
Adit yang tengah mengendarai mobilnya menuju rumahnya. Ia baru pulang dari supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan Azka, tentu tidak ditemani Amanda karena perempuan itu masih mengabaikannya, meskipun Adit sudah mengikuti keinginannya untuk pulang ke Jakarta.
Masalah memang belum bisa diselesaikan, Amanda masih belum memberi jawaban terkait, apakah menerima Kinan sebagai istri keduanya. Tetapi, Adit mencoba untuk meyakininya bahwa dia bisa adil. Pernikahan Kinan-pun mestinya akan berakhir setelah perempuan itu hamil dan melahirkan seorang anak.
Daerah menuju komplek perumahannya melewati gang sepi dan kurang pencahayaan, apalagi malam begini. Katanya, sering ada begal yang menyerang pe-motor. Perasaanya mulai tidak enak karena mobil di belakangnya itu seperti sedang mengintai dan mengikutinya dari awal masuk ke supermarket.
Adit mengerem mendadak karena sebuah kucing melewatinya. Membuat refleks mobil di belakangnya, menabrak mobilnya. Adit merasa suasananya mulai mencekam, saat tiba-tiba pria berjenggot mengetuk-ngetuk kaca mobil.
"Buka, woy!"
Adit membuka pintu mobilnya, lalu menatap mereka. "Maaf, Pak tad-"
"Halah, bacot!"
Bug.
Wajahnya mendapat pukulan pertama di pipi, membuat Adit langsung terhuyung karena mendapat serangan yang tiba-tiba. Bukan hanya itu, keluar tiga orang berbadan besar mendekatinya.
"Siapa kalian?" Adit yakin, mereka memang sengaja mengintainya dan ingin mengeroyoknya.
"Serang!"
Dengan segala kekuatannya, Adit mencoba menghalau serangan-serangan mereka menggunakan balok kayu yang ada di sekitar. Tetapi tetap saja, tidak membuatnya menang. Mereka bertiga sementara dirinya hanya sendiri. Adit kalah telak. Ia hanya bisa melindungi kepalanya saat tiga pasang tangan itu memukulinya.
Bug!
Bug!
Bug!
Bug!
Adit sudah yerkapar di tanah, mereka menendangi ayah satu anak itu dengan sadis.
"Cukup! Jangan buat dia mati."
Mereka berhenti, Adit melihat sepatu heels yang dipakainya, mengingatkannya pada seseorang.
"Dipta!"
Madam, itu suaranya.
"Kurang baik apa saya padamu?" tanya Tamara dengan tatapan marah. Mengingat apa yang dilakukan Adit pada anaknya membuat Tamara tidak bisa diam saja. "Dari awal saya sudah meminta kamu untuk memilih! Tapi, sialnya kamu masih belum menentukan dan malah menyakiti Kinan!"
Tamara tahu bahwa Adit sudah berkeluarga, dia mengizinkan Adit menikah dengan Kinan bukan hanya sekadar ingin memperkaya diri dengan warisan yang akan jatuh pada anak gadisnya itu tetapi karena Kinan yang meminta dan memilihnya sebagai suami.
"Saya hanya mencintai Amanda," ucap Adit dengan jujur.
__ADS_1
Tamara meludah di samping Adit. "Persetanan dengan itu, cinta tidak akan membuatmu kaya! Jika kamu meminta berpisah dengan Kinan, bukan hanya Amanda dan anak tirimu itu yang akan kena imbasnya, tetapi nyawamu juga!"
"Seharusnya, saya memang tidak perlu berurusan dengan orang miskin seperti kamu. Tidak tahu diri."
"Satu hal lagi, ternyata kamu cukup pintar juga, diam-diam membeli rumah dan mobil atas nama istrimu. Apa kamu takut saya mengambil uang itu kembali?"
"Orang miskin memang pantas dikasihani."
Setelah mengatakan hal itu, Tamara masuk kembali ke dalam mobilnya. Merasa terhina, tetapi tidak bisa melakukan apapun. Adit hanya bisa berteriak kesal, dengan tubuh yang terasa sakit Adit mencoba berdiri lalu masuk ke mobilnya.
Sialan, Adit tidak menyangka Tamara akan berbuat seperti ini, sampai rela jauh-jauh datang ke Jakarta hanya untuk memukuli sekaligus menghinanya.
***
"Bintang kecil, di langit yang biru amat banyak menghias angkasa. Aku ingin terbang dan menari, jauh tinggi ke tempat kau berada."
"Horeee!"
Azka menepuk tangannya girang, bersama ibunya dia sedang bernyanyi lagu yang sekarang menjadi lagu favoritnya.
