
Adit tidak main-main dengan ucapannya. Setelah mendengarkan semua penjelasan dari istirnya, tentang Rendra yang datang bahkan beserta ibunya. Ia diam-diam tanpa sepengetahuan Amanda, pergi ke restauran tempat di mana lelaki itu bekerja, mengawasi serta mengamati. Menunggu waktu yang tepat.
Kini dirinya bukanlah Adit yang selalu diremehkan oleh atasan-atasannya atau Adit yang dilabeli si pecundang oleh teman-temannya. Sekarang dirinya berada di level yang sama dengan Rendra, sama-sama punya kuasa dan uang.
Lewat pantauan kacamatanya, Rendra belum keluar padahal sudah jam makan siang. Tetapi, Adit yakin sebentar lagi lelaki itu pasti terlihat. Benar saja, Rendra keluar dengan seseorang.
Rendra sudah terlalu berani muncul dihadapan Amanda, orang-orang tidak tahu diri sepertinya itu harus diberi pelajaran.
Adit berjalan mendekat ke arah Rendra, raut wajahnya tampak masih bersahabat. "Rendra?"
Rendra yang mendapati kehadiran lelaki yang tidak familiar di matanya itu, sempat bingung tetapi setelah Adit memperkenalkan diri dia langsung menyuruh pegawainya itu untuk duluan ke mobil.
"Radit Pradipta, suami Amanda, kalau anda lupa."
"Oh, Hai Pak Adit. Ada baiknya kita berbicara di ruangan saya." Rendra tahu tujuan suami Amanda ke sini pasti untuk membicarakan perihal kemarin.
Adit mengikut langkah Rendra di belakang, penampilannya dengan seragam rapi khas orang-orang kantoran membuat tidak sedikit pasang mata menjadikannya pusat perhatian, terlebih untuk Dara-teman Amanda-.
Setelah menilik lebih jelas, Dara baru sadar jika lelaki yang tadi melewatinya adalah suami Amanda. Memang selama bekerja di restauran ini, dia selalu pamer dengan ketampanan suaminya. Dara kini percaya, bahkan dia sulit untuk berkata-kata, saat temannya yang lain bertanya siapa gerangan lelaki yang bersama bos mereka itu.
"Ganteng banget, tapi gue udah ada suami."
"Dua dewa dari kahyangan mana lagi ini, jiwa binal gue jadi meronta-ronta?"
"Aduh, bapak-bapak ganteng godain aku dong!"
Itulah, beberapa celetukan yang dilontarkan oleh pegawai restauran yang sedang terpesona.
Kembali pada Adit dan Rendra yang sudah masuk ruangan. Pintu sudah di tutup, baru ruangan terasa panas. Sedari tadi Adit menahan kepalan tangannya yang ingin sekali bersentuhan dengan pipi Rendra.
"Sudah menghamili, pergi ke luar negeri dengan alasan mengejar cita-cita lalu datang kembali seolah tidak punya kesalahan, itu maksudnya apa?" tanya Adit memulai pembicaraan. Dibuka jasnya, lalu baju lengannya di lilitkan ke atas, bersiap menghajar Rendra. "Tidak perlu basa-basi lagi untuk menghadapi orang sepertimu. Ayo, selesaikan ini secara jantan!"
Bug!
Rendra yang belum siap itu terhuyung ke belakang, kepalanya bahkan terkantuk pada meja membuat kepalanya pusing. Namun, Adit tidak peduli, lelaki itu mengangkat kerah bajnya hingga mau tidak mau Rendra kembali berdiri.
"Saya pastikan Tes DNA itu tidak akan pernah terlaksana!"
__ADS_1
Bug!
Bug!
Bug!
Bug!
Secara brutal Adit menghajar Rendra, yang anehnya tidak ada perlawanan, seperti pasrah.
Bug!
Bug!
Bug!
Lagi, Adit melakukannya sampai puas, tapi Rendra masih belum hilang kesadaran bahkan lelaki itu masih bisa bangun. Membuat Adit semakin bersemangat agar lelaki itu tumbang.
Bug!
"Ini peringatan pertama, jika anda berani menemui Amanda atau Azka, saya akan membuatnya lebih parah!" ancam Adit dengan tatapan tajamnya.
Rendra bukannya takut, lelaki itu tersenyum meremehkan. "Apa yang akan anda lakukan? Membuat saya mati? Tidak semudah itu!"
"Wow, sepertinya anda masih punya keberanian?"
"Kesalahan saya memang fatal, tapi saya tidak akan membiarkan Amanda hidup bersama lelaki seperti anda!"
"Apa maksudmu, brengsek?" Adit yang tadinya ingin pergi, itu kembali memegang kerah Rendra.
