Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
48: Dara


__ADS_3

"Ren! Mau ke mana lagi?" tanya mamanya, yang melihat anaknya akhir-akhir ini tampak sibuk. Padahal dia baru saja, pulang kerja.


"Rendra izin keluar mah sebentar aja."


"Bukan apa-apa, Ren. Tapi kalau kamu sibuk terus, gimana bisa bagi waktu komunikasi sama Arumi? Dia selalu tanya keadaan kamu ke mama, katanya kamu sulit banget dihubungi. Mama berharap malam hari itu, buat istirahat sambil ngobrol sama Arumi, walaupun nggak ketemu langsung," cerocos sang mama heran. "Kalian itu mau menikah jadi harus lebih terbuka satu sama lain."


Rendra yang sudah siap dengan jaket dan helm di tangannya itu melirik pada mamanya yang sedang menyiapkan untuk makan malam.


"Iya, Ren betul kata Mama. Kasian Arumi," tambah Rahardian-sang ayah-yang sudah duduk di meja makan.


Mamanya melangkah ke arah Rendra, lalu megambil helm. "Sekarang ganti ke atas, sekalian suruh Rasya turun. Kita makan malem bareng. Mama nggak ngasih izin buat keluar apalagi bawa motor."


"Ma," ucap Rendra memohon pengertian. "Rendra nggak boleh cari angin sebentar aja? Sekali ini aja, please? Soal Arumi, nanti Rendra akan menghubunginya. Mama dan ayah, nggak usah khawatir."


"Nggak bisa Rendra!" bentak mamanya final. "Mama tau kamu pasti mau ketemu Amanda."


"Kata siapa?" tanya Rendra, merasa heran mengapa mamanya itu mengetahui tentang itu.


"Siapa lagi kalau bukan dia? Ren, kamu pikir mama selama ini diem aja, karena mama nggak tau? Mama tau, kalian berhubungan! Untuk apa lagi?" Mama Rendra hanya khawatir anak itu terjerat masalah lagi. "Amanda itu masih ada kaitannya sama Adit! Kalau dia macam-macam sama kamu bagaimana? Walaupun, akhirnya polisi menyudahi penyelidikan dan membebaskan kamu, kita nggak boleh ada hubungan apapun dengan mereka, termasuk Amanda."


"Rendra bebas karena Rendra nggak bersalah, Ma!"


"Iya, mama percaya, tapi ada baiknya kita menjauhi mereka, Ren. Mama nggak mau sampai kamu kena masalah," kekehnya. "Nurut sama mama, ya?"


***


Rendra menghela napasnya, mengalah dan berjalan ke kamarnya. Mamanya tidak bisa disogok oleh apapun. Menyebalkan sekali. Tiga hari lalu, Amanda mengirimnya suatu foto yang membuatnya merinding bukan main. Tapi, entah mengapa dia lebih khawatir pada Amanda yang dipaksa satu rumah bersama lelaki sakit jiwa seperti Adit. Mantan kekasihnya itu juga, baru tadi memberi pesan ingin bertemu malam ini di sebuah taman kota. Dari suaranya terlihat sekali kalau dia sedang tidak baik-baik saja. Sialnya, karena mamanya, Rendra harus kehilangan kesempatan itu dan hanya bisa diam di kamar dengan pikiran tertuju pada Amanda.


Sementara Amanda ternyata sudah berada di sana, duduk sambil memeluk tubuhnya sendiri. Air matanya mengalir deras. Karena Dara tidak bisa dihubungi serta kontrakannya terkunci. Ia lari pada Rendra, yang berjanji akan datang malam ini. Amanda takut sekali, jika Adit mencarinya lalu kembali menyiksanya seperti sore tadi. Amanda berhasil kabur dan menggunakan kesempatan saat Adit pulang ke rumah Kinan, karena istri keduanya itu dikabarkan pendarahan.


Matanya celingukan berharap Rendra datang, tetapi lelaki itu tidak juga muncul.


Hingga tiba-tiba ada cahaya mobil yang menyorot padanya, dengan tubuh lemas dan terasa sakit Amanda mencoba berlari. Itu pasti mobil suaminya Adit. Meskipun, Amanda berusaha semampunya tetapi mobil itu tetap bisa menyalipnya. Nafasnya sudah ngos-ngosan, dadanya begitu sakit karena hantaman dari tangan suaminya. Tenaganya bahkan sudah terkuras, pandangannya samar melihat seseorang yang membuka pintu mobil, berjalan ke arahnya. Ternyata bukan Adit.


"Dara?" tanya Amanda melihat sahabatnya itu keluar dari mobil, secercah harapan muncul. "Dar, tolong aku. Jauhin aku dari Adit, aku mohon!"

