Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
45 : Bermuka dua


__ADS_3

"Aku tetap akan membawa Azka," ucap Amanda pada suaminya di depan Kinan serta mamanya. Mereka memutuskan berkumpul di satu ruangan, mencari titik tengah karena sampai saat ini Adit tidak membiarkan Amanda membawa Azka. Mungkin, lelaki itu takut jika dengan memberikan anaknya, istri pertamanya itu berani kabur.


"Saya tidak mengizinkan!" balas Adit tetap kekeh dengan pendiriannya.


Sementara Kinan yang duduk di sebelah suaminya itu menghela napas. Lalu merangkul Adit. "Udahlah, Kak. Biarkan Azka bersama Amanda. Dia pasti akan lebih nyaman dengan ibu kandungnya. Aku juga lagi hamil, nggak bisa terus menjaganya."


"Kamu tidak mau menerima Azka?" balas Adit tersinggung. "Bukannya kita sudah setuju sebelumnya, kamu dan Bi Inah akan ikut mengurus Azka?"


"Bukan gitu-"


"Saya akan memperkerjakan baby sitter untuk menjaga Azka, kamu tidak perlu kesusahan lagi," potong Adit, tatapannya mengarah pada Amanda. "Sebaiknya, sekarang kamu pulang saja Amanda. Percuma, aku tidak akan memberikan Azka padamu. Jangan khawatir, Azka akan dijaga sebaik mungkin di sini."


"Mas!" teriak Amanda saat melihat Adit yang keluar dari ruangan. Tidak habis pikir, padahal Azka sekarang sedang sakit. Bagaimana, Amanda tidak khawatir?


Tetapi tangannya dicekal oleh Kinan, yang berada di belakang. Hidung perempuan itu mengerut seperti tidak asing dengan bau parfum di yang pakai Amanda. "Pergi dari rumah Kinan sekarang, urusanmu sudah selesai. Kamu sudah bertemu Azka," usirnya lalu menjauh dari Amanda, mendelik kesal. Suaminya itu sangat aneh. Apa yang berada di pikirannya? Kenapa tidak memperbolehkan Amanda membawa Azka pergi? Padahal, mereka sudah proses cerai. Seharusnya suaminya tidak ada hak untuk menahan Azka di sini.


Tangannya mengelus perut yang masih rata itu. "Mama sangat berharap, kehadiran kamu nanti membuat papamu itu sadar bahwa kamu lebih berharga daripada Azka yang hanya anak angkat itu!"


***


"Apa-apaan kamu ini, kenapa melarang Amanda membawa anaknya?" tanya Tamara yang menyusul menantunya itu ke ruang kerjanya. "Jangan-jangan kamu masih berurusan dengan perempuan itu, ya!" curiganya.


"Saya tidak mau diganggu, banyak kerjaan yang saya tinggalkan gara-gara hal sepele," balas Adit duduk di kursi kerjanya, mulai membuka laptop memutuskan untuk bekerja di rumah saja.


Madam melipat tangannya di dada, menatap Adit jengah. "Merasa sudah menjadi bos, sekarang kamu mengabaikan ucapan saya? Kamu memang harus terus di awasi. Diberi hati malah minta jantung, dasar tidak tahu diri."


"Meski saya masih berhubungan dengan Amanda, Madam bisa apa?" tanya Adit menampilkan senyum sinisnya. "Sebelum, Madam memberitahu Kinan. Kita berdua akan sama-sama hancur, bukan? Jadi, sudahlah duduk manis bersama Kinan jangan mengurusi tentang saya dan perusahaan yang sekarang dikelola. Toh, perjanjian mendapatkan warisan juga sudah berjalan. Madam sudah mendapatkan apa yang diinginkan?"


Baru kali ini melihat Adit yang berbicara se-berani ini padanya. Tatapannya menghunus bagai pedang. Dari yang harusnya menjadi boneka penurut, lelaki itu malah berubah menjadi ular berbisa. "Kamu benar-benar ular! Apa yang sedang kamu rencanakan?"


"Sudah saya bilang, berhenti ikut campur. Nikmati saja harta mendiang suamimu."


"Saya akan membuat kamu bercerai dengan Kinan!' balas Tamara.

__ADS_1


"Silahkan, saya tidak akan melarang. Madam tidak tahu, Kinan sangat mencintai saya lebih dari dia mencintai mamanya. Mungkin, jika disuruh memilih di antara kita, pasti dia akan memilih saya ..."


"... Kinan mungkin sekarang sudah menerima maaf mu, tapi sepertinya rasa sakitnya pasti masih berbekas. Siapa yang tidak sakit, saat melihat mama yang dicintainya mengkhianati papanya dengan membawa seorang pria asing ke rumah dan berhubungan suami istri? Kinan menyaksikannya, dia pasti sangat terkejut. Pantas saja, keluarga besar dari papanya membuang mu," jelas Adit sangat puas melihat wajah Tamara yang merah padam. "Satu lagi, saya punya rahasia terbesar tentang Madam. Jadi, jangan coba macam-macam."


"Sialan kamu, Adit! Ternyata manusia miskin yang saya kasihani adalah sampah yang harusnya dibuang!"


"Apa saya harus berterima kasih untuk itu?" ucap Adit sambil tersenyum meremehkan. "Mama mertua sebaiknya keluar dari sini, saya takut sekali berbicara terlalu lama bisa membuat darah tinggi naik. Saya yakin, mama mertua tidak mau secepat ini bergabung ke atas dan bertemu mendiang papa mertua?" ledeknya.