Rendra tersenyum meremehkan. "Akan lebih baik jika Azka hidup sejahtera bersama keluarga Hutama," ucapan Rendra membuat Adit terpancing emosi sampai ingin kembali menghajarnya. Namun, karena pintu sudah didobrak dan lengannya di tahan oleh seseorang. Adit tidak bisa berkutik.
Ia menghentakkan tangan yang mencekal lengannya. Lalu pergi dari ruangan itu, seraya mengambil jasnya. Tidak peduli jika salah satu pegawainya sudah menelpon polisi.
Dara yang melihat itu langsung menghubungi Amanda, memberitahu bahwa suaminya sudah membuat keributan fatal.
"Ya Tuhan gue cabut semua perkataan gue tadi, sumpah percuma ganteng tapi kelakuan kayak preman!" gumam Dara sambil gemetaran karena dia benar-benar shock melihat bosnya itu babak belur.
__ADS_1
***
Plak!
Tamparan itu dilayangkan oleh Amanda pada suaminya, ketika lelaki yang ditunggu dari tadi itu muncul di mulut pintu.
"Ini maksudnya apa?" tanya Amanda dengan marah, sambil menyodorkan ponsel yang menunjukkan foto suaminya berada di ruang kerja Rendra dan foto Rendra babak belur. "Aku berharap kita bisa menyelesaikan secara baik-baik bukan dengan kekerasan, Mas!"
Adit menatap istrinya itu tidak percaya, sisa amarah tadi kembali muncul. Lelaki itu memegangi pipinya yang terasa panas. "Foto dari siapa itu?" Adit lebih penasaran kenapa istrinya itu bisa mendapat info secepat itu.
"Nggak penting aku dapet foto ini dari siapa. Tapi, kamu?" Amanda menghela napas, masih tidak percaya jika suaminya melakukan hal kriminal.
"Dari siapa?!" Suara Adit naik satu oktaf, kini mencoba mengambil ponsel itu. Tentu, Amanda tidak memberikannya begitu saja. "Apa Rendra mengadu?"
"Mas, sakit!" Ringis Amanda saat tangannya itu dicengkram. Ponsel itu terjatuh ke lantai lalu saat Adit ingin menghidupkannya, malah mati sepertinya rusak.
"Seharusnya kamu berterima kasih sama aku, Amanda. Bukan malah menamparku!" balas Adit kesal.
"Aku cuman khawatir sama kamu, Mas. Kalau tiba-tiba ada polisi terus kamu di penjara karena pasal penganiyaan, semua pasti bakal lebih sulit!" Amanda mengungkapkan kegelisahan yang dari tadi semenjak mendapat pesan dari temannya ini. "Kamu harusnya berpikir lebih panjang! Jangan sampai gegabah, mereka bukan keluarga yang bisa kita taklukan! Mereka punya kuasa dan uang. Apa jadinya kalau Azka juga harus kehilangan kamu? dan dilabeli jadi anak nara pidana! Itu bisa jadi sanksi seumur hidup!"
"Kamu meremehkan suami kamu?" Adit merasa tersinggung. "Karena aku lahir dari keluarga miskin dan nggak punya kuasa, jadi aku nggak boleh memberi pelajaran pada orang telah menyakiti istriku Padahal itu semua buat kamu Amanda!"
"Tapi aku nggak minta dengan kekerasan!"
"Lalu aku harus seperi apa? Meminta baik-baik, dengan cara datang ke rumahnya dan mengemis agar dia tidak menganggu kelurga kita lagi, itu maksud kamu? Kelemahan kamu itu satu, nggak bisa tegas dan terlalu baik! Coba aja dari awal kamu bisa tegas sama Rendra, nggak bakal begini kejadiannya!"
"Satu lagi, keluargaku emang nggak ada apa-apanya dibanding keluarga Rendra, tapi kamu harusnya nggak bicara begini, Amanda," nadanya terdengar kecewa.
Mas," ucap Amanda kelimpungan karena Adit salah memahami ucapannya.
"Mas, bukan itu maksud aku!" Amanda ketakutan karena suaminya itu mengabaikan ucapannya dan malah pergi ke luar. Entah mau kemana.
"Mas Adit!"
Ia hanya bisa melihat Adit yang sudah menaiki mobil lalu pergi tanpa memperdulikan istrinya yang terus menerus memanggil namanya. Di saat-saat begini, Amanda malah ternga-nga karena suaminya itu mengendarai mobil-terlepas itu mobil milik siapa-benar kata tetangganya. sebenarnya pekerjaan apa yang dilakukan oleh Adit?
...
__ADS_1