
"Rendra."
Dengan pakaian serba hitam, Amanda menghampiri lelaki yang keluar dari mobil, masih ada sisa-sisa luka yang berada di wajahnya bekas dua hari lalu karena suaminya. Ia jamin ini menjadi hari terakhirnya dia bertemu Rendra tanpa sepengetahuan Adit.
"Kenapa kita bertemu di sini?" tanya Adit kebingungan, karena Amanda meminta mereka bertemu di sebuah komplek pemakaman.
"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan," ucap Amanda datar.
Rendra berjalan mengikuti Amanda, yang melangkah menuju sebuah makan berukuran kecil. Perempuan itu berjongkok lalu mengusap batu nisan. Aksara Putri Rendra. Tanggal lahirnya sama dengan Azka.
"Hai Adek, liat bunda bawa siapa?" katanya dengan tatapan kasih sayang. "Akhirnya, kalian bertemu juga."
"Maafin bunda ya, baru menjenguk sekarang."
"Ren, kamu nggak mau nyapa Aksa?" tanya Amanda melihat lelaki itu yang hanya diam dengan tatapan sulit diartikan, entah otaknya sedang memikirkan apa, yang jelas Amanda bisa melihat matanya mulai berkaca-kaca.
"Kata orang, cinta pertama anak perempuan itu adalah ayahnya, jadi aku memberinya nama Aksara Putri Rendra. Walau sempat debat dengan Adit, kenapa harus ada nama kamu di belakangnya. Aku pikir, meskipun kebencian itu nggak akan pernah hilang, kamu punya peran dalam kehadiran Azka dan Aksa. Kamu berhak mendapatkan itu," ucap dengan nada menahan tangis. Tidak ada yang lebih menyedihkan selain kepergian orang yang dicintai, bukan?
"Aksa nggak seberuntung Azka, dia hanya punya waktu beberapa jam untuk melihat dunia. Takdir kehidupannya hanya sebentar, tetapi serasa membuat kehidupanku kembali terenggut untuk kedua kalinya. Mungkinkah, jika dari awal aku tahu keberadaannya dia akan hidup bersama Azka sekarang?"
Entah, Amanda bertanya pada siapa. Tangannya menyusut air matanya. Lalu menatap Rendra. "Nggak seharusnya aku nangis, Aksa pasti ikut sedih."
Penyesalan memang selalu datang di akhir. Ia ingat sekali, karena kurangnya memeriksakan diri ke dokter, ia mengalami hidden twins, di mana salah satu bayinya tidak terdeteksi saat USG. Bahkan, setelah kelahirannya pun Aksa harus di bawa ke NICU karena kondisinya tidak sebaik kembarannya.
"Amanda, ak-"
__ADS_1
"Jangan minta maaf, Ren, percuma. Aku nggak bakal maafin kamu."
"Lalu aku harus apa, Amanda?" tanyanya prustasi. Rendra lagi-lagi terkejut dengan fakta bahwa bukan hanya Azka, tetapi ada satu putri yang dilahirkan Amanda. Dia kebingungan, bagaimana cara menebus kesalahannya pada Amanda dan anak-anaknya.
"Hiduplah dalam rasa bersalah itu, mungkin kita impas. Satu lagi, aku memberikan Aksa untuk kamu, jadi tolong biarkan aku dan Adit bersama Azka. Jangan pernah menganggu kehidupannya ataupun menampakkan diri. Ini satu-satunya, jalan untuk kebahagiaan Azka. Jangan egois, Ren. Azka hanya tau dia punya satu ayah, jangan buat dia kebingungan lalu ketika dewasa mengorek masalalu tentang kelahirannya."
"Karena yang aku takutkan adalah ketika dia mulai mencari ayah kandungnya. Aku nggak mau sampai kehilangan untuk ketiga kalinya," ucap Amanda, dia hanya berharap Rendra berhenti dan sadar diri. "Kita sudahi sampai di sini. Bisa? Bilang pada orangtuamu, jangan ganggu keluarga kecilku lagi."
Rendra menghela napas sesak, tidak mudah menjadi Amanda. Tapi, apa tidak ada kesempatan sedikitpun untuk dirinya menebus kesalahan melalui Azka?
"Oke." Setelah berpikir, ini mungkin bisa jadi yang terbaik. "Aku akan menuruti permintaan kamu, tapi..."
"Jika suami kamu tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk Azka. Izinkan aku merebut kembali posisinya."
