Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
21 : Hampir terbuai


__ADS_3

"Kak Dipta mau ke Jakarta terus nginep tiga hari. Kenapa baru ngasih tau Kinan sekarang pas mau berangkat?" tanya Kinan yang terkejut karena pagi ini suaminya sudah mengisi koper dengan baju-baju, katanya hendak pergi perjalanan bisnis ke Jakarta.


Adit yang sedang mengambil kaos dari lemari itu menatap Kinan. "Saya udah kasih tau kamu di hari sebelumnya, mungkin kamu tidak dengar atau lupa."


"Kapan?" Kinan menggelengkan kepalanya, merasa tidak pernah diberi info itu.


"Dua hari lalu," balas Adit, padahal dia memang belum memberitahu Kinan tentang ini, karena Madam baru memberi izin saat Adit datang ke rumahnya. Tentu, bukan hanya untuk pulang ke rumah Amanda tetapi dia juga diberi beberapa pekerjaan oleh Madam. Sepertinya madam tidak ingin Adit punya quality time bersama keluarga kecilnya. Dia memahami itu.


"Pokoknya Kinan mau ikut!" Tangannya terlipat di dada, bibirnya maju, merajuk. "Kemanapun Kak Dipta pergi, Kinan mau ikut."


Adit menghela napas melihat sifat kekanakan Kinan, usia dia bahkan lebih tua dari Amanda tetapi sifatnya membuat geleng-geleng kepala.


"Kinan bakal telepon mama supaya bisa ikut ke Jakarta."


"Silahkan," balas Adit, dia tahu bahwa madam tidak akan mengizinkan anaknya itu untuk ikut dengannya, sebab akan menganggu pekerjaan Adit dengan sifat childis-nya itu.


Kinan menelpon mamanya, entah mereka berbicara apa sebab perempuan itu menjauh, tidak lupa teriakan-teriakan manja keluar dari mulutnya mungkin sedang mencoba membujuk sang Mama. Tidak membutuhkan waktu lama, Kinan kembali dengan wajah sumringah.


"Mama ngebolehin Kinan ikut ke Jakarta!"


Wajah Adit mendongkak, tidak percaya. "Kamu pasti bohong."


Kinan tersenyum menang. "Tanya aja sendiri sama Mama. Kalau nggak percaya."


Buru-buru Adit mengambil ponselnya, lalu menjauh dari Kinan untuk menghubungi mertuanya. Tidak, ini tidak mungkin, jika begini kebersamaannya dengan Amanda tidak akan tenang.


"Maksud Madam, apa?" tanya Adit meminta penjelasan.


"Kenapa? Kinan juga istrimu, tidak ada salahnya dia ikut ke Jakarta."


"Madam sendiri yang bilang, kalau Kinan ikut dia bisa menganggu perkerjaan saya."

__ADS_1


Terdengar suara tertawa. "Dipta-Dipta, kamu pikir saya tidak peduli dengan kebahagiaan anak saya? Setelah dipikir-pikir akan lebih baik Kinan ikut. Kalian bisa sambil bulan madu atau menghabiskan waktu di pantai."


"Tap-" suara Adit tertahan. Dia benar-benar kesal sekarang. Bagaimanapun rencananya akan gagal untuk menemani Amanda ke rumah baru.


"Kamu pasti bisa mengatur waktu, menemani kedua istrimu secara bergantian bukan?"


Setelah berucap seperti itu, sambungan telepon di tutup. Adit kembali dengan wajah lesu, sementara Kinan menatapnya bingung. Kenapa raut wajahnya jadi mengerut begitu?


"Kak Dipta, bener-bener nggak mau Kinan ikut?" tanyanya. "Yaudah, Kinan nggak bakal maksa."


"Cepat kamu siap-siap, setengah jam lagi kita harus berangkat," balas Adit tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Kinan dan mulai mengemasi beberapa pakaian. Adit pasrah dan tidak mau membuang-buang waktu, dengan kembali berdebat.


