
Mobil Rendra sudah terparkir di rumah Arumi yang tidak terlalu besar tetapi sepertinya nyaman untuk ditinggali. Arumi menyuruh keduanya untuk mengikutinya.
"Sayang banget, Papah masih ada urusan keluar. Kamu nggak apa-apa nunggu dulu?" tanya Arumi membuat Amanda mengangguk cepat. "Paling malam ini sudah pulang."
Arumi duduk di kursi kayu, seperti memikirkan sesuatu. "Sebenarnya hari ini aku dan Rendra ada fitting baju untuk lamaran. Gimana, kalau kamu ikut aja?"
Amanda melotot. "Nggak usah, ya ampun aku siapa coba masa harus ikut. Nanti malah ganggu."
"Loh? Emangnya kenapa? Kamu bisa sekalian temenin aku dan ngasih pendapat, kira-kira mana yang cocok buat aku dan Rendra. Kamu sudah menikah, pasti lebih berpengalaman," balas Arumi malah terkesan memaksa. Padahal mereka baru berkenalan, tetapi kenapa Arumi begitu percaya pada Amanda?
Amanda menelan ludah kelu, asal Arumi tahu pernikahannya bersama Adit dulu hanya berlangsung di KUA, tanpa ada sesi tunangan, lamaran atau pesta pernikahan mewah. Mana bisa dia memberikan pendapat.
"Aku nggak bisa Arumi," tolak Amanda tidak enak.
"Ini masih pagi loh, kamu mau nunggu di rumahku sendirian?"
"Lebih baik seperti itu," balasnya, membuat Arumi hanya bisa mengangguk.
"Ikut aja, biar nanti nggak terjadi hal-hal yang nggak diinginkan, seperti barang berharga di rumah ini raib di bawa kabur? Kita harus memikirkan resiko itu." Bukan Arumi yang membalas tetapi Rendra, lelaki yang sedang bermain dengan ikan peliharaan ayah Arumi itu membuat Amanda menatapnya tidak percaya. Menyebalkan sekali.
"Rendra!" bentak Arumi merasa calon suaminya itu keterlaluan. "Amanda tamu aku. Kamu jangan ngomong gitu!"
"Kalian baru berkenalan, kalau perempuan itu kekeh tidak mau ikut kita, berarti dia mau melakukan sesuatu," ucapnya tidak berhenti menas-manasi. Sengaja, Rendra memancing kemarahan Amanda.
"Rendra berhenti!" Arumi memukul punggung lelaki itu. Amanda melotot dan berkata dalam hati. Lebih kencang, berani sekali Rendra mencari keributan dengannya.
"Amanda maaf ya, Rendra orangnya emang sedikit menyebalkan."
Ya, bukan sedikit tapi sangat menyebalkan. Tambah Amanda dalam hati.
__ADS_1
"Mending kita liat-liat lukisan koleksi Ayah aja gimana?" ajak Arumi, menarik tangan Amanda.
Kepalanya menengok ke belakang, melihat Rendra yang juga tengah menatap ke arahnya, tersenyum sembari melambaikan tangannya, merasa senang karena sudah berhasil membuat Amanda kesal.
Diam-diam tanpa sepengetahuan Arumi, Amanda mengangkat jari telunjuknya pada Rendra.
"Awas kamu, Ren!"
***
Amanda terpaksa ikut dengan mereka ke salah satu butik paling terkenal di Bandung, ya apapun alasannya tidak akan nyaman jika tinggal di rumah orang asing tanpa pemiliknya, bukan?
Baru masuk selangkah, Amanda sudah disuguhi gaun-gaun indah yang membuat jiwa perempuannya tergugah untuk membeli. Membiarkan diri berpisah dengan pasangan itu, Amanda melihat-lihat koleksi gaun yang ada di sana.
Gaun di bawah lutut berwarna biru, yang tampak sederhana tetapi begitu mencuri perhatiannya. Amanda suka sekali dengan warnanya dan juga ukiran bunga yang ada di bagian bahu, apakah dia akan cocok memakai gaun ini? Amanda tertawa sendiri, sambil memegang gaun itu. Untuk apa juga, gaun ini hanya cocok dipakai saat wedding. Sepertinya Amanda harus mengurung keinginannya. Ah, harganya juga pasti mahal, dia tidak mungkin bisa membelinya.
Tanpa Amanda tahu, meskipun Rendra tampak sibuk dengan kegiatannya bersama Arumi. Matanya tidak henti memperhatikan Amanda, termasuk saat melihat perempuan itu memandangi gaun biru dengan tatapan takjub. Tubuhnya memang bersama Arumi, tetapi jiwanya bersama Amanda.
