
"Selamat pagi, Kak," suaranya parau khas orang bangun tidur.
Suaminya itu membuka mata, Kinan tersenyum mengelus wajahnya. Lelaki di depannya ini benar-benar misterius, entah mengapa tiba-tiba sikap dinginnya itu berubah menjadi hangat. Bahkan, Kinan merasa Adit sudah menikmati kebersamaannya. Lelaki itu, kini sudah sering tersenyum padanya lalu memperlakukan Kinan sebagimana seorang istri. Ah, betapa bahagianya hati Kinan, ternyata tidak sulit meluluhkan hatinya.
"Pagi," balas Adit seraya tersenyum, lalu mengecup kening Kinan. "Jam berapa sekarang?"
Mata Kinan langsung tertuju pada jam dinding. "Jam tujuh."
"Hari ini saya libur, apa kamu ada kegiatan?" Meskipun bahasa Adit padanya masih terkesan kaku, tetapi perubahannya cukup signifikan dan lebih perhatian.
Kinan menggelengkan kepalanya, dia hanya seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan Sepanjangan waktunya di rumah. Ia terlihat berpikir. "Kita piknik, yuk?"
"Di mana?" tanya Adit sambil tangannya menggerayangi bagian menonjol Kinan, seperti menggoda. Wajahnya menyusup ke lekukan leher Kinan, mengendus aroma yang menurutnya wangi dari tubuh istrinya itu.
"Ish! Kak Dipta, geli."
"Hmm."
Menghalau kesaltingan. Tangan Kinan menjauhkan wajah Adit. "Waktu malem udah."
"Kamu tidak suka?"
"Bukan gitu."
Adit mengangkat alisnya, menunggu jawaban.
"Pokoknya nanti lagi, sekarang aku mau siap-siap kita bakal piknik ke Ciwidey!"
Kinan bangun dari tidurnya, sebelum masuk ke kamar mandi, dia mengecup bibir suaminya itu, membuat Adit menahan senyumannya. Dasar penggoda dan sialnya, Adit selalu tergoda. Laki-laki itu hendak menyusul Kinan, tetapi teringat akan sesuatu. Ia harus sampai diam-diam ke kamar sebelah mengangkat telepon dari Amanda agar tidak ketahuan Kinan. Tangannya mengambil ponsel yang disembunyikan di kolong ranjang, lalu keluar dari kamar hanya dengan menggunakan kaus polos serta boxer. Sepertinya, dia harus memeriksa keadaan Amanda dulu dan memastikan perempuan itu pulang ke Jakarta.
Tepat di kamar mandi tamu, Adit menelpon Amanda yang tak kunjung mengangkatnya. Apakah Amanda marah?
Lalu memilih untuk menelpon adiknya menanyakan tentang Amanda yang mungkin masih berada di rumah kediaman orangtuanya.
"Halo, Han?" Namanya Farhan, umurnya terpaut lima tahun dengan Adit, masih sepantaran Amanda.
"Apaan?"
"Amanda masih di rumah?"
"Iya."
"Kasihin, hapenya ke Amanda."
"Bentar."
Yang terdengar hanya suara hening, mungkin Farhan sedang berbicara dengan Amanda tetapi sengaja dalam mode hening, jadi Adit tidak bisa mendengar pembicaraan mereka berdua.
Tidak lama Farhan kembali bersuara. "Kata, Amanda. Mending Kak Adit pulang dulu ke rumah Mama, biar bicaranya di sini aja."
Adit berdecak, kenapa Amanda jadi keras kepala?
"Kakak sibuk, Han. Mana bisa ke rumah Mama."
__ADS_1
"Yaudah, Amanda bakal nunggu Mas Adit sampai nggak sibuk." Suara itu berganti menjadi suara Amanda. Sambungan pun terputus.
Adit mengacak rambutnya kesal. Apa dia harus membatalkan rencana pikniknya bersama Kinan?
***
"Yang rajin ya, Lang. Jangan sampai kakak dengar ada masalah di sana. Jaga selalu kesehatan, pokoknya kamu harus berhasil!"
