Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
44 : Azka sakit


__ADS_3

Amanda turun dari sebuah taksi dan melihat di kejauhan ada Rendra. Lelaki itu sedang tertunduk di makam Aksa. Dulu Amanda memintanya untuk menjauh dari kehidupannya dan sekarang meminta bantuannya di tempat yang sama. Benar kata, Rendra ia harus menurunkan gengsinya demi kehidupan Azka.


Sebelum melangkah ke tempat itu, Amanda mematikan ponselnya agar Adit tidak bisa mengakses GPS-nya. Ia tahu, meskipun lelaki itu bekerja dia pasti mengawasinya apalagi ini kali pertama Amanda diperbolehkan keluar.


"Hai, Rendra."


Lelaki yang rapih dengan jas itu, mengusap sudut matanya. Apa dia menangis?


Ah, terakhir bertemu dengannya, ketika Rendra di bawa oleh polisi. Ada yang berbeda, dia tampak lebih tirus


Amanda menggelengkan kepalanya, kenapa dirinya jadi mengamati Rendra?


"Aku nggak tau kita harus ketemu di mana, tapi pikiranku malah mengarah ke rumah Aksa," tunjuknya, Amanda jongkok. Tangannya menabur bunga, sementara Rendra juga ikut jongkok di samping Amanda.


"Maaf, gara-gara aku kamu ketahuan dan hampir di penjara." Ingatnya, pada kejadian beberapa minggu lalu saat berada di Bandung. "Dan, makasih karena kamu masih memikirkan aku. Padahal, waktu itu kamu bisa aja langsung kabur."


"Kenapa aku merasa senang?" tanya Rendra heran, kebahagiaan itu bergejolak di hatinya. "Nggak bisa dipercaya kamu minta maaf dan berterimakasih. Seorang Amanda yang aku kenal belakang ini kan selalu menatapku tajam, terus selalu bilang 'ingat Rendra, aku nggak akan maafin kamu'," lanjutnya diakhir meniru suara Amanda, meledek.


Perempuan di sampingnya itu, meliriknya sebal. "Aku jadi menyesal!"


Rendra tertawa. "Omong-omong kenapa kamu mengajakku ke sini?"


"Tentang tawaran kamu waktu itu, apa masih berlaku?" balas Amanda pelan, tidak bisa pungkiri rasa gengsi itu masih tertinggal.


"Sebaiknya, kita bicarakan ini di sana!" tunjuk Rendra pada sebuah warung sederhana di sebrang pemakaman. "Aku nggak mau sampai menganggu Aksa."


Amanda mengangguk mengikuti saran Rendra. Setelah berdoa dan pamitan kepada putrinya, mereka berdua berjalan ke warung tersebut dan Rendra memesan kopi, sementara Amanda tidak memesan apapun.


"Sebelumnya apa aku mengganggu waktu kamu?" tanya Amanda merasa tidak enak, dilihat dari penampilannya lelaki itu pasti siap pergi ke kantor.


"Nggak, tenang aja, Amanda," balas Rendra sambil menyesap kopinya. "Ada waktu satu jam untuk kita bertemu, sebelum aku kembali ke kantor."


"Sebenarnya waktu keluar rumah sangat dibatas. Adit mengurungku di rumah dan mengawasi gerak-gerik. Hari ini aku diizinkan keluar karena akan bertemu Azka. Aku nggak tau harus meminta bantuan pada siapa lagi," ucap Amanda pasrah. "Bahkan, dia membatalkan gugatan cerai tanpa sepengetahuan aku."


Rendra tampak memikirkan sesuatu. "Keluargaku sebenarnya melarang untuk berhubungan dengan Kinan, Adit mamanya. Mereka semua memutuskan nggak mau ikut campur. Mungkin takut menjadi korban keserakahan Tante Tamara."


" ... Tapi, seseorang sudah menjebakku dan hampir membuatku di penjara. Aku yakin itu berhubungan dengan Adit dan Tante Tamara. Bisa jadi salah satu atau keduanya itu yang membunuh Om Kiki."