Amanda menatap tidak percaya. "Kamu benar-benar nggak tahu malu, Rendra. Tapi, bisa aku jamin, kamu tidak akan bisa merebut posisinya karena dari awal Adit adalah ayah Azka, sampai kapanpun tidak akan terganti." Setelah mengucapkan itu, Amanda kembali menatap makan mendiang putrinya.
Amanda sempat menoleh, matanya mendapati Rendra yang sudah meluruh ke tanah seraya menciumi batu nisan putrinya, lelaki itu menangis. Bohong jika, Amanda tidak melihat ketulusannya. Hatinya menyadarinya, tetapi semua itu tidak berguna karena dia harus mendapat impasnya.
****
Di dalam angkot yang ditumpanginya Amanda masih dalam suasana kesedihan, entahlah setiap kali dia berkunjung ke makan putrinya selalu berakhir berandai-andai. Mungkin saja, jika Aksa masih hidup keluarga mereka lengkap apalagi Adit ingin sekali memiliki anak perempuan. Kebahagiaanya akan bertambah dua kali lipat. Maka dari itu, Amanda sebenarnya menghindari semua tentang Aksa. Bahkan, Adit melarang Amanda untuk mengunjunginya karena hanya akan membuat penyesalan dan kesedihan yang tidak berujung.
Ponselnya berdering, Amanda kira dari suaminya yang memang masih belum bisa ditemui sejak kejadian dua hari lalu, katanya sudah pergi ke Bandung untuk bekerja. Tetap saja, hal itu membuatnya khawatir masalah mereka belum selesai bahkan permintaan maafnya belum diterima. Mana bisa tenang dirinya.
Kembali pada ponselnya, ternyata isi DM dari salah satu pengikutnya di media sosialnya. Amanda membukanya pesannya.
__ADS_1
@Rapunzel : Hai, apakah ini Kak Amanda? Kenalin, saya yang kemarin beli lukisan kakak! Baru tadi datang lukisannya! Wow, amazing! Bisa nggak kita ketemu untuk urusan bisnis? Kebetulan, ayah saya pemilik pameran, siapa tau kakak tertarik untuk ikut?
@Amandatitania: Hai juga. Wah, kayaknya menarik tapi nanti saya pertimbangkan dulu.
@Rapuzel: Baik kak, saya tunggu yaa balasannya. Terimakasih.
Amanda memasukan ponselnya, setelah membalas pesan itu. Ini kabar baik, tapi kenapa perasaannya malah biasa saja?
Entahlah, mungkin untuk saat ini sampai suasana hatinya membaik Amanda tidak akan memikirkan tentang ini dulu.
Ah, tentang Azka. Dia sampai lupa satu hal, jika anak lelakinya itu meminta untuk dibelikan makanan, pisang keju yang berada di pasar tempatnya sering berbelanja.
Amanda meminta pada supir angkot untuk berhenti, setelah memberi ongkos dia berjalan masuk ke area pasar dan mulai hilang di kerumunan orang-orang yang juga sibuk berbelanja.
****
Di satu kamar mewah, ditemani dengan suara hujan dari luar jendela, lelaki dan wanita itu menghabiskan waktu mereka di ranjang. Bukan rasa dingin yang menyelimuti tetapi rasa hangat, hampir sekitar satu jam keduanya bergelut dalam gairah hebat.
Mula-mula lelaki hanya mengecup bibir lalu beralih ke area lain seraya meremas sesuatu dengan kuat, semakin dalam semakin sering lenguhan itu terdengar. Hingga tanpa disadari pakaian wanita sudah terlepas sepenuhnya.
Mata mereka bertemu pandang, penuh hasrat. Kedua tangan putihnya, melingkar ke leher si lelaki, seperti kode agar dia harus cepat-cepat menuntaskannya. Tentu, lelaki itu langsung bergerak cepat di atasnya.
"Kak!" suara tertahan dari wanita itu seraya mencengkram punggung lelakinya, disusul lenguhan lega dan senyuman puas. "Ah."
Lelaki itu berbaring di sampingnya, matanya terpejam kelelahan. Dia sudah mendapat apa yang diinginkannya, tetapi lain dengan perempuan tangannya masih mencoba untuk menggoda, tapi merasa hasilnya sia-sia. Dia hanya bisa memeluknya dari samping seraya tangannya bergerak di dada bidangnya.
__ADS_1
Hanya menunggu beberapa menit, dia mengikuti lelakinya ke alam mimpi.
**