
Tangannya memegang ponsel, seolah menyentuh sosok perempuan yang berada di dalam layar. Adit sedang mengawasi istrinya dari cctv yang sudah tersambung dengan ponselnya. Disela-sela bekerja, dia akan menontoni setiap pergerakan istri pertamanya.
Ketakutan untuk kehilangan semakin besar, melihat Amanda yang mungkin mulai hilang kepercayaan karena dia menikah lagi dengan Kinan. Perempuan itu bisa saja lari dan meninggalkannya. Tentu, sebelum itu terjadi Adit harus mengendalikannya.
Adit menyesap rokok yang ada di tangannya, tiba-tiba melirik foto Kinan dan dirinya saat menikah yang sengaja di pajang di meja kerja, tangannya menyingkirkan pigura itu. Kinan hanya wanita malang, yang Adit pilih untuk mewujudkan ambisinya mendapatkan kekayaan.
Pintu diketuk dari luar, Adit menutup ponselnya lalu mempersilahkan seseorang itu untuk masuk.
"Ada apa, Pak?"
Perempuan yang biasanya berpenampilan sexy itu tampak rapi dengan kemeja, rok serta jas yang melekat di tubuhnya. Merasa tidak percaya, impiannya terwujud menjadi seorang wanita karir. Ia akan lebih mudah menggaet para lelaki kaya dengan jabatannya kini, sebagai sekretaris. Tetapi itu hanya label namanya karena tugas utamanya adalah menjadi penguntit.
"Bagaimana, apa ada masalah?" tanya Adit sambil tersenyum penuh arti.
"Amanda tidak menghubungi saya lagi dan soal Kinan, saya tidak mendapatinya bertemu dengan lelaki lain," balasnya. "Saya pikir, Pak Adit salah paham. Kinan tidak ada tanda-tamda berselingkuh. Tapi beberapa hari lalu, saat GPS Amanda mati dan Bapak sibuk meeting. Saya menelusuri, ternyata dia bertemu Rendra di makam Aksa. Saya tidak tau itu kebetulan atau memang mereka berencana bertemu."
"Kenapa kamu baru memberitahu saya soal ini?" Adit tampak marah.
"Saya baru mendapatkan hasilnya kemarin dan berniat memberitahunya sekarang," balasnya sambil menunduk takut.
Giginya bergemelutuk, Adit sangat yakin mereka berencana bertemu. Sejak kapan, Rendra tahu keberadaan Aksa? Apa istrinya itu sudah menceritakan semuanya?
Adit menghela napas, jangan sampai mood-nya hancur gara-gara ini. Sekarang dia hanya perlu mengawasi Amanda semakin ketat, jika perlu dirinya akan merebut ponselnya. Amanda tidak akan bisa mengubungi siapapun.
"Silahkan kembali bekerja," suruhnya pada perempuan itu, membuatnya lantas melangkah meninggalkan ruangan. "Terus awasi, Amanda dan Kinan. Jangan sampai melakukan kesalahan. Jika itu terjadi, kamu tau konsekuensinya kan?"
Adit kembali mengambil membuka ponselnya, matanya menyerngit melihat Amanda yang tadi berada di kamar kini sudah tidak ada di sana. Tangannya memencet satu persatu ruangan, mencari keberadaan istrinya. Senyum muaknya tampil, melihat Amanda untuk kedua kalinya keluar dari gudang. Jadi alasan kemarin hendak membersihkan ruangan itu adalah kebohongan? Adit mengepalkan tangannya, sepertinya Amanda sedang mencoba menguji kesabarannya.
Ia mengambil kunci mobil di dalam laci, memakai jasnya dengan rahang mengeras dia keluar dari ruangannya, mengabaikan beberapa pertanyaan dari sekretaris yang memberitahu jika atasannya itu tidak boleh pergi, karena ada meeting bersama petinggi tiga puluh menit lagi.
__ADS_1
Seolah tuli, Adit tidak peduli. Dia harus menemui Amanda sekarang dan mungkin memberinya sedikit peringatan.
***
Amanda merasakan tubuhnya gemetar dan mencoba untuk rileks. Ia berharap masuk ke gudang untuk kedua kalinya itu tidak menjadi bumerang. Di matanya masih terngiang, dia berhasil membuka brangkas dengan menggunakan sandi, ulang tahun pernikahan mereka berdua.