__ADS_1


Amanda sudah tahu, karena itu tersiar di televisi bahwa Rendra dibebaskan dari tuntutan tersebut karena bukti yang kurang. Harusnya polisi memburu pelaku lain, tetapi anehnya kasus itu ditutup oleh pihak keluarga. Namun, mendengar pernyataannya tentang Adit yang mungkin terlibat, membuatnya terkejut. Mana mungkin, dia se-berani itu?


"Aku harus menemukan cctv yang asli, agar mengetahui siapa yang datang pada malam itu sesudahku. Ah-" Rendra seperti teringat sesuatu. "Waktu itu aku meninggalkan sesuatu di mobil, selembar kertas pemberian Om Kiki. Tapi sayangnya, setelah mamaku memeriksa ternyata nggak ada. Dia juga nggak menemukan tas kamu. Aku pikir kamu yang mengambilnya."


"Adit yang menemukan barang-barangku, Ren. Tapi dia nggak membahas soal kertas itu."


Rendra berdecak. "Semua merujuk pada suami kamu, membuatku yakin dia pasti ikut terlibat. Tapi ... Syukurlah, kamu ada di sini sekarang. Bagaimana kalau kita saling membantu?"


"Hah?"


"Kamu membantuku menyelidikinya diam-diam dan aku akan membantu kamu terlepas dari Adit," tawaran itu menjadi beresiko.


"Dengan cara apa kamu membantuku?"


"Jika Adit terbukti membunuh ayah Kinan, dia akan hancur dan dipenjara. Itu berarti, kamu bisa terlepas darinya. Setelahnya, tenang saja, aku akan bertanggung jawab atas hidup Azka dan jika kamu membutuhkan sesuatu, aku akan selalu bersedia."


"Tapi, itu semua belum pasti, gimana kalau bukan Adit yang membunuhnya?"


Rendra menatap Amanda meyakinkan. "Kita buat Adit hancur dengan cara lain, karena posisinya sekarang diambil dengan cara yang sangat nggak bermartabat. Seharusnya, sebagai keluarga yang paling berduka mereka nggak mengadakan pesta besar-besaran kemarin. Hal itu membuat semua keluarga besarku kecewa pada keputusan Kinan. Entah, mungkin dia belum menyadari keserakahan ibunya."


Amanda terdiam, mempertimbangkan keputusan itu.


Amanda menarik tangannya. "Beri aku waktu untuk memikirkan tentang ini, Ren."


"Silahkan."


Ternyata semuanya menjadi lebih rumit, apakah harus Amanda ikut campur dalam permasalahan mereka? Tetapi, jika dia hanya diam. Mungkinkah, selamanya dia akan terkurung bersama suaminya tanpa mendapat kebahagiaan? Amanda rasa dia tidak bisa hidup seperti itu.


***


Setelah pertemuannya dengan Rendra, Amanda langsung memesan taksi menuju rumah Kinan. Tidak lupa dia membeli sesuatu hadiah untuk putranya. Sempat mengalami perdebatan dengan satpam rumah itu karena Kinan ternyata tidak sedang menerima tamu. Tapi, karena Amanda memaksa akhirnya dia bisa menginjakkan diri lagi ke rumah ini.


"Abang, bunda datang sayang? Abang?" teriaknya, seorang satpam baru yang berada di sampingnya itu terus-menerus menarik dirinya agar keluar.


"Ibu sudah janji tidak mau membuat keributan! Saya bisa dipecat!" paniknya.


"Abang, bunda bawa hadiah nih!?"

__ADS_1


Amanda menatap heran pada seorang wanita tua yang tampak mempesona dengan penampilannya yang fashionable. Berjalannya saja bak model profesional, tetapi kekagumannya berubah ketika dia membuka kacamata hitamnya, tatapannya sungguh tajam.