Kinan hanya bisa mengangguk. Ia selalu bertanya-tanya, apakah suaminya itu benar mencintainya? Kinan masih bisa memaklumi kalau Adit dingin dan datar, mungkin itu memang karakternya. Tetapi, setelah diselami. Kenapa, Kinan tidak pernah merasakan, kalau suaminya itu mencintainya. Adit seolah membentengi diri dan tidak pernah mau terbuka.


Hal kecil, seperti mencium kening saat ingin kerja atau bangun pagi pun, tidak pernah Kinan dapatkan. Hanya saat berhubungan intim, Kinan merasa lelaki itu lebih bersahabat dan tertarik. Namun, seusai itu semua kembali seperti semula.


Terkadang Kinan berpikir, kalau suaminya itu hanya memanfaatkannya, seperti laki-laki yang dekat dengannya dulu.


Perkenalan mereka terlalu singkat, tentu perlu waktu untuk memahami karakter masing-masing, mungkin yang harus dilakukan Kinan sekarang adalah berusaha dan terus bersabar dalam menghadapi sifat suaminya.


***


Di mobil dalam perjalanan ke Jakarta


Kinan terus berceloteh tentang kehidupan keluarganya, sementara Adit fokus menyetir, kaku sekali.


"Kita tebak-tebakan, yuk!" ajak Kinan setelah lelah bercerita, meskipun tanggapan Adit hanya ya, tidak, hm, oke. Tapi tidak membuatnya menyerah, perempuan itu akan mengerahkan segala cara agar suasana di dalam mobil tidak canggung dan hening.


"Nih, Kak Dipta kejebak di dalam gua-"


"Saya tidak pernah ke goa," akhirnya Adit mengeluarkan kalimat dari mulutnya, tetapi jawaban itu malah membuat Kinan kesal.

__ADS_1


"Kan misalnya."


"Kamu tidak bilang misalnya."


Kinan berdecak. "Yaudah ganti, ada seseorang yang ke jebak di gua yang gelap banget. Di tangannya ada lilin dan obor. Apa yang harus ia nyalakan terlebih dahulu? ... Pasti nggak bisa jawab!" ucap Kinan melihat suaminya itu terdiam.


"Ayo, apa? Kalau Kak Dipta nggak bisa nebak, kakak ha-"


"Korek api," balas Adit memotong omongan Kinan.


"Kok tau?"


"Saya punya otak."


"Aturan Kak Dipta tuh jawab lilin atau obor! Biar salah jawabannya!"


Adit menggelengkan kepalanya, mengabaikannya mungkin adalah keputusan paling tepat.


"Nggak seru main tebak-tebakannya!" ucap Kinan sambil melipat tangan di dada. Memalingkan wajah ke sisi lain, membelakangi Adit.


Mereka diliputi keheningan yang berlangsung hingga sepuluh menit. Adit kira, Kinan menjadi bisu ternyata perempuan itu tertidur.


Tiba-tiba mobil di depannya mengerem mendadak, membuat dirinya juga melakukan tindakan yang sama. Entah, mengapa satu tangannya refleks memegang Kinan yang terhuyung ke depan bahkan kepalanya hampir terkantuk dasboard mobil. Adit berdecak ketika melihat perempuan itu ternyata tidak memakai seat belt-nya secara sempurna.


"Dasar ceroboh!"


Adit memilih untuk memarkirkan mobilnya di sisi jalan, lalu memakaikan dengan pelan dan hati-hati agar Kinan tidak terbangun. Bukan apa, Adit takut Kinan kembali berkicau dan membuat kupingnya sakit. Sudah cukup setengah perjalanan ini, ia mendengarkannya.


Matanya terpaku pada wajah mungil Kinan, alis yang tebal, bibir yang merah ranum, lalu rambut yang tergerai halus. Adit yakin, tidak akan ada yang menolak jika ditawari perempuan secantik ini. Tangannya mengelus pipi Kinan yang lembut. Tiba-tiba gerakan kepala itu membuat Adit buru-buru kembali meyentir dan melajukan mobilnya.


Sial, Adit hampir saja terbuai.

__ADS_1


***


__ADS_2