Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
37 : Kebodohan Amanda


__ADS_3

Srek!


Adit merobek surat yang sudah dibacanya itu dengan emosi yang mulai naik ke permukaan. "Siapa yang mengirim ini?"


Sementara Aidan, salah satu seseorang yang diberikan Madan, agar menjadi orang kepecayaannya itu menjawab. "Tukang pos, Pak."


"Kamu berangkat duluan ke Bandung, saya akan menyusul"


"Tapi, Pak," Aidan terlihat serba-salah. Ia bekerja untuk Madam, tentu bukan hanya untuk membantu Adit tetapi juga mengawasinya. "Jika Madam tau tentang ini, dia akan marah."


"Kamu hanya perlu menuruti perintah saya bukan Madam! Kamu berkerja untuk saya!" bentak Adit. "Jangan mencoba mengadu pada Kinan ataupun ibunya! Jika kamu tidak mau dipecat!"


Aidan hanya bisa mengangguk, apa yang bisa dilakukannya, selain menuruti orang yang sekarang menjadi tuannya.


Pagi yang harusnya diawali dengan kebahagiaan itu berubah setelah Adit mendapatkan surat dari pengadilan, tepatnya surat perceraiannya dengan Amanda. Tadinya, Adit akan memberi ruang sedikit agar Amanda berpikir dan mencari udara di luar dengan membiarkannya beberapa minggu berada di rumah Dara. Tahunya, perempuan itu nekad juga. Sepertinya Adit perlu menemuinya hari ini juga. Dan terpaksa rencana ke Bandung untuk mendatangi club yang dikelolanya, harus di undur beberapa jam.


Adit melangkah keluar, melihat Kinan yang tengah berada di ruang makan tengah menyiapkan sarapan. Di sana ada Azka beserta Bi Inah. Senyuman Adit terukir, menyapa istrinya.


"Pagi, sayang," sapa Adit sembari mencium kening Kinan, lalu beralih pada Azka, lalu mengusap kepalanya. "Pagi, Abang."


"Pagi, ayah," ucap anak itu terlihat sedih.


"Abang nggak suka sekolah?"


Azka sudah bersekolah di salah satu TK elit yang tidak jauh dari rumahnya. Setiap berangkat dan pulang akan dijemput oleh Kinan. Adit senang, perempuan itu perlahan mulai menerima Azka.


"Abang pengen ketemu Bunda," ucapnya sambil memainkan tangannya. "Boleh Ndak Abang ikut bunda?"


Kinan yang mendengar hal itu mencoba mengalihkan perhatian Adit, tidak mau mendengar jawaban suaminya yang mungkin akan membuat moodnya berubah memburuk. "Kak, nggak nyapa calon anak kamu? Nanti dia iri, loh?"


Berhasil, Adit beralih menatap Kinan tanpa menjawab pertanyaan Azka. Dia mengusap perut istrinya lembut. "Pagi, calon anak ayah."


Kecurigaan Adit tentang Kinan yang mual-mual seminggu lalu itu benar. Dia memaksa Kinan untuk ke dokter karena sampai malam keadaanya tidak juga membaik.


Setelah diperiksa Kinan tengah mengandung bayinya berumur empat minggu. Adit bahagia-bahagia saja, karena itu berarti rencana bersama mertuanya itu berhasil. Hanya perlu mengambil hati dan kepercayaan Papah Kinan, dia akan mendapatkan warisan.


Ia juga memutuskan untuk menjaga sikap dan menjadi suami baik setidaknya di depan Kinan dan mertuanya. Sementara, untuk urusan Amanda dia akan bertindak tanpa mereka ketahui.


"Hari ini jadi Ke Bandung?" tanya Kinan, yang tangannya menyiukan nasi dan lauk pada piring suaminya. "Mau sekalian ketemu Papah?"

__ADS_1


Adit mengangkat bahunya. "Memang Papa kamu mau menerima saya?" tanyanya, terakhir kali ketika mertuanya itu datang ke Jakarta. Adit hanya diabaikan, meskipun kata maaf sudah terlontar beberapa kali.


"Ketemu aja, nanti Kinan yang bakal minta Papa buat setidaknya ngasih kesempatan kedua. Kinan nggak mau loh, sampai anak kita tau kalau kakek dan ayahnya itu nggak akur," katanya sambil tersenyum pada Adit. Kinan mempercayakan seluruhnya pada suaminya.


Setelah dipikir-pikir, Kinan tidak boleh menyerah. Ia yakin bisa membuat Adit mencintai dirinya, seperti lelaki itu mencintai Amanda. Tentu, semua itu perlu waktu. Apalagi, kini Kinan sedang mengandung anaknya. Semoga saja, kehadirannya membuat Adit melupakan tentang istri pertamanya dan bisa memulai hidup baru membangun keluarga kecil dengannya.


****


Di dalam mobil, Adit mengawasi Amanda yang mungkin sebentar lagi akan keluar untuk membeli sarapan. Ia tahu sekali, Amanda itu tidak bisa memasak dan lebih sering membeli sarapan, seperti nasi uduk.


Benar saja, Amanda keluar dengan penampilan sederhananya, masih menggunakan baju tidurnya. Adit melihat jam yang melingkar di tangan, ada waktu tujuh jam untuk mengajak Amanda ke suatu tempat.


Di dorongnya pintu, saat Amanda melewati mobilnya dengan gerakan cepat menarik tubuh itu masuk ke dalam, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Dara.