Tamara berdecak. "Apa kamu tidak tahu adab bertamu di rumah orang lain?" tanyanya pedas.


Amanda menebak jika dia pasti mama Kinan, mereka berdua cukup mirip. "Saya ingin bertemu Azka."


"Ya!" sentaknya. "Tapi bisa kan dengan cara lebih sopan, mulutmu itu sangat lebar dan suaranya menganggu telinga saya!"


"Di mana anakku?" tanya Amanda karena melihat rumah ini sepi, bahkan tempat biasa anaknya bermain sudah direnovasi menjadi tempat gym.


"Dia sedang tidur," balas Tamara santai. "Sebaiknya kamu datang lain waktu. Kami tidak menerima tamu!"


"Mana? Aku hanya ingin bertemu dengannya. Toh, aku sudah izin pada Mas Adit dia memperbolehkanku untuk menemuinya!" kekeh Amanda, mulai emosi.


"Tetap tidak bisa! Satpam bawa dia keluar!"


Amanda menjerit, lalu berlari menuju kamar anaknya bahkan menabrak Tamara yang hampir kehilangan keseimbangan. Dia benar-benar melupakan janjinya pada Adit, kerusuhan sepertinya tidak bisa dihindarkan.


Apalagi saat dia mendengar suara tangisan anaknya dari kamarnya, membuat Amanda membuka kamar itu penuh emosi, menyerbu Kinan yang sedang duduk di kasur.


"Apa yang kamu lakukan terhadap anakku?!" marah Amanda melihat Kinan yang menampilkan wajah kaget, bahkan sampai mangkuk yang berada di tangannya itu jatuh ke lantai. "Kamu menyiksanya!"


Amanda beralih menatap Azka yang hanya terbaring di kasur, tubuhnya semakin menyusut membuat hatinya seketika teriris sakit. Memeluk buah hatinya, sembari melafalkan maaf.


"Maafin bunda, bang. Maaf. Apa yang kalian lakukan kepada anakku? Jika sesuatu terjadi Azka, aku akan melaporkan kalian semua! Dasar orang-orang jahat dan tidak punya hati, teganya pada anak sekecil ini!"


Tangisan Azka semakin reda, dia sepertinya mulai nyaman dengan kehadiran sang bunda. "Apa salah anakku pada kalian? Masalah kalian denganku, kenapa kalian melampiaskannya pada Azka! Kamu, Kinan! Seharusnya kamu menggunakan hati nurani, bagaimana jika nanti anakmu mendapatkan karma ibunya dan lebih menderita daripada Azka?"


Kinan melipat tangannya di dada, sungguh dramatis ibu di depannya ini. "Dari kemarin Azka sakit, Kinan hanya mencoba memberinya makan agar bisa minum obat. Tapi, Azka terus menangis dan menangis. Kinan juga sudah berusaha membawanya ke rumah sakit, dan dokter tidak menyarankan untuk dirawat karena Azka hanya demam ringan. Kinan memang membenci kamu, tapi rasanya untuk melampiaskannya pada Azka itu suatu kejahatan tak termaafkan."


"Baguslah, kamu datang. Kinan bisa istirahat karena dari semalam anakmu itu terus merengek," lanjutnya sambil berjalan keluar. Lalu hilang di telan pintu.


Sementara Bi Inah yang sedang membersihkan pecahan piring di lantai itu mendengus. "Seharusnya kamu berterimakasih pada Non Kinan, karena selama ini dia mengurus Azka. Sifatnya mungkin memang seperti itu, tapi saya tahu betul dia tidak pernah mencoba menyakiti Azka."


Amanda mencoba tidak peduli dengan perkataan mereka dan pokus pada Azka. "Bunda akan bawa Azka, kita tinggal sama-sama lagi, ya sayang."


Anak itu mengangguk lemah. Semua gara-gara Adit yang egois, Amanda menjadi kesal pada lelaki itu. Dia harus bertemu dengannya dan memaksanya menyerahkan Azka.

__ADS_1


***


__ADS_2