"Gimana suara bunda bagus ga?"
"Bagus sekali, bunda!" pujinya. "Abang suka lagu itu tapi ndak hapal bunda."
"Yaudah, kita bareng-bareng nyanyi. Bin-loh, Mas?"
"Orang nggak dikenal ngeroyok aku."
"Di mana?" tanya Amanda, ingin mencoba biasa tetapi ia panik sekali. Lalu, mencari kotak P3K untuk mengobati luka di wajah dan lengan suaminya.
"Di gang depan yang sering kejadian begal."
Amanda tidak menjawab, tapi mengambil baskom, lalu diisinya dengan es batu. Menyuruh Adit untuk duduk si sofa.
Tangannya mulai membersihkan luka dan mengopres bengkak bekas pukulan di pipinya.
"Ayah kenapa?" tanya Azka dengan wajah sedih. "Ayah abis dipukul sama olang jahat?"
"Iya, ayah abis dipukul, nih." Adit membalas ucapannya dengan senyuman, mengusap puncak kepala Azka menenangkannya. "Tapi, nggak apa-apa, ayah kan kuat."
"Ayah beldalah, pasti sakit," cemasnya. Adit menggapai tubuh anaknya, agar dia bisa merangkulnya.
"Nggak sakit dong, ayah kan superhero!"
"Aw!" ringis Adit saat Amanda sengaja menekan tepat di pipinya.
"Ayah jangan nangis!" Azka semakin khawatir. "Bunda pelan-pelan, ayah sakit."
__ADS_1
Anak berumur lima tahun itu, seketika membuat keadaan di antara keduanya sedikit tidak lagi canggung. Namun, Amanda tidak bereaksi apapun, dia tetap melakukan tanggung-jawabnya sebagai seorang istri. Meladeni suaminya yang tampak mengenaskan dengan luka di mana-mana. Ingin sekali menyarankan untuk dibawa ke klinik tetapi dirinya sedang dalam mode diam.
"Abang mau jadi polisi!" Tiba-tiba Azka bersuara dengan lantang.
"Kenapa?"
"Abang mau tangkap olang-olang yang jahatin ayah sama bunda!"
Adit tertawa, meskipun bibirnya terasa sakit. Setidaknya, Azka selalu bisa membuat suasana hatinya berubah. Tidak sedarah, tetapi Adit merasa terikat kuat dengan anak ini.
"Oke, siap Pak Polisi!" Adit hormat, membuat Azka langsung memberengut.
"Ayah, Abang belum jadi polisi."
"Oh, salah berarti. Siap Calon polisi!"
Merasa sudah bersih, Amanda mengambil kain kasa lalu menempelkan pada titik luka di wajah dan sekitar lengan suaminya.
Setelah itu Amanda meninggalkan Adit dengan Azka, menuju dapur untuk menyimpan baskom dan kotak P3K-nya.
"Ayah Abang tadi liat spidelman di hape bunda, keren spidelmannya naik tembok tapi ndak jatuh! Telus di tangannya ada jaling laba-laba, gini, nih!" Azka mengangkat kedua tangannya, menggambarkan seorang spiderman yang sedang beraksi mengeluarkan jaring-jaring di tangannya. "Spidelman sama kayak polisi, tapi dia lebih kelen bisa telbang!"
"Abang pengen baju spiderman?" tawar Adit melihat Azka yang tampak antusias saat bercerita.
Anak itu mengangguk. "Mau banget, ayah!"
"Besok ayah beliin."
"Nggak boleh," sanggah Amanda yang sudah kembali dari dapur. "Abang udah minta beliin mainan robot bentuk spiderman ke Bunda."
Azka memberengut. "Tapi Kelen bunda bajunya. Abang bisa jadi spidelman cilik!"
"Jangan sampai kamu beliin, Mas. Nanti kebiasaan," ucap Amanda pada suaminya.
"Jangan dengerin bunda, besok kita beli!"
"Mas!"
"Tutup kuping, let's go kita ke kamar!" Azka cekikikan saat di bawa ayahnya menuju kamar, dengan lucunya menuruti ucapan ayahnya untuk menutup kupingnya.
"Abang bunda marah, nih!"
"Maaf, bunda ndak dengal." Bisa-bisanya Azka masih meminta maaf dan menjawab, itu pasti karena didikan Adit yang selalu memanjakannya.
Amanda hanya menghela napas sedih. Satu-satunya yang dipikirkannya sekarang adalah, apa Azka siap kehilangan sosok ayahnya?
***
__ADS_1