Perempuan itu berjalan ke arah mereka berdua. Lalu mengobrol dengan Arumi. Tanpa diketahui keduanya, Rendra melangkah ke gaun itu, memanggil pelayan lain untuk membungkus dan secara diam-diam meminta tolong untuk diberikan pada Amanda saat mereka nanti akan pulang.
***
"Nih!"
Amanda melemparkan tote bag pada Rendra. Lelaki yang sedang menutup matanya, telinganya terpasang earphone, dia tersentak. Entahlah, Amanda masih ingat kebiasaan-kebiasaan Rendra. Contohnya ini, dia lebih senang tidur di balkon daripada di kasur.
Melihat Amanda yang masuk ke kamar tamu membuat Rendra agak kaget. Bukankah perempuan itu yang bilang kalau dirinya tidak mau sampai Arumi mengetahui masalalu hubungan mereka berdua.
__ADS_1
"Aku nggak butuh gaun itu!" bentaknya pada Rendra, sepulang dari fitting baju tiba-tiba ada seorang pelayan yang memberikan gaun yang tadi memang menarik perhatiannya. Setelah mendesak pelayan itu untuk memberitahu siapa yang membelinya, ternyata Rendra.
Amanda merasa Rendra menjadi lebih berani bertingkah. "Kalau sampe Arumi tahu kamu kasih itu ke aku, mau kasih alesan apa coba? Kamu kalau mau bertindak itu harus di pikir dulu!"
"Kamu yang jangan banyak bertingkah, Amanda. Ngapain kamu masuk ke kamar?" tanya Rendra sembari menarik tangan Amanda agar masuk ke dalam, sebab posisi mereka berada di balkon. Takut ada yang melihat mereka dari bawah.
"Kamu kok balik nyalahin aku?" balasnya tidak terima. "Arumi yang nyuruh aku ke sini, kamu harus turun dan makan. Kamu sadar nggak, kamu sangat beruntung mendapatkan Arumi yang perhatian, tapi Arumi mendapatkan kamu itu adalah musibah! Nggak habis pikir, manusia se-sempurna Arumi kok bisa dapet yang macem kamu?" Amanda mengeluarkan unek-uneknya.
"Aku kalau ada di posisi Arumi pasti sakit hati, saat tau calon suaminya ngasih barang ke perempuan lain!" lanjutnya menyadarkan Rendra.
Rendra mengangguk, mengerti. Amanda hanya tidak tahu isi hatinya, jadi dia bisa berkata seperti itu. "Jangan menolak rezeki, anggap aja aku memberi gaun ini hadiah karena kamu sudah mau menemani Arumi fitting baju."
"Kamu masih belum ngerti omongan aku tadi?" tanyanya, ingin sekali mencakar wajah Rendra. Sungguh, mengalami hal terpahit suami yang dicintainya itu memiliki wanita selain dirinya, sangat menyakitkan. Amanda tidak mau sampai Arumi merasakan itu dan salah paham pada mereka berdua.
Rendra mengangkat bahunya tidak peduli, berjalan menuju kamar mandi. Di belakangnya Amanda masih mengikuti dan mengoceh.
"Apa semua lelaki sama aja? Brengsek dan sukanya menyakiti hati perempuan! Ka-aduh!"
Langkahnya terhenti di depan pintu kamar mandi, berbalik membuat Amanda secara tidak menubruk dada bidangnya. Mungkin, sangking kesalnya, Amanda jadi tidak pokus.
"Kamu mau ikut masuk ke kamar mandi?" potong Rendra menggoda. "Aku sih, nggak apa-apa mendengar ocehanmu sambil mandi. Tapi, apa Arumi nggak akan curiga?"
Plak!
"Dasar mesum!"
Amanda menampar Rendra, lalu ngacir keluar, membuat Rendra mengusap bekas tamparan itu sambil tersenyum. Tanpa sadar momen-momen inilah yang selalu dirindukan, saat perempuan itu menatapnya kesal.
Rendra lebih memilih ekspresi itu daripada tatapan dingin penuh kebencian. Setidaknya dia tahu, bahwa kesempatan itu belum redup seutuhnya. Amanda mungkin masih bisa memaafkan kesalahannya.
__ADS_1
Soal Arumi, dia tidak berniat menyakitinya tetapi itu resiko yang memang harus ditanggung saat: mencintai seseorang, yang tidak mencintaimu.
***