Tamara berjalan ke arah Adit, lalu mengambil laptop yang ada di meja, melampiaskan kemarahannya dengan melemparkan benda itu ke lantai. Adit sempat menahan, tetapi karena dia merebutnya penuh tenaga membuatnya kehilangan. Adit berdecak, jika laptop rusak itu berarti dia harus memulai dari awal mengerjakan beberapa email yang dikirim oleh Pak Sandi.


"Sialan!" rutuknya. Tangannya memeriksa laptopnya, benar saja mati total.


"Kamu akan lebih sibuk sekarang, silahkan menikmati!" bentak Tamara, meski tidak cukup puas. Mungkin, mereka dulu menjadi partner tetapi sepertinya sekarang sudah menjadi musuh. Adit salah kalau Tamara pasrah, tetapi dia akan menyiapkan sesuatu sebagai pembalasan.


"Secepatnya saya akan menemukan kertas berisi wasiat itu dan kamu tidak bisa tenang duduk di tempat yang seharusnya bukan milikmu itu!" ancam Tamara.


Adit hanya bisa tersenyum. "Silahkan."


Diam-diam Amanda yang juga hendak menyusul suaminya itu malah melihat pertengkaran dari keduanya, pintunya terbuka sedikit membuatnya bisa dengan jelas mendengar percakapan keduanya. Ia buru-buru bersembunyi saat Tamara keluar sambil menggerutu. Dari percakapan mereka Amanda bisa mengambil kesimpulan, Adit memiliki rahasia yang berhubungan dengan mamanya Kinan, membuatnya mungkin tidak bisa melaporkan pada Kinan termasuk tentang gugatan yang dibatalkan.


"Dari kapan kamu di sini?" tanya Adit tiba-tiba membuatnya terkejut hingga menyenggol guci yang ada di sampingnya. Amanda menutup mulutnya.


"Maaf, baru aja. Aku mau masuk, tapi kamu keliatannya lagi sibuk," balasnya dengan gugup. Ia berjongkok hendak mengambil pecahan guci itu.


"Udah gapapa, nanti aku suruh Bi Inah beresin." Tangan Adit menarik tangan Amanda, agar kembali berdiri. Tatapannya berubah lembut, berbeda sekali saat di ruangan tadi. "Bukan maksud aku menyakiti kamu lewat Azka. Tapi, aku rasa lebih baik Azka di sini."


Amanda menahan geram dalam hati. Lebih baik? Isi pikirannya sudah bisa ditebak, Adit kira Amanda tidak tahu?


"Mau ikut aku ke toko elektronik? Laptopku rusak, kamu bisa bantu memilihnya?" tawar Adit langsung dibalas dengan menggelengkan kepalanya.


"Nanti, Kinan tau!"


"Nggak bakal, ayolah," Adit menarik pinggang Amanda agar mendekat padanya. Tetapi mencoba menjauh, sangat tidak nyaman, takut sekali jika Kinan melihat dan perempuan itu marah. "Kita bisa pulang ke apart, aku mau bermalam di sana."

__ADS_1


"Kak Dipta!"


Mendengar suara itu, membuat Adit mendorong Amanda sampai kakinya tidak sengaja menginjak pecahan kaca. Lalu, mendengus. Adit benar-benar menyebalkan.


Dengan senyum terbaiknya lelaki itu menghampiri Kinan. "Ada apa, Kinan?"


"Kamu ngapain sama Amanda?" tanyanya penuh curiga. Tangannya bergelayut manja di tangan Adit.


"Dia mencoba bernegosiasi lagi, padahal saya sudah bilang tidak akan memberikan Azka padanya" balas Adit.


"Kalian tidak berhubungan di belakangku kan?" Kinan masih belum percaya.


Adit menggelengkan kepalanya, tertawa. "Untuk apa? Orang gila sekalipun, pasti memilih berlian yang berkilau daripada perak."


"Kalian pasti bercerai?"


"Tentu saja, percayakan semuanya pada saya Kinan. Saya dan Amanda tidak memiliki hubungan apapun, perceraian itu akan berjalan seperti yang diinginkannya. Meskipun perasaan saya pada Amanda masih tersisa, tapi itu tidak berati selamanya karena akan berganti menjadi milik kamu sepenuhnya," ucapnya Adit sambil berjalan meninggalkan Amanda.


"Kamu antar Kinan USG ya, ketemu Baby D?" tanya Kinan penuh harap. Mumpung jam menunjukkan pukul 10. 00 dan suaminya itu ada di rumah, Kinan berharap USG perdananya ini ditemani suaminya.


"Sekarang?"


Kinan mengangguk. "Harus mau!"


"Tidak bisa, Kinan. Saya harus kembali ke kantor karena laptop saya tiba-tiba mati."


"Yah, padahal Kinan berharap kamu yang menemani," balas Kinan kecewa.


"Minta mama yang antar? Kamu tau, saya baru dua hari resmi bekerja, saya tidak mau nantinya malah ada gunjingan dari yang lain, oke?"


"Kamu rela meninggalkan pekerjaan demi Azka, tapi sama anak kamu sendiri nggak mau?" guman Kinan pelan, sampai sepertinya Adit tidak mendengarnya. Memilih untuk berbesar hati, sebab sekarang dia harus menjaga hubungan dengan suaminya. Tidak mau sampai bertengkar karena masalah sepele. Ayahnya sudah tiada, keluarga ayahnya pun sudah lepas tangan. Kinan akan menggantungkan hidupnya pada suaminya. Jika harus mengalah, Kinan akan mengalah.


Sementara Amanda merinding, Adit bermuka dua! Kinan terlalu lemah dengan bujuk rayunya yang penuh omong kosong itu, jika pecahan guci ini boleh dilemparkan ke kepala lelaki itu sudah Amanda lakukan dari tadi. Benar-benar membuat muak.

__ADS_1


***


__ADS_2