
Entah sudah berapa hari, Amanda hanya menghabiskan waktunya mengurung diri di kamar. Meskipun, suaminya itu terus-menerus membujuknya untuk menerima kehadiran Kinan.
Karena hal itu, ia tidak tahu keadaan Azka di luar bagaimana. Selalu terdengar, di luar pintu anaknya itu meminta dirinya untuk keluar dari kamar. Amanda membiarkannya sampai suara itu hilang. Ya, dia memang egois, tapi poligami itu menyakitkan.
Tak hanya, tidak mau berbagi suami tetapi Amanda tidak mau rumah tangganya tak punya arah. Adit belum tentu bisa menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung-jawab untuk keduanya.
Dari awali, suaminya sudah berbohong. Bagaimana ke depannya? Pasti akan banyak kebohongan-kebohongan yang mencoba ditutupi.
Matanya menatap langit-langit kamar, air matanya sudah terasa kering, menangisi kisah hidupnya yang bisa dibilang tidak bahagia semenjak kejadian dulu bersama Rendra.
Sejujurnya, Amanda belum bisa berpegang pada dirinya sendiri. Ia sangat takut, terlebih untuk masa depan Azka. Apa harus, Amanda merelakan Azka bersama Adit? Lalu dia pergi sejauh mungkin? Tidak, itu bukan pilihan yang bagus hanya akan membuat sebuah penyesalan.
"Argh!"
Drt!
Ponselnya berdering dari nomor yang tidak dikenalnya, dari hari pertama Amanda mengurung diri di kamar. Nomor itu terus mengirimnya pesan, setiap sore dengan pesan penyemangat.
Tidak tahu seberapa sakitnya kamu hari ini, ayo bangkit! Jangan biarkan dia membuat hidupmu hancur. Setidaknya, kamu harus berjuang mendapatkan apa yang seharusnya kamu miliki!
Tangan Amanda mencoba untuk menghubungi nomor itu, tetapi tidak tersambung. Ia hanya ingin tahu siapa orang itu. Tetapi, suara mobil truk berasal dari pekarangan rumah membuat Amanda lantas berjalan ke balkon, melihat apa yang terjadi di sana.
Alisnya mengerut, siapa mereka? Ada beberapa pria yang menurunkan berbagai barang-barang elektronik baru. Di susul oleh Adit dan Kinan, yang membawa tas belanjaan. Dan, yang terakhir ada Azka. Anak itu digandeng oleh Kinan dan memakai baju spiderman yang dulu di pintanya pada sang ayah.
Hatinya terasa sakit, kenapa anaknya secepat itu akrab dengan Kinan?
Matanya kembali melihat pesan itu. Belum terlambat bukan? Dia memang tidak tahu niat Kinan apa, tetapi Amanda tidak seharusnya membiarkannya menguasai Azka.
Setelah berganti pakaian dan merapikan penampilannya, Amanda keluar dari kamar menuju mereka yang berada di ruang keluarga. Dari tangga, dia melihat mereka sedang mengeluarkan baju dari totebag.
"Abang!"
Mendengar suara bundanya, anak itu menatapnya berbinar. Tampak senang, tangannya membiarkan baju yang dipegangnya itu jatuh ke lantai, lalu berlari memeluk Amanda.
"Bunda, udah sembuh?" tanyanya dengan nada riang. Semenjak Amanda hanya berdiam diri di kamar, Adit memberitahu anaknya itu bahwa ibunya sedang sakit
__ADS_1
"Udah, sayang."
"Yes! Abang belalti nanti di antal bunda ke sekolah!"
"Abang mau sekolah?"
Azka mengangguk. "Kemalin Abang, ayah sama mama ke tempat sekolah. Di sana banyak teman-teman balu, bunda!"
Mama? Apa yang dimaksud Azka adalah Kinan? Siapa yang mengizinkan, Azka memanggilnya Mama? Amanda tidak terima. Tidak mau membuat suasana anaknya berubah, ia mengikuti Azka yang menarik tangannya agar bergabung bersama mereka berdua.
Terlihat pancaran bahagia dari wajah suaminya, mungkin merasa lega karena kini Amanda mau keluar dari kamar.
Kinan yang melihat Amanda itu lantas menampilkan hal serupa, perempuan itu menghampirinya lalu menyuruhnya duduk di sofa. "Kinan habis belanja, terus beli juga beberapa baju untuk kamu."
Kinan memberikan beberapa baju yang tadi sudah di pilihkan oleh Adit, tetapi Amanda hanya melengos mengabaikannya. Lalu, berbisik pada suaminya.
"Kita harus bicara."
Adit mengangguk, lalu berjalan mendahului Amanada. Kinan melihat itu, lagi-lagi memandang kesal. Berani-beraninya Amanda mengabaikannya dan mengambil alih perhatian Adit. Kinan berjanji pada dirinya sendiri, akan cepat-cepat mengusir perempuan itu dari rumah ini.