__ADS_1


Dara memeluk Amanda, pandangannya mengasihani keadaannya yang acak-acakan. Wajahnya lebam, kakinya bahkan sedikit pincang. Amanda pasti menderita.


"St, lo aman sama gue, Man," balas Dara sembari menepuk bahunya menenangkan. "Untung tadi Ibu bilang kalau tadi lo datang, jadi gue susulin ke berbagai tempat dan akhirnya nemuin lo di sini."


"Adit yang ngelakuin ini sama lo?" tanya Dara, yang mulai memapah Amanda menuju mobil.


"Iya, dia tadi marah besar sama aku, Dar."


"Emang tu laki brengsek!" rutuk Dara kesal. "Kita harus laporin dia ke polisi, bisa-bisanya dia ngelakuin kekerasan dalam rumah tangga!"


"Nggak hanya itu, dia juga pembunuh," ucap Amanda pelan.


"Maksud lo?"


"Aku bakal kasih tau semuanya, tapi kita harus ketemu Rendra karena ada yang mau kasih sama dia."


"Tapi, sekarang mending kita istirahat dulu di kontrakan. Adit biar gue yang urus. Oke?"


Amanda mengangguk saja. Ia tidak punya tempat selain kontrakan Dara. Mungkin, Adit belum ada waktu untuk mencarinya karena Kinan lebih membutuhkannya.


***


"Dia nggak apa-apa, Kak?"


Adit yang berada di sebelahnya mengangguk dengan pandangan lembut, lalu mengusap kepala Kinan. "Kamu tidak apa-apa, bayinya sehat."


Terdengar deru nafas lega dari mulutnya. "Maafin Kinan, Kak."


"Bukan salah kamu."


"Tapi kalau Kinan nurut sama kamu, pasti semuanya nggak bakal terjadi."


"Udah, yang terpenting sekarang kamu harus lebih menjaga, supaya bayi kita lahir ke dunia dengan selamat," balas Adit menenangkan.


Malam itu saat dia bersama Amanda, Bi Inah mengabarinya kalau Kinan pendarahan, jatuh dari kamar mandi. Untunglah, karena Bi Inah sigap membawanya ke rumah sakit Kinan dan bayinya selamat. Hanya perlu satu atau dua hari menginap di rumah sakit. Adit mau tidak mau, menyusulnya. Bagaimanapun Kinan adalah kunci dari kekayaannya. Adit tidak mau sampai perempuan itu curiga dan semuanya terbongkar.

__ADS_1


"Kak." Tangan Kinan menunjuk pada noda merah kecil di samping kerahnya. Sangking buru-burunya Adit belum sempat mengganti pakaiannya, sehabis dia memukuli Amanda. Noda darah itu pasti berasal dari Amanda. "Kamu habis berantem?" tanya Kinan khawatir.


"Ini bekas saus, tadi sebelum dikabari Bi Inah saya makan sesuatu," alibinya. Kinan mengangguk paham.


"Boleh nggak Kinan minta satu permintaan?"


"Apa?"


"Kak Dipta, bisa selama Kinan hamil. Jangan jadikan alasan lembur, buat nggak bisa pulang ke rumah. Dalam seminggu, hanya ada waktu tiga malam di rumah. Kinan nggak percaya, kalau empat malam itu kamu habisin tidur perusahaan."


"Ki-"


"Kamu nggak tau, setiap hari Kinan selalu berharap kamu pulang dan menghabiskan waktu bersama. Sekarang Kinan, tanya apa kamu tau berapa umur kandungan Kinan?"


Adit terdiam, lelaki itu tidak pernah menghitungnya.


"Kenapa diam?" Kinan melepaskan tangannya dari genggaman Adit. Ia benar-benar merasa diacuhkan, terlebih Kinan takut alasan ketidakpedulian suaminya itu masih bersangkutan dengan Amanda. "Hal se-berharga itu pun kamu nggak tau!"


"Maaf Kinan saya janji, saya tak akan melakukannya lagi."


"Bulshit!"


"Kinan." Adit mulai melancarkan jurusnya. "Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa mengawasiku lewat Pak Sandi. Tanya dia apakah saya selama ini berbohong?"


"Atau kamu mau menemani saya bekerja?" tawar Adit, untuk kali ini dia harus mengalah dahulu sampai Kinan percaya lagi padanya.


"Oke, Kinan akan ikut kamu bekerja."


"Silahkan."


Adit merasakan ponselnya berdering, dia menjauhkan diri dari Kinan. Lalu membuka pesan itu, senyumannya terukir. Dara memang bisa diandalkan.


From : Dara


Amanda sudah berada dengan saya, Pak.

__ADS_1


__ADS_2