci kembali ruangan itu meskipun hatinya sangat ketakutan.
Amanda membuka pintu, kelegaan tercetak di wajahnya ternyata bukan Rendra melainkan tetangga samping yang sering memberinya makanan. Setelah mengambilnya dan berterima kasih, Amanda duduk di sofa menenangkan diri.
Lagi-lagi suara membuatnya terkejut, kali ini dari ponselnya. Nama Adit tertampil di sana.
"Untuk apa kamu ke gudang?' tanya lelaki itu tanpa basa-basi.
"Oh, itu aku hanya sedang beres-beres, Mas. Tapi karena tadi banyak tikus, aku jadi keluar lagi. Kayaknya kita harus sewa orang buat bersihin gudang kotor banget!" balas Amanda mencoba tidak gugup. "Kenapa emang? Kamu terdengar khawatir?"
"Nggak apa-apa, lain kali jangan masuk ke gudang tanpa seizinku."
"Tenang aja itu untuk terakhir kalinya, kok. Takut digigit tikus, hehe."
"Aku tutup teleponnya."
"Oke."
Amanda mengotak-atik ponselnya, memutuskan untuk mengirim foto itu lewat email pada Rendra. Setelah yakin terkirim, dia menghapus akun agar Adit tidak mengetahuinya. Ia memberi subjek:
__ADS_1
Aku belum menemukan kertas itu, tapi kamu harus hati-hati. Adit mungkin sedang merencanakan sesuatu. Jangan pernah balas pesannya, akan aku hubungi nanti.
***