Tanpa Azka, Amanda berangkat ke bandara untuk mengantar adiknya. Meskipun, ayahnya yang berada di sampingnya itu masih tidak bersahabat, tapi Amanda bersyukur karena ayahnya itu tidak mengusirnya.
"Iya, Kak. Kakak juga harus selalu bahagia. Nanti kita harus sering komunikasi."
Amanda mengangguk seraya memeluk haru adiknya, mengusap punggung tegapnya. "Kalau Kak Adit berani nyakitin, Kak Amanda harus buru-buru ngasih tau Gilang. Oke?" bisiknya.
"Maaf kakak nggak bisa ngasih yang banyak, tapi sepertinya cukup buat kebutuhan di sana," Tangannya ter-ulur memberikan satu kotak yang berisi beberapa vitamin yang sudah Amanda siapkan dari Jakarta.
"Makasih, Kak."
Karena sudah giliran orangtuanya berpamitan pada Gilang. Amanda mundur seraya melambaikan tangannya, meninggalkan moment haru Gilang dengan kedua orangtuanya.
Salah satu tujuan Amanda ke Bandung sudah tercapai, tinggal bertemu dengan suaminya. Ah, mengingat tentang itu membuatnya sangat kesal. Ia kira setelah dia menelpon pagi hari pada Farhan, siangnya akan datang menjemput Amanda. Taunya sampai sekarang waktu menunjukkan pukul tiga sore, Adit tidak ada menghubungi atau muncul di depan pintu.
"Nih!" Amanda mengambil helm yang diberikan Farhan, mereka memang seumuran tetapi rasanya Farhan tidak berperilaku semestinya. "Lama banget, elah."
"Yaampun, Han. Aku pamitan ke Gilang enggak sampai satu jam."
"Tetep aja, lama."
Amanda tidak menanggapinya apalagi sampai di masukan ke dalam hati karena saudara kandung Adit ini memang punya perilaku berkebalikan dengan sang kakak, jutek dan blak-blakan. Amanda tetap naik ke motor matic itu dan mereka bersiap pulang ke rumah.
"Nggak ada yang gratis di dunia ini, saya laper. Seenggaknya kamu harus traktir saya makan. Tau dong, artinya balas budi?"
Amanda memutar bola matanya. Ya, dia terlupa tentang hal itu, apalagi Farhan rela tidak bekerja hanya untuk mengantarnya ke Bandara.
"Bakso Bandung Kang oleh! Kita ke sana aja!"
Ingat sekali, setelah jalan-jalan ke kawah putih Ciwidey bersama teman-temannya, Amanda lebih memilih mengisi perutnya di tempat itu yang menjadi tempat bakso favorinya.
"Jauh banget kalau dari sini, mah."
"Udah nanti aku kasih ongkos dua kali lipat terus traktir makan sepuasnya, gimana?" tawar Amanda, mumpung dirinya berada di Bandung.
"Oke deh."
Amanda mendelik, mendengar tentang uang baru langsung gerak cepat. Diperjalanan mereka banyak mengobrol, hingga membuat Amanda tidak merasa canggung lagi.
****
Dulu, Kang Oleh hanya menggunakan gerobak dan mangkal di daerah yang masih area Ciwidey. Sekarang sudah memiliki tempat sendiri, temapatnya luas dan bagus. Terlihat antriannya cukup banyak. Tetapi, tidak membuatnya patah arang dan menyerah.
Kini Amanda bisa menikmati bakso itu dengan lahap bersama Farhan di salah kursinya.
"Emang bener ya, mamah kemarin-kemarin nggak habis operasi?" Amanda kembali bertanya tentang hal itu pada adik iparnya.
__ADS_1
"Nggak, Mama baik-baik aja. Dia emang punya darah tinggi tapi kambuh parah setahun yang lalu, seperti yang kamu liat sekarang mama sehat-sehat kan," balasnya sambil menyuapkan satu baksonya.
Amanda berpikir sesuatu. "Kira-kira kenapa Mas Adit bohong sama aku, ya?"
Farhan mengangkat bahunya. "Udah keahliannya, mungkin."
"Maksud kamu?"