Amanda menemukan beberapa surat-surat aset berharga atas nama dirinya, bahkan Amanda menemukan banyak uang di dalam sana. Ia hanya mencoba berpikir jernih, apa yang membuat suaminya itu begitu mencintainya, sampai rela memberinya banyak harta. Amanda tidak bahagia, justru dia ketakutan sekarang. Ia yakin, di masa depan semuanya yang di awali dengan kejahatan tidak akan berjalan mulus seperti yang dipikirkan oleh suaminya itu.
Tit. Tit. Tit. Tit.
Suara dari luar membuat Amanda semakin tidak tenang. Apa Adit mengetahuinya?
Amanda menyambutnya dengan senyuman paling lebar. Benar saja itu suaminya. Tangannya bergelayut di lengan Adit.
"Kenapa, jam segini kok sudah pulang?"
"Sekarang apa alasanmu, Amanda?" tanyanya dengan tatapan dingin. Tangan Adit beralih mencengkram lengannya erat, hingga Amanda mengeluh kesakitan.
"Jangan menyepelekanku, aku memang mencintaimu tapi bukan berarti tak bisa menyakitimu!"
Amanda di dorong ke kursi. Adit berjongkok, kali ini menarik rambut Amanda sampai kepalanya mendongkak ke atas. Bibir Amanda gemetar ketakutan. Sepertinya dia ketahuan.
"Katakan, apa yang kamu liat di gudang?"
"Aku nggak melihat apapun, Mas!"
"BOHONG!"
Plak!
__ADS_1
Plak!
Adit menampar Amanda, matanya memerah. "Jika kamu berani melangkah dan merencanakan sesuatu, aku tak akan segan menambahkan fotomu dalam daftar itu bersama Kinan dan Rendra! Jelas aku tau kamu tak mau itu terjadi. Pikirkanlah Azka, setiap apa yang mau kamu lakukan! Salah langkah, kamu akan kehilangan Azka!" ancamnya.
"Kamu nggak benar-benar menyayangi Azka?" Amanda mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Ya! Bukankah, kamu seharusnya sudah bisa menebak." Senyuman Adit begitu mengerikan. "Aku menerimanya karena dia anakmu, Amanda, murni karena itu."
"Mas!"
Amanda menatapnya tidak percaya, dan menahan jeritannya, saat Adit mulai melahap bibirnya dengan kasar, bahkan mengigitnya hingga mengeluarkan darah. Untuk kedua kalinya, Amanda hampir disetubuhi secara paksa, membuatnya semakin muak dan merasa terhina.
Ketika Adit sibuk menikmati tubuhnya, satu tangannya mengambil sebuah gunting yang berada meja, meski sedikit kesusahan karena jarak. Sekuat tenaga Amanda mengambilnya, hingga benda itu berada di tangannya.
Perlahan Amanda mengarahkannya pada punggung Adit yang belum menyadarinya. Hatinya ketakutan, tetapi dia harus tega. Adit sudah menyakiti.
Srek!
Gunting itu mengenai lengannya, Adit berhenti. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan apapun, lelaki itu mengambil gunting yang terjatuh ke lantai.
Amanda memanfaatkan waktu ini untuk kabur, dia beralih ke pintu tetapi entah kenapa tidak bisa dibuka, membuatnya semakin panik. Apalagi, suara langkah itu mulai mendekat.
Jeritan kesal keluar, Amanda terkurung. Adit lebih pintar darinya, lelaki itu pasti punya seribu cara agar dirinya tidak berhasil lolos.
Adit menarik tangan Amanda, kali ini lebih kasar menyeretnya ke dalam kamar. Amarahnya sudah tidak bisa diredam oleh apapun, karena dia sekarang sudah benar-benar marah. Amanda menjerit berharap ada seseorang yang membantunya agar lepas dari Adit. Satu yang terlintas dari pikirannya adalah Azka. Jika, hidup Amanda akan berakhir saat ini. Ia hanya berharap Azka bisa bertemu Rendra.
Lelaki itu kembali menyiksanya di dalam kamar, tidak memberi ampun.
Di sisi lain, ada Azka yang masih terbaring sakit di kamarnya. Anak itu terus menangis, seolah merasakan batin dengan sang ibu yang tengah disakiti oleh lelaki jahat. Bahkan, Kinan yang berada di sampingnya itu tidak bisa meredakan tangisannya meskipun banyak cara yang dilakukan agar Azka mau berhenti. Entah, mengapa Kinan merasa ada sesuatu yang dikhawatirkan Azka. Dia ingin bertemu bundanya. Tapi, Kinan tidak kuasa untuk mewujudkannya. Semua ada dalam kendali suaminya.
__ADS_1
***