***
"Amanda, rumah ini dibeli dari uang keluarga Kinan. Dia mengetahui kalau aku membeli rumah untuknya, meski itu atas nama kamu. Jadi, aku tidak bisa menghentikannya," balas Adit hanya ingin Amanda mengerti posisinya sekarang. "Biarkan Kinan merenovasi sesukanya. Toh, pasti hasilnya akan bagus."
"Oke, aku akan membiarkan Kinan menguasai rumah ini sesukanya. Tapi, untuk Azka. Kenapa kamu membiarkannya memanggil Kinan dengan sebutan Mama?"
"Sayang, itu bukan hal besar. Kinan sudah menjadi istriku, dia berhak mendapat gelar itu."
"Kamu bener-bener nggak bisa menjaga perasaan aku sebagai ibu kandungnya!" bentak Amanda. "Mati-matian aku menjauhkan Azka dari ayah kandungnya, karena ingin menjadikan kamu satu-satunya ayah yang ada di hidupnya. Tetapi, kamu malah membuatnya mempunyai dua ibu!"
"Lalu kamu mau apa? Pilihannya satu, kita bercerai tapi Azka akan ada di tanganku." Sepertinya Adit akan terus menjadikan Azka sebagai alasan, agar Amanda tidak mau bercerai dengannya. Tetapi, keputusannya sudah bulat. Ia akan bercerai dan mengambil kembali Azka, bagaimanapun caranya.
Mungkin, Amanda belum mampu hidup tanpa suaminya itu, tetapi dia akan berusaha.
"Aku akan mengajukan gugatan pada pengadilan hari ini!"
__ADS_1
Adit memegang tangan Amanda, marah. Semenjak kehadiran Kinan, lelaki itu jadi tempramental. "Maksud kamu apa!
"Ya, aku akan bercerai," tantang Amanda. "Apapun alasan kamu menikahi Kinan, aku nggak peduli! Karena yang aku tau, kamu sudah mengingkari janji pernikahan kita!"
"Kamu nggak bakal bisa hidup di luar tanpa aku, Amanda. Aku tidak akan membiarkanmu lepas semudah itu!"
Ceklek!
Adit menutup pintu dengan segera, lalu mendorong Amanda ke ranjang. Emosi menguasainya, terlihat sekali egonya tidak mau sampai kehilangan Amanda. "Mas!"
Tangannya membuka baju Amanda dengan cara paksa, meskipun perempuan itu menolaknya. "Ini caraku menunjukkan kalau aku sangat mencintai kamu, Amanda."
"Mas!" Bukan, apa-apa. Amanda hanya tidak nyaman, diperlakukan seperti ini.
Bibir lelaki itu mencium paksa bibir ranumnya, tangannya bergerilya dan menyusup ke celah baju milik Amanda. Adit menatap Amanda yang berada di bawahnya dengan napas terengah, mengelus wajah mulusnya. Tatapannya berubah teduh. "Aku tidak mau kehilanganmu apalagi kembali pada Rendra. Asal kamu tau, saat melihatmu bersama Rendra dulu, itu sangat menyakitkan. Aku tidak meminta kamu membayar semua pengorbanan yang sudah aku berikan, tapi tetaplah di sampingku."
"Aku menikahi Kinan hanya karena harta, tidak lebih," ucapnya membuat Amanda sekuat tenaga mendorong Adit, tangannya buru-buru merapikan bajunya.
"Jika, kamu nggak bisa memilih antara aku dan Kinan. Tetap harus ada yang mengalah. Memutuskan poligami itu harus punya pemahaman yang benar, dan aku rasa kamu nggak siap untuk itu!"
"Amanda!"
Amanda mengabaikan suaminya itu dan membuka pintu, dia sempat terkejut melihat Kinan yang ternyata sudah di depan mulut pintu. Perempuan itu kelabakan, lalu menampilkan senyumnya.
"Kinan hanya mau memberikan ini," ucap Kinan menunjukkan ponsel yang dipegangnya. "Ada telepon untuk Kak Dipta."
"Dia ada di dalam," ucap Amanda sekenanya. Kinan masuk ke dalam kamar, dengan suara manja dan gerakan gemulainya itu mendekat pada Adit yang sedang duduk di kasur.
Amanda mengusap dadanya, merasa cemburu. Tidak mau makan hati, kakinya melangkah menuju ruang tamu.
Ya, Adit tidak ada hak untuk menghalangi keputusannya.
Pikirannya sudah mulai terbuka, Amanda akan memulai hidup baru dengan menjadi seorang pelukis. Dia akan menggunakan uang tabungannya dan Azka sebagai modal awal. Tidak peduli, dia mungkin akan mengalami kesulitan yang lebih parah tetapi hal itu lebih baik daripada tinggal bersama suaminya di rumah ini.
Sejak Adit memutuskan untuk menikah lagi, lelaki itu seharusnya sudah siap untuk kehilangan Amanda.
__ADS_1
***