"Dari dulu dia kan emang nggak pernah jujur sama keluarganya. Saya sih nggak heran. Maaf sebelumnya. Waktu Kak Adit meminta restu sama mama menikahi kamu aja, dia berbohong dengan ngaku kalau yang menghamili kamu itu dia. Padahal kenyataannya?"
Amanda terdiam, dia tahu tentang kebohongan itu, sesungguhnya Amanda juga tidak memaksa agar suaminya itu bertanggung jawab dengan apa yang tidak diperbuatnya tetapi dia yang menawarkan diri dengan alasan mencintainya.
"Harusnya aku yang minta maaf, ini semua salah aku, Han."
Farhan mengangguk. "Kayaknya ini terlalu sensitif buat di bahas. Kita bahas yang lain aja, gimana?"
Tiba-tiba hujan mengguyur begitu deras, memang dari tadi langit sudah terlihat tidak bersahabat dan akhirnya tumpah juga. Amanda menyuruh Farhan yang berhadapan dengannya itu, untuk pindah ke sampingnya, karena posisi mereka memang dekat pinggir jalan. Air yang turun dari genteng itu mengenai punggung Farhan.
"Yah, hujan," ucapnya agak kecewa. Mana Amanda tidak bawa jaket ataupun mantel.
"Emang lagi musimnya."
"Kamu bawa mantel?"
"Eh, lupa. Nanti kita beli aja, banyak kok sekitar sini yang jualan."
Amanda mengangguk saja. Bukannya membahas topik lain, mereka malah terdiam sambil menikmati bakso panas dikala hujan itu. Seharusnya, bukan Farhan yang berada di sampingnya tetapi Adit, suaminya. Padahal, Amanda sudah membuat list kegiatan jika dirinya ke Bandung. Salah satunya, berwisata bersama Azka dan suaminya.
Tatapan Amanda mengarah ke jalan raya, di sebrang sana banyak orang-orang yang juga berteduh. Mobil berlalu-lalang menembus hujan, lalu pedagang kaki lima yang bersembunyi di tempat aman agar dirinya tidak terkena air hujan dan anak-anak sekolah yang menunggu angkutan umum bersama payung yang di pegangnya. Sudut bibirnya tertarik, ternyata dia rindu melihat masa-masa seperti ini.
Uhuk! Uhuk!
Mata Amanda melotot, melihat seseorang yang melewatinya. Merasa tidak percaya, lalu bergumam pada Farhan.
"Kamu ngasih tau ke Mas Adit kita ke sini?"
"Hah?" Farhan yang sedang memainkan ponselnya itu mendongkak. "Mana?"
Mata lelaki itu seperti sedang mencari seseorang dengan payung dan jaket di tangannya. Amanda tersenyum, merasa bahagia. Ternyata suaminya itu masih tetap Adit yang sama. Amanda semakin suka akan hujan, karena setiap air itu turun selalu ada kenangan manis bersama suaminya.
Dia berdiri, mulutnya sudah terbuka lebar memanggil Adit yang berada di ujung kanan sementara dirinya berada di ujung kiri. Tangannya bahkan sudah melambai, berharap suaminya itu bisa melihat keberadaannya. Amanda memutuskan untuk menghampirinya. Mungkin, karena banyaknya pengunjung di tempat ini membuat pokusnya agak berantakan.
Deg.
Baru selangkah, Amanda terdiam melihat pemandangan di depannya. Ada seorang perempuan yang menghampiri suaminya itu, bahkan dengan perhatian Adit memakaikan dia jaket. Ternyata dia juga salah satu pelanggan di sini. Mereka berdua saling melempar senyum, lalu pergi meninggalkan Amanda yang seketika merasakan hatinya hancur. Amanda ingin sekali mengejar, tetapi entah kenapa rasa terkejut ini membuat tubuhnya menjadi lemas. Sementara Farhan yang belum mengerti kondisi, buru-buru membawa Amanda untuk duduk di kursi.
"Amanda?"
"Itu bukan Mas Adit kan?" gumamnya lirih. "Aku salah lihat?"
Farhan yang bingung itu hanya bisa menenangkan Amanda dengan berkata:
"Kita salah liat, itu bukan Kak Adit."
__ADS_1
****