"Mas!" bentak Amanda, jantungnya hampir berhenti berdetak karena tiba-tiba di tarik dan dimasukan ke dalam mobil. "Apaan sih! Berhenti nggak!"


"Aku membiarkanmu tinggal di rumah Dara untuk sementara, bukan untuk mendapatkan balasan surat perceraian!" marah Adit, mencengkram stirnya dengan erat. Urat-urat di tangannya terlihat, lelaki itu tidak terima dengan keputusan Amanda.


Amanda mengambil napasnya, mencoba menghadapi Adit dengan tenang. "Mas, itu sudah keputusan terbaik."


"Terbaik apanya, Amanda? Aku masih mencintaimu!"


"Jangan seperti ini, Mas. Aku ingin bercerai secara baik-baik. Biarkan aku memilih kehidupanku sendiri."


Amanda kira, Adit akan menyerah karena beberapa hari belakangan ini, tidak mengusiknya dan membuatnya memberanikan diri untuk mengirim surat perceraian, tetapi ternyata dugaannya salah. Dia malah harus terjebak di mobil ini bersama Adit.


"Jangan harap kamu bisa melakukan hal itu!"


Merasa tidak ada gunanya berdebat, Amanda hanya menyenderkan kepalanya mengikuti suaminya itu yang entah akan membawanya ke mana.


"Terserah kamu aja, Mas! Aku capek!"


Sementara Adit, melihat dari ekor matanya sepertinya istrinya itu tengah memikirkan sesuatu yang berat, emosinya menjadi reda. Satu tangannya merambat ke tangan Amanda, menggenggamnya. Tidak ada penolakan apapun, membuat tangannya semakin mengerat.


"Maafkan aku, Amanda," guman Adit pelan.


***


Amanda merasa kebingungan saat Adit ternyata membawanya ke sebuah hotel, tangannya terus digenggam oleh lelaki itu membuatnya sulit untuk berontak. Meminta pertolongan rasanya percuma, Adit adalah suaminya. Orang-orang pasti akan membiarkan mereka dengan alasan tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga.

__ADS_1


"Mas, aku harus pulang! Dara pasti mencariku!" ucap Amanda yang kesadarannya mulai kembali. Ya, seharusnya tidak membiarkan Adit melakukan sesuka hatinya, bagaimanapun lelaki itu sudah mengkhianati. Mereka sudah menaiki lift.


"Aku hanya ingin melepas kerinduan bersama kamu, Amanda. Apa itu salah?"


Jelas salah!


Mereka berdua kini berada di dalam kamar hotel, entah mengapa perasaan tidak nyaman itu merambat kehatinya, padahal Adit adalah lelaki yang dicintainya. Mungkin, terasa tidak nyaman, karena mereka akan bercerai.


"Kamu belum sarapan? Mau makan apa?" tanya Adit sambil memegang telepon yang ada di dalam kamar, hendak memesan sesuatu pada pihak hotel.


Amanda menggelengkan kepalanya, rasa laparnya hilang seketika karena bertemu Adit.


Adit yang melihat itu, menyimpan telepon ke tempatnya lalu menghampiri Amanda yang hanya berdiri di sisi pintu. Menarik tangannya agar duduk di sisi ranjang.


Lelaki itu tiba-tiba tertawa. "Aku merasa menjadi lelaki yang hendak memperk*sa gadis polos. Aku suamimu, Amanda. Masih Adit yang sama. Apa kamu nggak bisa memberikan senyuman manis padaku? Aku sangat merindukanmu."


"Mas ..." Amanda benar-benar tidak bisa diam di sini. Kesadarannya bisa terhanyut dan malah berakhir luluh pada lelaki itu. "Aku-,"


Adit menempelkan jarinya di telunjuk Amanda, lalu memeluk dan mengusap dengan perlahan punggung Amanda. "Sudah hampir lima tahun kita bersama. Aku sudah terbiasa dengan pelukanmu, tetapi akhir-akhir ini aku kehilangannya."


"Mas ..."


Adit melepas pelukannya lalu menatap Amanda dengan mata sayu. Adit ingin menunjukkan bahwa dia tidak mau kehilangan Amanda. Obsesinya untuk memiliki kekayaan itu bukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga membahagiakan Amanda. Seharusnya, Amanda sadar akan hal itu


Cup.


Kepalanya mendekat, lalu memberanikan diri untuk mengecup bibir Amanda. Lagi-lagi tidak ada penolakan. Adit menggunakan kesempatan itu untuk memperdalam ciumannya hingga meraka sudah saling memagut.


Tidak lupa, Amanda juga seperti mulai menikmatinya dan kehilangan kesadaran di bawah kungkungan suaminya.


Pelan-pelan Adit merebahkan Amanda di kasurnya. Tangannya mulai melucuti pakaian Amanda. Lalu meraba bagian depan dadanya dengan kuat, membuat lenguhan terdengar.


Gila, Amanda sudah kehilangan kontrol akan dirinya. Di depan wajahnya, Adit tersenyum. Amanda menyerngit saat merasa sesuatu mulai memasuki bagian bawahnya.


Waktu berjalan begitu lambat, menemani mereka yang tengah beradu saling melepas kerinduan hingga keduanya sama-sama terbaring lelah di ranjang.


"Bodoh, Amanda harusnya kamu nggak menikmati ini! Dan lari sejauh mungkin!" guman Amanda merasa menyesal.


****

__ADS_1


__ADS_2